Samchongsa Episode 4: Protect The Enemy



Di episode 4 ini, konflik politiknya tampak meningkat, namun di iringi romance antara Seja dan Seja-bin yang makin unyu, hehehe. FYI, rating episode 4 turun drastis dibanding episode-episode sebelumnya mungkin karena tayang di hari libur Chuseok, namun saat Samchongsa episode 1-4 di rerun tayang kembali di tvN secara marathon di hari selasa nya, ratingnya cukup tinggi, aku harap sih penurunan rating di episode 4 ini tidak akan mengurangi kualitas drama ini di masa yang akan datang^^


Seja berkata pada Dal Hyang 5 tahun lalu dia membunuh Mi Ryung, Dal Hyang kaget mendengarnya, lalu apa yang akan Seja lalkukan saat menemukannya sekarang? Sejang tidak tahu, dia harus menemukannya dulu untuk memutuskan apa yang akan dia lakukan pada wanita itu. Bisa jadi dia kembali membunuhnya, bisa jadi dia malah jatuh cinta dan kabur bersamanya. Dal Yang pusing mendengarnya. Seja sedang bercanda kan? Seja menolak menjawab karena waktu tanya jawab telah habis. Sekarang Dal Hyang hanya harus melakukan tugasnya.

Seja keluar dari penginapan Dal Hyang meninggalkannya dalam keraguan. Dal Hyang keluar dan meminta Seja meunggunya. Ada satu hal lagi yang ingin dia tanyakan. “Apakah hamba harus melakukan tugas ini?” Apakah Dal Hyang tidak suka? Dal Hyang berpikir, ini adalah misi pertamanya, tapi dia tidak tahu tujuannya dan juga dia merasa misi yang diberikan Seja bukan untuk melindungi Negara.

“Kau adalah pejabat negara ini mulai hari ini. Bagi seorang pejabat, satu-satunyaperintah yang lebih penting adalah perintah Kerajaan. Baik kau suka ataupun tidak mengetahui tujuan ataupun membahayakanmu kau harus melakukan yang terbaik. Kecuali kau melaksanakan perintah Raja. Mengerti?”

Dal Hyang menunduk dan mencoba memahami maksud Seja yang tak lain adalah orang ke dua yang paling berkuasa di Joseon setelah Raja. Dal Hyang menjawab dia mengerti maksud Seja, dan Seja mengingatkan satu hal lagi.

“Seung Po dan Min Seo memperlakukanmu sebagai teman. Itu tidak berarti aku mempercayaimu sepenuhnya. Aku bukan dalam posisi untuk mempercayai orang dengan mudah. Tidaklah mudah untuk menjadi orangku. Aku tidak memberimu misi ini karena aku mempercayaimu. Aku memberimu misi ini untuk melihat apakah aku bisa mempercayaimu. Jadi jangan salah paham”

“Sesuatu yang penting untuk diingat. Bahkan jika kau punya pertanyaan penting kau tidak boleh menghentikanku dan bertanya padaku. Kau hanyalah pejabat militer”

Dal Hyang kembali menunduk dan meminta maaf, “Maafkan hamba”

Seja tersenyum melihat Dal Hyang mengerti maksudnya, dia pun naik tandu dan pergi dari penginapan Dal Hyang, meninggalkan Dal Hyang yang tampaknya masih enggan untuk melakukan misi rahasia pertamanya namun dia tidak bisa menolak.

Di istana, Seja-bin mendapatkan kunjungan dari Ibunya yang memberinya dua buah jimat dari kuil. Tidak ada wanita yang gagal mendapat keturunan dengan jimat itu. Yang satu simpan di kamar Seja-bin dan satunya lagi di simpan di bawah bantal Seja. 

Seja-bin merasa ini bukan waktu yang tepat karena semua orang sedang cemas akan terjadinya perang. Meskipun tugasnya memberikan keturunan tapi tidak seharusnya dia memikirkan hal itu saat kondisi kacau seperti ini. Karena Kondisi yang kacau inilah seharusnya Seja sudah memiliki pewaris agar Rakyat merasa tenang. 

Saat ini, Ratu telah tiada, Seja-bin adalah Kepala wanita di Istana, namun jika dia tidak punya keturunan tidak aka nada yang respect padanya, jadi ibunya berdoa selama 100 hari untuk putrinya itu. Ini semua adalah demi Seja-bin juga keluarga Kerajaan. Mendengar permintaan ibunya Seja-bin pun tidak bisa menolak.

Seja kembali ke diamannya dan melihat seorang dayang terburu-buru masuk, dayang itu adalah dayang Seja-bin yang memberitahu jika Seja telah datang. 

Sanggung memberitahu Seja-bin yang belum berhasil meletakan jimat di kamar Seja agar segera keluar karena Seja telah datang. Seja-bin langsung panik dan segera keluar. Tapi…

Tentu saja dia terlambat, tepat saat dia keluar dari kamar Seja, suaminya tiba di depan pintu masuk kamarnya,
Seja: Kenapa kau keluar dari kamarku?
Seja-bin: *gugup* Bukan  apa-apa
Seja: Bukan apa-apa? Aku bertanya, mengapa jawabannya seperti itu
Seja-bin: *bingung dan mengalihkan perhatian* Anda dari mana?

Seja menatap kertas yang ada di tangan Seja-bin
Seja: Apa yang ada di tanganmu?
Seja-bin: *panik* Apa?
Seja-bin buru-buru menyembunyikan kertas jimatnya di balik bajunya

Seja: Kau menyembunyikan sesuatu, apa itu?
Seja-bin: *makin gugup*Ini bukan apa-apa
Seja: Apa itu…
Seja-bin: *makin panik dan menyembunyikan jimatnya rapat*

Seja makin curiga apalagi setiap dia ingin mengambil kertas itu Seja-bin langsung mundur dan masuk ke dalam kamar, Seja-bin terus menghindar karena ketakutan. Setelah keduanya masuk kamar Sanggung menuntup pintu kamar Seja.

Seja: Apa yang sebenarnya kau lakukan di kamarku..
Seja-bin: *mengelak* Ini sungguh bukan apa-apa, tolong tinggalkan saya sendiri.

Seja-bin hilang keseimbangan dan Seja berusaha menangkapnnya namun keduanya jadi sama-sama terjatih bersama. *Ups* Sanggung membuka pintu karena mendengar suara aneh, takut terjadi apa-apa pada keduanya. Tapi yang mereka lihat adalah Seja yang berada di atas tubuh Seja-bin, hahaha. Sanggung, kasim dan para Dayang jadi merasa tak enak dan buru-buru menutup pintu kembali setelah Seja menoleh ke belakang. Sanggung dan para Dayang diam-diam tersenyum.

Suasana romantis tiba-tiba tercipta, Seja mendekatkan wajahnya pada Seja-bin, dan secara refleks Seja-bin menutup matanya, bahkan siap menerima ciuman dari suaminya, hahaha…

Tapi… Seja malah tersenyum melihat tingkah istrinya dan mengambil kertas yang ada di tangan Seja-bin, saat istrinya itu dalam keadaan tidak waspada. Seja-bin merasa bodoh karena kelakuannya dan ingin memangis.

Seja bangun dari atas tubuh Seja-bin dan melihat isi kertas itu,

Seja: Apa ini? Ini adalah jimat. Digunakan untuk apa jimat ini?
Seja-bin: *terbangun dari posisinya, merasa bingung juga malu*
Seja: Aku bertanya, untuk apa jimat ini?
Seja-bin duduk membelakangi Seja, dia tidak sanggup menampakan wajahnya di depan suaminya, benar-benar merasa malu.

Seja-bin: Itu untuk mendapatkan hati suami.
Seja: *terdiam*
Seja-bin: Ibu mengkhawatirkan hamba jadi dia membawakan ini untuk hamba. Sebagai seorang putri hamba tidak bisa berkata tidak pada Ibu. Maafkan Hamba
Seja: *belum bisa berkata apa-apa*

Seja-bin: Hamba tahu. Hamba juga malu. Hamba juga benci diri hamba.  Berikan itu. Hamba akan membakarnya.

Seja-bin meminta jimatnya tanpa menoleh ke arah suaminya.

Seja: Beberapa hari lalu kau menangis dan bertanya padaku kenapa aku tidak tertarik padamu. Sejujurnya aku tidak tertarik pada wanita.
Seja-bin: *menoleh ke arah Seja dengan wajah kaget dan pucat pasi*
Seja: Untuk lebih tepatnya aku benci pada wanita.

Seja-bin: Jika anda tidak menyukai wanita... apa itu berarti anda menyukai pria? *kaget*
Seja tertawa mendengar pertanyaan istrinya hahahahahah…
Seja: Itu ide yang menarik, Bagaimana bisa kau memikirkan itu? Kau adalah Seja-bin, bagaimana bisa kau mengatakan hal semacam itu?
Seja-bin: *bingung* Lalu, apa itu...
Seja: Aku sedang mengatakan, itu bukan salahmu. Ini semua salahku, jadi jangan terlalu bersedih
Seja-bin: *bungkam dan terpana*
Seja: Aku mengerti kenapa Park Dal Hyang menyimpan surat Yoon Seo begitu lama. Dia tahu cara menilai wanita yang baik.
Seja-bin: *masih terpana dan bingung harus berkata apa*

Seja mendekati istrinya dan mengembalikan jimatnya ke tangan Seja-bin yang jadi gugup.
Seja: Biarkan aku memikirkannya dengan serius. Aku akan melihatnya sendiri… Apakah aku memang menyukai pria atau tidak
Seja-bin: *bingung*

Seja: Kurasa orang di luar bahagia jadi tinggallah sebentar lagi jadi kita tidak mengecewakan mereka
Seja kemudian tersenyum manis pada istrinya.
Seja-bin (dan Aku): *melted*

Seja-bin kembali ke kamarnya kemudian minta diambilkan air oleh dayang, sebelum pergi dayang itu berpendapat sepertinya jimat itu berhasil, karena Seja tiba-tiba saja… Seja-bin tersenyum, mungkin benar juga. Seja-bin pun berkata pada dayangnya jika ibunya bertanya tentang reaksi jimat itu, katakan apa yang dia lihat tadi.

Setelah dayang pergi, Seja-bin masih tersenyum mengingat tentang jimat itu dan berniat menyimpannya di dalam laci, saat membuka lacinya Seja-bin menyadari sesuatu. Dia kehilangan sebuah surat, Seja-bin sangat panik, dia bahkan tidak mengerti bagaimana bisa surat itu menghilang dari lacinya.

Min Seo terbangun di pagi hari di sambut dua fangirl pelayan Seung Po yang sedang menikmati ketampananannya bahkan salah satunya hampir menciumnya, hahaha. Saat pelayan itu ngeles mereka di suruh nyonya mereka untuk membereskan tempat itu, Min Seo pun menjaga sikap dan bertanya dimana dia bisa mandi, karena semalam tidak sempat mandi.

Seung Po terbangun sendirian dan minta di ambilkan air, namun tak ada yang mendengar, dia mencari orang-orang tapi malah menemukan para pelayan wanitanya menuju ke satu titik, dia jadi penasaran kemanakah tujuan mereka?

Ternyata mereka semua sibuk menonton  Min Seo yang mandi dengan hanya melepas baju atasannya saja. Seung Po bertanya diam-diam pada pelayannya apakah mereka senang? Tentu saja, Haruskah dia membuat Min Seo membuka celanannya juga?  Lalu pelayannnya sadar yang bertanya adalah bos nya, keadaan pun menjadi rusuh, pelayan lain pun langsung bubar jalan, Min Seo kaget dan segera memakai bajunya, meski sempat ada pelayan yang sempat memeluk Min Seo sebelum dia pergi dari sana.
Seung Po mengeluh mengapa Min Seo begitu pelit, mandi dengan hanya membuka baju atasannya, mengapa dia tidak mengamalkan ajaran budha dengan memberikan segalanya sebagai sedekah, Min Seo kesal mendengarnya.  Seung Po memegang otot Min Seo dan merasa kaget, Kenapa? Apa dia baru sadar jika badan temannya itu bagus? Hahaha…
Pan Se datang  dan bertanya haruskan dia menyiapkan sarapan untuk mereka? Seung Po kaget mengapa dia masih ada disini? Bukan kah dia sudah memberikan Pan Se untuk Park Dal Hyang? Akh itu.. Pan Se pikir Seung Po mengatakannya karena sedang mabuk, yang benar saja! Seung Po langsung menyeret Pan Se untuk ikut bersamanya menemui Dal Hyang. Pan Se menolak, dia mengeluh bahkan seorang budak pun memiliki level, tempat Park Dal Hyang tinggal lebih kecil di banding kamar mandi di rumah Seung Po, wkwkwkwk.

Dal Hyang yang baru bangun tidur di kagetkan dengan kedatangan Seung Po yang mengeluhkan karena Dal Hyang berani sekali menolak kebaikannya, belum sempat Dal Hyang mengatakan apapun, Seung Po menyuruh Pan Se untuk mengambilkan air untuknya karena dia haus.

Seung Po pun masuk ke kamar Dal Hyang dan berkata Pan Se itu adalah hadiah dari persahabatan mereka, tapi Dal Hyang benar-benar tidak butuh pelayan saat ini, lagi pula saat ini dia tidak punya gaji bagaimana bisa dia membayar pelayannya. Tenang saja, Dal Hyang sekarang adalah petugas militer, semua pasti baik-baik saja.
Apakah hari ini Dal Hyang akan ke camp pelatihan? Tidak. Dia akan pergi ke Mohwagan. Seung Po kaget mendengarnya. Dal Hyang di tugas kan menjadi penjaga utusan Qing. Aneh sekali biasanya petugas baru di tempatkan di camp pelatihan. Dal Hyang hampir saja membuka mulut, tapi dia teringat Seja bilang ini adalah tugas rahasia, bahkan dia harus merahasiakannya dari Seung Po dan Min Seo.  Jadi meski Seung Po merasa ada permainan orang atas dalam penugasan Dal Hyang di Mohwaguan, Dal Hyang hanya bisa meringis pura-pura tidak paham kenapa dia ditugaskan disana.

Dal Hyang kemudian bertanya tentang Seja pada Seung Po, orang seperti apa Seja itu sebenarnya? Dal Hyang bertanya karena Seung Po dekat dengannya dan Dal Hyang benar-benar tidak mengerti tentang Seja. Orang seperti apa?

Seung Po membisikan pada Dal Hyang, “Dia orang yang gila” Dal Hyang kaget mendengarnya “Gila?” Ya. Orang Gila dengan pesona psyco, jangan mencoba mencari tahu lebih banyak, Seung Po pusing bagaimana menjelaskannya. Dia berteman dengannya karena Seung Po terlalu baik, siapa lagi yang sanggup menghadapinya.  Seung Po  bahkan kasian pada Seja-bin karena harus hidup bersama orang Psyco seperti itu.
Dal Hyang terdiam mendengarnya, apalagi saat Seung Po menyinggung Seja-bin dalam pembicaraan mereka, padalah wajah Seung Po terlihat tidak meyakinkan, sepertinya kali ini pun dia lagi-lagi ingin mempermainkan Dal Hyang, hahaha.

Orang tua Dal Hyang mendapat kabar tentang kelulusan Dal Hyang lulus ujian militer, mereka sangat gembira mendengarnya saling bahagiannya, mereka tampak tak terlalu peduli pada hadiah yang diberikan pemerintah daerahnya karena keberhasilan Dal Hyang lulus ujian.

Ayah, Ibu. Kalian mungkin sudah mendengar beritanya sekarang. Aku bisa melihat kalian sangat bahagia. Banyak hal yang terjadi padaku. Bang Bang Eui sudah dilaksanakan aku mendapatkan sertifikat merah dan aku juga memiliki seorang pelayan.  Namanya adalah Pan Se.

Dal Hyang hendak berangkat kerja namun dia kehilangan sepatunya ternyata Pan Se sudah membersihkannya. Dal Hyang mengingatkan jika dia tidak pernah meminta Pan Se pada Seung Po, iyaa dia tau, anggap saja itu adalah nasib buruknya sebagai seorang budak.

Dia terlalu jujur tapi dia cepat dan tidak membuat kesalahan. Aku menyukainya.

Dal Hyang memakai seragam dinasnya untuk pertama kalinya

Dan mulai hari ini aku bertugas sebagai petugas magang. Ayah dan Ibu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjawab pertanyaan tentang cara melindungi negara ini. Jagalah diri dan kesehatan kalian.

Dari putramu, Dal Hyang

Hari pertamanya bertugas Dal Hyang menjadi petugas penyambutan kedatangan utusan Qing yang di pimpin Yong Gol Dae, disanalah dia bertemu Mi Ryung kembali. Mi Ryung ada di dalam tandu rombongan para utusan dan wanita itu mengenalinya.

Para sarjana dan pejabat sedang berdemo meminta Raja untuk memenggal kepala Yong Gol Dae saja, mereka sudah tidak tahan dengan perlakuan Bangsa Qing terhadap Joseon, apalagi isi surat yang di bawa Yong Gol Dae adalah menginginkan Joseon tunduk pada Kekaisaran mereka, jadi sebaiknya surat itu di bakar saja dan kepala Yong Gol Dae di penggal untuk menunjukkan marbabat Joseon.

Raja Injo terlihat tertekan mendengar permintaan para sarjana yang menggema di luar, Choi Myung Gil meminta kasim menutup pintu agar mereka bisa lanjut berdiskusi. Sebagain menteri sependapat dengan para sarjana di luar mereka tidak sudi juga untuk menyambut Yong Gol Dae, namun menurut Choi Myung Gil ini bukan masalah yang terbaik, tapi mereka harus menghindari skenario terburuk. Bagaimanapun juga yang saat ini bisa mereka lakukan adalah menghindari perang.

Seja menatap para pejabat yang dia pergoki bersama Kim Ja Jum, para pejabat itu langsung mendukung pendapat Choi Myung Gil bahwa Raja ada baiknya menemui mereka dulu dan mengetahui apa yang mereka inginkan. Setelah menghadapi perdebatan yang cukup alot, akhirnya Raja memutuskan untuk mengadakan pesta penyambutan Utusan di istana.

Tapi ternyata, Yong Gol Dae menolak datang ke istana, dia ingin Raja yang datang ke Mohwanguan. Dia membawa surat dari kaisar. Raja juga pernah datang ke Mohwanguan untuk surat dari Kaisar Ming, mereka ingin perlakuan yang sama dengan perlakuan Joseon terhadap Ming.

Kabar ini kembali menyulut perdebatan di istana, pemintaan utusan terlalu berlebihan, tidak sepantasnya mereka ingin diistimewakan seperti itu. Raja Injo sebenarnya sangat kesal namun dia menahan diri dia tidak ingin menunjukkannya di depan para menteri. Dia berkata agar istirahat dulu namun meminta Seja untuk tetap bersamanya.

Raja bertanya mengapa Seja diam saja, dia adalah putra Raja namun dia sama sekali tidak menunjukkan kedudukannya?

“Kita tidak memilih yang terbaik, tetapi menghindari yang terburuk. Jadi itu tidaklah mudah. Ini bahkan lebih sulit karena saya memahami Abamama.”

Raja kemudian menangis dia pun merasa lebih baik mari saja. Bukan saja tentang utusan musuh yang datang, tapi juga rengekan para pejabat di luar, mereka hanya ingin kekuasaan saja! Apanya yang mempertahankan Martabat Negara, jika Raja sudah tidak mendengarkan mereka, maka mereka pasti aka menggulingkannya kapan saja. Mereka pernah melakukannya sekali, jadi akan mudah untuk melakukannya lagi. Raja mulai paranoid, apakah mereka sudah memiliki orang lain yang pantas di jadikan raja baru?

Seja mengingatkan bahwa fokus utama mereka bukanlah para pejabat di luar, tapi pilihan untuk menghadapi utusan.

“Abamama harus memikirkan sepenuhnya. Kekuatan Ming tidaklah sekuat dulu. Mereka tidak akan bertahan lama. Itulah kenyataannya. Dunia berubah dengan cepat. Dan sulit untuk membuat keputusan. Tapi kita harus bertahan.”

Raja mendekat pada Seja dan bertanya itukah yang dia pikirkan? Memang bukan pilihan terbaik, hanya menghindari skenario terburuk, namun dia tidak suka melihat Ayahnya merasa tertekan karena itu menyakiti hatinya. Itulah sebabnya dia sejak tadi diam saja.

Raja memegang dada putranya dan merasa bodoh, dia memang tidak sesabar putranya. Seandainya Seja-lah yang ada di posisinya mungkin Negara ini akan menjadi lebih baik.

“Baiklah. Ayo kita pergi ke Mohwaguan. Ini soal pilihan seperti katamu. Jika mereka menginginkannya, aku akan pergi. Ini bukanlah masalah besar.”

Bukan itu maksud Seja, keputusan  seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa diambil dengan begitu cepat. Mereka juga tahu jika permintaan mereka berlebihan, jadi biarkan para utusan menunggu dan mereka bisa mendengarkan pendapat para menteri. Tidak! Raja tidak suka menunda lebih lama, dia ingin semua ini cepat berlalu, lagi pula apa yang bisa dilakukan para menteri untuknya. Seja cukup kaget dengan keputusan Ayahnya.

Yong Gol Dae saja cukup terkejut mendengar Raja mau datang menemui mereka begitu saja, dia kemudian meninggalkan ruangannya untuk menemui utusan lain. Dal Hyang keluar dari persembunyiannya dan membaca catatatan harian Yong Gol Dae tentang pertemuannya dengan pembawa pesan bernama Hyan Sung. Dal Hyang langsung teringat pada perkataan Seja, bahwa Mi Ryung memanggil dirinya sendiri Hyan Sung. Dari catatan Yong Gol Dae, mereka membawa Hyan Sung bersamanya untuk mengawasinya karena dia tidak percaya padanya sehingga mereka mendaftarkannya sebagai istri dari wakil jenderal.

Dal Hyang mencari kamar wakil jenderal. Karena Mi Ryung sudah mengenalinya, Dal Hyang memutuskan menemuinya secara langsung saja. Dal Hyang mengetuk pintu dan memberitahu kedatangannya dan dengan Mi Ryung membiarkannya masuk begitu saja. Dal Hyang masuk dan tidak menemukan siapapun, ternyata Mi Ryung sedang bertukar pakaian.

Mi Ryung tahu jika cepat atau lambat Seja pasti akan mengirim orang untuk mencarinya, tapi dia tidak sangka jika Dal Hyang yang akan dikirim. Apa misinya? Membawa Mi Ryung pada Seja? Ataukah… membunuhnya? Dal Hyang tidak nyaman melihat cara berpakaian Mi Ryung dan menyuruhnya memakai baju dulu. Mi Ryung malah tertawa dan kembali ke atas untuk menuntaskan acara berpakaiannya.

Dal Hyang kemudian menemukan sebuah salinan surat dan itu… adalah Surat Yoon Seo untuknnya??? Bukan kan surat itu seharusnya sudah di bakar?

Seja-bin mengacak-ngacak hampir seluruh kamarnya, namun surat yang di cari tidak juga ditemukan. Dayang bertanya apa yang sebenarnya sedang dicarinya? Seja-bin tidak bisa mengatakannya, dia hanya bisa menyesali diri mengapa tidak membakar surat itu saat dia bisa membakarnya, sekarang dia bingung dimana surat itu berada.

Dal Hyang masih syok karena menemukan surat Yoon Seo di kamar Mi Ryung, tiba-tiba saja Mi Ryung menusukan jarum beracun di lehernya. Dal Hyang langsung hilang keseimbangan, ingin melawan dengan pedang pun dia tidak ada tenaga.

“Kau terlihat terkejut. Ini surat yang menarik, jadi aku menyalinnya. Ini bisa berguna suatu hari nanti. Aku sedang menggali latar belakang Putri Mahkota. Dan aku menemukan ini”

Mi Ryung mengambil surat asli Yoon Seo untuk Dal Hyang.

“Siapa yang mengira kalau wanita dari keluarga terkenal punya seorang pria  yang dijanjikan untuk dinikahinya? Dia bersikap tidak berdosa dengan wajah itu. Jadi aku juga mencari tahu soal Park Dal Hyang”

Mi Ryung mendekati Dal Hyang yang sudah terkapar lemah di tempat tidur karena pengaruh racunnya.

“Tapi kau sama sepertiku. Kau pikir perasaannya akan bertahan selamanya. Sama seperti aku”

Mi Ryung  memasukann surat itu ke dalam lengan bajunya, akh.. kini Mi Ryung memakai pakaian dayang istana Joseon.

Setengah berbisik Mi Ryung berkata dia merasa kasihan pada Dal Hyang dan tiba-tiba menyukainya, jadi tenang saja, dia tidak akan membiarkan Dal Hyang mati. Mi Ryung mencabut jarum beracunnya dan memberi saran pada Dal Hyang.

“Kau tidak harus setia pada Putra Mahkota. Dia tidak pantas menempatkan hidupmu pada bahaya. Kau akan menjadi sepertiku pada akhirnya”

Mi Ryung meyuruh Dal Hyang untuk mengingat bagaimana racun tersebut mengalir dalam tubuhnya, dan ceritakan itu pada Seja, karena dia adalah target selanjutnya. Mi Ryung keluar dari kamar dengan menyamar sebagai dayang istana.

Dal Hyang mendapatkan kembali kesadarannya, namun dia kaget menemukan mayat seorang dayang yang ditusuk jarum beracun sama seperti yang ditusukan padanya. Dal Hyang pun mengambil jarum itu sebagai barang bukti. Seseorang mencari Mi Ryung dari luar, Dal Hyang jadi panik dan memutuskan melompat dari atas jendela meskipun tempat di bawahnya cukup terjal.

Perjalanan Rombongan Raja menuju Mohwaguan di iringi isak tangis para rakyat yang tidak rela melihat raja menyambut para utusan Qing itu, seorang Kakek tua menghadang dia berkata pada Raja bahwa ketiga putranya meninggal di perang  sebelumnya, namun  dia bangga karena mereka wafat untuk melawan musuh, lalu apa yang Raja lakukan sekarang? Malah ingin menyambut mereka? Apakah Raja tidak takut di hukum langit karena mengkhianati Rakyat?
Melihat kekacauan di depan, Seja memerintahkan Seung Po untuk melihat apakah dia perlu menemani Ayahnya atau tidak, setelah di konfirmasi oleh kasim pada Raja, Raja hanya meminta untuk menutup tirai dan melanjutkan perjalanan saja.

Dalam tirai yang tertutup Raja sebenarnya sangat cemas dan gugup. Ucapan kakek tua itu terngiang-ngiang di telinganya, dia menjadi lebih paranoid, dia berhalusinasi tentang pembantaian Rakyat Joseon oleh bangsa Qing dengan kejam, dan Yong Gol Dae yang memanahnya seperti dalam mimpi.

Tirai di buka, Raja dan rombongannya telah tiba di Mohwanguan, Raja masih terlihat panik dan gugup namun dia berusaha menenangkan diri dan disambut oleh juru bicara utusan. Raja langsung menanyakan dimana Yong Gol Dae? Dia kemudian memberikan perintah untuk menangkap seluruh utusan Qing dan berencana untuk memenggal kepala Yong Gol Dae.  Raja ingin menunjukkan posisi Joseon di mata dunia.

“Tangkap Yong Gol Dae! Aku akan membunuhnya di depan semua orang! Bawakan dia padaku sehingga aku bisa menyiksanya!”

Keadaan menjadi rusuh, karena pasukan Joseon lebih banyak, dengan mudah pasukan utusan Qing dilumpuhkan begitu saja.

Seja kaget melihat perubahan sikap Ayahnya, bagaimana dia bisa memberikan perintah seperti itu sekarang? Setelah selesai memberikan perintahnya, Raja kembali menuju tandu nya dan mengajak rombongannya untuk kembali ke istana.

Perwakilan utusan Qing berkata pada Seja bahwa Kaisar mereka tidak akan membiarkan hal ini, Seja tahu itu. Dia menghentikan tandu Ayahnya dan bicara dengannya,

“Abamama, Ini akan menjadi bencana bagi Joseon. Mohon batalkan perintahmu.”

“Ini terlalu terlambat. Selama 9 tahun terakhir, aku mengulangi ini setiap hari. Akhirnya aku mengatakannya hari ini. Mereka adalah musuh kita. Mereka membunuh begitu banyak rakyat kita. Mereka pantas untuk dibunuh”

Seja mengerti kecemasan dan ketakutan Ayahnya, namun apa yang paling dia takutkan adalah…

“Ini akan menjadi perang”


Perintah raja tak bisa di tarik lagi, para pengawal mencari Yong Gol Dae yang sedang menyelidiki kaburnya Mi Ryung dari Mohwanguan setelah membunuh dayang istana Joseon. Dengan perlindungan dari para wakil jendralnya, Yong Gol Dae berhasil melarikan diri membawa buku catatannya dengan meloncat dari kamar Mi Ryung.

Yong Gol Dae bertemu Dal Hyang yang baru saja sadar dari pingsannya setelah melompat dari tempat yang sama. Dal Hyang mendengar para prajurit berteriak untuk menangkap dan membunuh Yong Gol Dae itu adalah perintah Raja.

Dal Hyang pun tidak buang waktu dia segera mengejar Yong Gol Dae dan bertekad untuk menangkapnya. Dia mengeluhkan hari pertamanya bekerja karena harus di racun seorang gadis, dan juga dia akan menunda dulu misi rahasiannya setelah dia berhasil menangkap Yong Gol Dae, karena itu adalah perintah Raja.

Apa yang Seja lakukan untuk mengatasi kekacauan yang disebabkan keputusan mendadak Ayahnya? Dia mencoba untuk mencegah terjadinya perang, jadi dia pun memanggil Min Seo dan Seung Po, dia memberikan misi rahasianya, mereka harus menangkap Yong Gol Dae terlebih dahulu, untuk menyelamatkannya dari hukum penggal Raja.

***

Episode kali ini aku No comment dulu yah^^ tidak ada tenaga untuk berbicara banyak tentang Seja-nim. Cuman mau bilang, ternyata Seja ganteng banget kalo lagi senyum #plak.

Just for Info, ternyata Lee Jin Wook aslinya memang ada keturunan darah bangsawan dalam tubuhnya, jadi keluarga Jinwook ini adalah keturunan Jeonju Yi Clan, yang merupakan keturunan keberapa dari King Sejong. Hehehe, pantes aja yah, dia tampak sangat menikmati perannya jadi Putra Mahkota^^

*written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*
8 Komentar untuk "Samchongsa Episode 4: Protect The Enemy"

Yey... Akhirnya muncul juga,.
Irfa makasich banyak,,
Tambah penasaran dengan episode slanjutnya ...
Suka scene min seo dan para pelayan.,
Seung po dan pan seo,.
Ayah dan ibu nya dal hyang yg agak alay...
Bamboo scene ngingetin ma movie apaaa ya?
Upss... Kepanjangan komen...
Irfa, fighting!

Lupa.... My favourite scene....
Kyaaaaa ( alay)
Royal couple!
Keep in touch !

Akhirnya muncul juga linknya, , , mkin pnsran sama episode slnjutnya, , , mksih sinopsisnya, , , saranghae yonghwa opPa, , ,

sbel liat raja injo lebay,kliatan kaya pecundang, miryeoung trtarik sm dalhyang?hiyaahahhaha itu alsan dalhyang gk di bunuh? kalo gak di gaji trs makannya gmna? huhuhu kasian dalhyang karakter paling ngenes

Aaahahaaa...kasian PDhyang...smua pda suka godain dia...ngenessss polll...

yaaaaaaah malah ga komen di sini wkwkwkwk
yang episode 5 aja deh ditunggu :P
apalagi waktu maen pedang itu ^^

semangat kakak
tak tunggu episode 5 nya... :)

Mksh ya mba ...ditunggu part selanjut nya

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top