Samchongsa Episode 5: The Duel


Huft, cerita episode minggu ini sedikit membingungkan untuk ku hingga aku perlu mencernanya selama berhari-hari. Ini SWnim Song emang jagonya bikin orang mikir, kali ini bukan karena ceritanya, tapi karena karakternya, jujur saja aku jadi menebak-nebak apa pikiran tiap karakter di drama ini, apalagi karakter Sohyun Seja, sumpah deh akh, ni orang Ajaib amat, kadang kata-kata yang dia keluarkan itu tidak terprediksi, dan saat dia tertawa ataupun terdiam, aku tidak bisa membaca apa yang sebenarnya ada dipikirannya. Dan Lee Jin Wook memerankan karakter Sohyun Seja ini dengan baik, sangat berbeda dari karakter Sun Woo di Nine yang sangat terbuka pada penonton, sehingga semua emosi Sun Woo tersampaikan dengan baik. Sebaliknya dari Sun Woo,  Sohyun Seja ini, makin ke sini malah makin misterius. 

Perintah Raja untuk menangkap dan membunuh Yong Gol Dae adalah mutlak, tak bisa di tarik lagi. Semua petugas militer di kerahkan untuk menangkapnya, sayangnya Dal Hyang yang memiliki kesempatan untuk menangkapnya kehilagan dia karena gagal bertarung melawannya. Yong Gol Dae pergi menuju gunung setelah lolos dari hutan bamboo. Dal Hyang kembali mengejarnya.

Yong Gol Dae berhasil menemukan jalan untuk kabur setelah membunuh dua orang pelayan dan seorang Nona yang menggunakan kuda. Dal Hyang melihat dari kejauhan dan bertanya pada prajurit yang bersamanya, apakah mereka diperbolehkan membunuh Yong Gol Dae? Ya, mereka di perbolehkan. Dal Hyang pun langsung mengambil inisiatif untuk menembak Yong Gol Dae, namun sayang tembakannya meleset, tapi ibu bukan salah Dal Hyang, seseorang menggagalkan tembakannya.

Dal Hyang bingung, apa yang terjadi seseorang membuat tembakannya meleset dan menyerang prajurit yang bersamanya, dia juga di serang hingga pingsan dengan kepala berdarah. Orang itu adalah Min Seo, dia meminta maaf pada Dal Hyang dan sempat mengelap darahnya, Min Seo menyesalkan mengapa Dal Hyang yang ada disana. Min Seo memanggil Seung Po dengan isyaratnya dan Seung Po datang untuk mengejar Yong Gol Dae setelah Min Seo memastikan Dal Hyang tak sadarkan diri.

Suara tembakan itu tentu saja menggemparkan semua orang, pihak utusan Cina khawatir jenderal mereka terluka. Raja cemas apakah akhirnya Yong Gol Dae tertangkap? Seja? Dia yang paling cemas diantara semuanya, karena kematian Yong Gol Dae akan jadi akhir bagi Joseon di matanya, itulah mengapa dia memerintahkan Seung Po dan Min Seo untuk menangkap Yong Gol Dae dan melindunginya.

Kerajaan menjadi ricuh karena Yong Gol Dae belum juga tertangkap. Choi Myung Gil berharap Raja menarik perintahnya untuk membunuh Yong Gol Dae dan melepaskan para utusan, dia masih ingin berusaha mencegah meletusnya perang. Pejabat lain tidak ada yang mendukungnya, mereka berpikir Perang sudah di mulai. Tidak, perang belum di mulai karena Yong Gol Dae masih hidup, sekarang ini mereka harus memastikan Yong Gol Dae hidup agar bisa bicara, tapi Raja masih tetap pada keputusannya untuk menangkap dan membunuh Yong Gol Dae.

Dalam suasana rusuh itu, Kasim mendatangi Seja yang tidak berkutik di ruang rapat itu. Seja mendapatkan surat dari Seung Po yang mengabarkan bahwa mereka berhasil menangkap Yong Gol Dae dalam keadaan hidup. Seja kini bisa bernafas lega, dia mulai memikirkan bagaimana agar bisa bicara dengan sang jenderal.

Dal Hyang terbangun di kamarnya, Pan Se sedang merawatnya dengan panik karena sempat berpikir Dal Hyang telah tewas saat petugas militer menyuruhnya membawa Dal Hyang pulang. Bersyukurlah Dal Hyang masih hidup. Dal Hyang bertanya apakah Yong Gol Dae sudah tertangkap? Belum, Pan Se mulai cemas apakah perang akan kembali meletus? Dia benar-benar khawatir tentang hal itu. Dal Hyang berpikir tentang keanehan saat dia mencoba menangkap Yong Gol Dae, Dal Hyang sadar ada orang yang membantunya kabur, tapi... siapa?

Pan Se bertanya tentang jarum yang dia temukan di baju Dal Hyang, dengan sigap Dal Hyang menjauhkan Pan Se dari jarum itu, apakah Pan Se ingin mati? Pan Se ketakutan dan bingung mengapa dia bisa mati karena jarum itu. Dal Hyang berkata dia harus bersiap-siap karena harus pergi ke suatu tempat untuk membuat laporan.

Seja-bin masih galau karena kehilangan surat nya untuk Dal Hyang, Sanggung datang memberitahu jika Seja keluar dari kamarnya, apakah dia akan datang ke kamar Seja-bin? Tidak.  Seja sedang menuju kantor militer, Seja-bin pun bergegas keluar kamar untuk menemui suaminya.

Seja-bin menemui suaminya di depan kantor militer, dia menyapa suaminya, namun dia tidak memperhatikan jalan sehingga dia tersandung roknya sendiri, untung saja Seja cepat tanggap dan menangkapnya sebelum dia terjatuh. Para Dayang langsung merasa tidak enak melihat adegan itu.

Seja kemudian bertanya apakah Seja-bin tidak apa-apa? Lalu dia berkata pada istrinya, “Jika kau terus melakukan ini mereka akan berpikir kalau jimat itu benar-benar efektif. Apa kau masih akan terus-menerus menjadi anak yang baik untuk ibumu?” Seja-bin baru paham maksud suaminya, dia langsung panik dan berkata dia hanya tersandung, hahaha

Apakah Seja-bin datang karena rumor tentang Yong Gol Dae? Seja menangkan tidak ada yang terjadi, Seja-bin tidak usah cemas. Tapi Seja-bin datang bukan untuk itu, dia datang karena ingin mengatakan sesuatu tentang dirinya. Seharian ini Seja-bin menunggu Seja, dia ingin mengatakan bahwa dia sudah melakukan sebuah kesalahan. Apa itu? Seja-bin memberi isyarat agar para Dayang dan pengawal menjauh.

Seja-bin berusaha mengatakan apa yang ingin dia beritahu pada Seja, pastinya tentang suratnya yang hilang, tapi Seja-bin begitu ragu dan takut. Dia tidak bisa mengatakannya dan berkata nanti saja. Seja jadi penasaran, memangnya kesalahan apa yang telah dilakukan istrinya itu? Seja-bin tidak bisa bilang, dia memilih untuk pergi saja.

Seja paham dan berkata dia akan datang berkunjung ke kamar Seja-bin nanti, tapi dengan panik Seja-bin langsung menolak dan berkata anggap saja Seja tidak mendengar apa-apa malam ini.

Seja menatap kepergian istrinya dengan bingung, dia tahu ada yang salah dengan Seja-bin, tapi dia tidak bisa mencari tahunya sekarang karena ada sesuatu yang lebih penting yang harus dia urus.

Saat kembali ke keistananya,  Seja-bin melihat Dal Hyang (OK kita klarifikasi dulu, jadi Seja dan Seja-bin tinggal di komplek istana yang sama, namun kamar mereka berbeda yah?). Dal Hyang datang untuk menemui Seja, namun Seja tidak ada.

Dal Hyang menyapa Seja-bin dan dengan wajah dingin Seja-bin bertanya untuk apa Dal Hyang datang ke istana? Dal Hyang ingin melaporkan sesuatu pada Seja. Mendengar hal itu Seja-bin kaget karena Dal Hyang masih berhubungan dengan Seja secara personal. Dal Hyang minta maaf karena dia tidak bisa mengatakan apapun tentang hal itu. Seja-bin tidak ingin memperpanjang masalah, dia berusaha memahami bahwa urusan Seja dan Dal Hyang bukan lagi tentang masalahnya.

Saat Seja-bin akan kembali ke kamarnya, Dal Hyang bertanya pada Seja-bin, “Apakah Anda kehilangan surat itu?” Seja-bin kaget mendengarnya, bagaimana Dal Hyang bisa tahu??

Sampai di kamarnya, Seja-bin langsung merasa pusing, dia bingung bagaimana menyelesaikan masalah surat yang hilang itu, dan dia merasa harus tahu mengapa Dal Hyang tahu jika dia kehilangan surat itu. Seja-bin pun memanggil Sanggung untuk menyingkirkan para dayang, dia harus berbicara dengan Dal Hyang.

Seja-bin memanggil Dal Hyang ke kamarnya, dia sudah mempersiapkan Tirai untuk berbicara dengan Dal Hyang, pertanyaan terpentingnya bagaimana bisa Dal Hyang tahu Seja-bin kehilangan suratnya? Apakah mungkin Dal Hyang… tentu saja tidak mungkin.

Dal Hyang melihat ada orang lain yang memiliki surat itu dan surat itu nantinya akan digunakan untuk mencelakai Seja-bin. Dal Hyang tidak bisa mengatakan siapa orang itu, tapi sebaiknya Seja-bin berhati-hati dan menyelidiki para dayang di istananya, salah satu diantara mereka pasti mata-mata. Mendengar apa yang dikatakan Dal Hyang, Seja-bin langsung gemetar, ada mata-mata di istananya?

Dal Hyang bertanya mengapa Seja-bin tidak membakar surat itu, bukan kah dia pernah bilang sudah membakarnya? Dal Hyang sebaiknya tidak berpikir macam-macam, dia masih menyimpannya hanya karena merindukan masa mudanya.

Apakah Seja tahu tentang hilangnya surat itu? Dal Hyang datang untuk melapor pada Seja, karena memang dia harus melaporkannya. Dal Hyang tidak bisa memberi tahu alasannya. Saat ini yang harus Seja-bin lakukan adalah menemukan mata-mata di Istananya. 

Di balik tirai Seja-bin mulai menangis, Dal Hyang meminta jawaban apakah Seja-bin akan menemukan mata-mata itu atau tidak. Seja-bin diam saja. Hingga Dal Hyang melihat Seja-bin menangis dari balik tirai.

Dal Hyang akhirnya membuka tirai itu dan menemukan air mata Seja-bin. Tindakannya sangat mengagetkan, Seja-bin bahkan merasa kesal, Berani sekali Dal Hyang. Tapi Dal Hyang tidak peduli, dia bertanya mengapa Seja-bin menangis?

“Aku benci berada disini. Disini selalu seperti ini. Kau tidak bisa mempercayai siapapun. Ini Rahasia, Itu Rahasia.  Ada dinding dimana-mana.”

Dal Hyang merasa iba melihat tangisan gadis yang jadi cinta pertamanya itu. Dal Hyang kemudian bertanya, “Apakah Anda tidak dicintai?”

“Cinta? Apa itu? Kau bicara omong kosong sekarang”

Cinta bukan masalah besar saat ini, tapi hilangnya surat itu bisa membuatnya di Turunkan dari posisinya sebagai Seja-bin. Jika sampai itu terjadi, keluarganya juga akan dalam bahaya dan Dal Hyang… *pasti kena imbasnya juga*

Seja-bin merasa dirinya begitu bodoh karena tidak membakar surat itu dengan segera. Dal Hyang mencoba menenangkan Seja-bin dengan memintanya segera menemukan mata-mata itu, untuk hal lainnya dia yang akan mengurus.  Seja-bin hanya harus percaya padanya.

Dari luar, terdengar sanggung memanggil Seja, “Jooha”

Dal Hyang dan Seja-bin sama-sama kaget, Seja datang ke kamar Seja-bin, di waktu yang tidak diharapkan.

Seja bertanya pada Sanggung apakah istrinya ada di dalam? Sanggung gugup dan menjawab iya dan tidak, Seja jadi curiga, jadi sebenarnya ada atau tidak? Sanggung tidak bisa mengelak dan mengatakan Seja-bin ada di dalam, dia pun membuka kan pintu untuk Seja setelah mengumumkan kedatangannya.

Seja masuk ke dalam kamar istrinya dan melihat sikap Seja-bin yang tampak gugup. Dia kaget karena kedatangan tiba-tiba suaminya.

Seja-bin: Jooha.. kenapa tiba-tiba..
Seja: Sekarang aku penasaran. Kesalahan apa yang kau lakukan? Aku ingin mendengarnya.
Seja-bin: *bingung dan gugup*Itu…

Seja melihat sisa air mata di wajah istrinya, dia mengusapnya perlahan, “Apakah kau menangis?” Seja-bin cukup kaget dan dia mengelak. Namun Seja tidak percaya begitu saja, dia menyadari ada yang disembunyikan oleh istrinya.

Seja bertanya-tanya sambil berkeliling di kamar Seja-bin, “Kesalahan apa yang begitu buruk... yang membuatmu sampai menangis?” Seja melihat bandul tirai yang tampak seperti baru diturunkan dan dia melihat hiasan pembatas ruangan di kamar istrinya.

“Apa sesuatu seperti ini?”

“Sesuatu seperti... membawa seorang pria  ke kamarmu tanpa sepengetahuan suamimu?” Saat mengatakan itu Seja langsung membuka pembatas ruangan itu. Dan Dal Hyang ada disana, langsung membeku karena ketahuan Seja.

Seja tertawa sinis, “Itu sebabnya aku tidak mengijinkanmu  berada dalam timku. Aku benar tentang apa yang aku katakan padamu” Dal Hyang mencoba membela diri bahwa semuanya tidak seperti yang dituduhkan.

Seja tidak mau mendengarkan dan mulai mengambil kesimpulan, sementara Seja-bin meringis ketakutan.

“Biarkan aku memikirkannya kali ini sebelum aku membuat keputusan. Soal surat itu... aku memaafkanmu dengan kemurahan hati. Tapi bukannya berterima kasih... kau malah mengeluh. Mengatakan kalau aku  memiliki masalah... karena aku tidak cemburu. Kalau begitu... ...aku akan tunjukkan apa yang harusnya  dilakukan seorang suami kali ini”

Seja-bin makin ketakutan, dia berusaha menjelaskan bahwa suratnya dicuri seseorang. Itu adalah salahnya karena tidak segera membuangnya, tadinya dia ingin memberitahu Seja, karena itulah tadi Seja-bin menemui  Seja, tapi dia terlalu takut untuk mengatakannya. Kemudian Seja-bin bertemu Dal Hyang yang datang untuk melapor dan tahu tentang hilangnya surat itu.

Siapa yang telah mencuri surat itu? Seja merasa itu tidak masuk akal. Seja-bin bingung dia juga tidak tahu siapa yang sudah mencurinya. Akhirnya Dal Hyang angkat bicara tentang siapa yang telah mencuri surat itu,  “Dia adalah wanita... yang anda cari-cari” Seja langsung menatap Dal Hyang mendengar hal itu. Mimik mukanya pun langsung berubah saat mengetahui jika Mi Ryung lah yang mengambil Surat milik Seja-bin.

Dal Hyang menjelaskan jika dia berpikir harus mengkonfirmasi pada Seja-bin tentang hilangnya surat itu dan karena Dal Hyang tidak ingin memberikan masalah pada Seja-bin, dia bersembunyi disana. Hanya itu yang terjadi. Seja bahkan tampak tak peduli lagi tentang alasan mengapa Dal Hyang ada di kamar istrinya, karena perintah selanjutnya dari Seja adalah mengajak Dal Hyang keluar.

Seja-bin bingung tentang wanita yang dibicarakan Dal Hyang, dia berusaha bertanya pada suaminy siapa wanita itu, tapi Seja sudah keluar dari kamarnya.

Dal Hyang mencoba menenangkan Seja-bin, jika Seja tidak akan memperkarakan masalah ini, karena semua ini berawal dari kesalahan Seja. Mendengar apa yang dikatakan Dal Hyang, Seja-bin semakin bingung.

Dal Hyang mengikuti Seja ke kamarnya, mereka harus membicarakan tentang Mi Ryung. Seja memerintahkan Dal Hyang untuk melaporkan semuanya dari awal.

“Yong Gol Dae menangkapnya sebagai sandera. Dia masuk ke Mohwaguan disamarkan... sebagai isteri dari wakil jenderal, tapi... dia melarikan diri tepat setelahnya”

“Apakah kau melihat wajahnya”

“Ya, dia wanita yang sama. Seperti yang anda katakan, dia memperkenalkan diri sebagai Hyang Sun”

“Dan?”

“Dia sudah tahu kalau anda akan mengirimkan seseorang. Dan juga tentang saya  dan Putri Mahkota. Dia sudah tahu semuanya. Saya mencoba untuk  menangkapnya, tapi... dia menggunakan jarum beracun. Dia juga membunuh seorang pelayan dengan menggunakan ini. Dia wanita yang menakutkan”

Dal Hyang mengatakan itu sambil menyerahkan jarum beracunnya pada Seja.

Seja bertanya apakah ada hal lain yang dikatakan Mi Ryung? Dal Hyang menyampaikan apa yang Mi Ryung katakan tentang racun yang di sebarkan di tubuh Dal Hyang. Di kesempatan selanjutnya, giliran Seja yang akan kena racun itu. Seja tersenyum sinis  mendengarnya. Tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang Mi Ryung.

Apakah ada hal lain? Dal Hyang mengingat tentang Mi Ryung yang memberinya peringatan agar Dal Hyang tidak mengabdikan dirinya pada Seja. Namun Dal Hyang tidak mengatakan hal itu pada Seja, membuat Seja curiga karena Dal Hyang diam saja. Dal Hyang pun akhirnya mengatakan jika Mi Ryung menyalin surat Yoon Seo, jadi sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu pada Seja-bin.

Dal Hyang jadi penasaran siapa sebenarnya Mi Ryung, mengapa dia berusaha mencelakakan mereka dan mengapa 5 tahun lalu Seja ingin membunuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi 5 tahun lalu? Dal Hyang tidak bisa melanjutkan misinya jika dia tidak tahu apa-apa,  lagi pula ini menyangkut keselamatan putri mahkota.

Seja tidak senang karena Dal Hyang mencemaskan istrinya. Itu adalah tugasnya mengkhawatirkan Seja-bin. Tapi.. surat itu milik Dal Hyang. Sigh, Seja semakin tidak senang mendengarnya.

“Kau bilang surat itu adalah milikmu. Apa maksudmu bahwa  hati Putri Mahkota masih milikmu? Kenapa itu terdengar seperti kau mengklaim dia adalah milikmu? Aku mengagumi perasaanmu yang innocent ...tapi itu sudah cukup. Aku tidak akan mentoleransinya lagi”

“Kau harus selalu mendengarkan kata-kataku baik-baik. Baik itu gurauan... ataupun bukan”

Dal Hyang terdiam mendengar kata-kata tidak menyenangkan dari Seja, dia mungkin tidak bermaksud mengklaim Seja-bin, namun cara dia mengakui surat itu adalah miliknya memang tidak bisa dibenarkan. Kasim memberitahu Seja jika para pejabat sudah datang. Seja pun berniat keluar, masih ada urusan yang lebih penting di banding Mi Ryung yang harus dia selesaikan.

Seja memberitahu kasim tentang apa yang dilakukan Mi Ryung, karena itulah Seja menyuruh kasim untuk memeriksa semua Dayang yang ada di istana Seja-bin juga orang-orang di keluarganya. Ini sangat berbahaya, jadi Kasim harus berhati-hati.

Seja-bin menggalau di kamarnya, dia mencemaskan tentang nasibnya dan kemarahan Seja padanya. Saat Sanggung mengumumkan bahwa Seja datang, Seja-bin lebih cemas lagi. Namun dia harus menghadapi suaminya itu.

“Ini semua kesalahan hamba, Hamba hanya menyimpannya...sebagai kenangan masa muda. Tapi Hamba begitu bodoh. Ini semua salah Hamba jadi...”

“Tidak. Itu kesalahanku. Itu semua kesalahanku Kau tidak perlu minta maaf” Seja langsung memotong pengakuan istrinya itu.

Seja-bin bingung bagaimana bisa itu semua adalah kesalahan Seja. Namun Seja hanya tersenyum dan berkata,“Jika sesuatu terjadi karena hal ini... aku akan melindungimu. Aku akan selalu berpihak padamu, jadi jangan khawatir. Percayalah padaku”

Seja-bin sebenarnya masih bingung dengan sikap suaminya yang malah mengakui itu sebagai kesalahannya, namun dia merasa lega karena Seja tidak marah padanya. Seja tersenyum pada Seja-bin saat dia mengatakan untuk mempercayainya dan kemudian Seja berniat pergi, namun dia kembali berbalik.

“Apa Park Dal Hyang mengatakan hal yang sama? *Jangan khawatir, percayalah padaku*?” Seja memastikan tentang apa yang Dal Hyang katakan pada istrinya. Seja-bin terdiam sambil mingkem, melihat reaksi istrinya Seja tahu Dal Hyang mengatakannya.

Seja tertawa kecil dan berkata, “Kurasa dia mengatakan itu. Beraninya dia” dengan nada tidak senang.
Setelah Seja pergi dari kamarnya, kini Seja-bin benar-benar bisa bernafas lega. Setidaknya masalah hilangnya surat itu tidak akan memperburuk hubungannya dengan sang suami.

Dal Hyang keluar dari kamar Seja, namun dia menatap kediaman Seja dan Seja-bin, dia teringat kata-kata Seja-bin tentang dia yang membenci berada di istana, tapi Seja memberi Dal Hyang peringatan untuk tidak mengklaim surat itu sebagai miliknya, apakah Dal Hyang berpikir hati Seja-bin masih miliknya? Lalu Cinta? Seja-bin kini bukan orang yang memikirkan tentang cinta lagi, dia sangat jauh berbeda dari masa mudanya.

 Dal Hyang tidak sengaja bertabrakan dengan petugas lain, ternyata dia adalah Min Seo. Seung Po pun ada disana, dia menyapa Dal Hyang sebagai temannya. Ada apa dayang di kediaman Seja? Dia datang karena di panggil.

Seung Po penasaran, oleh siapa? Seja-bin? Melihat reaksi Dal Hyang, Seung Po tahu dirinya benar, dia pun menggoda Dal Hyang.

“Benar… Tinggal di ibu kota...cinta rahasia itu suatu keharusan. Apa yang dia katakan? Dia merindukanmu?”

Dal Hyang menyangkal, “Jangan bicara omong kosong. Aku ke sini untuk melapor” Seung Po dan Min Seo heran, melapor pada Seja? Tentang apa? Dal Hyang berkata dia tidak bisa bilang, mereka tanya saja sendiri pada Seja.

Seung Po dan Min Seo pun pamit karena mereka sibuk, Dal Hyang memungut sapu tangan yang di jatuhkan Min Seo dan bertanya tentang sapu tangan itu. Min Seo segera mengambil sapu tangannya dan Dal Hyang merasa aneh dengan sapu tangan itu, sepertinya dia mengenali sapu tangan berdarah itu.

Dal Hyang keluar dari istana dengan hati tidak tenang, dia merasa ada yang aneh. Dia juga mencurigai gelagat Seung Po dan Min Seo, lalu sapu tangan itu… Dal Hyang memegang kepalanya yang terluka. Apakah mungkin?

Apa kabarnya Yong Gol Dae? Seung Po dan Min Seo membawa nya ke sebuah ruangan, dan ternyata di ruangan itu sudah ada Seja yang berbicara dalam bahasa Manchu *WOW* Seja meminta maaf karena dia harus menculik Yong Gol Dae seperti itu, tapi itu adalah untuk menyelamatkannya.

Yong Gol Dae kaget karena Seja bisa berbicara bahasa mereka. Seja sengaja mempelajarinya karena dia merasa bahasa itu lebih penting dari bahasa Ming. Yong Gol Dae tentu tahu tentang negaranya, jika Seja katahuan bisa berbahasa Manchu dia bisa di turunkan dari Tahtanya, jadi… kini Yong Gol Dae telah tahu kelemahannya, dan dia pun sedang menunjukkan posisinya terhadap Qing. Jika Yong Gol Dae sedang mencari sekutu di Joseon, Seja adalah pilihan yang lebih baik dari Kim Ja Jum.

Mendengar penawaran Seja, Yong Gol Dae cukup kaget. Dia sudah tahu tentang Seja selama 10 tahun, dia tidak menyangka jika mereka akan membicarakan hal ini. Seja sudah menegaskan sebelumnya, dia tidak ingin di turunkan dari posisinya sebagai Putra Mahkota sebelum dia mendapatkan Tahtanya, jadi.. dia tidak ingin perang antara Qing dan Joseon terjadi.

Dimana sebenarnya mereka berdua berada? Yong Gol Dae merasa penasaran dengan hal itu. Dimanakan mereka menurutnya? Mereka ada di ruang perpustakaan Pribadi Seja, Yong Gol Dae berada di istana. Yong Gol Dae kaget menyadari hal itu. Istana adalah tempat teraman, dia tidak meninggalkan Yong Gol Dae di gunung karena terlalu banyak prajurit yang mencarinya.

Seja menceritakan bagaimana Yong Gol Dae yang ditangkap oleh Seung Po dan Min Seo di gunung bisa tiba di istana. Seja membawa Yong Gol Dae ke istana dengan tandunya, dengan alasan ingin melihat langsung kondisi pencarian Yong Gol Dae, untungnnya petugas tidak ada yang curiga hingga Seja bisa dengan lancar membawa Sang Jenderal ke Perpus Pribadinya.

Seja mengajak Yong Gol Dae duduk untuk mendiskusikan masalah yang sedang terjadi

Min seo dan Seung Po yang sedang berjaga di luar menyadari ada orang yang datang. Ternyata itu Dal Hyang yang mencurigai tentang apa yang terjadi padanya tadi pagi. Dia merasa dia serang oleh orang yang dikenalnya saat sedang mengejar Yong Gol Dae. Dia merasa orang itu membersihkan lukanya dan Dal Hyang yakin Min Seo lah yang melakukannya.

Seung Po dan Min Seo pura-pura tidak mengerti apa yang dibicarakan Dal Hyang, apakah dia mabuk? Dal Hyang tidak menyerah, dia juga merasa heran mengapa Seja datang Perpus pribadi di tengah malam seperti ini dan mereka berjaga disana, pasti ada sesuatu di dalam sana dan Dal Hyang merasa Jenderal Yong Gol Dae yang ada di dalam.

Dal Hyang berusaha menerobos masuk, Seung Po langsung mencegah dan berkata Seja sedang membicarakan sesuatu yang penting. Min Seo pun menghalanginya, tapi Dal Hyang tetap bersikeras masuk untuk memeriksa, Seung Po berkata mengapa mereka tidak bekerja sama lagi saja seperti biasa. Dal Hyang menolak, karena perintah raja adalah menangkap Yong Gol Dae, Seung Po mengingatkan, politik tidaklah seperti itu, Seja melakukan ini untuk melindungi Joseon juga, tapi bagi Dal Hyang perintah raja adalah yang utama.

Seung Po dan Min Seo tidak bisa membiarkan Dal Hyang mendekat lagi, mereka memilih bertarung melawan Dal Hyang untuk menghalanginya menerobos masuk ke dalam Perpus.

Di dalam, Seja dan Yong Gol Dae sedang berdiskusi, sebenarnya Yong Gol Dae merasa, perang dengan Joseon hanya akan menghabiskan energi mereka saja. Kaisar Qing memang ingin berperang, tapi Yong Gol Dae menentangnya. Yang dia inginkan hanya lah perlakuan yang layak dari Joseon dan balasan surat untuk Kaisar Qing. Seja memahami keinginan Yong Gol Dae dan merasa mereka bisa membuat kesepakatan. Tapi mereka mendengar suara ribut-ribut di luar, Seja pun waspada. Dan melihat apa yang terjadi di luar.

Seja melihat Dal Hyang sedang bertarung melawan Seung Po dan Min Seo. Untuk beberapa saat Seja membiarkannya dulu, hingga dia memberi perintah untuk berhenti. Min Seo yang berhenti duluan, Seung Po dan Dal Hyang berhenti kemudian.

Dal Hyang kemudian meminta ijin untuk memeriksa Perpus Pribadi Seja karena dia merasa di dalam sana ada Yong Gol Dae, sementara dia mendapat perintah dari Raja untuk menangkapnya. Dal Hyang memaksa masuk, padahal Seja sudah menyuruhnya untuk berhenti. Dal Hyang mengabaikan perinta Seja, dan ini membuat Seja marah, “Beraninya kau melawan perintahku”

“Perintah Baginda Raja berada di atas perintah anda. Seperti yang anda katakan. Perintah Raja adalah yang pertama”

Dal Hyang memang tidak salah, Seja pernah mengatakan itu, tapi kondisinya tentu saja berbeda saat ini.

“Hamba melakukan seperti  yang anda katakan. Hamba melaksakan perintah Raja. Jadi hamba tidak bisa melaksanakan  perintah anda. Tolong menyingkirlah. Jika anda tidak bekerja sama... hamba harus memanggil pengawal”

“Jika aku tidak menyingkir, apa kau akan menyerangku?”

Seja menatap Dal Hyang dan dia merasa kegigihan Dal Hyang untuk menerobos masuk bukan hanya sekedar karena perintah Raja.

“Matamu memberitahuku.... kau bisa melakukannya”

Dal Hyang bersikeras, jika memang Seja melawan perintah Raja, maka dia harus melawannya. Seja mengambil keputusan. Jika memang itu mau Dal Hyang, maka Dal Hyang harus mengalahkannya dulu. Seung Po kaget mendengarnya, apa yang sebenaranya sedang Seja lakukan? Dia bahkan melepaskan Topinya bersiap untuk berduel dengan Dal Hyang.

"Kau tidak melaksanakan perintah Raja... tapi akan melawanku."

"Hamba hanya pejabat yang mencoba melaksanakan perintah Raja"

"Tidak, kau tidak mematuhiku... dengan alasan perintah Raja. Karena kau kehilangan seorang wanita karena aku. Kau menjadi kekanak-kanakan... tidak mengetahui apa  yang terjadi di sekitarmu. Bukankah begitu?"

Dal Hyang merasa Seja tidak masuk akal dengan menuduhnya seperti itu. Tidak, dimata Seja begitulah sikap Dal Hyang saat ini, jadi Seja akan mengajaknya melakukan sebuah taruhan. Seja mengatakan dengan jelas jika Yong Gol Dae ada di dalam. Dal Hyang bisa mendapatkannya jika dia berhasil mengalahkan Seja. Dal Hyang akan terkenal dan sukses menjadi seorang petugas militer. Tapi jika Dal Hyang yang kalah, Seja akan mencabut semua kebaikan hatinya, termasuk membatalkan kelulusan Dal Hyang sebagai petugas militer.

Bukan kah itu taruhan yang menarik, Dal Hyang tidak akan pernah tahu bagaimana hidupnya menjadi tidak terduga. Seung Po dan Min Seo merasa bukan waktunya untuk mengadakan taruhan, seseorang bisa saja datang ke tempat itu jika terjadi keributan antara Seja dan Dal Hyang. Seja tidak peduli dan  memerintahkan mereka untuk menyingkir.

Dal Hyang merasa tidak bisa melakukan pertarungan itu, bahkan Seja bertarung dengan baik Seja bukanlah seorang Prajurit yang akan mempertaruhkan hidupnya. Baiklah, bagaimana rasanya di bunuh oleh seseorang yang bukan Prajurit, apakah Dal Hyang ingin merasakannya? Seung Po langsung panik, dan berusaha mencegah Seja. Tapi keinginan Seja tidak bisa lagi di bendung, dia sudah terlalu kesal dengan tingkah Dal Hyang.

Seja tidak sedang bercanda saat ini, dia benar-benar serius menantang Dal Hyang, akhirnya Dal Hyang pun mengayunkan pedangnya untuk melawan Seja. Mereka pun bertarung dan Dal Hyang melihat luka di tangan Seja kembali terbuka, Seja melihat Dal Hyang menjadi tidak fokus dan akhirnya melukai lengan Dal Hyang.

Seung Po tidak tahan dengan hal ini, bagaimanapun tugasnya adalah melindungi Seja, tapi Seja menyuruhnya untuk tidak menganggu, itu perintah!

Saat Seja dan Dal Hyang kembali saling mengayunkan pedangnya, seseorang datang dan berdiri diantara dua sabetan pedang itu. Dia adalah Seja-bin yang meminta mereka untuk berhenti. Dal Hyang dan Seja meminta Seja-bin untuk menyingkir, ini adalah pertarungan antara pria.

Seja-bin kesal dan berteriak, “Kubilang hentikan!” Seja-bin menatap tajam pada keduanya. Akan kah duel Dal Hyang dan Seja terhenti karena permintaan Seja-bin?

***

Hahaha, Sohyun Seja di bakar cemburu. Entah mengapa aku merasa satu-satunya orang yang di bakar cemburu adalah Seja sendiri. Mungkin praduga Seja benar tentang Dal Hyang dan motifnya dalam melawan Seja, dia sudah kadung kesal pada Seja sejak awal dan ini adalah puncaknya, kebetulan juga dia memiliki alasan untuk melaksanakan perintah Raja. Dal Hyang mungkin memang tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.

Jujur saja aku tidak suka tingkah Dal Hyang di episode 5 ini, sejak dia menerobos membuka tirai Seja-bin dan dia begitu bersikeras memaksa masuk ke perpus pribadi Seja. Itu bukan sikap seorang prajurit. Dal Hyang sudah melanggar tata krama dan bisa jadi apa yang dituduhkan Seja ada benarnya, sayangnya aku tidak bisa menangkap kecemburuan dalam diri Dal Hyang, yang aku lihat sih, dia memang sedang kesal setengah mati pada Seja, apalagi Seja juga malah memprovokasinya seperti itu.

Jika Dal Hyang berpikir dengan jernih, dia akan berhenti saat Seung Po berkata mereka melakukan semua itu untuk Joseon. Seharusnya Dal Hyang berpikir, apa yang dilkukan Seja pada Yong Gol Dae ada alasannya. Bagaimana bisa seorang Putra Mahkota mengkhianati Negaranya sendiri. Namun karena dia sedang tidak berpikir jernih, dia terus memaksa untuk menerobos masuk dan malah menerima tantangan Seja.

Di sisi lain, Seja yang sudah kesal dengan tingkah Dal Hyang sejak dia tertangkap basah berada di kamar istrinya jadi bertambah kesal karena Dal Hyang menganggu diskusinya dengan Yong Gol Dae, apalagi Dal Hyang malah bersikeras menentangnya atas nama perintah Raja. Memang bukan sepenuhnya atas dasar kecemburuan mengapa Seja menantang Dal Hyang, namun tak bisa dipungkiri dalam rasa marah Seja pada Dal Hyang ada sedikit unsur kecemburuan, jika tidak dia tidak akan mengungkit masalah Dal Hyang yang kehilangan wanita dalam tantangan duel itu.

Bukan karena aku fans nya Jin Wook, jadi aku belain Seja lho, tapi menurutku Dal Hyang yang memang sudah lancang. Bagaimanapun Seja adalah putra mahkota, Dal Hyang terlalu berani melawan Seja, meskipun dia mengatas namakan perintah Raja disini, tapi seharusnya Dal Hyang juga berpikir jika Seja tidak mungkin melakukan hal yang melawan perintah Raja tanpa alasan. Dan aku rasa, Dal Hyang juga sudah meremehkan Seja saat awalnya menolak tantangan Seja. Jadi aku benar-benar merasa terganggu dengan attitude Dal Hyang di episode 5 ini.

Tensi politiknya semakin menajam, semoga ke depannya sikap Dal Hyang bisa lebih bijak, aku mengerti sih mengapa Dal Hyang bersikap seperti itu, karena dia petugas militer baru, dan ini adalah hari pertamanya bekerja, begitu banyak yang sudah dia lalui, namun tetap saja, dia terkesan lancang memaksa masuk ke dalam perpus pribadi Seja hanya dengan mengandalkan instingnya karena merasa Yong Gol Dae ada disana.

Tapi romance nya makin so sweet >.< memang sih belum ada skinship yang berarti, perasaan Seja dan Seja-bin pun masih bias. Seja-bin berusaha melakukan yang terbaik untuk menjadi seorang istri dengan tidak memikirkan cinta saat berada dalam istana. Kedudukannya sebagai seorang Seja-bin bukan lah hal yang sepele, dia mempertaruhkan keluarganya juga orang-orang disekitarnya. Masalah dia benci berada di istana juga sangatlah wajar, dan dia langsung gemetaran saat tahu jika ada mata-mata diantara dayang-dayangnya, siapa yah mata-matanya, moga bukan Sanggung yah^^ walau wajahnya judes, aku suka sama Sanggung lho, ekspresi dia lucu kalo liat Seja dan Seja-bin dalam kondisi tidak biasa, hahaha.

Saat Seja-bin tersandung rok nya, lucu banget sih itu, harus yah Seja godain Seja-bin masalah jimat itu. Tapi.. Seja cepat tanggap juga saat Seja-bin hampir terjatuh, sering-sering aja tuh Seja-bin tersandung rok nya di depan Seja, jadi bakal sering juga tuh dapet pelukan dari Seja, walau ceritanya itu untuk membantu Seja-bin saja, hahahaha.

Dan Awww… So Sweet nya saat Seja bilang dia akan memihak Seja-bin apapun yang terjadi. Kali ini Seja tidak ingin membuat Seja-bin resah lagi. Dia mencoba memahami betapa beratnya hidup sang istri di istana, di tambah lagi dengan kenyataan dirinya tidak bisa membuka hatinya selama 5 tahun ini, meskipun itu bukan salah Seja-bin tapi tetap saja dia membuat istrinya itu menderita. Sudah waktunya Seja menebus penderitaan Seja-bin selama 5 tahun ini. Semoga Seja segera membuka hatinya untuk Seja-bin yah^^

Karakter Sohyun Seja ini benar-benar di gambarkan sebagai seseorang yang visioner yah^^ Ntah kenapa aku suka sekali saat dia berdiskusi dengan Yong Gol Dae, dia benar-benar ingin melakukan yang terbaik bagi Joseon, namun sayang pemikirannya bertolak belakang dengan Ayahnya yang grasak grusuk dan selalu merasa unsecure menjalankan tahtanya sebagai Raja.

Ngomong-ngomong Mi Ryung gak nongol lagi yah di episode ini? Ya Ampun,,, Mi Ryung ini beneran kayak siluman aja deh, menghantui kehidupan Seja sampe segitu nya tapi suka menghilang tiba-tiba.

Akh penasaran apa yang akan terjadi di episode 6 nih, cie... cie... Ada yang udah ngijinin istrinya ngobatin lukanya nih, biasanya kan gak boleh pegang-pegang tuh >.< Issshhh penasaran banget deh sama hubungan mereka berdua ini ke depannya akan seperti apa^^

*written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*
6 Komentar untuk "Samchongsa Episode 5: The Duel"

mksh buat simopsis nya...
iya nie seja ama seja-bin benar2 bikin gregetan... suka sama nie couple klu lagi bersama

Ahh tambah seru. Mb irfa thanks ya sinopsisnya. Ditunggu next episode

Uuk

Aku suka banget karakternya binggung mama (seja bin)...ekspresinya itu loh..dapet banget...mau bingung, terkejut samapi spechlees semu a terwakili...mantap aktingnya ,sesuai banget sama karakter gak terduganya seja..

Aku setuju sama mbk irfa ...episod ini aku kurang suka sama Dal hyang .padahal aku penggemar JYH juga .semoga episode mendatang dal hyang lebih terkontrol emosinya .Namja2 ku ...fighting.

SWnim hebat bs bkin pemirsa makin greget + esmoni...(apalg sm Dhyang) sikapx bikin g enak (pdhl suka skli YHwa),,,eps awal q kira bercerita tentang Dhyang yg jd jendral besar ya ...smga heheee,,,gomawo mbak irfa

makasih bgt sinopsisnya, trus semangat nulis utk sinopsis2 yg lain :D

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top