Samchongsa Episode 2: The Three Musketeers


Hummm,,, episode 2 ini rada galau dan sedih apalagi Scene setelah Seja ketemu Mi Ryung, hihihi... its hurt watching him like to this again. Jin Wook-ssi aku padamu deh pokoknya >.<

Seja-bin menunggu berita tentang Ujian dari dayang agung (Sanggung) yang memberitahunya jika ujian sudah berakhir tapi Park Dal Hyang membuat masalah karena memanah salah satu kuda yang kemudian mengamuk dan merusak segalanya. Semua peralatan hancur, para pejabat banyak yang terluka, bahkan wajah Raja pun sedikit tergores.


Seja-bin kaget mendengarnya, dia langsung bertanya lalu bagaimana dengan Seja? Untunglah, Seja tidak apa-apa karena dia tidak berada dalam jalur kuda yang mengamuk. Seja-bin tersenyum lega mendengarnya (Uhm... melihat reaksi Seja-bin yang seperti ini sedikit banyak boleh akh aku simpulkan jika dia sebenarnya mencintai suaminya?)

Namun... Seja ditegur dengan bentakan oleh Raja, karena dia tertawa melihat kekacauan itu. dan Seja baru menghentikan tawanya saat dia sadar jika wajah Abamamanya itu terluka. Seja langsung menghampirinya karena khawatir. Seja-bin bingung mendengar cerita Sanggung, mengapa Seja malah tertawa menyaksikan kerusuhan yang disebabkan Park Dal Hyang?

Sementara itu, nasib Dal Hyang sedang di putusakan dalam sebuah sidang yang dipimpin Raja yang sangat murka dan tidak bisa memaafkan orang yang telah menimbulkan kekacauan juga membuat wajahnya terluka. Dal Hyang dianggap tidak fokus pada tujuannya. Para menteri pun meminta Raja untuk tidak meluluskannya dan memberinya hukuman, namun Seja langsung angkat bicara.

Seja membela Dal Hyang karena dia menjadi peringkat pertama dalam semua ujian, akan jadi tidak adil membuatnya tidak lulus karena insiden ini. Sebagai hukumannya mereka bisa memberikan jabatan terendah pada Park Dal Hyang. Apalagi selama beberapa tahun ini tidak pernah ada peserta yang lulus dari Gangwon-do, jika mereka berbuat tidak adil pada Dal Hyang mungkin akan mematahkan semangat pada peserta dari daerah lainnya. Apalagi orang-orang telah mengeluh tentang sulitnya lulus ujian jika mereka berasal dari daerah. Raja juga sebaiknya memikirkan nasib orang-orang dari wilayah.

Sambil menatap hujan Park Dal Hyang menanti keputusan tentang hasil ujian dan juga nasibnya. Seorang petugas memberitahunya Jika Raja mengampuni Dal Hyang namun dia tidak akan mendapatkan gelar dan gaji serta diberi posisi terendah, mereka akan melihat prestasinya di masa depan. Meski disayangkan karena harus menjadi peringkat terakhir karena masalah kekacauan yang dia sebabkan. Park Dal Hyang berterimakasih, petugas itu berkata seharusnya Dal Hyang berterimakasih pada Seja, karena dia lah satu-satunya orang yang membela Dal Hyang.

Dal Hyang bertanya pada petugas, mengapa Seja melakukan itu? Mengapa dia membela Dal Hyang? Petugas juga tidak tahu, mungkin Seja menilai Dal Hyang adalah orang yang berbakat. Dal Hyang termenung, dia masih tak habis pikir pada pemikiran putra mahkota.

Perlakukan pemilik penginapan tempat Dal Hyang tidur jadi berbeda karena Dal Hyang lulus ujian, hahaha. Dia jadi melayani Dal Hyang dengan baik, bahkan menghangatkan ruangannya^^ Pemilik penginapan memberikan sebuah surat pada Dal Hyang. Dari Samchongsa untuk Park Dal Hyang yang telah lulus ujian. Dalam surat itu di sebutkan jika para Samchongsa minta maaf karena telah menggagalkan Dal Hyang untuk mendapatkan peringkat pertama. Sebagai ucapan selamat mereka mengundang Dal Hyang untuk datang ke sebuah Gibang. Dal Hyang termenung, haruskah dia datang?

Dal Hyang menulis surat untuk orang tuanya mengabarkan tentang kelulusannya, namun kemudian dia merasa butuh udara segar dan membuka jendela kamarnya. Dal Hyang melihat sebuah lampu mendekat kea rah kamarnya. Seorang wanita tua (Sanggung) bertanya padanya, apakah dia yang bernama Park Dal Hyang? Dal Hyang membenarkan.

Seorang wanita dengan Chima muncul, Park Dal Hyang kaget saat wanita itu membuka Chimanya, dia adalah Seja-bin. Bagaimana bisa dia datang kesini? Dal Hyang mempersilahkan Seja-bin masuk. Tidak. Dia akan bicara dari tempatnya berdiri sekarang dan akan segera pergi.

Mengapa Seja-bin datang kesana? Bagaimana jika ada yang melihat? Seja-bin meminta ijin untuk mengunjungi ibunya. Seja telah memperlihatkan surat itu, katanya Dal Hyang masih menunggunya, bagaimana Dal Hyang bisa sebodoh itu? Dia memang seperti itu bukannya Seja-bin juga tahu. Seja-bin meminta maaf karena dia sudah melanggar janjinya, tapi… semua diluar kendalinya, Jangan pernah menyalahkannya. Dal Hyang mengerti.

Seja-bin berkata jika dia… sudah membakar surat itu. Jadi jangan pernah memikirkannya lagi. Seja tidak akan mentolerir untuk ke dua kalinya. Tentu saja, mana berani Dal Hyang melakukan itu.

Tatapan mata Seja-bin yang tadinya dingin berubah jadi lembut, dia memberikan selamat karena Dal Hyang lulus ujian, orang tuanya pasti senang. Sanggung mengingatkan Seja-bin mereka harus segera pergi. Seja-bin pun pamit pada Dal Hyang.

Dal hyang meneruskan menulis surat untuk kedua orang tuanya. Dia meminta maaf karena belum bisa mengundang mereka untuk datang ke istana, dan juga meminta mereka melupakan untuk menjadikan Yoon Seo menantunya. Dal Hyang berbohong bahwa dia sangat tertarik karena banyaknya wanita cantik di Hanyang dan dia pun merasa bersalah pada Yoon Seo, tapi mau bagaimana lagi. Tak lupa Dal Hyang menuliskan jika hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

Tokoh-tokoh baru mulai dikenalkan, Yong Gol Dae (Kim Sung Min), Jenderal Dinasti Qing yang sedang berada di Pyungan-do (Sekarang Daerah disekitar Korea Utara). Dia mendapat laporan tentang Kim Ja Jum yang mengirim utusan. Untuk apa? Kim Ja Jum ingin bertemu dengan Yong Gol Dae sebelum duta besar Qing tiba di Hanyang.

Merasa penasaran, Yong Gol Dae pun menemui dua orang utusan itu, seorang pria sebelah matanya tertutup dan bekas luka di pipi, No Soo, serta seorang wanita yang berbicara dengan bahasa Cina, Jo Mi Ryung (Yoo In Young). Saat Yong Gol Dae bertanya dengan bahasa Cina untuk memastikan apakah Kim Ja Jum yang mengirim mereka pada No Soo, Mi Ryung mengambil peran dengan berkata No Soo dari Joseon, dia tidak mengerti bahasa Cina. Mi Ryung menegaskan jika mereka hanya utusan, sama sekali tidak bekerja untuk siapapun.

(Wah… ini Yoo In Young sama Kim Sung Min bagus juga bahasa Cina nya, walo masih terasa aksen Korea nya hehe)

Dal Hyang datang ke Gibang, tempat Samchongsa mengundangnya, Min Seo yang dia temui pertama kali, karena Seung Po sedang sibuk berjudi dengan para Gisaeng. Min Seo mempersilahkan Dal Hyang duduk dan memberinya selamat, tapi Dal Hyang datang bukan untuk menerima ucapan selamat, dia datang untuk meminta penjelasan mengapa mereka semua menipunya.

Min Seo membela diri, dia tidak ikut serta dalam hal itu, semuanya rencana Seung Po dan Seja. Karena Seja adalah putra mahkota dia tidak bisa keluar istana sembarangan. Saat mereka bertemu Dal Hyang, Seja sedang menyelinap dari istana, jadi mereka tidak bisa mengungkapkan jati diri mereka. Min Seo berpikir semua akan berakhir setelah mereka menolong Dal Hyang, tapi mereka malah menemukan surat itu.

Dal Hyang penasaran untuk apa mereka keluar malam itu, Min Seo tidak bisa mengatakannya. Min Seo dan Seung Po adalah pengawal Putra Mahkota, dia hanya mengikuti perintahnya dan tidak bisa mengatakannya pada siapapun. Tapi… mereka tidak seperti pengawalnya, karena berbicara seperti teman pada Seja. Min Seo tertawa, itu karena Seung Po sudah kasar sejak lahir, tapi dirinya tidak bergitu.

Apakah Dal Hyang mengenal Jenderal Heo Sok? Tentu saja Dal Hyang bahkan sangat mengaguminya. Min Seo menatap Seung Po yang sibuk dengan para Gisaeng di meja judi. Orang yang sedang berjudi bersama Gisaeng di meja judi itu adalah putra pertama jenderal Heo Sok? Dal Hyang kaget mendengarnya, hahaha..

Karena background keluarnya Seung Po dan Seja belajara bersama entah itu belajar falsafah ataupun seni bela diri. (Yay… itu gurunya Seja dan Seung Po kecil, Menteri Choi yah? Hyung-nya Sun Woo di Nine^^).

Setelah dewasa, mereka tetap berlatih seni bela diri bersama. Seung Po tidak pernah mau mengalah pada Seja, hingga sempat Seja sedang terdesak, Ups.. Seja malah memegang *maaf* pantat nya Seung Po (wkwkwkwkw, haduh…. Seja parah ikh >.<)

Seung Po tak habis akal, dia menarik kaki Seja dari depan hingga Seja tersungkur ke tanah dan sepatunya lepas, kasim dan para pengawal kaget melihatnya, namun Seja sama sekali tidak tampak marah, dia memang kesal namun kemudian membalas dengan melempar sepatu ke wajah Seung Po yang berlari, mereka pun akhirnya malah main kejar-kejaran, haha. Karena mereka tumbuh bersama, Seung Po kadang sedikit kasar pada Seja. Seung Po tidak takut apapun, mungkin itu akan menjadi masalah untuknya di masa depan.

Dal Hyang mencoba memahami sikap Seung Po pada Seja dari cerita Min Seo, lalu… apakah Min Seo juga anak pejabat? Bukan. Dia adalah seorang biksu kecil di kuil Seojin saat terjadi Serangan Dinasti Qing ke Joseon berlangsung (sekitar 9 tahun lalu) Karena masternya sangat ahli bela diri, para biksu kecil di latih bela diri, saat perang berlangsung mereka ditugasi untuk melindung Seja.

Setelah perang berakhir, Seja datang menemui dirinya dan memintanya untuk menjadi pengawalnya. Dal Hyang kaget mendengar cerita Min Seo, dari seorang Biksu menjadi pengawal kerajaan? Percaya atau tidak, itulah yang terjadi.

Seung Po datang dengan membawa uang hasil judinya, dia berkata dia yang akan membayar semua makanan hari ini dan kembali memesan alkohol. Seung Po bertanya apakah Dal Hyang bisa berjudi. Tidak, baiklah dia akan mengajarinya, sikap Min Seo terlalu elegan jadi tidak mau di ajak bersenang-senang. Dal Hyang ingin mengatakan sesuatu, tapi Seung Po menyela dengan memberinya selamat. Sekarang, karena mereka adalah teman, maka dia akan berbicara dengan bahasa informal.

Teman? Siapa yang berteman dengan mereka? Akh.. apakah Dal Hyang masih parah pada Samchongsa, bukan marah sih… tapi… Sudahlah! Itu semua ide Seung Po, bahkan Seja pun terjerumus ke dalamnya. Tadinya Seung Po ingin melihat sisi cemburu Seja, dan membuat hubungan Seja dan Seja-bin lebih baik. Tapi sepertinya Seja malah tertarik pada Dal Hyang di banding pada Seja-bin, padahal bukan itu tujuannya (hahaha)

Dal Hyang menyadari sesuatu, apakah hubungan Seja dan Seja-bin tidak baik? Seung Po baru sadar jika dia sudah salah bicara, Min Seo bahkan menatapnta tajam. Seung Po mengalihkan pembicaraan, bahwa dia bukan orang yang berada dalam posisi mengkhawatirkan orang lain, apakah Dal Hyang tahu? Seung Po adalah orang yang menyedihkan.

Waktu Remaja Seung Po dipaksa menikah dengan wanita yang tidak diinginkannya, dia bahkan menangis saat pernikahannya, air matanya bahkan bercampur dengan air liur karena tangisan yang tak terkendali, dia berharap dia tidak usah menikah, tapi Seung Po tidak punya pilihan. Wanita yang dia nikahi bukanlah wanita yang cantik.

Setelah menikah selama 12 tahun, istrinya semakin jelek dari hari ke hari, itulah mengapa dia tidak betah di rumah dan lebih senang menghabiskan waktu dengan Min Seo. Seung Po pun merangkul Min Seo sambil tertawa. Dal Hyang tampaknya tak terlalu memperhatikan cerita Seung Po, dia sedang memikirkan perkataan Seung Po sebelumnya, apakah Yoon Seo tidak bahagia menjadi Seja-bin?

Seja sedang sibuk mempelajari sebuah peta saat Kasim datang dan melapor jika Seja-bin telah kembali dari rumah orang tuanya. Tanpa menatap Kasim, Seja berkata dia mengerti. Kasim jadi gugup dan berkata jika Seja-bin saat ini ada disini. Ternyata Seja-bin sudah ada di belakanh Kasim sejak tadi. Akhirnya Seja mengangkat kepalanya dan berhadapan dengan sang istri.

Seja-bin berkata dia baru pulang dari mengunjungi ibunya. Katanya beliau sakit, bagaimana kabarnya? Sudah lebih baik. Seja paham dan menyarankan Seja-bin untuk pulang dan beristirahat, karena dia pasti lelah. Namun Seja-bin tidak beranjak dari tempatnya, bahkan saat Seja sudah tidak menatapnya lagi dan kembali memperhatikan peta di hadapannya.

Menyadari istrinya masih disana, Seja kembali menatap Seja-bin, “Apakah ada yang ingin kau katakan?” Seja-bin ragu-ragu akhirnya dia berkata, “Hari itu hamba terlalu Syok hingga tak sempat berkata apapun” Seja bingung, tentang apa?

Seja-bin: Tentang surat Park Dal Hyang, mengapa Anda menyerahkannya pada Hamba dan tidak menanyakan apapun setelahnya. Bahkan Anda membantunya lulus ujian setelah dia membuat kesalahan
Seja: Sudah ku bilang, aku tidak meragukanmu dan menganggumi Park Dal Hyang
Seja-bin: Tapi… Hamba merasa itu tidak wajar”
Seja: Apa maksudmu dengan wajar?
Seja-bin: *panik campur ragu* Jika Anda adalah suami Hamba, Anda seharusnya meragukan Hamba, setelah mendengar itu ... Anda seharusnya membuang surat itu...dan membencinya (Park Dal Hyang-maksudnya) ... itulah sewajarnya.
Seja: *malah tersenyum manis* Aku bukan orang dengan pikiran sempit seperti itu.

(Haduh sound effect nya, wkwkwk banget, *troktoktoktok* bener-bener jd pengen ngakak dengar perbincangan mereka ini, hahaha)

Seja-bin kesal melihat reaksi suaminya, bukan itu masalahnya. Dia berhambur ke hadapan Seja dan duduk di depannya.
Seja-bin: *rusuh dan penuh emosi* Itu menunjukkan, bahwa Anda sama sekali tidak peduli pada hamba. Anda akan marah jika Anda mencintai Hamba!
Seja: *masih dengan wajah tenangnya mendengar keluhan sang istri*
Seja-bin: *ragu-ragu dan cemas* Apakah benar begitu? Anda tidak mencintai Hamba? Anda… tidak pernah mencintai hamba selama 5 tahun ini.
Seja: *diam cukup lama lalu sedikit tersenyum lagi* Aku pikir kau takut padaku. Sepertinya aku salah. Kau mengatakan apapun yang ingin kau katakan
Seja-bin: *menggeleng kecil* Aku tidak takut pada Anda. Hanya saja… Hamba merasa Anda begitu dingin

Seja malah tertawa lepas, Begitukah? Seja kemudian menawarkan sebuah alternatif,

Seja: Lalu bagaimana jika begini, Aku serahkan Park Dal Hyang pada pihak berwenang untuk menahannya dan melengserkan posisimu sebagai Putri Mahkota. Lalu apa itu wajar sebagai suamimu? Apa itu membuat aku terlihat mencintaimu?
Seja-bin: *menatap tak percaya pada sang suami*
Seja: Kalau begitu aku akan menyuruh mereka menahannya besok *pura-pura tampak marah*  Oh, kau bilang... aku seharusnya membuang surat itu juga. Kalau begitu, bolehkah aku memintanya kembali?

Seja-bin: *merasa sangat kesal dan akhirnya sedikit berteriak* Berhenti bercanda! Itu sangat melelahkan.

Seja-bin mulai menangis, dan Seja masih tenang-tenang saja, hadeeuuhh (aku beneran kasian ini liat Seja-bin diginiin sama Seja, tega bener dirimu >.<)

Seja-bin: *penuh emosi dan air mata* Hamba juga tahu itu! Anda mencintai wanita yang terpilih sebelum Hamba! Ini bukanlah salah Hamba! Ini juga bukan pilihan Hamba!
Seja: *dingin dengan tatapan kosong* (mungkin karena Seja-bin mengungkit masalah cinta pertamanya)

Flashback 5 tahun lalu

Yoon Seo remaja kaget saat ibunya memberitahu jika dia terpilih menjadi putri mahkota. Ibu juga baru diberi tahu saat mereka kembali dari Gangwon-do. Bukan kah sudah ada orang yang terpilih untuk menjadi putri mahkota, Putri Menteri Yoon kan? Itu sudah diputuskan sebelum mereka pergi ke Gangwon-do. Memang begitu,  tapi Putri Menteri Yoon meninggal karena gantung diri. Bagaimanapun kini Yoon Seo lah yang terpilih, jadi dia harus menguatkan dirinya. Yoon Seo sangat syok.

Setelah ibunya pergi, Yoon Seo berkata itu tidak adil, tidak bisa begitu, dia sudah berjanji pada seseorang. Yoon Seo hanya bisa menangis.

End of Flash back

Seja-bin menangis mengenang saat pertama kali harus menerima takdirnya karena telah dipilih menjadi putri mahkota.

Seja-bin: *masih penuh emosi dan air mata* Ini bukan salah Hamba sehingga dia meninggal! Kita menikah karena takdir... bukan karena kesalahan siapapun. Hamba sudah menerimanya sekarang... Meskipun Hamba juga tidak menginginkannya… tapi Hamba menurutinya dan mencoba melakukan yang terbaik! Tapi Jeoha... (Seja-bin tak bisa lagi melanjutkan, terlalu sibuk untuk meredakan tangis dan emosinya)
Seja: *masih saja bersikap sok tenang* Kurasa kau salah paham terhadapku. Semua yang kau katakan barusan tidaklah benar

(Issshhh,,, Seja nih, sikap nya yang kayak gini bikin aku benci-benci cinta sama Seja, Playfull banget sih >.<)

Seja-bin: Tidak benar? Tapi itulah yang dikatakan semua orang
Seja: Kalau begitu mereka semua juga salah
Seja-bin: *bingung* Lalu apa yang benar? Lalu kenapa anda begitu dingin sejak pertama kita menikah?
Seja: *menyangkal* Aku tidak begitu
Seja-bin: *blank* (sepertinya bingung mau ngomong apalagi mendengar bantahan Seja)

Seja: Aku minta maaf jika kau merasa seperti itu, tapi aku tidak pernah bermaksud bersikap dingin. Aku rasa kau terlalu sensitif
Seja-bin: *syok*
Seja: *lagi-lagi hanya tersenyum manis* (Sigh nih orang!)

Seja-bin: *menghela nafas panjang dan menghapus air matanya* Baiklah, Hamba mengerti. Hamba seharusnya berterima kasih pada pengampunan Jeoha dan hamba malah bersikap kekanak-kanakan
Seja: *tersenyum lebar* Itu baru benar
Seja-bin: (tidak percaya melihat reaksi suaminya) *memasang wajah dingin* Selamat malam

Seja-bin pun pergi setelah berpamitan, dia sebenarnya masih tak puas, namun tampaknya dia merasa semua akan menjadi sia-sia, Seja sama sekali tidak memahami perasaannya, apalagi Seja mengucapkan selamat malam padanya seolah pembicaraan barusan tidak terjadi. Seja-bin sudah tak tahan lagi dan akhirnya keluar dari kamar Seja.

Seja masih memasang wajah tersenyum nya mengiringi kepergian sang istri dari kamarnya, setelah pintu ditutup ekspresinya langsung berubah. Tampak sedih dan kesepian. Karena apa? Karena Seja-bin mengungkit tentang cinta pertamanya, ataukah karena dia tak bisa menunjukkan perasaan yang sebenarnya pada Seja-bin?

Tiba di kamarnya, Seja-bin meminta Sanggung meninggalkannya sendirian. Dia duduk dan menangis sejadi-jadinya. Yang paling menyedihkan bagi seorang istri adalah tidak dicintai suaminya.  Poor Seja-bin…

Ternyata Seung Po juga menceritakan kisah Putri Menteri Yoon yang bunuh diri pada Dal Hyang. Mengapa dia bunuh diri? Seung Po juga tidak tahu, mungkin dia tidak ingin menjadi Seja-bin. Tapi itu sangat tidak masuk akal karea Seja dan Putri Menteri Yoon Saling mencintai. Dal Hyang cukup kaget mendengar cerita ini.

Min Seo datang dan memberi kode, Seung Po salah paham berkata dia tidak mengatakan apapun, namun bukan itu maksud Min Seo, dia menunjuk ke sebuah arah. Kim Ja Jum, datang ke Gibang? Mengapa dia ada Hanyang? Dan yang terpenting sedang apa dia ada di Gibang itu? apakah dia merencanakan sebuah pertemuan rahasia?

Seung Po kemudian mendengarkan percakapan Kim Ja Jum dengan beberapa pejabat istana di ruangan sebelah. Dia tidak bisa memastikan siapa saja yang datang namun dia bisa mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan Kim Ja Jum. Dia berkata pada para pejabat tentang rencana kedatangan para duta besar Qing ke Hanyang, dia tahu apa yang mereka inginkan.

Intinya, Dinasti Qing akan mengubah status Raja mereka menjadi Kaisar dan ingin juga ingin mengubah status hubungan Joseon dan Qing dari Sekutu menjadi hubungan Raja dan Hambanya. Para pejabat kaget mendengarnya.

Seung Po yang menguping juga kaget dan menghela nafas panjang, dia memberitahu Min Seo tentang hal itu. Min Seo meminta Dal Hyang membantu mereka untuk melindungi Seung Po karena dia sendirian di ruangan itu. Min Seo harus ke istana untuk melaporkan sesuatu pada Seja.

Para pejabat memastikan Raja Injo pasti tidak akan menyetujui hal itu. Itulah mengapa Kim Ja Jum mengumpulkan mereka semua. Kim Ja Jum ingin menyampaikan pada duta besar Qing, bahwa sebagian besar pemerintahan Joseon berpihak pada mereka, dia tidak ingin memulai perang dengan Qing, karena sadar Joseon akan kalah. Jika Raja Injo tahu hal ini, dia pasti akan memulai perang.

Min Seo melaporkan semuanya pada Seja yang sangat kaget mendengar apa isi surat yang diterima Kim Ja Jum dari duta besar Cina. Bukan kah mereka harus memberitahu Raja tentang hal ini? Seja berpikir itu bukan yang terbaik, Raja sangat sensitif, akan menjadi masalah besar jika mereka melaporkan tanpa bukti. Mereka harus tahu dulu rencana Kim Ja Jum, “Musuh dari dalam lebih berbahaya dibanding musuh dari luar” Seja memutuskan untuk pergi memastikan siapa saja pejabat yang ada disana.

Raja Injo mendapat mimpi buruk tentang Yong Gol Dae yang datang  memanahnya disaat tak ada siapapun disampingnya. Dia terbangun dengan keringat dingin dan ketakutan, sangat paranoid setelah perang 9 dengan Qing 9 tahun lalu.

Dia merasa semua orang meninggalkannya, tak ada lagi yang bisa dia percaya, dia mencari Menteri Choi Myung Gil, namun Menteri Choi sedang tugas ke luar kota, lalu.. Seja.. dia ingin menemui putranya.. tapi ini sudah malam, mungkin Seja juga tidur. Raja Injo tidak peduli, saat ini dia bahkan tidak bisa tidur dengan tenang.

Saat Seja bersiap untuk pergi, Kasim datang dan berkata Raja mencarinya karena dia mimpi buruk. Seja meminta kasim untuk menenangkan Raja semampunya, dia ada urusan penting di luar dan akan berusaha kembali secepatnya.

Mi Ryung dan No Soo datang ke tempat pertemuan Kim Ja Jum dengan para pejabat. Kim Ja Jum mengenalkan mereka sebagai pembawa pesan dari pihak Qing, namun sebelum menyampaikan pesan itu, No Soo menyadari seseorang sedang menguping di ruang sebelah. Dia pun menghancurkan dinding kayu itu dan menemukan Seung Po disana.

Seung Po berusaha menutup wajahnya dan sehingga kesulitan melihat siapa saja yang bertemu dengan Kim Ja Jum. Dal Hyang masuk karene mendengar ribut-ribut dan melihat para pejabat dan seorang wanita pergi ke luar. Seung Po meminta Dal Hyang mengurus No Soo karena dia harus memastikan wajah para pejabat yang datang.

No Soo dan Dal Hyang bertarung sengit, sementara Seung Po dihadang anak buah Kim Ja Jum. Seja dan Min Seo datang dan membantu mereka. Sekali lagi, Seja menyelamatkan Dal Hyang yang terdesak karena serangan No Soo. Seja berkata pada Dal Hyang sebaiknya dia hati-hati akan sangat menyedihkan jika dia mati setelah lulus ujian. Dal Hyang tampak kesal dan berkata seharusnya Seja tidak menolongnya

“Jadi aku tidak diperlukan? Sepertinya Kau juga tidak membutuhkanku untuk lulus ujian” Dal Hyang ingin membantah, tapi ini bukan saatnya, No Soo yang lumpuh sementara waktu, bangkit lagi. Seja bertanya kemana orang-orang pergi. Dal Hyang memberitahunya dan juga berkata diantara mereka ada seorang wanita juga.

Seja mengejar para pejabat yang ternyata mengenali Seung Po sebagai pengawal Seja. Mereka bisa mati sebelum esok hari. Seja melihat para pejabat yang melarikan diri itu dan mengenali wajah mereka satu persatu (WHAT? Salah satu pejabatnya ada yang namanya Park Sun Woo?? Akh… SWnim pasti sangat cinta pada nama Sun Woo >.<)

Melihat seorang wanita yang juga ingin melarikan diri, Seja teringat perkataan Dal Hyang, dia mengejar wanita itu dan mencoba menghentikannya naik kuda. Namun betapa kagetnya Seja saat dia melihat siapa wanita itu. Seja mengenalinya… seseorang dari masa lalunya. Wanita itu adalah Mi Ryung. Pandangan mereka saling terpaku satu sama lain, Mi Ryung menatap sedih dan benci pada Seja yang tampak syok.

No Soo yang berhasil melarikan diri dari Dal Hyang datang dan tanpa pikir panjang menghunuskan pedangnya untuk melukai lengan Seja, Mi Ryung kaget melihatnya.

Karena sedang Syok, Seja bahkan tidak mendengar suara Dal Hyang yang memberinya peringatan. Dia bahkan tampak tak merasakan apapun saat pedang mengenai lengannya dan meninggalkan luka cukup dalam. Seja akhirnya ambruk dan No Soo membawa Mi Ryung pergi dari tepat itu.

Dal Hyang bertanya apakah Seja tidak apa-apa? Dal Hyang tidak bisa membiarkan Mi Ryung dan No Soo kabur, dia membawa salah satu kuda dan mengejar mereka berdua.

Seung Po dan Min Seo datang dan mengecek keadaan Seja. Setelah memeriksa luka Seja, Seung Po berpikir mereka harus mencari dokter karena tidak mungkin memanggil Dokter istana. Seja menolak, dia harus kembali ke istana karena Raja sedang mencarinya.

Mi Ryung dan No Soo melarikan diri dengan kudanya, No Soo bertanya siapa orang-orang itu (Seja dkk- maksudnya) Mi Ryung bukannya menjawab, dia malah berkata, “Apakah kau Gila? Kau tau siapa orang yang kau serang itu?” Siapa memangnya! “Seja” No Soo kaget mendengarnya, jika pihak kerajaan tahu tentang hal ini, tentu saja kepala No Soo tidak akan selamat. Mi Ryung tampak sedih saat mengatakan nama Seja, masalalu mereka pastilah bukan hal yang sederhana.

Seja-bin kaget mendengar Seja tidak ada di kamarnya sementara Raja sedang mencarinya. Para kasim sudah mencoba menenangkan raja, tapi tidak berhasil, dia tetapa mencari Seja, meskipun mereka mengatakan Seja tertidur sangat pulas. Memangnya Seja kemana? Kasim berkata dia pergi untuk urusan penting setelah keadatangan Ahn Min Seo. Seja-bin cemas, ini pasti akan menjadi masalah. Apalagi Sanggung memberitahu jika Raja sedang menuju ke kediaman Seja, tentu saja ini membuat Seja-bin semakin cemas.

Raja In Jo benar-benar kesal, karena Seja tidak mau menemuinya padahal tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh. Para kasim mencoba menenangkannya bagaimanapun ini sudah sangat larut. Raja tidak peduli dan tetap pergi ke kediaman Seja.

Seja-bin menyambut Ayah mertuanya dengan gugup dan cemas, Apakah Seja ada di kamarnya? Melihat betapa gugupnya Seja-bin yang membual tentang Seja yang tertidur pulas karena mabuk membuat Raja In Jo semakin curiga, Benarkan Seja ada di kamarnya? Mereka semua membohonginya!

Dengan kesal Raja masuk ke dalam kamar Seja dan… dia menemukan putranya berdiri disana, membelakangi pintu masuk. Seja menghela napas sebelum menghadapi Ayahnya. Raja In Jo bertanya kemana saja putranya itu? Seja minta maaf karena dia terlalu lelap tidur, dia tidak tahu jika urusannya sepenting itu. Ada Apa sebenarnya?

Raja Injo mengeluh tentang mimpi buruk yang membuatnya tidak , tidak adalagi yang bisa dia percaya kecuali Seja. Jadi… Seja jangan pernah membuatnya cemas. Seja berkata dia akan segera datang ke kediaman Ayahnya. Tidak perlu, besok saja mereka bicara, hari ini Raja merasa lelah. Raja pun pergi dari kamar Seja.

Di sekitar kediaman Seja, Seung Po dan Min Seo  bersembunyi dengan tangan Seung Po yang berlumuran darah, darah siapakah itu? Tentu saja darah Seja. Mereka berhasil membawa Seja tepat waktu untuk kembali ke kamarnya. Daebak!

Seja-bin langsung berhambur ke kamar Seja setelah Raja pergi, dia bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Seja diam saja, kemudian Seja-bin melihat darah menetes dari lengan Seja hingga jatuh ke lantai. Seja-bin kaget dan bertanya, “Apakah itu darah?”

Seja-bin mendekat, berusaha mengecek keadaan suaminya, tapi… Seja menolak perhatian Seja-bin dengan dingin. Dia tidak ingin Seja-bin menyentuh lengannya yang terluka. (Aissshhh… this Scene is very heartbreaking)

Menghadapi penolakan Seja, Seja-bin tak bisa berbuat apapun, apalagi saat Seja memintanya pergi dan malah memanggil kasim untuk menemaninya. Dia sangat sedih dengan penolakan itu, namun apa yang bisa dia lakukan? Seja-bin keluar dari kamar Seja dan mencoba menahan tangisnya, namun dia gagal.

Di saat Seja menyangkal dirinya bersikap dingin selama ini, pada akhirnya dia menunjukkan sikap sedingin es nya, ketika Seja-bin begitu mengkhawatirkan dirinya.

Kasim kaget saat melihat darah di lantai, apa yang terjadi? Tapi bukan itu yang Seja khawatirkan, “Mi Ryung” Kasim bingung mendengarnya.

Seja berbalik dan bertanya pada Kasim, “Aku baru saja melihat Mi Ryung, apa yang sebanarnya terjadi?” Kasim tampak kaget mendengarnya. (Apakah Kasim tahu jika Miryung belum meninggal atau dia juga kaget karena mendengar Mi Ryung masih hidup?)

Dal Hyang tetap mengejar Mi Ryung dan No Soo, mereka berhenti disebuah lapangan. Dal Hyang pikir itu hal yang baik, hingga dia melihal seorang Jenderal yang memimpin sebataliyon tentara ditemui keduannya, dia adalah Yong Gol Dae.

Yong Gol Dae siapa Dal Hyang mengapa dia berani sekali melukai orang-orangnya (tentu saja dia bertanya dalam bahasa Cina) Dal Hyang tidak mengerti, apalagi saat Mi Ryung menjawab pertanyaan Yong Gol Dae yang mengatakan jika Dal Hyang adalah orangnya Sohyun Seja, sepertinya Seja telah mengetahui rencana mereka, dan No Soo telah menusuk Seja. Yong Gol Dae memutuskan sesuatu, dia memerintahkan pasukannya untuk melepaskan panah, (WHAT? Itu Dal Hyang di serbu sama puluhan panah gitu? Poor Dal Hyang)

Malam itu adalah pertemuan ke-4 Dal Hyang dengan para Samchongsa, mereka telah bertemu dengan orang yang akan mengubah dunia. Dal Hyang merasa hidupnya akan menjadi lebih rumit dari sebelumnya.  Dan cerita sebenarnya akan dimulai dari sana.

***

Kelucuannya sedikit berkurang, tapi mulai fokus pada cerita dan intrik politiknya. Ya ya ya… bagaiamana pun Samchongsa adalah drama Saeguk, selucu-lucu nya pun pasti berkutat di masalah politik^^ aku tidak anti masalah politik di Saeguk, bahkan sangat menikmatinya dan akan berusaha memahaminya, yang aku tangkap sejauh ini sih, Seja ingin melindungi Joseon dari serangan dinasti Qing secara diam-diam (tanpa sepengetahuan Ayahnya) dia mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang status invansi yang sedang gencar di lakukan Qing yang hampir menaklukan Ming dan Mongol. Sementara Kim Ja Jum tampaknya malah ingin menjual negaranya pada Qing dan rela-rela saja menjadi budak Qing dari pada Joseon harus kalah melawan Qing, Sigh!

Ommo, masa lalunya Seja dan Seung Po, so sweet sekali, hahaha… ampun deh mereka ternyata lebih lengket dari Sun Woo dan Young Hoon *Ups dalah fokus* Seung Po pasti tahu benar bagaimana kepribadian Seja dan semua kisah hidup yang di laluinya, tapi nasibnya Seung Po ngenes sekali yah? Kecil-kecil dan jadi manten, mana nikahnya sambil nangis-nangis gitu lagi, wkwkwk.

Lalu… Eeerr aku patah hati, ternyata Min Seo biksu, hahaha. Jadi ceritanya dia nggak bisa dikecengin gitu? Padahal kan ganteng >.< Tapi background Biksu untuk Min Seo ini cocok sekali, kata nya sih sesuai dengan karakter Aramis di Three Musketeers nya juga yah?

Seja-bin dan Dal Hyang. Ku pikir Scene nya bakal sedih, tapi aku merasa biasa aja, Seja-bin sangat menyesal karena dia tidak bisa memenuhi janjinya sementara Dal Hyang terus mempercayainya, namun yah… semua memang diluar kuasanya. Saat dia dipilih menjadi Putri Mahkota menggantikan calon Putri Mahkota *yang katanya meninggal itu* pasti dia tidak bisa menolak, kecuali dia tega melihat Ayah dan ibunya di hukum mati. Saat itu dia hanyalah seorang gadis remaja yang berjanji pada cinta pertamanya. Takdir mereka memang, hmmm… memang sedikit kejam.

Setelah menikah, mungkin Seja-bin tak pernah lagi memikirkan Dal Hyang, melihat dia begitu kaget saat Seja mengungkit namanya di episode 1, namun dia tak pernah menyangka jika Dal Hyang masih begitu setia padanya, dan dia merasa bersalah untuk hal itu. Meskipun Dal Hyang tahu dari Seung Po tentang latar belakang pernikahan Seja dan Seja-bin, tapi kemungkinan untuk Dal Hyang dan Yoon Seo kembali bersama seperti di masa lalu sangat-sangat kecil, bahkan nyaris tidak mungkin.

Dan masalah Mi Ryung, penasaran apa yang terjadi di masa lalu, melihat Preview episode 3, sepertinya Mi Ryung tidak benar-benar ingin bunuh diri, apa mungkin seseorang menjadi dalang di balik cerita bunuh dirinya Mi Ryung? Siapa orang itu? Apa mungkin keluarga Seja-bin? Kalo iya, kasian amat Seja-bin ntarnya, seandainya Seja tahu, bakalan makin dingin lah Seja ini sama istrinya.

Lalu bagaimana dia bisa berakhir menjadi penyampai pesan Kim Ja Jum pada pihak dinasti Qing, ini juga adalah sebuah misteri besar.

Hubungan Seja dan Seja-bin… Ommo… aku beneran ngerasa kasihan sama keduanya, terutama pada Seja-bin yang sepertinya sudah sepenuhnya mencintai suaminya. Namun sayangnya Seja belum bisa move on juga dari Mi Ryung, meski mungkin sebagian adalah karena rasa bersalah telah membiarkan kekasihnya itu meninggal karena bunuh diri. BTW, jika semua orang bepikiran bahwa Mi Ryung itu sudah meninggal 5 tahun yang lalu, jadi… jasad siapa yang ditemukan tergantung hari itu? karena kenyataannya Mi Ryung masih hidup, dan Seja masih mengenalinya dengan baik.

Scene Seja-bin curhat sama Seja itu, ampun deh,,, lucu amat yaks, mereka beneran pasangan kocak, cara Seja memperlakukan istrinya itu bener-bener menggemaskan, bikin kesel, tapi juga menawan. Halah,, aku jadi bingung sendiri. Gini deh, aku sebel karena Seja tidak bisa memahami perasaan Seja-bin yang mungkin tampak sensitif baginya, tapi juga aku Suka liat Seja seperti itu >.< Akh… karakter 4 dimensinya itu so Awesome^^ Dan Sepertinya Lee Jin Wook semakin memikat hatiku dengan karakter Seja yang di perankannya (dan aku akan mengikuti jejak Sohyun Seja yang tidak bisa move On, Ugh^^)

Seja-bin gak kalah kocaknya, dia penuh dengan emosi saat nangis-nangis di depan Seja, tapi pas Seja bilang itu salah paham, dia langsung hening seketika, tidak berani membantah lagi, meskipun di dalam hati masih dongkol. Kemudian… melihat sikap meletup-letupnya Seja-bin, apa mungkin dia sedang hamil yah? #ngarepdikit

Soalnya kalau liat di Cruel Palace, Setelah usai Invansi Dinasti Qing yang kedua (sekitar tahun 1636-tahun yang tepat dengan cerita Samchongsa ini berlangsung) Seja-bin baru saja melahirkan putra pertamanya, Pangeran Sukchul. Sikap mereka masih sangat dingin, bahkan setelah kelahiran putra mereka. Ngarepnya sih kalo di Samchongsa, mereka udah saling membuka hatinya sebelum pergi ke Cina yah, kasian aja liat Seja-bin tekanan batin ngadepin suami yang gak bisa move On^^

Aku sih yakin pada akhirnya Seja-bin dan Seja akan saling menyayangi satu sama lain, tinggal menunggu waktu rekonsiliasi diantara mereka. Bisa jadi kehadiran Mi Ryung akan membuat hubungan mereka tambah tegang, namun akhirnya Seja menyadari perasaannya yang tersisa untuk Mi Ryung selama 5 tahun ini hanyalah rasa bersalah, dan dia mulai diam-diam memperhatikan Seja-bin. Gak apa-apa deh di season 1 ini dia nggak terang-terangan nunjukkin perasaannya pada Seja-bin, asal di season 2 di kasih banyak sweet scene aja pas mereka hostage di Cina *Ugh.. maunya*

Baca di soompi banyak yang komplen tentang adegan actionnya yang katanya tampak amatir, klo aku sih… Cuma bisa bilang No Comment, karena sebagian besar adegan Actionnya jarang aku perhatikan, terlalu fokus mikirin Seja dan perubahan ekspresinya, hahaha…  trus banyak juga yang protes tentang Akting Yong Hwa yang katanya kurang luwes, aku mah enjoy aja liatnya, karena menurutku Yong Hwa cocok dengan karakter Dal Hyang yang begitu, hehehe.

Selain Scene Seja dan Seja-bin, Scene favorite ku di episode 2 ini adalah latihan seni bela dirinya Seung Po dan Sohyun Seja. Ommo… Bromancenya Lee Jin Wook dan Yang Dong Gun ini kocak banget, Jin Wook selalu beruntung dapet Bromance yang menarik dari SWnimnya, ntah di Nine, ntah di Samchongsa. Dan… ada persamaan besar antara Young Hoon di Nine dan Seung Po di Samchongsa, mereka sama-sama gak terlalu suka sama istri mereka, hahaha. Keinget Young Hoon, minta Sun Woo sisa-in dupanya karena dia pengen ganti istri, wkwkwk >.<

Eh iya, banyak yang merasa drama ini mirip Moon Sun yah katanya? Karena calon Putri mahkota yang katanya meninggal tapi ternyata tidak. Untung banget aku belum nonton Moon Sun, jadi tidak merasakan kemiripan itu (tiba-tiba aja merasa bersyukur).

Tentang kisah Cinta pertamanya Sohyun Seja yang bunuh diri, di bahas juga di Cruel Palace, apa mungkin itu memang sesuai sejarah? Ada calon Seja-bin lain sebelum Kang-bin. Itulah mengapa hubungan Sohyun Seja dan istrinya tampak dingin sebelum mereka tinggal di Cina.

Minggu masih lama yah? Udah kangen aja sama Seja nih, dan penarasaran banget sama masa lalunya Seja dan Mi Ryung.

Eh iya, ada aktor baru yang bakal muncul di episode 3, katanya dia yang bakal jadi Seja pas remaja^^ Hayo... manis mana kalo di bandung SunWoo remaja? hehehe^^

*written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*
8 Komentar untuk "Samchongsa Episode 2: The Three Musketeers"

Suka sekali karakter seja - seja bin..bikin tertawa...gemes liat seja..bisa yah gitu sama istrinya...btw trims bak irfa..

Iya Fa, adegan action nya kurang ok. Apa karena sebelumnya saya nonton Baek Dong Soo ya. Di 3 musketeers action nya kebanyakan effect, kurang dapet.

AnisRedsAzza

Suka bgt ama drama ini,apalagi di episode 1 ekspresinya seja bikin ngakak abis...di tunggu ya episode berikutnya...trims mbak irfa...

Aq koq jd nyipperin seja and seja bin yea...
Irfa makasih buat sinopsisnya ya.,
Keep fighting!

irfa marriage not dating kapan lanjutnya nih gag sabar liat kelanjutanya nemo couple....

non semangat truz!!!!! figthing......^_^

ep 2 gk selucu ep 1, itu pas si no soo ngehujamin pedang ke tangan seja aku ampe gk kuat liatnya merinding ah! kalo menurt aku sih yoonseo itu msh ada rasa sm dalhyang, buktinya pas ngunjungin dalhyang ngomong klu suratnya udh dia bkar trs pas mau pergi dia smper berkaca² gt matanya natap dalhyang, sedih bgt! yoonseo nahan perasaannya krna dia tau dia itu calon ratu, takut klu dia macem² bisa mengancam nyawanya,nyawa kluarganya, sm nyawa dalhyang tentunya, yoonseo pastinya takut sm raja injoo.

Setuju banget sama Irfa ttg bagian istri yg ga dicintai suaminya.. sepahit2nya one-sided love, paling pait kalo smpe jd suami istri yaa..

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top