Sabtu, 03 September 2016

30 Days of Sherlock - Day 1: Favorite Episode


Hingga saat ini Sherlock versi BBC sudah tayang sebanyak 10 Episode masing-masing sub judul yang mewakili setiap kasus yang diceritakan ditiap episodenya.


Berikut ini list judul episode yang telah tayang dari tahun 2010 hingga tahun 2016

Season 1:
A Study In Pink
The Blind Banker
The Great Game

Season 2:
A Scandal In Belgravia
The Hounds Of Baskerville
The Reichenbach Fall

Season 3:
The Sign of Three
The Empty Hearse
His Last Vow

Episode Spesial: The Abominable Bride
 
Setiap episode memiki keunikan masing-masing, dan semuanya menarik untuk diikuti, namun selalu ada yang menjadi terfavorite. Jika melihat dari segi keseruan kasusnya aku lebih suka kasus-kasus yang disajikan di season 1 dan 2. Sementara di season 3 tiap episodenya tidak terlalu fokus pada sebuah kasus dan bagaimana penyelesaiannya. Melainkan lebih fokus pada hubungan Sherlock dan orang-orang disekitarnya terutama John saat dia kembali ke London setelah pura-pura mati selama 2 tahun. Yang aku suka dari season 3 adalah berkembangnya karakter Sherlock menjadi lebih manusiawi.

Setelah aku pertimbangkan baik-baik, dari semua episode Sherlock, yang menjadi favoriteku adalah A Study In Pink yang merupakan episode 1 di Season 1.

A Study in Pink diadaptasi dari salah satu cerita dari Novel pertama Sherlock Holmes berjudul A Study In Scarlet. Karena penyesuaian dengan jaman modern tentu saja plot storynya tidak sama persis dengan novelnya. Dimulai dengan pertamuan Sherlock dan John yang sama-sama mencari Flatmate agar bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak dengan harga tang terjangkau. 

Mereka pertama kali bertemu di RS Bart dan Sherlock langsung mendeduksi John bahwa dia adalah mantan dokter tentara yang dulunya terbiasa dengan medan perang. Itulah mengapa pertanyaan pertama Sherlock untuk John adalah Afganistan atau Irak? Awalnya John bingung dan kaget melihat sikap Sherlock yang terkesan sok tahu namun Sherlock menceritakan semua deduksinya dan membuat John memutuskan untuk menerima tawaran Sherlock untuk menjadi Flatmate nya dengan datang ke alamat yang dia berikan 221B Baker Street.

Belum lama tiba Baker Street, Sherlock Holmes mendapat tamu seorang detektif kepokisian Greg Lestrade yang meminta bantuan untuk menyelesaikan sebuah kasus bunuh diri berantai yang sedang meneror kota London. Namun Sherlock meyakini bahwa kasus itu adalah kasus pembunuhan, namun dia tidak yakin karena 3 orang korbannya yang meninggal dengan penyebab yang sama tidak meninggalkan pesan apapun.

Lestrade meminta bantuan pada Sherlock karena korban ke-4 meninggalkan pesan berupa tulisan RACHE disamping mayatnya yang diyakini bahwa tulisan itu adalah pesan kematian dari sang korban.

Saat Sherlock mengajaknya ke TKP John mengetahui jika beberapa petugas kepolisian tidak menyukai Sherlock dan menganggapnya sebagai Psikopat yang menikmati setiap kasus pembunuhan yang ditanganinya. Bahkan seorang polisi wanita yang bernama Sally Donovan menyebut Sherlock sebagai “Freak” dan memperingatkan John untuk menjauhi Sherlock sebelum terlambat. Donovan meyakini jika suatu saat Sherlock akan menjadi salah satu tersangka sebuah pembunuhan berantai.

Setelah melihat kondisi mayat korban ke-4 di TKP Sherlock menemukan petunjuk dari pakaian yang dipakai korban yang serba Pink, dia menanyakan koper pink yang dibawa korban namun polisi sama sekali tidak menemukan sebuah koper atau tas apapun. Sherlock pergi begitu saja dari TKP untuk mencari koper pink yang dianggap akan memberikan petunjuk lebih banyak.

Sherlock berhasil menemukan koper milik korban namun ada satu barang yang hilang, ponsel milik korban. Menurut Sherlock itu adalah kesalahan yang dibuat si pembunuh, karena dia yakin ponsel tersebut ada di tangan si pembunuh. Sherlock meminta John mengirimkan sebuah pesan pada ponsel korban, jika ada respon maka dugaan Sherlock benar. Tak lama, ponsel John berdering, dan Sherlock langsung bersemangat, dan langsung mengajak John untuk menangkap pembunuhnya.

Sherlock dan John menunggu di sebuah restoran, Sherlock yakin bahwa pembunuhnya akan datang ke daerah tersebut karena pesan yang dikirimkan Sherlock ke ponsel korban. Setelah menunggu beberapa lama, Sherlock melihat seorang pria yang mencurigakan masuk kedalam sebuah taksi, dia mengajak John untuk mengejarnya, namun ternyata orang itu bukan pembunuhnya.

Saat pulang ke Baker Street, Sherlock merasa terganggu dengan kedatangan Lestrade dan Anderson yang menggeledah rumahnya dan menemukan koper pink milik korban. Anderson jadi mencurigai Sherlock, namun dia tidak merasa memberikan perlu memberikan penjelasan dan mencari cara lain agar bisa menangkap si pembunuh. Dari keterangan Lestrade tentang putri korban bernama Rachel yang telah lama meninggal, Sherlock pun memahami sesuatu bahwa Rachel bukan sebuah nama tetapi pasword email korban. Dengan mengetahui hal itu, Sherlock mendapatkan cara untuk menemukan keberadaan ponsel korban dengan mesin pencarian. Anehnya, posisi ponsel itu ternyata ada di rumah Sherlock.

Sherlok mendapat tamu, seorang supir taksi yang katanya datang untuk menjemputnya. Awalnya Sherlock mengabaikan kehadiran tamu tersebut, namun dia segera menemuinya setelah menyadari sesuatu dan mendapatkan pesan dari nomor ponsel korban. Ternyata supir taksi itu adalah pembunuhnya. Seseorang yang tidak akan pernah terpikirkan oleh orang-orang bahwa dia adalah seorang pembunuh berantai.

Ingin mengetahui motif dan bagaimana cara si pembunuh memaksa korbannya untuk meminum sendiri racun yang membuat mereka meninggal, Sherlock memilih tidak memanggil polisi dan ikut pergi bersama si pembunuh ke sebuah gedung.

Sherlock menebak bahwa si pembunuh adalah seorang jenius yang tidak diperhatikan orang-orang namun dia heran mengapa dia menyia-nyiakan bakatnya untuk membunuh orang yang tidak dikenal, apakah karena umurnya tidak lama lagi? Analisis Sherlock ternyata sangat benar, si pembunuh memiliki Aneurism di kepalanya. Namun itu bukan motif utamanya, ternyata setiap kali dia melakukan pembunuhan dia mendapatkan bayaran dari sebuah organisasi yang menurut si pembunuh adalah fans Sherlock Holmes. Dia memberikan uang itu untuk anak-anaknya.

Si pembunuh mengeluarkan dua pil, dan meminta Sherlock memilih salah satu diantaranya, begitulah cara si pembunuh selama ini membuat korbannya memakan pil beracun yang dia siapkan sehingga polisi menyangka bahwa para korbannya melakukan bunuh diri. Itu juga yang akan terjadi pada Sherlock, bagaimana jika Sherlock menolak? Si Pembunuh menodongkan senjata pada Sherlock, seperti yang dia lakukan pada para korbannya. Si pembunuh memprovokasi Sherlock untuk memilih salah satu pil itu dan saat Sherlock hampir memasukan pil itu kedalam mulutnya, seseorang menembak si pembunuh di bagian yang vital.

Sebelum si pembunuh menghembuskan napas terakhirnya, Sherlock memaksa si pembunuh mengatakan siapa yang telah membayarnya? Sherlock menginginkan sebuah nama, dan dia mendapatkannya, Moriarty.

Awalnya Sherlock bingung siapa yang menembak si pembunuh bukan polisi yang melakukannya, setelah dia mulai menganalisis tembakan tersebut, Sherlock pun menyadari bahwa orang yang menyelamatkannya adalah John.

Sherlock memilih menyembunyikan fakta tersebut dari polisi dan memberi peringatan pada John untuk menyingkirkan bubuk mesiu dari tangannya agar polisi tak menemukan bukti. Hubungan saling percaya antara Sherlock dan John pun dimulai, mereka tidak hanya akan menjadi Flatmate, tetapi juga Partner Kerja dan bahkan menjadi teman, walau awal-awal Sherlock tidak pernah mengakui John sebagai temannya.

Mengapa episode A Study in Pink ini menjadi favorite ku? Selain karena episode inilah yang pertama kali memperkenalkan aku dengan Sherlock dan metode deduksinya yang menawan, plot ceritanya juga tidak terduga, aku sangat terkejut saat tahu bahwa pembunuhnya adalah seorang supir taksi. Sebenarnya sih itu karena aku nya saja yang tidak jeli saat pertama kali menontonnya, karena sebenarnya sejak awal episode para korban naik taksi sebelum akhirnya mereka terbunuh. Tapi aku baru menyadari hal itu saat aku menonton ulang, tapi itu malah membuatku lebih menyukai episodenya.

A Study A Pink semakin menjadi Favorite ku setelah aku menonton episode Pilot Sherlock yang tidak ditayangkan dengan judul yang sama. Meski dengan jalan cerita yang sama, A Study In Pink versi Aired jauh lebih menarik daripada versi Unaired nya.

Perbedaan yang sangat mencolok dari versi aired dan unaired A Study In Pink itu adalah penampakan Mycroft, Kakak laki-laki Sherlock yang ‘menculik’ John dan memberinya penawaran untuk melaporkan seluruh kegiatan Sherlock selama dia menjadi Flatmate nya, tapi karena merasa tidak mengenal Mycroft, John menolak tawaran itu.

Karena Mycroft tidak memperkenalkan diri saat bertemu dengan John awalnya aku berpikir dia adalah Moriarty setelah Sherlock mendengar nama tersebut dari si pembunuh yang sekarang, ternyata dia kakaknya >.< aku sama kagetnya dengan John saat mengetahui hal tersebut.

Selain tidak ada penampakan Mycroft, tidak ada juga nama Moriarty saat Sherlock berhadapan dengan si pembunuh, seolah si pembunuh melakukan aksinya memang karena dia bosan dan menghabiskan waktunya dengan memaksa orang-orang menelan pil nya yang berisi racun dan membuat mereka seolah bunuh diri.

Dari segi editing, eksekusi dan penokohan para karakternya pun A Study In Pink versi Aired sangat jauh lebih baik daripada versi Unaired nya. Satu-satunya kelebihan versi Unaired itu hanyalah Sherlock yang lebih tampan dibanding versi Aired nya. Tapi sayangnya meski tampan karakternya kurang menarik, jika aku menonton episode pertama Sherlock versi Unaired, mungkin aku tidak akan terlalu terpesona pada Sherlock versi Benedict Cumberbacth ini.

Selain A Study In A Pink, episode lain yang menjadi favoritku yang lainnya adalah The Hounds Of Baskerville di season 2 dan The Sign of Three di season 3.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^