Samchongsa Episode 12 : Letter from Mainland part 1



Seja mengucapkan selamat malam dengan wajah penuh senyum pada Sejabin sebelum dia meninggalkannya.


Setelah beranjak beberapa langkah Seja berbalik lagi seolah tak rela meninggalkan sang istri. Sejabin pun tersenyum melepas kepergian sang suami dan berkata agar Seja pergi sekarang sambil tersenyum gugup. 

Seja mengerti dan berjalan menuju kudanya. Seja bingung saat menyadari  alat berburu nya hilang, kemanakah busur dan anak panahnya. Saat Seja mencoba mencari dalam kebingungannya sebuah anak panah melesat melewati pandangannya, nyaris mengenainya namun anak panah itu melesat ke belakang dan mengenai sesuatu.

Kejadiannya begitu cepat, Seja bahkan tak sempat menoleh ke belakang sebelum anak panah itu mengenai sesuatu di belakang sana. Saat sadar dari rasa kaget nya Seja berbalik dan mendapati Sejabin lah yang dada kirinya telah tertusuk anak panah yang baru saja melewati pandangannya. Seja kaget dan semakin merasa syok. Saat anak panah itu melesak ke dalam dadanya, Sejabin pun merasa kaget dan akhirnya merasa kesakitan. Dia tak bisa menahan berat tubuhnya lagi dan akhirnya mulai oleng. Seja segara berlari menuju istrinya dan menangkapnya sebelum tubuh Sejabin jatuh ke tanah.

Nafas Sejabin mulai pendek –pendek saat Seja merengkuh tubuhnya dan terlihat panik dan ketakutan melihat Sejabin yang tampak tak berdaya karena tusukan anak panah itu, Seja memanggil-manggil istrinya, “Bin-gu… Bin-gu..” Seja melihat ke arah anak panah itu berasal dan menemukan seseorang dengan pakaian serba hitam berlari ke dalam hutan, itu pasti si pelaku namun Seja terlalu panik untuk berpikir apakah dia harus terlebih dahulu menangkap si pelaku atau mengamankan Sejabin  yang terlihat semakin kesakitan dan kehilangan banyak darah.

Akhirnya Seja memilih untuk mengamankan Sejabin terlebih dahulu dan membawanya kembali ke kuli. Yoon Sanggung kaget melihat Seja membopong Sejabin yang terluka hingga dia menjatuhkan lampu yang dibawanya. Seja memerintahkan Yoon Sanggung membangunkan semua orang dan memanggil dokter dengan segera. Dengan panik Yoon Sanggung bergegas melaksanakan perintah Seja.

Dalam pelukan Seja, Sejabin menahan rasa sakitnya sambil mencengkram baju Seja dengan kuat. Seja mencoba menenangkannya dan berkata, “Bertahanlah… Kau akan baik-baik saja” Dengan hati-hati Seja membawa Sejabin menuju kuil sementara cengkraman Sejabin di baju Seja semakin menguat karena rasa sakit tang tidak tertahankan.

Min Seo datang ke kuil dengan kudanya, seorang pengawal bertanya mengapa Min Seo datang ke tempat itu? Dia ingin menemuui Seja, saat melihat keadaan yang begitu kisruh, Min Seo bertanya apa yang terjadi? Si Pengawal berkata jika Sejabin terkena panah dan kondisinya kritis, dia akan pergi untuk memberi kabar ke istana. Min Seo kaget mengetahui hal tersebut.

Putri Jung Myung kaget melihat keadaan Sejabin apa yang sebenarnya terjadi. Seja membawa Sejabin masuk ke dalam sebuah kamar dan mencoba membaringkannya, namun Sejabin seolah tidak ingin melepaskan tangannya dari baju Seja, padahal nafasnya sudah pendek-pendek. Perawat berkata Sejabin harus segera di baringnyan. 

Seja pun membujuk Sejabin, “Aku akan ada disini. Jangan khawatir. Aku akan berada di sampingmu”

Setelah mendengar janji Seja akhirnya Sejabin melepaskan cengkaramannya dan mulai tak sadarkan diri. Semua orang menjadi panik dan berteriak “Mamma!” Sementara Seja hanya bisa terdiam dengan wajah sedihnya melihat sang istri tidak sadarkan diri sambil memandangi wajah pucat Sejabin yang semakin pucat. Perawat meminta Seja meninggalkan kamar agar mereka bisa segera bekerja untuk mengobati Sejabin.

Di luar Seja bertemu dengan Min Seo yang bertanya apa yang terjadi? Apakah Seja melihat pelakunya? Saat itu terlalu gelap, Seja tidak bisa melihat dengan jelas siapa pelakunya. Min Seo segera melaporkan tentang kaburnya Hyang Sun dari penjara dan dia bahkan mencoba membunuh Park Dal Hyang dengan mengirimkan anggur beracun, namun minuman itu di minum oleh Ayahnya Dal Hyang yang kini sudah meninggal akibat meminum anggur tersebut. Seja sangat kaget mendengarnya apalagi Min Seo pun menduga jika Hyang Sun juga lah yang melukai Sejabin.

Setelah mendengar kemungkinan tersebut, Seja langsung masuk ke dalam hutan di sekitar tempat dia dan Sejabin tadi bertemu. Pengawal berkata tidak ada siapa-siapa disana, Seja mau kemana? Seja tidak menghiraukan kata-kata pengawal yang mencoba menahannya untuk masuk hutan, dia malah mengambil pedang si pengawal dan masuk kedalam hutan dengan penuh amarah.

“Dimana kau? Aku sendirian. Keluarlah!” Seja berteriak mencari Mi Ryung dengan penuh kemarahan. Mendengar suara Seja, Mi Ryung pun keluar dari tempat persembunyiannya dengan dan menampakan wajahnya yang tampak pucat. Seja menatapnya kemudian mulai mengeluarkan air mata.

“Aku… Aku… menyesali hal itu setiap hari dan terus bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah mengendalikan kejahatan dengan kemarahan adalah keputusan yang tergesa-gesa? Apakah 5 tahun lalu itu adalah pilihan yang terbaik?”

“Jadi… saat kau muncul kembali… aku benar-benar merasa senang. Aku diberi kesempatan untuk mengendalikannya dengan kebaikan. Aku pikir itu adalah cara yang benar, aku pikir kau akan berubah. Jika kau berubah, aku juga bisa bahagia!”

“Tapi… Lihat apa yang terjadi sekarang? Apakah ini hasil dari ketulusanku? Bagaimana buruknya takdir yang kita miliki”

Mi Ryung ikut menangis melihat Seja mengatakan semua itu dengan berurai air mata, dia pun mulai membela diri, “Aku… Aku datang kesini hanya karena ingin berbicara denganmu… Aku pikir… setidaknya kau akan merasa bersedih. Tapi…. Kau malah bersenang-senang dengan wanita itu setelah memasukan ku ke dalam penjara?”

 “Tidak seharusnya Kau melakukan itu padaku, bukan?!!” Mi Ryung tampak terlihat kesal karena melihat apa yang terjadi antara Seja dan Sejabin.

Seja akhirnya memahami sesuatu, “Aku mengerti… Kau tidak bisa melihat aku bahagia dan aku pun tidak akan pernah bisa memaafkanmu. Baiklah… Mari kita mati bersama. Kematian kita akan menyelamatkan semua orang yang tidak bersalah”

Seja menghunuskan pedangnya dan berjalan ke arah Mi Ryung. Melihat Seja yang begitu nekat, Mi Ryung langsung waspada dan menarik busur panah serta mengarahkan anak panah pada Seja, “Jangan Mendekat! Kau pikir aku tidak akan melepaskan anak panahnya?” Seja tidak peduli dan terus mendekat kearah Mi Ryung dengan wajah penuh amarah. 

Mi Ryung panik, akhirnya dia melepaskan anak panah itu ke tubuh Seja. Tepat sasaran, anak panah itu tertancap di perut Seja.

Mi Ryung panik, akhirnya dia melepaskan anak panah itu ke tubuh Seja. Tepat sasaran, anak panah itu tertancap di perut Seja. Mi Ryung kaget sendiri dengan apa yang telah di lakukannya, sementara Seja tak gentar sedikit pun, dia terus mendekat ke arah Mi Ryung dan akhirnya menebaskan pedangnya pada  bahu Mi Ryung karena dia sudah kehilangan sebagian tenaganya. 

Mi Ryung ambruk karena tebasan itu dan Seja pun ikut ambruk karena tidak bisa menahan rasa sakit akibat tusukan anak panah di tubuhnya. Seja menatap langit sebelum menutup mata, seolah dia benar-benar bersiap untuk mati saat itu juga.

Seja terbangun dari tidurnya. Kini dia sudah berada di istana. Seung Po yang menungguinya langsung bertanya apakah Seja bisa mendengarnya? Bukannya menjawab pertanyaan itu, yang pertama kali ditanyakan Seja adalah kondisi Seja-bin. Seung Po bertaka Sejabin sudah membaik, sebaiknya Seja mengkhawatirkan kondisinya saja.

Hari demi hari berganti, Seja kembali terbangun dan masih Seung Po yang menungguinya, lagi-lagi yang dia tanyakan saat pertama kali terbangun adalah keadaan Sejabin. Seung Po sampai gemas dan berkata bahwa keadaan Sejabin sudah semakin baik, dia lebih cepat pulih di banding Seja. Mendengar hal tersebut Seja merasa tenang dan kembali tertidur.

Di hari lainnya, Seja kembali terbangun dan mendapati Kasim Koo yang sedang menungguinya. Sekali lagi Seja mempertanyakan keadaan Sejabin. “Binnie… bagaimana keadaannya sekarang?” Kasim Koo berkata bahwa keadaan Sejabin sudah lebih baik sekarang. Seja meminta Kasim Koo untuk membantunya bangun karena dia ingin melihat keadaan Sejabin. Kasim Koo terlihat ragu dan berkata bahwa Sejabin pulang ke rumahnya atas perintah baginda Raja agar kesehatannya segera pulih. Kasim Koo berkata agar Seja tidak khawatir karena Sejabin sedang beristirahat. Seja pun akhirnya kembali tertidur agar dirinya bisa segera pulih.

Pemakaman Ayah Dal  Hyang di lakukan di Gangwon-do dalam Susana penuh tangisan, terutama dari ibu Dal Hyang.

Ibu tampak sangat sedih dengan kematian suaminya, dia mengeluhkan mengapa Suaminya itu harus pergi ke Han Yang, jika pada akhirnya akan seperti ini. Dal Hyang sangat menyesali hal itu, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa menahan tangisnya, Dal Hyang memilih keluar untuk mencari udara segar.

Seseorang memberikan surat yang dikirimkan Seung Po pada Dal Hyang. Dalam surat itu Seung Po mengabarkan beberapa berita penting yang terjadi di ibu kota.

Kabar pertama Seung Po menceritakan tentang Seja yang terluka karena Hyang Sun dan pengawal mengejar Hyang Sun hingga di tepi air terjun. Hyang Sun tidak bisa lagi melarikan diri dan mendapatkan dua tembakan anak panah di tubuhnya, namun dia sengaja melemparkan dirinya ke air terjun.

Beberapa hari kemudian mayat yang memakai pakaian Hyang Sun ditemukan, Hyang Sun sudah mati. Seung Po berharap kematian Hyang Sun sedikit meredakan kemarahan Dal Hyang atas kematian Ayahnya.

Meskipun Hyang Sun sudah mati, namun luka yang dia tinggalkan terlalu dalam. Keadaan Seja semakin membaik namun ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Mereka tidak bisa memberitahunya bahwa Sejabin sulit untuk bertahan hidup. Membaca hal itu Dal Hyang syok berat hingga menjatuhkan suratnya.

Namun dia kembali melanjutkan membaca surat tersebut, bagian terpenting dari semua. Seung Po dan Ah Min Seo, juga Dal Hyang sekarang sedang dicurigai karena kasus yang terjadi di Anju. Seung Po dan Min Seo sudah dimasukan ke dalam penjara. Bahkan Seung Po menuliskan surat untuk Dal Hyang di dalam penjara secara diam-diam. Semuanya terbongkar karena kematian Hyang Sun, Seung Po berharap Dal Hyang bisa bertahan dan memintanya untuk bersembunyi.

Sayangnya Dal Hyang tidak sempat bersembunyi, pengawal istana sudah datang untuk menangkapnya. Dal Hyang hanya bisa pasrah karena dia tak bisa lagi melarikan diri. Apalagi pengawal istana membaca surat dari Seung Po dan menjadikannya sebagai barang bukti.

Kim Ja Jum mendapat Informasi bahwa Seja bisa bertahan, malah sepertinya Seja-bin tidak bisa bertahan karena tusukan panah Hyang Sun. Kim Ja Jum berkomentar bahwa Hyang Sun benar-benar wanita yang mengerikan, tapi bagaimanapun juga dia telah menyelamatkan Kim Ja Jum.

Bagaimana caranya Hyang Sun bisa menyelamatkan Kim Ja Jum? Kenyataan Hyang Sun kabur dari penjara untuk memanah Seja dan Sejabin adalah kasus yang sangat besar. Hyang Sun adalah saksi mata kejahatan Kim Ja Jum untuk kasus yang terjadi di Anju, lalu mengapa dia bisa kabur dari penjara dan memanah Seja beserta Sejabin? Petugas mencurigai bahwa itu adalah perintah Kim Ja Jum, untuk membela dirinya Kim Ja Jum mengatakan masa lalu Hyang Sun, alasan mengapa dia memanah Seja.

Petugas melaporkan cerita Kim Ja Jum pada Raja, tentu saja perkataan Kim Ja Jum tidak bisa dipercaya begitu saja, tapi petugas merasa ada yang aneh karena cerita itu dan itu berkaitan dengan kasus Anju. Kenyataannya adalah Seja telah mengenal Hyang Sun sebelum kasus Anju dan menangkapnya, namun di balik itu ada alasan pribadi dari Seja mengapa dia memasukan Hyang Sun ke dalam penjara. Hal ini membuat Hyang Sun kabur dari penjara untuk balas dendam.

Raja merasa semua nya memang menjadi sangat aneh, dia pun memerintahkan petugas untuk kembali menyelidiki kasus di Anju dan mengkonfirmasi laporan yang ditulis oleh gubernur Anju.

Gubernur Anju pada akhirnya mengatakan yang sebenarnya bahwa tiga orang pria yang menjuluki diri mereka Samchongsa menyuruhnya menulis ulang laporan kasus Anju untuk baginda. Samchongsa mengaku bahwa mereka adalah Putra Mahkota dan kedua orang temannya. Apakah itu benar-benar Seja? Gubernur Anju tidak bisa memastikan, hanya saja orang itu mengaku bahwa dirinya adalah Putra Mahkota, sementara dua orang lainnya adalah Heo Seung Po dan Ah Min Seo. Karena Putra Mahkota mengatakan bahwa menulis ulang laporannya adalah satu-satunya cara agar Gubernur Anju bisa tetap hidup dia pun melakukan perintahnya.

Raja sangat kaget mendapatkan laporan tersebut, itulah mengapa akhirnya dia memutuskan untuk menangkap Seung Po dan Min Seo.

Kasim Kim pun di panggil raja untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya, Kasim Kim pun mengatakan yang sejujurnya jika Park Dal Hyang menyuruhnya menghancurkan laporang yang ditulis gubernur Anju yang di bawanya. Apakah itu atas perintah Seja? Sama sekali bukan, Kasim Kim berjanji pada Heo Seung Po, jika Dal Hyang masih hidup dia tidak akan melaporkan apa yang terjadi di Anju saat itu. Raja menjadi Murka, jadi mereka semua menipunya? Apalagi keberadaan Seung Po dan Min Seo di Anju sudah dikonfirmasi oleh kasim Kim. Raja pun memerintahkan agar Park Dal Hyang di tangkap.

Seung Po dan Min Seo sedang diinterogasi petugas saat Dal Hyang di bawa masuk ke ruang Interogasi. Apakah Dal Hyang tidak menerima surat Seung Po? Heu.. Seung Po telat mengirimkannya, Dal Hyang bahkan tidak sempat melarikan diri.

Saat Interogasi akan di lanjutkan, seorang petugas mengabarkan jika Baginda Raja datang. Semua orang langsung bersiap-siap memberi hormat. Raja sendiri yang akan mengiterogasi mereka bertiga dan meyuruh semua orang keluar, termasuk penyidik yang bertugas untuk menginterogasi mereka bertiga. Ada sesuatu yang harus Raja tanyakan pada ketiga orang itu.

Raja begitu mempercayai cerita Park Dal Hyang karena itu sangat sesuai dengan laporan yang ditulis Gubernur Anju. Tapi jika laporan itu palsu, lalu apakah cerita Dal Hyang juga palsu?  Dal Hyang meminta ampun dan berkata jika semua itu adalah kebenaran, jika Dal Hyang benar-benar hampir mati karena konspirasi yang dibuat oleh Menteri Kim Ja Jum. Raja kesal mendengarnya, dia tidak mempercayai Dal Hyang bukan karena Kim Ja Jum, dia sudah tahu tentang pola konspirasi, dan lagi bukan itu yang ingin Raja tanyakan.

Dal Hyang bisa selamat dari kematian, apakah benar karena Samchongsa terlibat di dalamnya? Samchongsa jugalah yang mengancam gubernur Anju untuk membuat surat baru dan menghancurkan surat yang lama. Anggota Samchongsa adalah Heo Min Seo dan Ahn Min Seo, lagi satu orangnya lagi… Apakah itu adalah Putra Mahkota? Raja benar-benar terdengar marah saat mempertanyakan hal tersebut. Tidak ada yang berani menjawab, mereka terlalu kaget dan takut. Raja bertanya sekali lagi apakah benar itu adalah Putra Mahkota? Orang yang telah membohonginya dan juga membantu musuh secara diam-diam?

Dal Hyang berkata itu adalah dirinya. Anggota ke-3 Samcongsa adalah dirinya. Mereka sengaja menggunakan nama Putra Mahkota. Dal Hyang berkata bahwa dirinya ingin segara sukses, karena itulah dia memanfaatkan nama Seja. Dia berpikir tidak aka nada yang tahu, jadi dia berani melakukan hal itu.

Tapi Raja bingung, bukan kah orang yang menyelamatkannya adalah Samchongsa, lalu mengapa Dal Hyang bisa menjadi salah satu anggotanya. Dal Hyang pun mengarang cerita jika dia sengaja menipu semua orang karena di Anju tidak ada yang benar-benar tahu wajahnya. Pada akhirnya Dal Hyang, Seung Po dan Min Seo berebut tentang siapa yang akan mendapatkan penghargaan untuk kejadian ini, ternyata dia yang menang dan akhirnya Dal Hyang yang pergi ke Hanyang dan benar saja, dia mendapatkan penghargaan yang memuaskan hingga dia angkat jadi pejabat istana tingkat 6.

Raja mengkonfirmasi keterangan Dal Hyang pada Seung Po dan Min Seo. Apakah itu benar? Seung Po membenarkan, karena merasa sudah sangat dekat dengan Seja, jadi dia merasa dia tidak perlu melaporkan hal tersebut, Min Seo pun mengakui jika setelah di skors Min Seo ingin segera kembali ke posisinya karena itulah dia dan Seung Po melakukan hal itu. Mereka berdua segera minta maaf pada Raja.

Apakah Raja percaya begitu saja pada cerita mereka? Sepertinya tidak, namun dia harus melakukan sesuatu untuk mengorek apa yang sebenarnya terjadi di Anju. Kasim Kim datang dan memberitahu jika Seja telah sadar, apakah Raja ingin menemuinya? Raja berpikir, tidak dia tidak akan menemuinya. Raja malah memerintahkan untuk memvonis hukuman mati pada Dal Hyang, Seung Po dan Min Seo.

Saat Seja sedang meminum obatnya setelah dia baru saja terbangun dari tidur panjangnya, Kasim Koo masuk tergesa-gesa ke dalam kamarnya. Kasim Koo mengabarkan hukuman mati yang akan di hadapi Dal Hyang, Seung Po dan Min Seo karena terbongkarnya kasus Anju. Seja kaget dan segera bergegas keluar untuk menyelamatkan teman-temannya.

Dal Hyang, Seung Po dan Min Seo di bawa ke tempat eksekusi, mereka sangat kaget saat tahu mereka sudah dijatuhi vonis hukuman mati. Seung Po hanya bisa menatap takjub pada tali yang akan menggantung mereka, apakah mereka akan benar-benar mati hari ini? 

Seja semakin bersalah saat mendengar jika Dal Hyang mengaku sebagai Anggota Samchongsa untuk melindungi Seja. Mengapa mereka harus melakukan hal bodoh seperti itu?

Saat akan beranjak pergi menuju tempat eksekusi Seja melihat Putri Jung Myung dan beberapa seorang wanita istana lainnya berjalan menuju kediaman Seja-bin. Seja menjadi curiga dan bertanya pada kasim Koo, untuk apa mereka datang ke kediaman Sejabin? Siapa yang mereka kunjungi? Apakah… ada hal lain yang tidak dikatakan Kasim Koo selama dia tidak sadarkan diri? Kasim Koo gelagapan dia bingung harus berkata apa.

Seja segera pergi ke kamar Sejabin dan melihat Yoon Sanggung dan dayang lainnya ada di depan pintu kamar istrinya. Yoon Sanggung sangat kaget melihat kedatangan Seja, bahkan dia tidak bisa menjawab apapun saat Seja bertanya mengapa dia ada disana? Bukan kah Sejabin pulang ke rumahnya untuk penyembuhan? Tak bisa lagi memberikan alasan mereka hanya bisa membuka kan pintu kamar Sejabin untuk Seja.

Dengan langkah gontai Seja masuk ke kamar Sejabin, Seja semakin sedih saat dia mendengar ucapan Putri Jung Myung yang mengatakan jika Sejabin sepertinya tidak akan bisa bertahan, dia tak pernah sadarkan diri sejak pingsan beberapa hari lalu, kenyataan bahwa dia masih bisa bernafas adalah sebuah keajaiban. Seja terus melangkah mendekati ke tempat Sejabin yang masih belum siuman di baringkan. Putri Jung Myung kaget melihat Seja yang sudah siuman dan muncul tiba-tiba.

Seja mendekati Sejabin dan duduk di dekat tubuh sang istri, dengan wajah sedih dia menyentuh wajah Sejabin, Seja berkata Apakah Sejabin tidak pernah sadarkan diri sejak pertama kali dia pingsan? bukankah mereka bilang keadaannya semakin membaik? Putri Jung Myung beralasan jika mereka tidak mengatakan yang sebenarnya pada Seja agar keadaan Seja lebih cepat pulih dan tak merasa khawatir.  Beruntunglah Seja kini sudah siuman, namun dia merasa sangat bersalah dan sedih karena melihat keadaan Sejabin yang seperti itu.

Raja datang untuk menyaksikan proses eksekusi itu, karena kejahatan mereka sangat besar dia sengaja menghadiri proses eksekusi itu. Ketiganya hanya bisa pasrah saat di hadapakan pada tali yang akan mengambil nyawa mereka. Seung Po berkata pada Dal Hyang pasti dia menyesal kan sekarang? Seharusnya dia tutup mulut saja, jadi hanya Seung Po dan Dal Hyang yang akan di hukum. Dal Hyang tidak menyesalinya, mati bersama lebih baik daripada mati sendiri.

Apakah hidup mereka benar-benar akan berakhir di tiang gantungan?

Bersambung ke part 2

***

Duh maaf yah… lama banget baru bisa lanjut. Tinggal satu part lagi, tenang saja…  Dal Hyang dkk tidak akan mati kok, tapi yah… aku sedang berduka karena tvN memutuskan untuk tidak melanjutkan produksi Season 2 dan 3 Samchongsa ini.

Hmmm… Kecewa… iya sih… tapi apa mau dikata dari pada di PHP-in lama-lama juga bakal makin kecewa nantinya. tvN sudah memutuskan seperti itu, jadi hanya bisa nerima saja, toh sebelumnya aku sudah memprediksi hal ini akan terjadi. So… bye bye untuk Crown Couple, bye bye juga untuk para Samchongsa plus Dal Hyang…

Aku jadi nggak bisa komen banyak-banyak deh akhirnya  -____-

*written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*
4 Komentar untuk "Samchongsa Episode 12 : Letter from Mainland part 1"

Trus nasib crown couple gimana???
Padahal pengen lihat khidupan keluarga mereka di china.,
Huaaa...hiks...hiks...

Sis tulis tentang lets eat season 2 dong

yah padahal saya pengen tau banget kelanjutanya.. :(
saya penasaran kenapa mi ryyung masih hidup.. :/

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top