Samchongsa Episode 11: Kiss - part 1



 
Gubernur Anju kaget saat seorang pengawal kerajaan datang dan berkata ingin menjemput Seja karena dia mendengar kabar ada orang yang melihat Seja di Anju. Setelah berpikir, Gubernur Anju akhirnya menyadari sesuatu, salah seorang dari Samchongsa pastilah Seja. Dengan panik dan tergesa-gesa dia bergegas mencari ke penjara.


Tiba di penjara, Gubernur Anju bingung siapa Putra Mahkota dia antara para Samchongsa, melihat Seja dan Seung Po yang sedang bermain kartu, sementara Min Seo menjauh dari mereka dan tampak sangat berwibawa, gubernur Anju mengambil kesimpulan Min Seo lah Putra Mahkota. Gubernur Anju segera memberi penghormatan pada Seja dan meminta maaf karena telah bodoh tidak mengenalinya sebagai Putra Mahkota. Min Seo kaget, Seja juga bingung.

Seja berkata, “Aku adalah Seja, kau memberi hormat pada siapa?” Gubernur Anju bingung dan menatap Seja, Ha! Dia salah mengenali? Seun g Po berkomentar sepertinya Min Seo lebih tampak seperti Putra Mahkota dan apakah itu berarti aktinya Seja tidak seperti Putra Mahkota? Gubernur Anju mengelak dan meminta maaf, dia langsung memberi hormat pada Seja dan memerintahkan petugas membuka kan pintu penjara.

Seja dipersilahkan keluar, namun Seja meminta Gubernur Anju yang masuk karena dia ingin memberitahu sesuatu dan penjara adalah tempat yang tenang untuk berbicara. Gubernur Anju mengerti dan langsung masuk lalu membungkuk di depan Seja. Seung Po bertanya mengapa dua petugas itu masih disana? Gubernur pun menyuruh mereka pergi dan meminta untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke sana.

Setelah kedua petugas pergi, Seja berkata jika dia datang untuk mencari Park Dal Hyang, gubernur tahu itu, tapi Park Dal Hyang… Tidak. Dia masih hidup dan sedang menuju Han Yang. Dia akan melaporkan kejadian konyol yang terjadi di Anju pada pemerintah, dan mungkin kedatangannya akan bersamaan dengan surat yang di tulis Gubernur Anju untuk Raja. Surat itu akan memberitahu kesalahan yang telah di lakukan Gubernur Anju, karuan saja Gubernur langsung ketakutan mendengar hal itu. Seja pun berkata pada sang gubernur, “Jika kau ingin tetap hidup dan mempertahankan kedudukanmu. Maka dengarkanlah kata-kataku” Gubernur Anju langsung membungkuk dan berjanji akan mematuhi perintah Seja.

Seja berhasil mengirimkan Yong Gol Dae kembali ke Negaranya dan menyelesaikan semua urusan di Anju, barulah dia kembali kembali ke tempat pemandian air panas bersama Seung Po dan Min Seo tapi apa yang harus dia hadapi disana? Kasim Koo mengeluh mengapa Seja baru datang, keadaan menjadi gawat karena Raja datang ke pemandian air panas beberapa hari yang lalu dan Seja tidak ada disana.

Jadi… Kasim Koo berkata mereka bertiga pergi ke Han Yang untuk berjudi. Seja langsung speechless mendengarnya, berjudi lagi? Seung Po dan Min Seo protes karena mereka berdua ikut di libatkan lagi dalam alasan berjudi itu padahal mereka berdua sedang berada dalam masa hukuman.

Kasim Koo tidak menemukan alasan lain lagi agar semuanya tidak menjadi lebih gawat, Raja tidak akan percaya jika dia bilang Seja pergi berjudi sendirian itulah mengapa dia melibatkan Seung Po dan Min Seo juga. Sebaiknya mereka bertiga segera ke Han Yang, karena Raja sedang mencari mereka bertiga di setiap rumah judi yang ada di Han Yang. Seja sudah tidak bisa bicara apa-apa, dia terlihat kesal namun pasrah, Seung Po mengeluh, mereka baru saja tiba dan sekarang harus pergi lagi ke Han Yang? Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi ke Han Yang demi kebaikan semuanya walaupun dengan hati yang dongkol .

Setelah menunggu beberapa lama di sebuah rumah judi, bahkan Seja sempat tertidur sambil duduk untuk melepas rasa lelah, petugas kerajaan tiba di rumah judi tempat Seja dan dua pengawalnya berada.  Ketiga nya mengambil pose sedang berjudi saat petugas masuk dan mereka kaget dengan keberadaan Seja disana. Tadinya petugas berharap rumor itu tidak benar, tapi ternyata Seja benar-benar berjudi disana? Seja pura-pura kaget dengan kedatangan petugas dengan mengeluh dengan wajah lucunya pada Seung Po, “Sudah ku bilang aku tidak ingin datang” tapi semuanya sudah terlanjur. Mereka bertiga sudah tertangkap basah.

Seja dkk pun langsung kena omel Raja setibanya di istana. Raja kecewa pada kelakuan putranya bersama dua pengawalnya itu, Raja sudah memberinya ijin keluar istana untuk memulihkan kesehatannya, bagaimana bisa Seja malah berbohong dan kembali bermain judi padahal Seung Po dan Min Seo sedang dalam masa hukuman juga. Raja bertanya pada Menteri Choi apa yang sebenarnya dia ajarkan pada mereka? Sehingga mereka bertiga menjadi seperti itu, Raja sudah mencoba memisahkan mereka, tapi tetap saja mereka bertiga membuat kekacauan bersama. Menteri Choi minta maaf, ini semua memang salahnya.
Raja berkata seharusnya mereka mencontoh seseorang yang juga dihukum bersama mereka sebelumnya. Seja bingung siapa maksdnya? Raja memanggil Dal Hyang dan memujinya, disaat Seja dan dua pengawalnya sibuk berjudi, Dal Hyang telah telah berubah menjadi hamba yang setia, kesetiannya melebihi mereka bertiga dan Raja mengangkatnya sebagai Pengawal Istana karena jasanya terhadap kerajaan. Dal Hyang hanya bisa meringis saat menatap Seja, Seung Po dan Min Seo yang menatapnya bingung.

“Saat Tiga Musketeers berkeliling negeri, memperbaiki masalahnya dan melakukan semua tugas sulit ada keberuntungan besar yang menungguku di Han Yang”

Bagaimana Park Dal Hyang mendapatkan keberuntungan sementara para Samchongsa malah mendapatkan omelan dari Raja?

Semua berawal dari aksi Samchongsa yang memberi saran pada Gubernur Anju untuk menulis kembali laporannya pada Raja yang tiba setelah 10 hari Dal Hyang tiba di Han Yang. Dalam laporan tersebut Gubernur mengatakan tentang rencana Kim Ja Jum yang ingin melengserkan Sejabin dengan membunuh Dal Hyang yang ditumbalkan dibunuh Yong Gol Dae agar terlihat bahwa sang jenderal marah karena peselingkuhannya dengan Sejabin di pergoki Dal Hyang. Tapi sekarang ini Dal Hyang masih hidup dan bisa memberi kesaksian pada Raja bahwa semua rumor tentang Sejabin hanyalah kebohongan belaka.
Kim Ja Jum yang kaget mendengar bahwa Park Dal Hyang masih hidup belum sempat melakukan apapun lagi karena para petugas sudah datang untuk menangkapnya atas semua tuduhan yang dituliskan Gubernur Anju padanya.
 
Gubernur Anju pun meminta maaf pada Yong Gol Dae atas insiden ini dan meminta Yong Gol Dae bersaksi bahwa semua ini memang ulah Kim Ja Jum hingga Yong Gol Dae hampir kehilangan nyawanya atas pembunuhan dan peselingkuhan yang tidak dilakukannya.

Raja kaget, saat dia membaca laporan tersebut, dan berkata pada menteri Choi bahwa dia ingin bertemu dengan Park Dal Hyang. Karena insiden itu, seorang petugas rendahan bertemu langsung dengan Raja yang memintanya untuk menceritakan apa yang terjadi hari itu. Dal Hyang tidak yakin bagian mana dari ceritanya yang membuat Raja terkesima dan takjub padanya, dia hanya menceritakan kisah itu berdasarkan versinya dan Raja tampak takjub dan menyimpulkan bahwa Dal Hyang menyelamatkan situasi kacau itu seorang diri dengan bertahan hidup dan berhasil menggagalkan rencana busuk Kim Ja Jum untuk melengserkan Sejabin.

Di hadapan para menteri Raja memuji Dal Hyang, bahwa dia sangat terkesan dengan ceritanya dan merasa masa depan akan cerah karena Joseon memiliki pemuda seperti Dal Hyang. Karena rasa kagum nya itu Raja pun mengangkat Dal Hyang sebagai pengawal istana tingkat 6 membuat para menteri kaget dengan keputusan Raja dan Dal Hyang juga tak kalah kaget nya namun tentu saja dia merasa sekaligus senang dan beruntung. Raja membuat keputusan itu karena dia ingin pemuda cerdas seperti Dal Hyang berada disisinya.

Kembali ke timeline saat Raja sedang mengomeli Seja dkk, dia memanggil Dal Hyang mendekat, dengan ragu Dal Hyang mendekat, namun Raja memintanya lebih mendekat lagi. Dengan rasa bangga luar biasa, Raja menepuk pundak Dal Hyang dan membanggakannya bahwa Seja dan dua pengawanya seharusnya belajar dari Dal Hyang. Sementara mereka bertiga berjudi, Dal Hyang sudah melakukan semuanya sendiri. Menyelamatkan Sejabin, mencegah perang, bahkan berhasil menemukan pelayang yang tidak setia. Dal Hyang benar-benar seperti seorang jenderal.

Seja berpendapat, mungkin Dal Hyang mendapat sedikit bantuan saat melakukan semua itu. Raja membantah dan berkata jika Dal Hyang melakukannya sendirian. Sementara Dal Hyang hanya bisa meringis menatap Seja dan yang lainnya, karena dia sadar benar jika dia berhasil melakukan semua itu atas bantuan mereka bertiga.

Selesai mendapatkan omelan Raja, mereka semua keluar dari istana Raja. Dal Hyang tampak merasa bersalah. Dia tidak menyangka jika mereka akan tiba dalam waktu yang cukup lama sehingga dia harus menceritakan kisah itu berdasarkan versinya. Seung Po merasa takjub karena Dal Hyang sekarang adalah pengawal istana tingkat 6, itu artinya Seung Po dan Min Seo pun harus melayaninya saat ini. Dal Hyang saja masih tidak percaya, apalagi Raja begitu peduli padanya dan sangat perhatian terhadapnnya.

Seung Po merasa ini seikit tidak adil, apakah Dal Hyang sama sekali tidak pernah mengungkit tentang mereka bertiga? Dal Hyang merasa canggung, dia juga bingung, dia takut jika dia mengatakan tentang Samchongsa, masalahnya malah akan menjadi semakin besar. Haruskah Dal Hyang memberitahu Raja? Tentu saja tidak. Situasi ini memang menjadi serba salah.

Seja menatap Dal Hyang dengan bangga atas pencapaian yang telah dia dapatkan, Seja berkata jika Dal Hyang harus mentraktir mereka. Tentu saja! Dia akan mentraktir lebih dari satu kali, karena sekarang dia mendapatkan gaji sehingga dia memiliki uang untuk mentraktir mereka bertiga. Dal Hyang berkata pada Seja jika ada sesuatu yang harus dia laporkan pada Seja secara terpisah, namun saat ini dia harus kembali bekerja. Dal Hyang pun berpamitan pada Samchongsa.

Seung Po mengeluh, namun dengan rasa bangga, dia butuh bertahun-tahun untuk menjadi Pengawal Istana tingkat 6, tapi Dal Hyang melakukannya dalam sebuah kesempatan saja? Seja berkomentar sepertinya mereka memberikan dukungan terlalu banyak sehingga Dal Hyang bisa menjadi sesukses sekarang ini.

Min Seo bertanya, lalu bagaimana dengan dirinya dan Seung Po? Bagaimana nasib mereka saat ini? Apakah mereka akan di asingkan? Seja juga tidak tahu, dia harus menyelamatkan hidupnya terlebih dahulu, dan melihat situasinya, sepertinya omongan Park Dal Hyang lebih mempengaruhi keputusan Raja, mengapa mereka tidak memberikan  semacam sogokan pada Dal Hyang agar dia meminta pada Raja untuk menyelamatkan mereka berdua. Seung Po dan Min Seo tertawa mendengar candaan Seja tersebut.

Seja kembali ke kediamannya yang langsung di sambut para dayang, pengawal dan juga kasim. Seja menatap tempat tinggalnya bersama Sejabin, dia mengingat saat harus melepaskan Sejabin dari istana untuk pergi ke rumah orang tuanya. Saat itu Sejabin khawatir tidak akan kembali lagi ke istana karena masalah tusuk rambut itu, namun kini Seja bisa tersenyum lega karena posisi Sejabin terselamatkan setelah dia menyelesaikan masalah yang ada di Anju. Dengan senyum bahagia, Seja pun melangkah masuk untuk menemui Sang istri.

Dayang yang menjaga ruangan Sejabin tampak kaget melihat kedatangan Seja. Ketika dayang hendak mengatakan sesuatu, Seja memintanya untuk tidak berkata apa-apa, “Syuuutt” Seja tidak ingin kedatangannya di umumkan pada Sejabin, dia berniat memberi kejutan pada Sejabin.

Seja membuka pintu ruangan Sejabin dengan tangannya sendiri kemudian langsung masuk dengan wajah sumringahnya sambil memberitahu kedatangannya dengan nada cute, tapi… tempat duduk Sejabin kosong. Tidak ada siapapun di ruangan itu. Seja akhirnya sadar, istrinya tidak ada di di tempat seharusnya dia berada.

Seja pun bertanya pada dayang kemana istrinya pergi, Dayang memberitahu jika Sejabin pergi ke kuil untuk memperingati kematian Ratu. Sejabin tidak tahu jika Seja akan tiba di Istana hari ini. Mendengar istrinya pergi ke kuil, Seja tampak sangat kecewa, tapi…  mau bagaimana lagi?

Akhirnya Seja kembali ke kamarnya, kasim menawarkan apaka Seja ingin mandi? Seja menolak, dia sangat lelah dan sangat ingin tidur. Kasim berkata dia akan segera menyiapkan keperluan tidur Seja. Sepertinya Seja memang benar-benar butuh istirahat, karena dia tampak lelah dan juga sedih karena Sejabin tidak ada di Istana.

Dayang sejabin masuk ke ruangan Seja dan memberi tahu nya jika Sejabin ternyata masih di Istana, apakah dia perlu memberitahu Sejabin tentang kedatangan Seja dan memintanya untuk kembali. Mendengar Sejabin masih di Istana, untuk sesaat Seja tersenyum tipis, namun saking gengsinya Seja menolak tawaran dayang untuk memanggil Sejabin agar kembali. “Tidak perlu” Dayang mengerti dan pamit pergi. 

Setelah dayang keluar, Seja melepas topinya agar bisa segera beristirahat, namun…. Seja menyadari satu hal… tampaknya dia sangat merindukan istrinya. Seja menatap pintu kamarnya dan tersenyum kecil. Seja pun memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah dia lakukan.

Seja keluar dari kediamannya dan berkeliling Istana untuk mencari dimana Sejabin berada. Beberapa dayang menyapanya dan Seja menyuruh mereka untuk pergi saja, sementara Seja kembali pergi kesana kemari untuk mencari keberadaan istrinya. Tak ada dimanapun. Seja menghela nafas kecewa, kemana lagi dia harus mencari? Kemudian Seja mendengar suara tawa wanita, Aha! Apakah istrinya berada di tempat sumber suara tawa itu berasal?

Binggo! Seja akhirnya menemukan Sejabin dengan mengikuti dari mana suara tawa itu berasal. Seja langsung tersenyum bahagia saat melihat Sejabin yang sedang berbicara dengan seorang Lady yang akan pergi bersamanya ke kuil untuk memperingati kematian Ratu. Yoon Sanggung melihat Seja dan memberi hormat padanya dari kejauhan, kemudian segera memberitahu Sejabin jika Seja sudah tiba di Istana.

Sejabin kaget mendengarnya dan langsung menoleh ke tempat Seja berada, “Jooha…” Sejabin memanggil suaminya dengan nada penuh sukacita. Sejabin mengakhiri perbincangannya dengan Lady tadi sebelum dia menyambut Seja.

Setelah Lady yang bicara dengannya pamit pergi,  Sejabin pun tergesa-gesa berjalan menuju Seja hingga dia tak memperhatikan jalan dan kembali tersandung oleh roknya, Sejabin langsung oleng untung saja Yoon Sanggung ada di sampingnya dan memegangginya agar tidak jatuh. Yoon Sanggung bertanya apakah Sejabin baik-baik saja? Sambil menatap kikuk pada Seja yang menyaksikan kecerobohan istrinya.  Sejabin kembali menegakan diri sambil  memegangi  wig di kepalanya sepertinya terasa berat hari ini.

Sejabin tersenyum malu-malu pada Seja yang juga tersenyum melihat tingkah rusuh istrinya. Dengan langkah hati-hati Sejabin pun akhirnya melangkah menuju tempat Seja berdiri menunggunya.

Sejabin: Kapan Anda datang?
Seja: Baru saja

Sejabin: *tampak merasa bersalah* Hamba tidak tahu Anda akan datang… Hamba baru saja akan pergi. Bagaimana ini?

Seja hanya tersenyum kecil melihat betapa istrinya merasa bersalah karena tidak sempat menyambutnya.
Sejabin tampak cemas dan berkata, “Baginda Raja berpikir Anda pergi berjudi lagi, Hamba ingin mengatakan sesuatu pada beliau, tetapi tidak ada alasan yang bagus…” Seja langsung menyela perkataan istrinya dengan berkata bahwa dia sudah mendapatkan omelan dari Raja.

Sejabin kaget, “Secepat itu?” Seja lagi-lagi hanya tersenyum dan malah mengalihkan pembicaraan.

Seja: Apakah semuanya baik-baik saja
Sejabin: *tersenyum lega namun sedikit malu-malu* Ya.. tentu saja… Anda tahu tentang itu kan?

Sejabin melirik kanan kiri dan sedikit menundukan kepalanya sambil agak berbisik pada Seja, “Tusuk rambut itu ada disini” Sejabin berbalik dari Seja untuk menunjukkan tusuk rambutnya, Seja tersenyum puas melihat kebahagiaan Sejabin, namun sayang senyum itu tak bertahan lama karena kata-kata selanjutnya yang dikatakan Sejabin dengan sangat antusias.

“Park Dal Hyang mengantarkannya pada Hamba... Padahal nyaris saja… Hamba pikir Hamba akan mati hari itu, dan dia muncul tepat saat Hamba akan memasuki tempat pestanya. Sunggug keajaiban dia masih hidup, dan waktu kedatangannya begitu tepat” 

Mendengar nama Dal Hyang dari mulut Sejabin dan betapa Sejabin menganggumi aksi heroik Dal Hyang yang membawakan tusuk rambut untuknya sesaat sebelum dia memasuki tempat pesta, membuat senyum di wajah Seja langsung sirna.

Jelas Seja tidak senang, dia pun segera berkata, “Aku yang mengirimnya” Sejabin bingung, Seja mengulangi nya lagi, “Aku yang mengirimkan Park Dal Hyang untuk menyelamatkanmu” Dengan wajah bingung pada sikap suaminya, Sejabin berkata dengan polosnya, “Hamba tahu hal itu”

Seja langsung blank, dia mencoba mencerna sesuatu, jadi apa masalahnya? Sejabin tahu jika dirinya yang mengirim Dal Hyang, dan rasa kagumnya itu… mungkin… lebih tepatnya bukan dia tujukan pada Dal Hyang, tapi pada pengalaman berharganya yang hampir mati karena kehilangan tusuk rambut itu dan Dal Hyang menyelamatkannya karena datang di waktu yang benar-benar tepat. Apakah sikap Seja terlalu berlebihan?

Menyadari kesalahannya dalam menanggapi rasa antusias Sejabin, Seja langsung memasang senyum palsunya dan berkata, “Aku… hanya mengakatannya saja. Kalau begitu berhati-hatilah di jalan”

Seja langsung berbailk dengan wajah malu. Apa yang sudah dia lakukan? Mengapa dia memperlihatkan sikap tak sukanya saat Sejabin bercerita tentang Dal Hyang. Seja tentu belum sadar jika dirinya sedang merasa  CEMBURU berat. Sejabin menatap kepergian Seja yang menurutnya tak wajar. Sejabin bingung mengapa Seja bersikap begitu? Sepertinya… Seja terlihat kecewa…

Sejabin pun memutuskan untuk mengejar Seja yang berjalan sudah cukup jauh darinya. Akhirnya Sejabin bisa mengejar Seja saat mereka di taman istana. “Jooha… Jooha…” Seja berhenti dan menoleh pada Sejabin yang tampak kelelahan karena mengejarnya. “Apakah Hamba melakukan kesalahan?” Sejabin bertanya dengan khawatir. Seja tampak bingung dan berkata tidak, memangnya kenapa?

Sejabin: Lalu kenapa…
Seja: Apa?
Sejabin: Anda kelihatannya kecewa
Seja: Tidak. Tidak ada hal seperti itu
 Seja tersenyum, namun lagi-lagi senyumnya menghilang saat dia menyadari sesuatu

Seja: Sebenarnya… Aku mungkin Sedikit kecewa
Sejabin: Kenapa?
Seja: Aku tidak mengerti perasaan apa ini
Sejabin: Perasaan apa yang Anda bicarakan…

Belum sempat Sejabin menyelesaikan kata-katanya, Seja langsung menundukan kepalanya dan memberikan kecupan di bibir Sejabin, membuat istrinya kaget hingga tidak sempat menikmati ciuman singkat itu dan masih membuka matanya karena kaget saat menerima ciuman tiba-tiba itu.

Seja menjauhkan kepalanya dari Sejabin setelah dia mengakhiri sesi ciuman spontannya. Dia menatap Sejabin  yang masih tampak kaget, “Aku tidak mengerti mengapa aku melakukan ini, jadi jangan tanya alasannya padaku. Karena aku juga tidak tahu jawabannya”

Sejabin makin bingung, apalagi saat melihat Seja tersenyum canggung padanya dan buru-buru pergi dari hadapannya. Sejabin hanya bisa menatap punggung suaminya sementara dirinya masih kaget karena seranga tiba-tiba itu. Pikiran Sejabin terasa kosong dia tidak bisa memikirkan apapun.

Sejabin kembali ke tempat tandu nya berada karena dia sudah di tunggu untuk pergi ke kuil. Saat berjalan menuju tandunya terlihat jelas Sejabin sedang menahan senyumnya karena merasa takjub dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Ketika akhirnya dia masuk ke dalam Tandunya Sejabin pun memegangi bibirnya yang baru saja di kecup oleh sang suami, diam-diam… dia pun tersenyum kecil. Tampaknya Sejabin sangat bahagia.

Seja kembali ke kediamannya sambil memikirkan apa yang baru saja di lakukannya, namun kemudian Seja diam-diam tersenyum kecil saat mengingatnya.

(Aigooo… Nih berdua kayak anak ABG yang lagi kasmaran aja yah >.<)

Sayangnya eforia Seja tak bertahan lama, karena kasim datang dengan membawakan surat dari Park Dal Hyang, sesuai perkataannya, ada sesuatu yang harus dia laporkan pada Seja secara terpisah. Surat itu adalah laporannya.

“Hamba harus melaporkan ini secara terpisah. Hamba sudah menangkap Mi Ryung” Raut wajah Seja langsung mengeras dan dia pun membaca kelanjutan dari surat laporan Dal Hyang.

Dalam suratnya Dal Hyang menceritakan apa yang terjadi di hari ulang tahun Putri Jun Myung. Seorang dayang yang berada di pesta itu ternyata suruhan Mi Ryung dan dia kaget saat melihat Sejabin berhasil mendapat kembali tusuk rambutnya.

Selesai pesta dayang tersebut bergegas ke tempat Mi Ryung berada dia berniat melaporkan apa yang terjadi di istana, namun sebuah tangan menjegalnya.

Dayang tersebut kemudian menemui Mi Ryung dan memberikan laporan palsu jika Sejabin tidak datang ke pesta, orang-orang berbisik pasti karena Sejabin tidak mendapatkan kembali tusuk rambutnya. Raja sangat marah dan memerintahkan agar Sejabin di seret dari kediamannya, dan pesta pun di hentikan. Mungkin saja saat ini Sejabin sudah mendapat hukuman dari raja. Mi Ryung yang tadinya cemas luar biasa menanti kabar dari istana langsung menghela nafas lega.

Setelah memberikan laporan palsu itu, dayang pun keluar dan menatap seorang pria berpakaian serba hitam dan memberikan kode bahwa dia telah melaksanakan tugasnya. Pria itu adalah Dal Hyang. Aha! Jadi Dal Hyang mencoba menangkap Mi Ryung dengan mengelabuinya bahwa rencananya dengan Kim Ja Jum berjalan lancar tanpa hambatan.

Mi Ryung teringat kata-kata Sejabin yang percaya pada Seja dan memastikan bahwa meskipun dia harus mati, Sejabin akan mati di Istana sebagai Putri Mahkota. Mi Ryung tersenyum mengejek, seharusnya Sejabin mendengarkan sarannya dan menyebut Sejabin sebagai wanita bodoh.

Tak lama kemudian seseorang datang membawa pesan dari Anju, dia adalah Panse hahaha…  Tentu saja Mi Ryung tidak tahu jika si pengantar sebenarnya adalah pelayan Dal Hyang, dia siapa yang mengantarkan pesan itu? Pan Se mengatakan pria mata satu. Mi Ryung  berpikir itu pasti No Soo, maka dia pun langsung membaca surat itu.

Dalam surat tersebut Kim Ja Jum mengatakan jika masalah di Anju telah selesai dengan sangat baik. Seja sudah menandatangi surat perjanjian untuk menjadikan Mi Ryung Sejabin nya. Sekarang tugas Mi Ryung adalah menunggu Seja menemuinya di tempat yang telah disediakan Kim Ja Jum, dalam surat tersebut disertakan pula alamat dimana Mi Ryung harus menunggu Seja. Setelah membaca surat itu Mi Ryung langsung tersenyum lega dan bahagia. Akhirnya impiannya untuk menjadi seorang Sejabin akan tercapai juga.

Dengan penuh percaya diri Mi Ryung pun pergi menuju ke tempat yang alamatnya tertulis di surat yang dia pikir dari Kim Ja Jum. Dal Hyang menyaksikan kepergian Mi Ryung dalam penyamarannya dan memberikan laporan pada Seja dalam suratnya bahwa Dal Hyang telah mengirim Mi Ryung ke tempat yang jauh dari Han Yang sehingga sampai saat ini Mi Ryung tidak tahu yang sebenarnya.

Dal Hyang menanti perintah Seja apa yang harus dilakukan terhadap Mi Ryung. Dal Hyang memberikan alamat dimana Mi Ryung menunggu Seja saat ini. Seja termenung, dia memikirkan cara terbaik untuk menangangi kasus Mi Ryung kali ini. Seja tidak ingin melakukan kesalahan seperti yang pernah dia lakukan 5 tahun lalu, keputusan yang membuat 5 tahun hidupnya di bayangi oleh rasa penyesalan luar biasa.

Mi Ryung menanti dengan cemas di tempat itu, Seja belum datang juga padahal dia sudah cukup lama menunggu. Akhirnya seorang pelayan memberitahunya jika dia mendapatkan seorang tamu. Yups! Tamu itu adalah Seja. Mi Ryung menatapnya dengan perasaan lega namun juga cemas menghadapi reaksi Seja untuk masalah ini.

Mi Ryung bertanya apakah Seja baru saja datang dari Anju? Seja membenarkan dan balik bertanya sejak kapan Mi Ryung tiba di tempat itu? Mi Ryung sudah berada disana sejak 10 hari yang lalu, Menteri Kim Ja Jum memintanya menunggu di tempat itu. Mi Ryung bertanya dengan ragu… dia dengar Seja sudah menandatangi surat itu? Seja terdiam kemudian membenarkan, “Ya… Aku sudah menandatanganinya” Seja mengatakannya dengan nada datar.

Melihat reaksi Seja, Mi Ryung langsung berperan sebagai korban juga, “Anda kecewa pada saya, 'kan? Saya tahu. Tapi... saya mencoba menepati janji. Sungguh. Itu bukan rencana saya. Saya dijual pada Kim Ja Jum. Saya diculik dan diancam. Dia bersikeras akan menjadikan saya Putri Mahkota. Saya rasa dia sudah gila”

“Kau bisa saja berkata tidak” Seja berkata dengan memasang wajah datar tanpa ekspresi

“Tentu saja saya berkata tidak pada awalnya. Saya pikir itu tidak mungkin. Selain itu, saya sudah berjanji pada Anda. Dia tidak mendengarkan saya. Saya hanya dimainkan... seperti pion dalam caturnya. Saya juga korban. Tolong jangan salah paham” Mi Ryung masih membela diri, namun Seja sama sekali tidak menunjukkan rasa simpatinya. Dia masih memasang wajah coolnya.

“Hasilnya jadi seperti ini…” Mi Ryung tampak cemas mengatakan kalimat terakhirnya di terlihat khawatir dengan reaksi Seja.

Seja menanggapi dengan nada datar, “Jadi apa kau menyukai hasil seperti ini? Tak peduli bagaimanapun prosesnya... hasilnya adalah kau akan menjadi Putri Mahkota. Apa kau menyukainya?”
Mi Ryung ragu-ragu dan malah balik bertanya, “Bagaimana dengan Anda?”

“Saat kupikir-pikir, ini tidaklah terlalu buruk” Seja menjawab setelah berpikir agak lama.

Mendengar jawaban Seja Mi Ryung langsung sumringah, “Benarkah?” Seja mengangguk, Mi Ryung langsung memeluk Seja, meskipun tidak mendapatkan balasan, Mi Ryung kadung bahagia karena ternyata Seja tidak kecewa dan membencinya.

“Anda juga berpikir begitu? Itu benar, ini sudah tepat. Inilah yang seharusnya terjadi dulu. Jika saja anda tidak kejam pada saya saat itu... kita sudah menjadi pasangan. Maka semua orang akan bahagia” Mi Ryung sempat memukul pelan pundak Seja menunjukkan sikap manjanya. Sementara Seja tak bereaksi apapun. Dia hanya membiarkan Mi Ryung terus mengoceh.

“Saya tidak mengerti kenapa kita membuang-buang waktu... padahal semuanya akan menjadi seperti ini. Wanita itu tidak akan... dihukum seperti itu juga”

Mendengar Mi Ryung mengungkit tentang Sejabin, Seja akhirnya bertanya, “Apakah menurutmu begitu?”

“Ya, kasihan dia. Dia tidak melakukan kesalahan apapun, iya 'kan? Jadi saya khawatir... dan memberikan saran padanya. Meski begitu dia mengabaikan saya”

Seja mengambil kesimpulan, berarti Mi Ryung menemui Sejabin? Apa yang sebenarnya di katakan wanita itu pada istrinya? Dia pun bertanya, “Saran apa?”

“Saya katakan kalau kematian secara terhormat akan lebih baik… daripada dilengserkan dan ditinggalkan. Tapi dia bersikeras... dia tidak akan ditinggalkan. Saya memberinya saran itu... dia bersikap bodoh”

Mata Seja menyipit mendengar saran Mi Ryung pada istrinya. Rahangnya pun terlihat mengeras tampak menahan amarahnya, namun dia masih berusaha memasang wajah datarnya. Sebelumnya Seja mungkin tidak pernah berpikir jika Mi Ryung akan menemui Sejabin dan menyarankan sebuah kematian padanya karena masalah ini.

Sementara itu, Mi Ryung yang masih menyandarkan kepalanya di dada Seja kemudian berkata, “Wanita itu tidak tahu apa-apa tentang kita. Sudah saya katakan padanya. Kita tidak bisa dipisahkan” lalu Mi Ryung pun semakin mengeratkan pelukannya pada Seja karena eforia yang dirasakannya.

Sudah cukup! Seja merasa tidak perlu mendengar lebih banyak dan membiarkan dirinya terus di peluk Mi Ryung. Seja pun menyingkirkan Mi Ryung dari tubuhnya lalu berkata, “Itu hal yang bagus”

Mi Ryung yang masih bingung karena Seja melepaskan pelukannya bertanya dengan bingung, “Tentang apa?”

“Syukurlah kau tidak melintasi perbatasan seperti janjimu... dan aku bertemu denganmu lagi disini."

Mi Ryung langsung tersenyum ceria mendengar Seja merasa bersyukur bertemu lagi dengannya. 

"Cacat dalam hidupku sekarang sudah terselesaikan” Lanjut Seja kemudian. Mi Ryung tidak mengerti maksud Seja, namun Seja tak ada keinginan untuk menjelaskannya.  

Seja memaksakan diri tersenyum pada Mi Ryung lalu berkata, “Ayo kita pergi ke Hanyang. Bersiaplah” Ajak Seja membuat Mi Ryung kaget namun juga kegirangan setelah sebelumnya memastikan apakah mereka akan pergi sekarang juga? Seja membenarkan dan sekali lagi mengajak Mi Ryung untuk pergi bersamanya.

Mi Ryung keluar dari rumah itu dengan penuh percaya diri, dia menyapa Kasim Koo, pria yang telah memaksanya untuk bunuh diri 5 tahun lalu. Dengan nada meremehkan Mi Ryung berkata pada Kasim Koo, “Aku yakin ini menyulitkan untukmu, 'kan? Sekarang kau harus melayaniku, orang yang coba kau bunuh” Kasim Koo tidak menjawab hanya menundukan kepalanya.

Seja datang dan berkata bahwa dia akan menyusul, mereka sebaiknya pergi lebih dulu. Mi Ryung pun masuk ke dalam tandunya dengan perasaan luar biasa bahagia. Seja berkata pada Kasim Koo agar mereka berhati-hati di jalan, Kasim Koo mengerti dan mereka pun pergi membawa Mi Ryung menuju Han Yang.

Sebelum pergi menjauh, Mi Ryung mengeluarkan kepalanya dari tandu dan menatap Seja yang melepas kepergiannya. Mi Ryung tersenyum pada Seja, sementara Seja hanya menatap kosong padanya, tak ada rasa khawatir apa lagi bahagia, tatapannya malah menunjukkan bahwa dia berharap kali ini Seja tidak salah langkah dalam mengambil keputusan sehingga dia tidak harus hidup dalam rasa penyesalan seumur hidupnya.

bersambung ke part 2

***

Ugh... aku pengen muntah denger kata-katanya Mi Ryung ke Seja, watados banget waktu Mi Ryung cerita dia nyuruh Sejabin untuk bunuh diri. Ya Tuhan... jika Seja sedang tidak bersandiwara mungkin saat itu juga dia mengambil pedang dan menebas Mi Ryung kali yah itu wajahnya Seja pas dengar Mi Ryung dengan tidak tahu malu nya menceritakan hal itu udah horor bangetlah. Sigh... Dasar Mi Ryung Siluman ~.~

Seja benar-benar ingin membuat keputusan yang tepat untuk menangani Mi Ryung, dia merasa keputusannya 5 tahun lalu, karena tidak membawa Hyang Sun pada pihak yang berwajib demi menyelamatkan keluarga Menteri Yoon. Meminta Hyang Sun untuk bunuh diri ternyata membuat Seja hidup dalam rasa bersalah selama 5 tahun, dan memupuk dendam membara di dalam hati Mi Ryung. Karena itulah Seja mengambil cara lain untuk menangani Mi Ryung kali ini. Bisa saja Seja langsung menangkap Mi Ryung tanpa menipunya, tapi dengan keahlian Mi Ryung yang seperti siluman, siapa yang jamin Mi Ryung bisa di jebloskan ke penjara tanpa membunuh para petugas yang menangkapnya. Tapi yah... ternyata cara ini pun tidak mempan untuk membuat Mi Ryung sadar akan kejahatannya yah... ckckck

Ngakak liat Seja cemburu pas Sejabin jadi fangirling mode on gitu ke Dal Hyang hahaha, langsung bilang kalo dia yang ngirim Dal Hyang untuk menyelamatkan Sejabin, eeehhh dengan lempengnya itu Sejabin bilang dia juga tahu itu, dan akhirnya saat Seja sadar yang membuat Sejabin antusias bukan semata-mata aksi heroik Dal Hyang, Seja jadi malu sendiri dan ngeles deh bilang dia cuman pengen bilang aja... wkwkwkw... Duh... yang cemburu sampe segitunya >.<

Dan First Kiss di episode 11 ini,,,, cieee.... bingung sama perasaannya Sejabin malah langsung dicium sama Seja, sering-sering aja tuh Seja  bingung karena cemburu kek gitu. Udah jelas lah, sekarang Seja sudah menerima Sejabin dengan tulus di dalam hatinya. Itu senyumnya pas ketemu Sejabin jadi bukti yang sangat kuat, keknya seneng banget bisa ketemu lagi sama istrinya, trus pas tau Sejabin pergi ke kuil sedih gitu Seja nya hahaha...

Aku senang karena Sejabin sangat memahami Seja, melihat reaksinya setelah dia bercerita tentang pengalamannya lolos dari kematian karena tusuk rambut itu, Sejabin langsung sadar jika Seja terlihat kecewa meski dia bingung apa yang membuatnya kecewa. Itu buah dari hidup 5 tahun sama Seja kali yah, walau pun mereka jarang berinteraksi Sejabin sepertinya diam-diam terus memperhatikan suaminya hingga bisa memahaminya seperti itu. Sejabin bisa saja tak peduli dengan sikap Seja, tapi dia tidak ingin ada kesalah pahaman diantara mereka jadi Sejabin mengejarnya, dan tentu saja, aksi itu berbuah manis, walo rasanya Sejabin masih di gantung oleh suaminya yang malah bilang dia juga nggak ngerti kenapa dia mencium Sejabin hihihi...

Adegan Gubernur Anju salah mengenali Min Seo sebagai Seja, asli bikin ngakak tuh hahaha... Gubernur Anju mungkin mikir, mana mungkin Seja main kartu saat berada di penjara, melihat Min Seo yang begitu berkarisma saat berdoa, otomatis dia mikir Min Seo yang putra mahkota hahaha...

Satu lagi... pas Samchongsa baru datang ke pemandian Air panas, belum sempet istirahat udah di suruh pergi ke Han Yang sama kasim Koo, dan ngenes nya mereka karena Kasim Koo malah membuat alasan jika mereka sedang pergi berjudi di Han Yang, ekspresi mereka bertiga itu lho, bikin ngakak banget >.<


Note:
Maaf ya... untuk episode 11 dan 12 sepertinya akan aku buat 2 part karena satu dan lain hal... dan terimakasih karena masih rela bersabar menantikan lanjutan Recap Samchongsa ini, padahal dramanya udah tamat dari 2 minggu lalu^^

Untuk yang belum sempet nonton, di coba nonton aja, gak nyesel kok nonton Samchongsa ini, walau storyline nya tidak sekeren Nine, tapi perkembangan karakternya cukup memuaskan, terutama karakter Park Dal Hyang. Dan Yong Hwa, sangat baik memerankan Park Dal Hyang yang semakin membuat para penonton jatuh cinta padanya *Tapi maaf aku sih tetep setia sama Seja aja, hahaha*

Special Pic
Beginilah sebenarnya kelakuan Seja dan Miryung di belakang Sejabin haha
*Kalo lagi gak musuhan mereka so sweet kan sebenernya hihi*
Credit gambar: Twitter Will Entertaiment

*written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*
4 Komentar untuk "Samchongsa Episode 11: Kiss - part 1"

Aduh nggak kbyang deh klo mi ryung jdi sejabin, hror pnya ptri mhkota mdel bgitu. Dan scene yg dikoment mba irfa mlai dri cmburunya seja, gubrnur anju yg slh phm trus di pmandian air pnas ak jg ska. Thanks mba irfa dah nulis recapnya. Udh ntn smp slesai tp blm lgkap klo blm mampr ke sni

kyaaaa...akhir'y keluar jg sinop ep 11 meskipun baru part 1 :)
setuju ma mba irfa aqu jg ngakak sma kejadian d'penjara itu trus sma kejadian yg raja bilang PDH naik pangkat asli ngakak bgt liat tampang kyk mupeng'y seung po & min seo wkwkwkw XD
semoga part 2 nya cepet keluar semangat terus teh irfa ^^

by
Nada silviah

akhir nya thanks mbak irfa you're amazing hehehe....
wes ta poko jjang ;)
part 2 cpt lnjut ya mbak Q kan stia menunggu recap nya....



Meytari




Akhirnya muncul juga.... Meski dah nonton tp te2p pengen tw koment Irfa.... Tiap baca koment mu slalu ketawa ....
Blum jg bs mive on dr crown... couple...

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top