Samchongsa Episode 6: Kim Ja Jum



Seja-bin tiba-tiba muncul di antara pedang Dal Hyang dan Seja yang sedang bertarung sengit. Dia meminta mereka untuk berhenti. Seja dan Dal Hyang menarik pedang mereka. Seja berkata agar istrinya menyingkir karena ini adalah pertarungan antar pria sementara Dal Hyang meminta Seja-bin untuk menyingkir karena ini berbahaya. Seja-bin tidak peduli dan berteriak, ”Kubilang hentikan!”


Seja dan Dal Hyang tampak kaget dengan aksi Seja-bin, mereka langsung terdiam dan tidak bisa membantah. Seja-bin memerintahkan Seung Po dan Min Seo untuk melindungi Seja. Dal Hyang syok karena Seja-bin hanya peduli pada keselamatan suaminya. Seung Po langsung berjalan ke arah Dal Hyang dan mengambil pedangnya.

Seja-bin memohon pada Seja, “Tolong hentikan. Anda berdarah, Jooha”

Seja menurunkan pedangnya dan memerintahkan Seung Po dan Min Seo untuk menangkap Dal Hyang. Seja-bin tampak khawatir mendengarnya, dia tak bermaksud seperti itu namun dia tidak bisa membatah keputusan suaminya yang akhirnya menurunkan pedangnya mengikuti kehendak istrinya.

Min Seo membawa Dal Hyang ke Perpus Pribadi Seja, dia mengingatknya. di tiang dan menyumpal mulutnya.

Dal Hyang hanya terdiam dan dia melihat Yong Gol Dae ada disana. Dal Yang menatapnnya dengan kesal.

Di kamar Seja, Seung Po berpendapat bahwa mereka harus memberitahu Menteri Choi tentang masalah Yong Gol Dae, Seja bertanya memangnya guru mereka itu ada dimana? Dia masih di istana kok. Seja tampak setuju pada ide Seung Po untuk memberitahu Menteri Choi.

Kasim datang membawa obat dan baju ganti untuk Seja, Seung Po meminta kasim keluar karena dia yang akan mengobati Seja. Kasim berpikir itu tidak benar, namun Seja menyuruhnya untuk keluar. (Aha! Dia lebih memilih Seung Po dibanding kasimnya, hahaha)



Seung Po mulai membuka perban di luka Seja yang kembali membuka, Seung Po merasa ngeri sendiri dan bertanya mengapa Seja melakukan taruhan seperti itu?

“Anda Cemburu”  Seung Po menggoda Seja. Langsung dibalas tatapan tidak setuju dari Seja. Seung Po melanjutkan jika Seja menantang Dal Hyang untuk bertarung karena cemburu.

“Cemburu? Aku?”  Seja tidak rela Seung Po menuduhnya begitu, tapi Seung Po tetap yakin bahwa itu adalah cemburu. Selama ini Seja terlalu tenang, tapi lihatlah dirinya sekarang. Meskipun Seja masih tidak mengekspresikannya dan berkata baik-baik saja.

Seung Po tertawa keras karena berhasil membuat Seja cemburu. Seja merasa kesal mendengar tawa Seung Po yang malah berkata bahwa cemburu bukanlah hal yang memalukan itu natural. Karena sekarang Seja sudah tahu bagaimana perasaannya, sudah waktunya Seja menunjukkan perasaannya pada sang istri. 

Jika Seja tidak tahu, dia bisa bertanya pada Seung Po. (Hahaha, Seung Po so hilarious). Seung Po berpikir, Seja akhirnya memahami hatinya karena Park Dal Hyang, itu memang tujuannya, dia sangat senang karena merasa berhasil. Seja hanya diam saja, menatap Seung Po dengan tatapan tidak percaya.

Kasim mengumumkan jika Seja-bin datang, Seja berkata agar menyuruh Seja-bin pergi, dia akan menemuinya nanti. Tapi pintu kamar Seja terbuka, Seja-bin masuk dengan tergesa. Ups! Seja-bin merasa malu saat melihat suaminya Topless dia merasa tidak nyaman dan sempat memalingkan wajah.

Seja tidak senang karena Seja bin tidak menurutinya, “Apakah kau tidak dengar, aku memintamu pergi?” Sejabin mengabaikan pertanyaan Seja dan melihat luka suaminya, dia langsung merasa khawatir.

Sejabin terlalu khawatir dengan luka suaminya dan dia langsung berjalan ke arah Seja dan duduk disampingnya. Dia tidak bisa mengabaikan Seja yang terluka lagi. Seja sedang menghitung sudah berapa kali Seja-bin tidak menurutinya, Sejabin tidak peduli.

Seung Po berkata Sejabin tidak perlu khawatir, kemudian memberi Selamat pada Sejabin. Apa maksudnya itu? Seung Po ingin memberi tahu jika Seja kini sudah menyadari perasaannya, tapi Seja langsung Protes dan meminta Seung Po untuk berhenti, hahaha. Seja-bin jadi bingung, apa yang harus dihentikan? Seja berkata bukan apa-apa.

Sejabin berkata pada Seung Po bahwa dia yang akan mengganti perban di luka Seja. Dengan senang hati Seung Po menyerahkan tugas itu pada Seja-bin apalagi saat ini hati Seja sedang berbunga-bunga. Sejabin bingung, dan lagi-lagi Seja protes dan menyuruh Seung Po untuk berhenti bercanda. 

Seung Po pun pamit pergi sambil setengah berjoget-joget saat keluar kamar Seja. Dia terlalu senang melihat reaksi Seja yang kelabakan.

Sejabin penasaran apa yang sebenarnya di bicarakan Seung Po dan Seja sebelumnya. Namun Seja menolak menjawab dan berkata agar Sejabin melakukan pergantian perbannya dengan cepat karena dia tidak punya waktu. (Hmm.. lagi-lagi Seja mengacuhkan pertanyaan Sejabin, Sigh).

Menteri Choi dan dua pejabat lainnya sedang berdiskusi untuk mengubah keputusan Raja tentang memenggal kepala Yong Gol Dae, mereka harus menghentikannya agar tidak terjadi perang. Joseon tidak punya kekuatan dan biaya untuk melakukan perang. Tapi masalahnya, Yong Gol Dae ada dimana sekarang ini? 

Seung Po datang memanggil Menteri Choi, dia ingin berbicara secara pribadi. Keduanya pun berbicara di tempat sepi, Menteri Choi bertanya ada apa? 

Apakah Seung Po melakukan kesalahan lagi? Seung Po tertunduk dan minta maaf, jadi dia melakukan kesalahan lagi? Apalagi kali ini? Seung Po berbisik pada Menteri Choi tentang aksi yang dia lakukan bersama Seja dan Min Seo terhadap Yong Gol Dae.

Menteri Choi kaget mendengarnya, dia kemudian berkeliling mencari sesuatu, apa yang dicarinya? Dia mencari tongkat untuk memukul Seung Po, hahaha… Tapi sayangnya dia tidak menemukannya, akhirnya Menteri Choi memukuli Seung Po saking kesalnya. Apakah itu yang diajarkanya pada mereka bertiga? Menteri Choi sangat kesal pada aksi ketiga muridnya itu. Seung Po mencoba menghentikan karena orang-orang akan melihat mereka. Menteri Choi berhenti memukul Seung Po setelah topinya lepas dan ada para dayang yang lewat. (Jaim donk!)

Setelah menenangkan diri dan menerima topi pejabatnya yang diberikan Seung Po, Menteri Choi bertanya, “Jadi Yong Gol Dae ada di Istana?” Seung Po membenarkan. Akhirnya Menteri Choi memuji kerja Seung Po dan lainnya. Seung Po pun bernapas dengan lega.

Min Seo menyayangkan aksi Dal Hyang, seharusnya dia mendengarkan Min Seo, jadi dia tidak akan berakhir seperti sekarang. Melihat luka Dal Hyang, Min Seo menggunakan sapu tangannya untuk membalut lukanya, mungkin sekedar menahan pendarahannya. 

Saat melihat Yong Gol Dae, Min Seo memberi salam pada Sang Jenderal.Sementara Dal Hyang masih kesal melihat Yong Gol Dae bebas berkeliaran di tempat itu. Min Seo pun pergi dari perpus meninggalkan Dal Hyang berdua dengan Yong Gol Dae

Dalam keadaan terikat di perpustakaan, Dal Hyang teringat kata-kata Seja, bahwa dia hanya cemburu dan menjadikan perintah Raja sebagai alasan, lalu… dia teringat saat Seja-bin hanya peduli terhadap Seja. Kini di mata Yoon Seo nya, hanya ada suaminya dan Dal Hyang menangis meratapi nasibnya.

Yong Gol Dae yang sedang menulis merasa terganggu dengan tangisan Dal Hyang, dia mendekat pada Dal Hyang dan membuka penyumpal mulutnya. Dal Hyang menatap Yong Gol Dae dengan kesal

“Apa yang kau lihat? Apa? Kau sekarang kasihan padaku?” Dal Hyang bertanya, tentu saja Yong Gol Dae hanya diam, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Dal Hyang, hahaha

“Itu menggelikan. Kau yang harusnya dipenggal. Tapi kau aman di Istana ini. Dan akulah yang ditawan. Sungguh dunia yang lucu. Bukankah begitu?” Lagi-lagi Yong Gol Dae hanya menyimak sambil tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Dal Hyang, akhirnya dia kembali menyumpal mulut Dal Hyang dan meninggalkannya. Dal Hyang merasa semakin kesal.


Seja-bin sedang memasangkan perban pada luka Seja. Dia bertanya dengan ragu pada suaminya, “Dimana Park Dal Hyang?” Seja menjawab dengan dingin, “Kau tidak perlu tahu”

Seja-bin: *merasa kaget* Apakah Anda menahannya?
Seja: *dingin dan tetap tenang* Dia sungguh tidak sopan. Jangan khawatirkan tentangnya
Seja-bin: Kenapa kalian berkelahi?
Seja: Itu bukan urusanmu

Seja-bin agak kesal mendengar jawaban suaminya yang terus menghindar, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bertanya hal lain, “Siapa wanita itu?” Seja melirik Seja-bin setelah sejak tadi sama sekali tidak menatapnya. Sejabin makin penasaran, “Wanita yang mengambil surat itu. Siapa dia?” Seja tetap bungkam dia tidak ingin menjawabnya.

Seja-bin: Apakah Anda memiliki seorang wanita?
Seja: Tidak
Seja-bin: Anda bisa mengatakannya pada Hamba. Tugas Hamba adalah tidak merasa cemburu
Seja: Jika aku memang memilikinya, aku tidak akan menyembunyikannya. Jadi kenapa aku harus melakukannya?

Dalam hati Seja-bin kesal dengan sikap angkuh suaminya, tanpa sadar dia mengencangkan ikatan perban di lengan Seja hingga Seja berteriak, “Awwww” Sejabin panik dan minta maaf.

Seja kemudian berkata, “Barusan kau bilang tidak cemburu, tapi tindakanmu berkata lain” Sejabin mencoba menyangkal bukan seperti itu dan akhirnya kembali bertanya tentang wanita yang mengambil surat itu.

Seja malah mengalihkan pembicaraan, “Aku juga punya pertanyaan. Seberapa baik kau memperlakukan Park Dal Hyang selama di Gangwon-do... sehingga dia tidak melupakanmu?” Seja bin tampak bingung.

“Kau lihat kan? Dia sangat tidak sopan padaku”

“Hamba tidak melakukan hal Spesial” Seja-bin berkata sejujurnya.


Seja jadi penasaran, “Lalu… kau berarti benar-benar menarik bagi seorang pria?” Seja-bin berekspesi membenarkan dugaan Seja, “Hamba rasa begitu” Seja malah tertawa mendengar jawaban istrinya.

Seja berdiri untuk berpakaian, dan Seja-bin ikut berdiri sambil bertanya mengapa Seja malah tertawa. “Apakah menurut anda, Hamba sama sekali tidak menarik?” Seja-bin berkata sambil memakaikan baju untuk suaminya.

 “Aku tidak yakin apa yang menarik darimu, tapi aku tidak pernah melihatnya” Seja-bin tak suka dengan jawaban suaminya, dari belakang dia menyahut, “Karena Anda bahkan tidak pernah melihat Hamba”

Seja langsung berbalik, berhadapan dengan sang istri, “Begitukah?”

“Lalu… Lalu apa kau akan menunjukkannya jika aku meminta? Aku ingin melihatnya. Aku ingin melihat apa yang ada padamu. Tunjukkan sekarang. Apa yang menarik darimu bagi seorang pria”

Seja-bin bingung, dia blank untuk beberapa saat, seolah berpikir, *Sekarang? Apa yang harus aku tunjukkan?* (Ekspresinya Seja-bin lucu banget >.<)

Namun kemudian dia tersadar, “Jangan menggalihkan pembicaraan. Hamba bertanya siapa wanita itu? Anda malah membicarakan hal lain”

Seja tersenyum puas melihat reaksi istrinya, “Binnie, kau lebih kuat sekarang. Kau tidak terpancing” (maksudnya tidak masuk ke dalam jebakan Seja lagi gitu? Hahaha)

Seja duduk kembali di tempatnya dan Seja-bin mengikutinya, “Wanita itu, Siapa dia?” Seja-bin masih penasaran. Seja memasang wajah dingin tanpa melihat Sejabin, “Aku tidak bisa menjawab itu” Seja-bin memelas, “Jawablah, Hamba mohon”

Seja menatap Sejabin dengan serius, “Lebih baik kau jika kau tidak tahu, Aku bersungguh-sungguh”  Mereka berpandangan untuk beberapa saat. Tidak tahu seserius apa masalahnya, tapi Sejabin masih tidak mengerti mengapa suaminya menyembunyikan tentang masalah wanita itu.

Saling tatap diantara mereka terhenti saat Kasim mengumumkan Seung Po datang menghadap. Pintu kamar Seja terbuka dan Seung Po mengintip dengan wajah jailnya, hahaha. Seja kesal dan berkata, “Ku bilang hentikan! Apa lagi sekarang…”

Belum sempat Seja menyelesaikan omelannya, Seung Po langsung menyela, “Hamba baru saja menemui Guru. Dia akan menemui Baginda Raja. Hamba rasa anda harus membantunya” Seja menerima pesan rahasia Seung Po di balik kata-katanya dan dia berkata agar Seung Po menunggunya.

Seja berdiri dan merapihkan pakaiannya, Seja-bin khawatir apakah Yong Gol Dae masih menjadi buronan? Seja tidak menjawab, malah kemdian bertanya, “Apa yang harus kita lakukan pada Park Dal Hyang?”

Sejabin bingung mendengarnya, “Apa?”

“Katakan apa pendapatmu? Apa yang harus kulakukan padanya untuk membuatmu nyaman?” Seja menatap istrinya dengan serius.

Sejabin pun menatap suaminya dan mengatakan pendapatnya, “Hamba ingin... Anda menjauhkan dia dari kita. Hamba tidak ingin kalian berdua terlibat lagi. Park Dal Hyang... Hamba ingin dia melakukan yang dia inginkan”
Seja tiba di perpus pribadinya, dia menatap sinis pada Dal Hyang yang terikat saat melewatinya. Seja langsung menemui Yong Gol Dae yang penasaran dengan apa yang terjadi pada Dal Hyang. Seja menjelaskan bahwa Dal Hyang mencoba mengatakan pada orang lain tentang keberadaan Yong Gol Dae di perpustakaan, jadi terpaksa dia harus menahannya.

Yong Gol Dae bercerita jika dia sempat beberapa kali bertarung dengannya, dia berpikir jika dia adalah anak buah Seja. Hmm.. Seja sedang berpikir untuk menjadikan Dal Hyang anak buahnya, dia terlalu berharga untuk di buang begitu saja. Yong Gol Dae berpendapat kemampuan bertarung Dal Hyang tidak lah buruk. Seja tahu itu, tapi tidak juga luar biasa.

“Tadi dia menangis, seperti seorang gadis. Pasti dia kesal karena sesuatu”

Mendengar apa yang dikatakan Yong Gol Dae, Seja melirik Dal Hyang sejenak. Seja kemudian meminta bantuan pada Yong Gol Dae, untuk memberinya saran agar bisa mengalahkan Dal Hyang. Seja harus menjinakan Dal Hyang, namun dia sedang terluka, sebelumnya pasti Yong Gol Dae sudah tahu kelemahan Dal Hyang karena sempat bertarung dengannya.

Seja mendatangi Dal Hyang dan menghunuskan pedangnya, dia melakukan tebasan kea rah Dal Hyang membuat Seung Po dan Min Seo khawatir. Namun ternyata dia membuka ikatan Dal Hyang dan menantangnya untuk melanjutkan taruhan mereka.

Seung Po merasa khawatir karena Seja sedang terluka, Seja tidak mendengarkkan dan malah meminta Seung Po dan Min Seo untuk bertaruh juga. Seung Po sadar bagaimana keras kepalanya Seja dan akhirnya mengeluarkan uangnya, dia bertaruh untuk kemenangan Park Dal Hyang karena melihat kondisi Seja. Tentu saja Min Seo harus terpaksa bertaruh untuk Seja. Mendengar Seung Po lebih percaya pada Park Dal Hyang, Seja berjanji pada Min Seo untuk membuatnya menang. Dia menitipkan wadah pedangnya pada Min Seo.

Seja memberi aba-aba pada Dal Hyang untuk mengangkat pedangnya, jika Dal Hyang tidak melakukan apa-apa dalam hitungan 3, maka Seja lah yang akan memulai menyerang. Setelah hitungan 3, Seja mendapati Dal Hyang yang sudah siap bertarung dengannya.

Mereka pun memulai pertarungan. Seja teringat pada apa yang disarankan Yong Gol Dae padanya, bahwa kepribadian Dal Hyang adalah pantang menyerah jadi dia bergerak dengan cepat, namun lemah dalam hal trik. Seja berpura-pura kalah pada awalnya kemudian dia menyerang dan Dal Hyang menjadi bingung, Seja menyerang dengan bagian kanan tubuhnya karena lengan kirinya terluka, dan dengan trik yang di berikan Yong Gol Dae, dengan mudah Seja bisa mengalahkan Dal Hyang.

Seperti kesepakatan mereka, Dal Hyang harus kembali ke kampung halamannya. Kini dia bukan lagi petugas militer yang harus melakukan perintah raja, jadi Dal Hyang tidak bisa mengancamnya dengan hal seperti itu lagi ataupun membicarakan apa yang terjadi pada orang lain. Dal Hyang terlalu syok karena kalah, dia hanya diam saja sambil bengong.

Seharusnya Dal Hyang memikirkan semua ini saat menerima taruhan. Dengan keahlian Dal Hyang saat ini, bahkan jika Dal Hyang menang taruhan, dia pasti akan dibunuh oleh Yong Gol Dae saat mencoba menangkapnya. Jadi berterimakasih lah, karena Dal Hyang masih hidup saat ini. Seja bertanya apakah Dal Hyang ingin mengatakan sesuatu? Tidak ada. Baguslah, Dal Hyang harus meninggalkan istana dengan tenang sekarang juga.

Seung Po dan Min Seo kaget dengan keputusan Seja, benarkan Dal Hyang di pecat begitu saja? Namun taruhan tetaplah taruhan. Dal Hyang pun berjalan keluar Perpustakaan dengan lemah, Min Seo dan Seung Po tidak bisa berbuat apa-apa.

Seung Po heran, bagaimana bisa Seja menang. Saat ini dia sedang terluka, bahkan jika sehatpun dia tidak akan bertarung sebaik itu, apakah dia melakukan semacam trik? Seja menolak menjawab dan kembali duduk di hadapan Yong Gol Dae.

Yong Gol Dae bertanya, apa tidak apa-apa melepaskan Dal Hyang begitu saja. Tenang saja, seperti yang diketahui Yong Gol Dae, Dal Hyang memiliki kepribadian yang lurus, dia tidak akan membiarkan wanita yang dia cintai menjadi Janda. Yong Gol Dae tidak mengerti maksud Seja, namun Seja memilih meneruskan pembicaraan mereka yang sempat tertunda.

Sebelum meninggalkan istana Dal Hyang menoleh ke arah kediaman Seja-bin. Dia harus meninggalkan wanita yang dicintainya di tempat itu bersama suaminya, itulah takdirnya saat ini.
Dal Hyang yang sudah berganti pakaian, menemui Pan Se yang menjaga kudanya, Pan Se mengomel mengapa Dal Hyang sangat terlambat, jangan katakan jika Dal Hyang akan pergi lagi, Pan Se sudah merasa lelah. Dal Hyang meminta Pan Se untuk memberikan tangannya, Pan Se tampak bingung namun melakukannya, Dal Hyang memberikan bayarannya pada Pan Se dan membuat budaknya itu bingung. Mengapa Dal Hyang membayarnya harian? Dia pikir tuan barunya itu akan membayarnya di akhir tahun.

“Kau kembalilah pada Tuan Heo Seung Po” Dal Hyang memberi perintah. Pan Se kaget mendengarnya, Kenapa? Dal Hyang kini sudah menyadari kedudukannya, dia tidak membutuhkan pelayan. Saat pertama kali datang ke Hanyang dia bertemu dengan Seja dan dua pengawalnya, mereka bilang Dal Hyang bisa menjadi teman mereka, namun Dal Hyang melupakan kedudukannya.

Dal Hyang mendekati kudanya, itu adalah kuda yang dia bawa dari Gangdon-won, hanya kuda inilah yang sesuai dengannya. Dal Hyang akan kembali ke kampung halamannya, jadi Pan Se bisa kembali pada tuannya. Pan Se kaget mendengarnya. Dal Hyang mengucapkan selamat tinggal dan pergi bersama kudanya. Pan Se tampak tak rela dan memanggil-manggil Dal Hyang, tapi Dal Hyang sudah menetapkan hati untuk kembali ke kampung halamannya.

Yong Gol Dae kembali memikirkan percakapannya dengan Seja beberapa waktu lalu. Seja menawarkan bahwa dia akan melobi Ayahnya dengan bantuan Menteri Choi juga agar membebaskan para utusan dan memastikan kemanan mereka. Namun Seja butuh waktu, apakah Yong Gol Dae mau menunggu dan percaya padanya?

Di luar terdengar seseorang membuka kunci perpustakaan, Yong Gol Dae waspada, namun ternyata tidak ada yang masuk. Orang itu membuka kunci hanya untuk mengganti kunci nya saja dengan kunci yang baru.

Min Seo yang sedang berjaga di luar mendengar suara gaduh di dalam, dia pun melihat seseorang yang melintas, saat di kejar ternyata itu adalah Kim Sanggung (Dayang Utama Seja-bin) Min Seo bertanya sedang apa Kim Sanggung disana? Dengan gugup Kim Sanggung berkata jika Sejabin menyuruhnya untuk mencari tahu kabar Park Dal Hyang. Min Seo berkata jika Dal Hyang sudah di bebaskan sejak tadi, Min Seo pun menyuruh Kim Sanggung untuk pergi.

Min Seo merasa ada yang aneh, dia mengecek ke ruang perpus dan memanggil Jenderal pada Yong Gol Dae, dari dalam perpus Yong Gol Dae memberi isyarat jika dia ada di dalam. Min Seo mencoba membukan kunci pintu perpus, tapi tidak bisa. Min Seo sadar ada yang mengganti kuncinya, tapi dia tak mengatakan apapun. Yong Gol Dae sedikit panik dan bertanya ada apa, dalam bahasa Manchu. Min Seo tak menjawab dan memilih keluar.

Min Seo panik, dia langsung memberitahu Seung Po untuk menangkap Kim Sanggung, dia telah mengganti kunci ruang perpus. Min Seo dan Seung Po mengejar Kim Sanggung namun mereka kehilangan dia.

Kim Sanggung bahkan sudah berhasil keluar istana, dia menggunakan Chima-nya dan Dal Hyang yang berniat untuk pulang kampung, melihat Kim Sanggung keluar dari istana dengan tergesa-gesa. Dia teringat tentang mata-mata di kediaman Seja-bin, Dal Hyang pun mengejar Kim Sanggung dengan kudanya, namun.. Dal Hyang pun kehilangan jejaknya.

Kim Sanggung ternyata menemui No Soo untuk memberikan kunci ruang perpus. Kim Sanggung berkata ini adalah yang terakhir, dia tidak bisa melakukannya lagi. Memang tidak ada lagi yang harus di lakukannya. Kim Sanggung merasa cemas, sepertinya dia ketahuan hari ini, dia membuat alasan tapi tampaknya itu tidak meyakinkan.

No Soo tampak kesal dan berkata, “Itu tidak boleh terjadi” dia menebas leher Kim Sanggung dan langsung membuatnya ambruk.

No Soo pergi dari tempat pertemuannya dengan Kim Sanggung, tapi malah bertemu Dal Hyang, dia pun langsung kabur dan Dal Hyang mengejarnya hingga tersandung tubuh Kim Sanggung. Dal Hyang kaget melihat darah di leher Kim Sanggung, dia mencoba membangunkan Kim Sanggung, untuk meminta keterangan dan mungkin berusaha menyelamatkannya.

Seung Po dan Min Seo melaporkan tentang kunci perpus yang diiganti mereka tidak membawanya ataupun berbicara dengannya, mereka hanya mengganti Kunci seolah memberikan tanda bahwa mereka tidak mengingkan Seja menggendalikan Kim Ja Jum. Seja termenung dalam diam, yang dia pertanyakan Siapa yang melakukan itu?

Kim Ja Jum tiba-tiba menghadap Raja mengagetkan Raja, Seja dan juga para pejabat. Kim Ja Jum menyatakan kecemasannya ata insiden Yong Gol Dae, Raja bertanya mengapa Kim Ja Jum tidak memberitahukan kedatangannya, Kim Ja Jum minta maaf karena tidak mengikuti prosedur, tapi Kim Ja Jum sudah memprediksi hal ini akan terjadi, jadi dia mengumpulka informasi dari mata-matanya, dan dia menemukan sesuatu yang sulit di percaya.

Raja bingung mendengarnya, apa maksudnya sesuatu yang sulit di percaya itu?

“Itu adalah... ada seseorang di Istana ini yang bekerjasama dengan Yong Gol Dae dan menjanjikan kesetiaan mereka pada Dinasti Qing”

Mendengar kabar itu Raja sangat kaget, “Ada orang yang berjanji dengan musuh?” Memang sulit di percaya, tapi itu adalah kenyataan. Kim Ja Jum mengatakan jika sebenarnya dia sudah menghubungi Yong Gol Dae sebelumnya dan memanggil para pejabat untuk melihat siapa kira-kira yang berkhianat. Tapi… Kim Ja Jum telah kehilangan mereka.

Menteri Choi jadi mempertanyakan jadi apa maksudnya Kim Ja Jum datang dengan memberikan laporan tanpa bukti seperti itu? Yang di katakan Kim Ja Jum itu sangat berbahaya. Kim Ja Jum membela diri, itulah mengapa dia datang, dia membawa bukti tidak langsung. Yaitu tentang keterangan saksi yang melihat pertarungan malam itu, dan ada yang terluka dalam pertarungan itu. Kim Ja Jum memberikan laporannya pada Raja, dan Raja tampak sangat murka.

Mendengar hal itu Seja langsung tegang, apa maksud Kim Ja Jum menyampaikan semua ini? Para pejabat yang bertemu dengan Kim Ja Jum pun langsung ribut sendiri, apakah Kim Ja Jum sudah gila? Apakah dia ingin tertangkap bersama-sama?

Kim Ja Jum datang untuk mengidentifikasi mereka, dia yakin mereka telah membantu Yong Gol Dae karena sampai sekarang Yong Gol Dae belum juga ditemukan. Menteri Choi kembali bertanya apakah Kim Ja Jum dapat mempertanggung jawabkan keterangannya itu? Saat ini semua orang harus bekerja sama mencari Yong Gol Dae, kata-kata Kim Ja Jum dapat memecah belah. Bukan dirinya yang bermaksud memecah belah, tapi orang-orang itulah yang berkhianat terhadap Joseon.

Menurut Kim Ja Jum, Raja harus mencari Yong Gol Dae di tempat yang paling dekat dengan rumah (istana maksudnya) dan menemukan pengkhianatnya. Mereka adalah musuh sejati Joseon, mereka lebih buruk dari musuh dari luar dan Yong Gol Dae saat ini dilindungi oleh mereka. Raja tampak sangat geram mendengarnya. Seja hanya menatap Kim Ja Jum dengan dingin, dia mencoba mencerna apa sebenarnya rencana Kim Ja Jum.

Kemudian Kim Ja Jum berkata, bahwa dia menduga orang yang teribat dalam hal ini adalah orang dengan kedudukan tinggi. Raja penasaran apa maksudnya itu? Mungkin, orang itu, saat ini berada di ruangan ini bersama mereka. Sudut mata Kim Ja Jum langsung melihat ke arah Seja, yups! Dia ingin menyudutkan Seja dalam hal ini. Seja diam saja, hanya menatap Kim Ja Jum dengan dingin.

“Jeona…  Kita tidak boleh membiarkan ini begitu saja. Kita harus menyelidikinya”

Esok harinya Dal Hyang berjalan di pasar sambil mengingat apa yang dikatakan Kim Sanggung semalam padanya. Kim Sanggung telah mengganti kunci perpus dan juga mencuri surat milik Seja-bin. Kenapa dia melakukan itu? Dia melakukannya untuk melindungi Seja-bin dari wanita itu. Siapa? Hyang Sun? Bukan Mi Ryung.

Di hari upacara penobatan para pejabat baru, Seja-bin bertemu dengan seorang wanita yang tidak sopan (dia adalah Mi Ryung) Kim Sanggung merasa tidak asing melihat wajahnya, dia pun mengejarnya hingga keluar istana, dan bertanya apakah dia mengenalnya? Wanita itu mengatakan bahwa dia mengenal Kim Sanggung sebagai dayang utama yang melayani Ratu. Ternyata Kim Sanggung memiliki ingatan yang baik karena masih mengenali Mi Ryung.

Dal Hyang penasaran siapa sebenarnya Mi Ryung? Dia adalah calon Seja-bin yang terpilih sebelum Seja-bin saat ini, dia putri Menteri Yoon. Kim Sanggung mengingatnya karena dia ada dia yang membawa Mi Ryung menghadap ratu 5 tahun lalu. Mi Ryung seharusnya sudah meninggal 5 tahun lalu karena bunuh diri, tapi ternyata dia masih hidup.

Jika Kim Sanggung tahu hal itu, mengapa dia tidak melapor, malah menjadi mata-mata. Kim Sanggung takut Mi Ryung menyakiti Seja-bin. Saat mereka bertemu, Mi Ryung  bertanya bagaimana rasanya melayani wanita yang menggantikan kedudukannya, Apakah dia lebih baik dari Miryung? Apakah memperlakukannya dengan baik? Apakah Seja sudah melupakan Mi Ryung? Seja dan Seja-bin hidup dalam kemewahan setelah menginjak-nginjak hidupnya.

Mi Ryung berkata tidak akan lagi muncul jika Kim Sanggung melakukan sesuatu untuknya,. Dulu Seja sangat mencintainya, Kim Sanggung takut Seja tahu Mi Ryung masih hidup, Seja-bin akan kesepian. Tapi… Sepertinya dia salah… dan Kim Sanggung menghembuskan nafas terakhirnya. Dal Hyang berusaha menyadarkannya, namun terlambat.

Dari keterangan Kim Sanggung, Dal Hyang mencari Mi Ryung ke sebuah toko kain. Pemilik toko itu mengenali Mi Ryung tempo hari, namun dia tidak pernah melihatnya lagi… tapi… dia memesan kain dalam jumlah besar yang akan dikirim hari ini dari tokonya. Asa! Ini kesempatan Dal Hyang untuk tahu dimana keberdaan Mi Ryung.

Seja mengirimkan pesan pada Yong Gol Dae melalui surat kedalam Perpus yang masih terkunci. Isinya adalah Seja memiliki sedikit masalah dan dia akan menyelesaikannya dengan segera. Yong Gol Dae mencoba membuka pintu perpus dan tentu saja itu terkunci.

Seja dan dua pengawalnya datang ke kediaman Kim Ja Jum. Seung Po menggumi rumah Kim Ja Jum yang besar, sudah seperti istana saja. Bahkan dia mendengar Kim Ja Jum memiliki beberapa rumah seperti ini, berapa banyak sebenarnya uang yang dia miliki?

Kim Ja Jum datang menyambut Seja, dia berkata dia tidak menyangka Seja mau datang ke rumah sederhananya itu.

Seung Po mengeluh, jika rumah ini disebut sederhana, maka rumah keluarga nya adalah gubuk (hahaha). Kim Ja Jum langsung menyapa Seung Po dan berkata jika dia ingin seperti ayahnya, seharusnya Seung Po berhenti berjudi, apalagi sekarang dia melayani Putra Mahkota. Seung Po langsung bungkam.

Seja menyuruh Seung Po dan Min Seo untuk menunggu di luar, mereka pun pergi. Kim Ja Jum bertanya bagaimana luka Seja? Seperti yang di lihat, dia bisa jalan-jalan. Para pejabat yang datang malam itu bodoh, tidak menyangka jika Seja ajan datang seperti itu, Kim Ja Jum menyakinkan jika mereka tidak akan tahu jika orang itu adalah Seja. Tidak ada yang mengenali Seja.

Seja tampak tak peduli, itu sama sekali tidak penting. Kim Ja Jum membenarkan, hal terpenting adalah… malam itu Seja dan Kim Ja Jum bertemu. Itu lebih banyak artinya. Mengapa? Karena malam itu mereka menyadari maksud dan tujuan masing-masing.

Apakah Seja datang untuk mendapatkan kunci perpustakaan? Kim Ja Jum menyerahkannya begitu saja pada Seja. Itu adalah daerah kekuasaan Seja, dia tidak membutuhkan hal itu. Seja pasti lebih tahu darinya jika dia ingin membangun hubungan yang baik dengan Yong Gol Dae. Seja jadi penasaran, lalu apa tujuan Kim Ja Jum memintanya untuk datang ke rumahnya, jika bukan untuk menyuapnya dengan kunci itu?

Apakah Seja ingin menghentikan perang? Jika begitu dia hanya akan buang-buang energi karena perang pasti akan terjadi. Jika Seja berusaha sangat keras pun dia hanya bisa menundanya paling lama satu tahun. Tapi perang akan terjadi, itu sudah di takdirkan dan sejarah akan terus berulang. Kim Ja Jum tidak ada niat untuk menghentikan perang dia hanya perlu mencari tahu bagaimana dia harus bertahan dalam kondisi ini.



“Apa Anda tahu apa yang paling Hamba sesali... diantara hal-hal yang sudah Hamba lakukan dalam hidup? Itu adalah ketika Hamba menjadikan Ayah Anda seorang Raja”

Seja geram mendengarnya, apakah Kim Ja Jum menganggapnya sebuah lelucon? Dia masih berani bernafas di depannya setelah mengatakan hal itu? Tapi itu adalah kebenaran, mungkin Seja masih mengingatnya, dia masih kecil saat itu, tapi Kim Ja Jum lah yang membujuk Ayahnya untuk menjadi Raja. Itu adalah pemberontakan yang cepat dan berhasil.

“Tapi... apakah anda tahu yang Hamba pikirkan sekarang? Raja sebelumnya lebih baik!”

Seja tidak percaya Kim Ja Jum berani mengatakan itu di hadapannya. Lalu tujuan mereka setelah ini? Mereka menyingkirkan Raja yang bermasalah… tetapi Raja penggantinya lebih buruk. Dan Putra Mahkotanya bahkan tidak memiliki potensi. Tidak ada harapan bagi Joseon. Para menteri? Mereka bahkan lebih buruk, pandangan mereka begitu sempit. Dinasti Ming? Mereka sudah menjadi Negara mati saat ini. Jadi itulah sebabnya Kim Ja Jum menghubungi Yong Gol Dae. Satu-satu nya yang bisa menjadi harapan adalah Dinasti Qing.

Apakah Seja mengerti? Kim Ja Jum senekat itu bekerja sama dengan musuh, saking merasa tidak ada harapan lagi di Joseon. Tapi setelah malam itu, Kim Ja Jum merasa punya harapan, ada orang di istana yang memiliki keinginan yang sama dengannya. Mereka tidak akan bisa menghindari perang, dan Joseon akan kalah. Tidak. Mereka harus kalah untuk membuka dunia baru.

“Dunia baru akan membutuhkan pemimpin baru, Dinasti Qing akan membantu. Jooha… Anda, Hamba dan Yong Gol Dae, bisa menjadi pemimpin dunia baru yang selanjutnya.  Alasan Hamba memberikan kunci itu pada Anda adalah bahwa kita bertiga berada di dalam kapal yang sama.”

Seja tampak ketakutan mendengarnya, dia tak menyangka Kim Ja Jum memikirkan hal itu, mengajaknya bekerja sama untuk memberontak pada Ayahnya? “Apa… Apa yang kau bicarakan?”

“Jooha… Hamba pernah menggantu Raja sebelumnya. Apakah Hamba tidak bisa melakukannya lagi? Ini akan menjadi lebih mudah, Hamba memiliki dukungan Dinasti Qing dan Anda adalah pewaris yang sah”

Ini adalah yang diingingkan oleh Dinasti Qing, Kim Ja Jum merasa Seja adalah orang yang tepat untuk menjadi Raja di dunia yang baru. Kim Ja Jum sangat berharap dia bisa berbagi masa depan dengan Seja, dia bahkan memberikan salam hormatnya pada Seja. Sementara Seja hanya bisa bungkam, tidak percaya Kim Ja Jum berani melakukan hal itu.

“Anda dan Hamba… meskipun tidak sengaja sudah menunjukkan kartu masing-masing. Anda punya pilihan. Entah kita pergi bersama-sama atau salah satu diantara kita harus mati”

Dal Hyang berhasil menemukan kemana kain itu diantar, Dal Hyang menyelinap masuk ke dalam ruangan itu, tapi… kosong tak ada siapapun disana, dan juga tak ada kain yang tadi diantarkaan. Dal Hyang menemukan sebuah tali yang mencurigakan di dinding. Dal Hyang menariknya dan itu adalah sebuah pintu menuju ruang rahasia di bawah sana.

Dal Hyang menuruni tangga itu dan menemukan Mi Ryung. Dengan santai Mi Ryung berkata, “Kita bertemu lagi. Bagaimana kau menemukan tempat ini? Masuklah. Kurasa kita sudah di takdirkan” Dal Hyang masuk dan No Soo menyerang Dal Hyang dengan pedangnya, Mi Ryung memberikan isyarat agar No Soo menyingkir. Mi Ryung berkata bahwa Dal Hyang datang di saat yang tepat, dia baru saja ingin menemuinya.

Kim Ja Jum selalu menjadi pengkhianat selama ini. Seung Po berkata jika Ayahnya selalu berkata untuk mewaspadainya. Seja berpendapat, Kim Ja Jum bukan sekedar pengkhianat, dia lebih berbahaya dari yang selama ini mereka pikirkan. Sangat berbahaya.

Apa sebenarnya yang ditawarkan Kim Ja Jum pada Seja?

“Hamba akan memberi waktu sampai malam ini. Jika Anda mengabaikan Hamba…  Hamba harus bertahan hidup jadi Hamba harus memberitahu Baginda Raja tentang  Yong Gol Dae. Maka orang yang berjanji setia kepada Dinasti Qing adalah Anda, bukan Hamba. Luka di lengan Anda akan menjadi bukti”

“Tapi Jooha… Hamba ingin menjadi pelayan setia Anda. Hamba harap Anda lebih bijaksana. Hamba akan menunggu”

Sama sekali tidak ada rasa takut dalam diri Kim Ja Jum, dia tampak sangat powerfull dan percaya diri memberikan tawaran itu pada Seja.

Seung Po berpendapat tawaran Kim Ja Jum lebih baik daripada dia memberitahu semua orang. Bekerja sama dulu dengannya, lalu mereka bisa memikirkan langkah selanjutnya. Tidak. Seja tidak ingin terlibat dengan Kim Ja Jum,  dia merasa yakin setelah berbicara dengannya. Renncana mereka harus berhasil tanpa melibatkan Kim Ja Jum, dan setelah itu mereka bisa menghukumnya.

Min Seo bertanya, lalu apa yang harus mereka lakukan? Kim Ja Jum hanya memberi mereka waktu sampai malam ini. “Itulah masalahnya, Kita belum memiliki solusinya”

Seung Po mengenali Kuda Dal Hyang, dan benar saja Dal Hyang ada di tempat berkumpulnya para Samchongsa. Seung Po menyapanya dan merasa khawatir bahwa Dal Hyang telah pergi tanpa berpamitan, bahkan Dal Hyang mengembalikan pelayannya.

Seja datang dan berkata, dia pikir Dal Hyang sudah kembali ke kampung halamannya, ternyata dia masih di Hanyang. Masih ada misi yang harus diselesaikan, dan Dal Hyang akhirnya menemukannya. Seja mengerti misi apa yang dimaksud, dia pun mengajak Dal Hyang untuk bicara 4 mata.

Jadi Dal Hyang sudah menemukan Mi Ryung? Ya.. dia tadinya ingin menangkapnya, tapi situasinya tidak memungkinkan. Mi Ryung ingin bertemu dengan Seja.

Saat bertemu Mi Ryung tadi, dia berkata pada Dal Hyang, bahwa saat ini Seja pasti sangat cemas. Mi Ryung berpesan pada Dal Hyang agar Seja menemuinya jika tidak ingin dipermainkan oleh Kim Ja Jum. Bagaimana bisa Dal Hyang mempercayainya?

Dengan tenang Mi Ryung berkata bahwa dia tidak bekerja untuk siapapun, entah itu Kim Ja Jum ataupun Yong Gol Dae. Mi Ryung juga tidak peduli pada Joseon. Tapi Kim Ja Jum masih tidak tahu akan hal itu, dia berpikir bahwa Mi Ryung bekerja untuknya, dan Mi Ryung memiliki kelemahan Kim Ja Jum. Jika Seja ingin tahu, Seja harus datang sendirian.

“Kami berhutang satu sama lain. Setelah kami membayarnya… aku akan membantunya”

Dal Hyang tadinya tidak ingin memberitahu Seja, tapi menemukan Mi Ryung adalah misi pertamanya dan dia ingin menyelesaikannya. Namun… Dal Hyang menyarankan agar Seja tidak pergi, Mi Ryung sangat berbahaya.

“Kau mengkhawatirkan aku?” Seja bertanya dengan nada bingung, setelah Dal Hyang melawannya semalam, sekarang Dal Hyang mengkhawatirkannya? Bagaimana pun Seja adalah Putra Mahkota Joseon. Seja berdecak, dia tidak percaya Dal Hyang mengkhawatirkannya karena dia adalah Putra Mahkota, tapi dia lebih percaya jika Dal Hyang khawatir Seja-bin akan menjadi janda. Dal Hyang terdiam. (Huumm… sepertinya tebakan Seja benar lagi)

Seja berkata itu akan menjadi rahasia diantara mereka, jadi jangan memberi tahu siapapun. Seja mengajak Dal Hyang pergi, namun dia khawatir, apakah Seja yakin akan pergi menemui Mi Ryung? Apa alasan Dal Hyang sebenarnya memberitahukan hal ini pada Seja? Pasti karena Dal Hyang ingin menyelesaikan masalah ini. Dal Hyang sudah berjanji pada Seja-bin, Seja juga sudah berjanji pada istrinya, Pria harus selalu menepati janjinya, jadi mereka berdua harus pergi kesana. Dal Hyang paham pemikiran Seja.

Mereka tiba di tempat itu dan bertemu No Soo yang langsung waspada. No Soo mengenali Seja dan membukakan pintu rahasianya. Seja menatap tangga ke ruangan rahasia itu, sementara No Soo berkata Seja harus pergi sendirian dan Dal Hyang menunggu di atas saja.

Sekali lagi Dal Hyang mencegah Seja pergi, karena ini berbahaya dengan memegang lengannya. Seja menepiskan tangan Dal Hyang dan berkata apapun yang terjadi Dal Hyang tidak perlu turun.

No Soo mengantarkan Seja ke ruangan tempat Mi Ryung berada dan meninggalkan mereka berdua. Mi Ryung disana, sudah menunggu Seja.

Mi Ryung berbalik dan saling bertatapan dengan Seja. Tatapan mereka berdua.. Ugh…

“Lama tidak bertemu” Seja yang pertama kali membuka suara setelah mereka cukup lama membisu.

Dal Hyang cemas pada Seja, dia teringat bahwa Mi Ryung ada niat untuk meracuni Seja, kemudian dia juga khawatir pada apa yang akan Seja lakukan? Apakah dia akan kembali jatuh cinta pada Mi Ryung? Ataukah dia akan membunuh Mi Ryung?

Terdengar suara gaduh dari bawah. Dal Hyang langsung panik dan tanpa pikir panjang turun ke bawah, diikuti No Soo. Tapi yang dia temukan adalah Mi Ryung dan Seja yang seolah sedang berpelukan satu sama lain, Dal Hyang mengalihkan pandangannya karena merasa telah melihat hal yang tidak seharusnya dia lihat. Seja dan Mi Ryung sedang bermesraan? 

Namun… dia sadar… bukan itu yang terjadi saat dia melihat sebuah pisau dari tangan Mi Ryung menusuk dada Seja. Dal Hyang bukan main khawatirnya, dia berniat menolong Seja, namun No Soo menghalanginya, Dal Hyang bersikeras.

Tapi Seja malah memberikan perintah tak masuk akal bagi Dal Hyang,“Berhenti. Keluar lah” Seja menghentikan langkah Dal Hyang yang ingin mendekatinya dengan wajah yang menahan rasa sakit karena tusukan pisau Mi Ryung di dadanya.

***

Huaaaahhh… Chems nya Seja dan Mi Ryung undeniable >.< Seperti yang sudah aku prediksi mereka berdua itu… Arrgghhh… tapi gimana donk, aku dah terlanjur jatuh cinta sama Seja dan Seja-bin. Gak rela kalo mesti lihat Seja-bin menderita karena tahu suaminya masih mencintai cinta pertamanya. *Galau*

Di Preview episode 7 nya, Mi Ryung menusuk Seja sambil menangis dan Seja menghapus air matanya. Uggh… lalu Seja berkata, “Aku tidak tahu, jika kau masih hidup” Hadduuhh… tatapannya ke Mi Ryung saat Seja mengatakan hal itu seolah berkata, “I Love You… but I can’t to be with You” Seja terlihat masih cinta sama Mi Ryung. Hiks.. hiks.. hiks.. kasian bener Urri Seja-bin nih ~.~

Tapi sih yakin, Seja gak ada niat buat selingkuh sama Mi Ryung, segimana cintanya Seja ke Mi Ryung, dia sudah menjadi wanita terlarang untuknya, kecuali Seja memutuskan lari bersamanya dan meninggalkan tahtanya, tegakah Seja melakukan hal itu pada Seja-bin? Pada Joseon yang ingin dia lindungi? Aku rasa tidak, toh di sejarahnya pun, Seja melakukan segalanya demi perbaikan Joseon, namun yah… sayang sekali sama sekali tidak di hargai oleh Ayahnya.

Apa alasan Seja membiarkan Mi Ryung menusuknya? Menerima pembalasan dendam Mi Ryung karena dosa nya 5 tahun lalu? Ataukah untuk menghindar dari menjawab proposal Kim Ja Jum pada nya? Akh.. semoga misteri antara Seja dan Mi Ryung ini di bahas di episode 7 yah? Tumben banget ini SWnim Song membiarkan penonton bertanya-tanya hingga 6 episode. Apa yang sebenarnya terjadi antara Seja dan Mi Ryung di masa lalu?

Awww… suka banget liat interaksi Seja dan Seja-bin di episode 6 ini >.< Akkhh.. makin lama mereka bener-bener jadi cute couple banget deh akh. Aku rasa tanpa sadar Seja sudah jatuh pada pesona istrinya, buktinya dia sudah peduli pada sang istri, bahkan peduli pada pendapatnya tentang apa yang harus mereka lakukan pada Dal Hyang. 

Liat Scene ini, kok jadi kek Seja-bin lagi meluk Seja dari belakang yah? hahaha *Haduh... shiper delulu* Scene Crown Couple di Samchongsa ini sebenernya banyak yang nyerempet-nyerempet yah, tapi kemudian tidak terjadi apa-apa. Ugh. Episode 4 ada almost Kiss, tapi kemudian Zonk. Lalu episode 5, ketika Seja-bin tersandung roknya, cuman gitu doank pelukan Sejanya, hahah. Dan episode kali ini, saat Seja meminta Seja-bin menunjukkan pesonanya. Itu Seja-bin kek nya udah mikir-mikir apa yang harus dia lakukan untuk membuat suaminya terpesona, tapi Zonk lagi, soalnya Seja-bin nya udah mulai pinter, hahaha… dia sadar kalo suaminya lagi sengaja ngalihin pembicaraan.

Suka juga pas adegan Seung Po godain Seja tentang kecemburuannya, hahaha… wajah nyangkalnya Seja bikin ngakak, Seung Po malah kesenengan gitu karena sudah berhasil membuat Seja cemburu, dia juga gemes kali yah liat Seja dan Seja-bin yang hubungannya gitu-gitu aja. Trus lucu banget pas Seung Po bilang, jika Seja tidak tahu cara menunjukkan rasa cintanya pada sang istri, Seja bisa bertanya pada nya, wkwkwkw… wajahnya Seung Po mesum banget  >.<

Dry humor adalah salah satu kelebihan dari Samchongsa, dan aku suka kadang humornya itu muncul tiba-tiba. Tapi giliran membahas politik, penonton tetap di giring untuk serius menyimak apa yang terjadi.

W.O.W banget sama Kim Ja Jum, dia bener-bener sekuat itu yah? Dia sama sekali tidak takut pada Raja In Jo karena merasa dia lah yang membuat In Jo jadi Raja saat dia menggulingkan Gwanghee dari tahta nya. Jadi jika sekali lagi dia harus menggulingkan In Jo, dia merasa yakin pasti bisa. Seja mantap banget ekspresinya saat mendengar perkataan Kim Ja Jum campuran antara Kaget, Marah dan juga takut. Ugh banget ini memang Kim Ja Jum nya.

Jika Seja menerima tawaran Kim Ja Jum, mungkin Sohyun Seja bisa naik tahta dan mengubah Joseon menjadi Negara baru yang diimpikannya. Sayangnya Sohyun Seja ini anak yang baik, terlalu sayang sama Ayahnya, jadilah dia harus bernasib tragis.

Dal Hyang sudah sadar akan posisinya, Seja sudah melepaskannya dari tugas militer, namun dia masih membantu Seja untuk menemukan Mi Ryung, alasanya mungkin karena Seja-bin, bagaimanapun dia pasti khawatir pada keselamatan Seja-bin setelah dia tahu siapa Mi Ryung sebenarnya dari Kim Sanggung. Dan aku rasa karena masalah ini, Dal Hyang akan semakin memahami Seja juga, dan kelak dia akan membantu Seja dengan suka rela, bukan karena terikat ikatan dinas dan harus memenuhi perintah kerajaan.

Sedih liat nasib Kim Sanggung, padahal baru minggu lalu aku bilang berharap buka dia mata-matanya, ternyata oh ternyata… tapi pas tau alasannya, haduuuh jadi gak tega, ternyata dia melakukan itu demi Seja-bin. Dia gak mau Seja kembali pada Mi Ryung, Akh.. Seja-bin juga pasti sedih saat tahu Kim Sanggung tewas begitu saja. Jadi khawatir nih,,, ntar pengganti Kim Sanggung yang bertugas di menjadi dayang utama Seja-bin malah jahat lagi, jangan donk Akh… aku nggak mau Seja-bin kenapa-napa.

Nah lho, ini Sejabin mayungin siapa? So Sweet banget >.< Semoga Seja cepat membuka mata dan Move On dari Miryung yah, sebelum Seja-bin memutuskan berpaling pada pria lain, hahaha *Nggak mungkin keles*

Cie... Seja... Selfie sama siapa tuh? Manis banget yah ini yang jadi Seja muda^^ Liat di Instagramnya Pan Se, sering banget dia foto sama Dal Hyang dan yang lainnya, kok gak pernah sama Seja, tapi masuk akal sih, Pan Se kayaknya gak pernah satu frame sama Seja deh, makanya Seja gak pernah ikutan foto-foto bareng Pan Se.

*written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*

7 Komentar untuk "Samchongsa Episode 6: Kim Ja Jum"

salam kenal,,,
aq udah lama jdi silent reader.. maaf yaa.. hhee
meski ga nonton tpi jdi tertarik setelah baca recapannya...
mba, mau nanya.. lead male di drama ini seja atau dalhyang??
trus karena berdasarkan sejarah seja akan mati, apa kira2 drama ini akan berakhir antara seja bin bersama dalhyang??

dua-dua nya lead male, tapi kalo yg aku liat sampe episode 6 ini sepertinya fokus ceritanya lebih ke Seja, karena semua cerita samchongsa berputar di sekitar Seja.

Walo nanti di ending Seja meninggal aku rasa gak ada kemungkinan Seja-bin sama Dal Hyang, karena Seja-bin meninggal setahun setelah kematian Seja, itu pun di eksekusi Raja karena mencoba mengungkap penyebab kematian suaminya.

yahhh kok jadi sad ending gitu mbaa,, jdi takut nontonnyaa...
rasanya nyesek kalo endingnya dibikin happy,, tapi ceritanya "mereka bahagia bersatu dalam keabadian".. T.T

kan itu berdasarkan sejarahnya, Tapi samchongsa udah banyak menyimpang nya dari Sejarah sih klo kata aku, jadi ada kemungkinan ending season 3 bisa berakhir sebelum Sohyun Seja meninggal, aku sih fokus aja sama dramanya, Sejarah dan Novel Three Musketeersnya sendiri kan hanya menjadi inspirasi di drama ini, Samchongsa tetep punya alur sendiri^^

amiinnn...
kalo diliat dari tipe dramanya,, sharusnya ga sad ending buat seja ya mba..
hihihi

Di scene2 awal kocak bgt...
Apalagi seung po... Wkwkwk
Trusss masuk kim ja jum, serius pengen q jitak tuh orang...
Eh pas scene terakhir koq aq jd sedih keinget bin- gu mama...
Semoga urusan seja - miryung cepet selese...
Biar bs lihat sweet scene crown couple ...
Thank irfa for the recap..

Pokoknya ekspresinya binggung mama(seja bin) mah daebak...gak ngomong apa juga sudah mewakili ekspresinya...ha ha ha....seung po...benar2 pengawal satu ini.gumapshimnida bak irfa.....

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top