Endless Love Episode 3

[Sebelumnya di Episode 2]


Jenderal Chun kaget mengetahui keinginan Kwang Hoo, padahal dia bisa mengeluarkan Kwang Hoon dari Camp terkutuk itu, tapi dia memilih untuk menemui seseorang di penjara wanita.

Kwang Hoon bercerita tentang seorang prajurit  yang selamat di kamp pusat di Jerman, yang membuathya selamat adalah kenangan tentang keluarga dan orang yang paling disayanginya. Mereka bisa mengambil semuanya namun mereka tidak bisa mengambil kenangan dan ingatan. Di ambang hidup dan matinya prajurit itu berhalusinasi melihat keluarganya,  itulah yang membuat dia bertahan


Apakah orang yang ingin di temui Kwan Hoon adalah wanita yang dicintainya? Jenderal Chun tidak menyangka jika Kwang Hoon adalah pria yang romantis. Namun Jenderal Chun bukan pria seperti itu, bagaimana dia bertahan hidup dari perang Vietnam? Keluarga? Baginya hal-hal semacam itu bisa hilang dan ditemukan lagi. Jenderal Chul berpendapat keluarga baru selalu bisa dibuat lagi, untuk bisa memiliki keluarga dan kekasih mereka harus selamat.

Kwang Hoon sangat beruntung, selain bisa lolos dari kematian dia juga bisa benar-benar bertemu dengan keluarganya bukan hanya dalam mimpi.

Kwang Hoon dan In Ae bertemu dan saling melepas rindu. In Ae bertanya mengapa Kwang Hoon tampak berantakan? Dia berjanji pada dirinya bahwa dia tidak boleh mati sebelum bertemu In Ae.  Keajaiban itu memang ada. Kwang Hoon berterima kasih karena In Ae bertahan.

Bagaimana Kwang Hoon tentang keberadaan In Ae? Pelatih Jo yang memberitahu. Kalau begitu Kwang Hoon juga tahu tentang Kwang Chul. In Ae terlihat sangat sedih ketika mempertanyakannya. In Ae merasa yakin Kwang Chul belum mati, In Ae meyakinkan dirinya dengan mempertanyakan hal itu pada Kwang Hoon. Untuk menenangkan In Ae Kwang Hoon berkata, pasti akan muncul keajaiban yang lain.
 
Namun jauh di lubuk hatinya In Ae merasa sangat bersalah dia meminta maaf pada Kwang Hoon, karena merasa kematian Han Gap Soo dan apa yang terjadi pada Kwang Chul adalah kesalahannya. “Maafkan aku, oppa. Ini semua salahku.” Kwang Hoon memeluk In Ae dan berkata ibu bukan salahnya.

In Ae melihat Jeep yang datang bersama Kwang Hoon di luar gerbang penjara, dia menjadi parno sendiri dan bertanya siapa yang ada di dalam Jeep itu? Orang yang membuat keajaiban untuk Kwang Hoon agar bisa bertemu dengan In Ae. Karena pikiran parno nya, In Ae jadi curiga, Kwang Hoon tidak sedang menjual jiwanya kan?

Demi In Ae dia akan menjual apapun, jadi… Kwang Hoon meminta In Ae untuk bertahan, “Kau harus bertahan. Bagaimanapun caranya. Berjanjilah”

Seoul, Tahun 1984

Seorang siswa sekolah baru tiba di rumahnya, dia melihat Nenek nya berada di luar. Itu adalah Nenek In Ae, jadi siswa sekolah itu adalah In Chul, putra bibi Kyung Ja. In Chul bertanya mengapa Nenek ada di luar?

“Aku bermimpi  Kakakmu datang”

Penjara Remaja Incheon

Terjadi keributan diantara para narapidana sementara In Ae sedang asyik membaca buku. In Ae diam saja dan fokus pada bacaannya hingga petugas memanggilnya sebagai ketua kelas dan meminta In Ae untuk menghentikan keributan ini. In Ae pun melakukan tugasnya melerai kedua pihak yang berkelahi dengan keahliannya.

“Aku tahu, aku tahu! Perkelahian ini membantumu menghilangkan kebencian dalam hatimu. Tapi, tak ada gunanya ke rumah sakit tanpa diobati sama sekali. Kalian takkan mendapatkan makan malam. Hentikan”

Petugas penjara mengumumkan bahwa mereka mendapat kehormatan besar karena mendapat kunjungan dar  Komisaris Bidang Permasyarakatan. Para gadis muda itu tak peduli mereka hanya minta makan karena lapar. Petugas memanggil In Ae dan berkata Komisaris Bidang Permasyarakatan ingin bertemu dengan In Ae.

In Ae adalah anak dalam pengawasan khusu, dia lulus ujian masuk universitas dengan nilai yang bagus. Jadi kepala penjara mengusulkan untuk memberikan keadilan pada In Ae untuk mendapatkan pencitraan yang baik di masyarakat. Namun kasus In Ae cukup khusus karena dia terlibat dalam kejadian di Pusat Kebudayaan AS. In Ae berada dalam pengawasan yang ketat, namun yang dia lakukan hanya belajar.

Kepala penjara menyampaikan rencananya pada In Ae, namun In Ae menanggapinya dengan dingin, pasti karena rencana itu akan ada yang naik jabatan. Kepala penjara membesarkan hati In Ae, mungkin dengan rencana ini pembebasannya akan di percepat.

Komisaris penyiaran memberikan selamat karena In Ae bisa lulus ujian meskipun keadaannya sangat sulit. Jurusan apa yang akan dipilih In Ae? In Ae diam saja, dia berpikir dalam. Kepala penjara meminta In Ae meminta agar In Ae menjawab pertanyaan Komisaris, tapi In Ae tetap bungkam.

Kepala penjara bertanya bukan kah In Ae ingin masuk jurusan hukum? Ayo katakan saja. In Ae membenarkan.

“Setelah aku menjadi tahanan remaja... aku belajar kalau Menteri Hukum itu seperti Tuhan”

Jadi In Ae ingin belajar hukum? Benar sekali, impian In Ae adalah menjadi menteri Hukum. Kepala penjara menegur In Ae dan berkata dia akan pura-pura In Ae tidak pernah mengatakan hal itu. Komisaris malah bersikap lain, “Bagus. Orang harus punya mimpi yang besar. Siapa yang bisa menghentikan mimpi seseorang?”

Komisaris mengusulkan mereka membuat film dokumenter untuk acara remaja. Mereka akan mempublikasikan keberhasilan dari proses peradilan yang benar.

Kwang Hoon melaporkan pada Jenderal Chun tentang sebuah artikel yang di tulis dalam Washington Post tentang Kekuatan penguasa militer Korea yang baru dituliskan secara negatif. Mereka mengatakan peraturan militer yang baru mengerikan. Jenderal Chun sangat berang mendengar kabar itu.  Pantas saja Presiden marah besar karena mereka menuliskannya secara negatif. Jenderal Chun merasa dia harus menemui Presiden untuk menjelaskan yang sebenarnya.

Istri Jenderal Chun, Nyonya Jin Yang Ja menelpon seseorang untuk mengabarkan dia harus pergi ke Blue House untuk membawakan contoh baju tradisioal Korea yang dibutuhkan Ibu Negara untuk perjalannya ke luar negeri. Jadi dia akan terlambat datang ke pesta.

Nyonya Chun memanggil PRT nya, dia adalah bibi Kyung Ja. Dia memperingatkan bibi Kyung Ja untuk menjaga mulutnya jika ingin tetap kerja di rumahnya. Karena Bibi Kyung Ja adalah bibinya Kwang Hoon jadi Nyonya Chun mempercayainya.

Ditemani Kwang Hoon, Jenderal Chun datang ke Blue House, sebelum masuk mereka  bertemu dengan Park Young Tae yang juga akan menemui Presiden. Jenderal Chun mengingatkan jika Park Young Tae adalah tim sukses Presiden, akan membuat orang salah paham jika Park Young Tae terlalu dekat dengannya, Park Young Tae tidak mempermasalahkan hal itu dan mengajaknya masuk.

Jenderal Chun dan Park Young Tae duduk bersama di ruang tunggu membicarakan tentang kelakuan Kepala Staf Blue House, Hu Jun Sup yang selalu bertingkah sebagai pemimpin.  Chief Hu mengendalikan media masa sebagai mata dan telinga Presien. Park Young Tae menjadi kesal karena Chief Hu berani membuat Jenderal Chun menunggu.

Chief Hu datang dan berkata jika mereka berdua tidak bisa menemui Presiden, saat ini Presiden sedang memanggil Menteri Komunikasi terkait berita yang dikeluarkan Washington Post di Tokyo. Park Young Tae menuduh, bukan kah artikel itu adalah ulah Chief Hu? “Bukankah anda yang mengendalikan
kantor cabang di Tokyo?”

Mendengar hal itu Chief Hu tidak terima dan meminta Park Young Tae untuk menjaga ucapannya. Jenderal Chun mencoba menghentikan mereka namun Chief Hu mengabaikannya dan terus mengomel pada Park Young Tae. “Kau benar-benar mulai mempercayainya hanya karena mereka menyebutmu seorang King Maker sejak pemerintahan Republik ke-5. Kau menjadi sangat sombong”

Park Young Tae mengingatkan Chief Hu bukan kah seharusnya dia menyapa Jenderal Chun? Dengan buru-buru dia menyapa sang Jenderal namun Chief Hu kembali mengomel pada Park Young Tae, terlihat sekali dia tidak menghormati keberadaan Jenderal Chun di ruangan itu.

Jenderal Chun sangat kesal, meminya Chief Hu berhenti bicara, namun Chief Hu masih mengabaikannya. Saking kesalnya akhirnya Jendrak Chun berkata, “Mulai sekarang rendahkan nada suara anda” Chief Hu bengong kemudian bertanya pada Park Young Tae, “Anda seorang Kingmaker? Apakah Anda  menliaht kata "King" di wajah Jenderal Chun?”

Saat syuting acara dokumentar, In Ae tetap sibuk membaca. Kelakuannya ini membuat sutradara acara itu protes. In Ae menyanggah protesan si sutradara dan membuatnya semakin frustasi karena menganggap syuting acara dokumenter ini lebih sulit dibanding syuting denga aktor terkenal.

Sutradara mencoba menjelaskan bahwa mereka sedang syuting dokumenter, komentar In Ae? “Bukankah film dokumenter seharusnya berdasarkan fakta yang sebenarnya?” Sutradara makin kesal mengapa In Ae seperti itu padahal ada media asing juga. Jika film dokumenter ini keluar, maka hidup In Ae akan berubah.

“Itu artinya dunia juga akan tahu kalau aku ini tahanan remaja. Itu memalukan”

Sutradara makin tak habis pikir, jadi sekarang ini mereka sedang mempermalukannya? Begitukah pendapat In Ae? Benar. In Ae dipermalukan agar memiliki kesempatan bebas lebih awal. Arrgghh… Sutradara semakin frustasi dia tidak sanggup lagi. Dia melakukan semua ini juga hanya menjalankan perintaha atasan.

Salah satu wartawan asing berpendapat jika lebih baik menunjukka sisi In Ae yang seorang siswa karena ceritanya In Ae adalah seorang pahlawan kan. Sutradara meminta In Ae menterjemahkan apa yang dikatakan si wartawan, In Ae berkata wartawan asing ingin sutradara menghargai pendapatnya.

In Ae berbicara dengan wartawan asing dengan bahasa inggrisnya seharusnya wartawan asing itu ikut andil juga bukan hanya berdiri disamping dan menonton saja. Si wartawan kemudian bertanya, “Nona, kenapa kau masuk penjara ini?”

Apakah si wartawan asing sedang mempertanyakan apa alasan In Ae masuk penjara? Dibandingkan dengan kejahatan yang In Ae lakukan dia lebih penasaran dengan sejarah hidup In Ae. Merasa sudah menyinggung In Ae dia pun meminta maaf. In Ae kemudian berkata, “Di dunia ini, tidak ada orang yang tidak bersalah dihadapan Tuhan. Meskipun aku ada di sini aku sama sekali tidak malu. Terutama di depan banyak orang dan Dia mengetahuinya sangat baik”

Jadi lulus ujian adalah hadiah dari doa-doa In Ae selama ini? Tidak juga, In Ae tidak pernah berdoa, karena dia tidak mengerti mengapa Tuhan melakukan ini padanya. Jadi maksudnya In Ae sedan marah pada Tuhan?  “Sejujurnya… iya, aku marah”

Park Young Tae dan Jenderal Chun sama-sama kesal karena ulah Chief Hu yang sok menjadi pemimpin seutuhnya. Suatu saat mereka harus menyingkirkannya. Park Young Tae melirik Kwang Hoon, Jenderal Chun berkata, tidak sudah mengkhawatirkan keberadaan Kwang Hoon karena dia sudah seperti anaknya sendiri bagi Jenderal Chun.

Bagaimana cara Chief Huh menggerakan Presiden agar bertindak? Dia bilang, "Masa depan negara ini tidak dijamin oleh pemerintahan saat ini. Kita harus membangun landasan kuat yang baru atau kita akan menjadi seperti Brazil atau Yunani. Bertindak saat waktunya sudah tiba demi kepentingan Negara” Jenderal Chun sudah mendengar hal itu dan kini semua terjadi sesuai dengan ucapannya. Bahkan hari ini mereka di tolak padahal mereka belum bertemu dengan Presiden.

Jenderal Chun bertanya pada Kwang Hoon bagaimana pendapatnya tentang Park Young Tae? Kwang Hoon kaget karena jenderal Chun meminta pendapatnya. Kwang Hoon memberikan pendapat, Park Young Tae memiliki banyak informasi sebagai seorang Kingmaker.

Tak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Dia satu-satunya budak uang yang memiliki banyak ide untuk menjatuhkan partai oposisi dengan sekali pukulan. Seperti yang dikatakan banyak orang, Park Young Tae adalah seorang King maker, selalu tahu langkah selanjutnya.

Kekuasaan itu tak jauh beda dengan makhluk hidup. Tumbuh, besar, lalu mati. Kekuasaan itu tahu waktunya orang itu mati dan waktunya orang itu hidup.

Bagaimana pun juga mereka tidak boleh mengabaikan Park Young Tae, dia sangat ahli dalam masalah kampanye hitam dan juga memiliki banyak informasi.

Kwang Hoon mengingatkan Jenderal Chun, bahwa apa yang dikatakan Park Young Tae di ruang tunggu bisa berbeda dengan apa yang dikatakannya di tempat lain. Kwang Hoon sempat mendengar Park Young Tae berkata pada Presdir Wang dari Grup Taekwang, “Presdir. Anda harus menjadi seorang Presiden perekonomian suatu hari nanti.” Lalu apa yang dikatakan Presdir Wang? “Apa anda lihat kata raja di wajahku?” Mendengar hal itu Jenderal Chun tampak sangat tidak senang.

Jendral Chun tiba di rumah dan disambut pertanyaan dari istrinya apakah mereka sudah kehilangan dukungan dari Presiden? Hari ini mereka berdua telah di tolak di Blue House. Dia mengeluhkan saat dia akan membawakan contoh handbook untuk ibu Negara sudah ada istri Chief Hu disana, pihak Chief Hu bergerak cepat.

Bagaimana yonya Chun tahu bahwa suaminya telah di tolak? Kabar di tolaknya Jenderal Chun oleh Presiden bahkan sudah menyebar diantara para agen rahasia. Jendral Chun meminta istrinya menjaga ucapannya, dan menyuruh Kwang Hoon pergi.

Nyonya Chun mengerti,  suaminya itu pasti malu harus mengalami hal itu di depan Kwang Hoon yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri. Jenderal Chun malah mencibir, jika dia memiliki anak seperti Kwang Hoon, dia tidak perlu khawatir. Lagi-lagi Jenderal Chu membahas soal anak, apakah dia masih menyesal?

Kwang Hoon sedang memikirkan Kwang Chul yang ingin membuktikan ketida bersalahan sang Ayah saat Jenderal Chun datang memintanya untuk segera bersiap-siap untuk kembali ke blue house. Chief Hu nampaknya sengaja tidak memberitahunya tentang pesta yang  yang diadakan di blue house.

Tanpa rasa bersalah, Chief Hu berkata pada Jenderal Chun bahwa dia pikir seorang Jenderal tidak akan menghadiri acara seperti ini. Dia pasti lupa untuk mengundang Jenderal Chun. Chief Hu menyinggung tentang Audit terhadap keamanan aturan militer terhadap warga sipil.

Jenderal Chun agak berang karena dia tahu jika Chief Hu lah yang melaporkan hal itu pada Presiden. Selain itu Chief Hu juga telah melakukan pengendalian media massa yang berdampak buruk pada masyarakat. Dari tingkat yang paling bawah hingga tingkat atas memalsukan kegiatan ilegal untuk mendapatkan penghargaan. Seharusnya Chief Hu tidak bersekongkol seperti itu untuk mengendalikan pemerintah.

Chief Hu tidak terima dengan tuduha itu. Jenderal Chun kembali mengingatkan, “Apa anda lupa perintah Presiden agar fokus pada keamanan nasional?” Chief Hu semakin kesal dan meneriaki sang Jenderal, “Jenderal Chun!” Melihat tingkah Chief Hu, Jenderal Chun balik meneriakan namanya kemudian bertantya, “Chief Hu,  sejak kapan anda mulai memandang rendah padaku?”

Saat sadar telah melakukan kesalahan, Chief Hu mencoba menjelaskan, namun Jenderal Chun kadung kesal dan memperingatkan Chief Hu, “Dulu perintah keamanan militer bisa menangkap Kepala Staf Angkatan Darat. Anda mengatakan pada Presiden kalau aku sudah membuat perintah keamanan militer tidak berguna” Chief Hu langsung panik mendengarnya apalagi saat Jenderal Chun berkata bahwa dia akan mengirimkan bukti yang kuat dalam bentuk rekaman besok pagi.

Jenderal Chun memberi peringatan, “Serahkan saja keamanan warga sipil dan keamanan Kepala Staf padaku. Anda urus saja masalah hiburan. Maka, anda takkan tertembak” Sang Jenderal kemudian pergi setelah berhasil membuat Chief Hu pucat pasi, dia tidak menyangka jika Jenderal Chun sudah mulai mengawasi gerak geriknya. Jenderal  Chun sangat ingin menjadi pemimpin. Ambisinya di luar kendali. Chief Hu kemudian memerintahkan anak buagnya unytuk menghubungi Big Bear di Amerika.

Kwang Hoon keluar dari salah satu bilik toilet, tak lama Park Young Tae datang dan langsung paham, ternyata Kwang Hoon lah yang menjadi informan Jenderal Chun.  Jika sejarah ditulis disaat malam, maka permaikan kekuasaan terjadi di toilet?

Ternyata, Jenderal Chun mempekerjakan asisten yang setia. Orang-orang bilang jika kau mempertaruhkan hidupmu dengan penuh keyakinan, kau akan menerima mahkota. Mahkota kehidupan. Itu artinya hidup selamanya. Park Young Tae menatap wajah Kwang Hoon dan berkata Kwang Hoon bukanlah orang yang puas menjadi nomor dua, itu sudah tertulis di wajahnya.

Jenderal Chun menyesali perkataannya paa Chief Hu karena dia sudah terprovokasi oleh kesombongan Chief Hu. “Meskipun aku hidup seratus tahun, lidahku ini masalahnya. Aku sudah salah bicara lagi” Kwang Hoon melaporkan sepertinya Chief Hu memiliki tim pengawas.

Semua orang tampaknya ingin jadi pemimpin, namun Park Young Tae bahkan lebih berbahaya dari Chief Hu karena dia memiliki dukungan dari Perdana Menteri. Kwang Hoon berpendapat, saat ini seharusnya Jenderal Chun tidak bermusuhan denga siapapun, dia tahu itu. Karena itulah Jenderal Chun sangat menyesal karena telah terprovokasi.

“Orang pertama yang mengungkapkan apa yang mereka pikirkan adalah yang pertama mati”

Jam malam tiba, saatnya lampu penjara di matikan tapi para remaja wanita itu malah saling menyerukan kata ibu untuk melepas kerinduan yang mendalam pada ibu masing-masing. In Ae pun jadi terkenang pada ibunya. Pesan kematian yang ditinggalkan ibunya adalah “Kupu-kupu” apa maksudnya itu?

In Ae mendapat tamu, dengan girang dia menyambutnya, dalam hati mungkin In Ae berharap itu adalah Kwang Hoon, namun ternyata mereka adalah teman-teman In Ae, Pelatih Jo dan juga bibi Kyung Ja. Bahkan In Chul pun datang menjeguknya. In Ae senang melihat kedatangan mereka semua.

Teman-teman In Ae kini telah pindah ke Seoul. Presdir Yang memiliki usaha kontruksi di Seoul dan mereka bekerja disana. In Ae kemudian bertanya tentang Kwang Chul, Bibi Kyung Ja menegur In Ae mengapa dia malah mencari orang yang mati? In Ae merasa yakin jika Kwang Chul belum mati. Tidak peduli apapun yang dikatakan orang-orang In Ae tahu jika Kwang Chul masih hidup. Setidaknya mereka harus menemukan mayatnya, jika memang Kwang Chul telah tiada.

“Kenapa kalian membiarkan Kwang Chul menjadi makanan ikan?” In Ae memelas tidak rela. Mereka bukan tidak mencari tubuh Kwang Chul, meski sudah berusaha kerasa mereka tetap tidak menemukannya. In Ae baru percaya Kwang Chul mati, jika dia sudah melihat mayatnya, saat itu In Ae akan melupakannya.

Presiden Yang San Bak bilang, Kwang Chul selalu ada di dalam hatinya, jadilah dia mempekerjakan teman-teman Kwang Chul di lokasi konstruksi. Mereka berjanji pada In Ae akan bekerja kerasa dan menjalani hidup atas nama Kwang Chul. Jadi.. In Ae pun harus berjanji untuk tetap bertahan.

In Ae harus berhasil, karena sekarang dia sudah lulus ujian masuk universitas. Bibi Kyung Ja membesarkan hati In Ae, meski Kwang Hoon tidak pernah mengunjungi nya, tapi mereka ada karena bantuannya. Semua orang pun berpamitan dan In Ae mengantar mereka hingga ke gerbang.

Tiga orang tahanan remaja sedang menyanyi untuk menghibur tahanan yang lain. In Ae melihat itu sambil tersenyum. Setelah selesai bernyanyi mereka mendekati In Ae. Choi Hyo Ri sangat pandai bernyanyi, apa sebenarnya mimpinya? tentu saja menjadi penyanyi namun karena seorang penulis lagu menipunya dan kabur, tadinya Hyo Ri ingin mengajak pria itu mati bersamanya namun akhirnya malah dia yang mati di penjara ini.

Hyo Ri meminta In Ae mencapai mimpinya menjadi menteri hukum dan tangkap semua orang yang sudah menipu mereka. Kyung Hee juga ingin balas dendam setelah dia sukses menjadi desainer. Dia menderita di pabrik tekstil, bahkan cinta pertamanya meninggal sebagai anggota serikat buruh. Lalu Mi Sook, dia adala seorang pegawai di kantor pajak, penggelapan uang rakyat sangat banyak, namun saat Mi Sook hanya mengambil sedikit dia di tangkap.

In Ae kembali di panggil oleh kepala penjara, dia diminta untuk mendatangi seluruh penjara wanita remaja untuk berbicara soal mengatasi kesulitan dan rahasi lulus ujian masuk universitas. Tentu saja semua itu akan direkam karena merupakan bagian dari film dokumenter.

Rahasia apannya? In Ae bahkan nyaris tidak lulus. Seharusnya In Ae tidak menyia-nyiakan niat baik para pejabat itu. Mereka ingin memberikan mimpi pada para tahanan wanita remaja. Setelah film dokumenter keluar mungkin In Ae akan menjadi panutan dalam semalam. Bahkan In Ae bisa di bebaskan dari pengawasan khusus.

Tentang pengawasan khusus itu, sebenarnya sampai berapa lama In Ae akan di awasi? Kepala Penjara tidak tahu, karena itulah, ini adalah kesempatan In Ae, mungkin In Ae harus berada dalam pengawasan selamanya. Heu.. jadi memang selamanya ya? Kepala penjara pasti tahu siapa yang memerintahkan pengawasan khusu itu kan? Tidak. dia hanya menerima perintah atasannya saja.

Apakah kepala penjara tahu ketidak adilan yang In Ae alami? Ssttt meskipun In Ae tahu, dia hanya harus tutup mulut. Berhasilan bagaimana pun caranya. Keberhasila film dokumenter ii akan membuat In Ae di bebaskan. Dan… kepala penjara naik jabatan kan? Kepala Penjara tidak menyangkal, jika dia sudah naik jabatan dia akan mengatakan jika In Ae adalah siswi yang rajin, sehingga tidak perlu lagi pengawasan.

Baiklah, jika begitu In Ae meminta satu syarat. Saat In Ae di bebaskan dia ingin mengajak beberapa temannya untuk di bebaskan juga. Apa? In Ae bercanda kan? Tidak dia sangat serius.

Film dokumenter itu pun di mulai. In Ae memberikan pidato di depan para tahanan wanita remaja dan memberikan mereka harapan. Kegiatan para tahanan remaja pun di rekam dan In Ae tetap gigih dengan bukunya selama melakukan kegiatan ketermpilannya.

Scene terakhir dari film dokumentar itu adalah penyampaian mimpi para tahanan remaja. In Ae berkata, “Sebelum aku ada di sini, kukira hanya aku yang mengalami ketidakadilan dan kebencian. Tapi semua temanku di sini tahu rasanya menangis” Kemudian dia meminta persetujuan dari teman-temannya yang bersorak membenarkan Mereka bilang penderitaan di masa mudamu itu sangat berharga. In Ae memutuskan untuk menelan pil pahit itu dan berusaha semampunya.

Kwang Hoon menonton film dokumenter itu sambil tersenyum melihat kepercayaan diri In Ae, sementara Nenek cemas, apakah In Ae bisa menikah? Dia sedang mengumumkan pada semua orang bahwa dirinya adalah tahanan remaja. Kwang Hoon juga akan malu dengan hal ini.

Bibi Kyung Ja mengingatkan Nenek bahwa dengan acara ini, In Ae akan mendapatkan pembebasan yang lebih cepat. In Ae pasti punya alasan melakukan semua itu. Dia bilang dia akan membalas ketidakadilan. Dia takkan melakukannya kalau tidak ada alasannya. Nenek tidak peduli, “Hidup seperti kau sudah mati,... itulah caranya agar bisa selamat”

In Ae dan teman-temannya malah semakin bersemangat. “Kami berusaha percaya kalau hidup itu indah meskipun menyakitkan. Direktur dan petugas penjara selalu mengatakannya. Meskipun menyakitkan, kita tumbuh besar dan dewasa!”

Tahanan remaja juga punya mimpu. Mereka tidak akan bisa hidup tanpa sebuah mimpi. Hyo Ri bermimpi menjadi penyanyi dia kemudian menyanyikan sebuah lagu. Mi Sook ingin menjadi akuntan publik dan membersihkan korupsi di sistem pajak. “Namaku is Mi Sook! Aku memang seorang amatiran, tapi aku pandai berhitung” dan Kyung Hee bermimpi menjadi seorang desainer, bakatnya muncul di ruang jahit penjara. Kepala penjara bahkan sangat menyukai jahitannya.

Terakhir… apa impian Seo In Ae?

“Seo In Ae adalah bunga harapan kami. Dia akan belajar hukum. Mimpinya adalah menjadi Menteri Hukum wanita”

Apakah itu benar? Kwang Hoon yang sedang menonton cemas menunggu jawaban In Ae, setelah lama terdiam In Ae pun membenarkan. Kwang Hoon langsung speechless apalagi saat In Ae mengatakan alasannya ingin menjadi menteri hukum.

“Untuk balas dendam. Mimpiku adalah membalas dendam”

Setelah film dokumenter itu, In Ae benar-benar di bebaskan. Dia membawa Hyo Ri bersamanya, In Ae berharap temannya yang lain akan segera menyusul keluar dan mereka harus menghubunginya jika sudah keluar nanti.

Saat keluar dari penjara, In Ae dan Hyo Ri dijemput oleh Chil sung dkk yang memberi mereka Tahu sebagai kebiasaan setelah keluar dari penjara.  In Ae bertanya tentang usaha kontruksi yang mereka lakukan di Seoul, Heeuu.. Seoul itu kejam, dan sebaiknya mereka membicarakan hal itu nanti saja.

Mereka penasaran pada Hyo Ri, In Ae pun memperkenalkan Hyo Ri yang menurut In Ae akan menjadi penyanyi terkenal di Korea suatu hari ini nanti. Hyo Ri tersipu-sipu dan berate dia bebas berkat In Ae. Chil Sung bersemangat berkenalan dengan Hyo Ri bahkan mengajaknya bersalaman, Ciee….

In Ae melamun sejenak, memikirkan Kwang Hoon yang memintanya untuk bertahan. Kini In Ae sudah berhasli untuk bertahan, lalu dimana Kwang Hoon? Lamunan In Ae tersadarkan saat Chil Sung bertanya tentang Kwang Hoon, apakah dia tau In Ae di bebaskan hari ini? In Ae bingung untuk menjawab, temannya yang lain berkata Kwang Hoon pasti sibuk menjadi asisten Jenderal.

Waktunya balas dendam, tapi bukan In Ae yang akan balas dendam, melainkan Hyo Ri. In Ae membantu Hyo Ri mencari pria yang menipunya dia adalah Pyo Jin Soo, penulis lagu yang senang menggoda para wanita untuk di janjikan menjadi penyanyi namun kemudian menipunya.

In Ae dan Chil Sung dkk menghadang Pyo Jin Soo yang sedang bersama para wanita. Pyo Jin Soo kaget dan bertanya siapa mereka itu? Mengapa mereka menghalangi jalan orang lain? In Ae jadi geram, karena dia berani bicara seperti itu setelah menghancurkan kehidupan seorang wanita dengan menipunya.

Saat tahu In Ae adalah seorang wanita dia malah menawari In Ae untuk jadi penyanyi. Yang lain jadi kesa dan menyuruh para wanita untuk pergi karena mereka harus bicara dengan penulis lagu itu. Dengan ketakutan para gadis pun pergi dan Pyo Jin Soo mulai ditangani oleh In Ae dan Chil Sung dkk.

Pyo Jin Soo  sudah babak belur saat dipertemukan dengan Hyo Ri. Selain penulis lagu ternyata da juga adalah mantan paca Hyo Ri yang telah merampok uang yang dia kumpulkan selama bekerja di pabrik. Hyo Ri sangat kesal padanya. Demi keselamatannya Pyo Jin Soo berjanji akan mengembalikan uang Hyo Rid an membuatkan lagu untuknya. Bukan kah mereka saling mencintai?

Hyo Ri tidak sudi, Mencintai? ia memilih ke Neraka dari pada jatuh cinta lagi pada pria sepertinya. Pyo Jin Soo merasa menyesal karena telah melakukan itu pada Hyo Ri. Menyesal? Tapi dia tak perna sekalipun menjenguknya? In Ae jadi sangat kesal pada pria itu.

Dengan sebuah paksaan Pyo Jin Soo harus menandatangi sebuah kontrak, tentu saja kontrak itu tak menguntungkan baginya, namun cukup layak untuk menebus kesalahannya pada Hyo Ri. Meski dalam hati tak rela, pada akhirnya dia menandatanganinya juga karena takut kembali dipukuli Chil Sung and the gank.

Nenek dan Bibi Kyung Ja beserta In Chul menyambut kepulangan In Ae dengan makan malam bersama. Pasti berat bagi In Ae selama ini. In Ae mengambil keuntungan dari semua itu, dia mendapatkan makanan dan pendidikan gratis itu saja sudah cukup. Setelah ini In Ae harus belajar dengan keras untuk persiapan masuk Universitas. Kwang Hoon sudah mempersiapkan tempat les terbaik untuk In Ae.

Mendengar nama Kwang Hoon, In Ae jadi sedikit sebal. Kini Kwang Hoon melindungi banyak orang dengan menjadi pesuruh? Dasar Pesuruh? Bibi Kyung Ja melarang In Ae memanggilnya seperti itu, bagaimanapun Kwang Hoon telah melindungi keluarga mereka selama ini. Seharusnya Bibi tidak terlalu senang hanya karena dia menjadikan Bibi pembantu di rumah Jendral. In Ae tampaknya kecewa karena Kwang Hoon tidak menemuinya saat dia bebas ya? Kwang Hoon sangat sibuk.

Terdengar suara Kwang Hoon dari luar ruangan, “In Ae! Seo In Ae!”.  In Chul yang kegirangan dan segera menemuinya. In Chul memberitahu bahwa Noona nya sudah pulang. Dia tahu, namun saat diminta masuk Kwang Hoon menolak karena dia tidak punya banyak waktu. Dia meminta In Ae keluar menemuinya. Bibi Kyung Ja memberitahu jika In Ae sedang marah.

Namun pada akhirnya In Ae keluar juga. Kwang Hoon sangat bahagia melihat In Ae dengan bangga dia berkata, “Seo In Ae. Kau berhasil. Kau sudah bertahan. Seo In Ae memang hebat” In Ae tidak tahu harus berkata apa, bagaimanapun dia masih merasa marah.

Kwang Hoon dan In Ae bicara di luar. Setelah kehilangan Kwang Chul dan In Ae masuk penjara, Kwang Hoon bahkan dipaksa melakukan wajib militer, namun hidup harus tetap berjalan. Yang In Ae dengar saat ini Kwang Hoon sedang bekerja pada seorang Jenderal yang berkuasa, apakah Kwang Hoon belum menemukan pembunuh Ayahnya? Dia mencarinya kan?

Untuk saat ini yang hanya bisa Kwang Hoon lakukan hanyalah menunggu sampai saatnya tiba. Kapan? In Ae merasa dirinya dan Kwang Hoon sangat berbeda. Kwang Hoon terlalu tenang menyikapi semua ini. Berapa lama lagi Kwang Hoon akan hidup sedingin es? In Ae mengenang Kwang Chul dia sangat ingin menemukan pembunuh Kwang Chul. Sebuah Jeep mendorong Kwang Chul hingga terjatuh ke jembatan, dia melihatnya sendiri.

Kwang Hoon memberi pengertian. Dunia ini sekejam itu, In Ae juga tahu. Tapi… Setiap malam Kwang Chul muncul di mimpinya dan meminta In Ae mencari pelakunya. Ayah Kwang Hoon juga. Apakah mereka tidak penah muncul di mimpi Kwang Hoon? In Ae sudah  berderai air mata, apalagi saat Kwang Hoon menyuruhnya melupakan semua itu. Melupakan adalah satu-satunya cara agar selamat.

Lebih baik In Ae belajar saja, Kwang Hoon sudah mendaftarkannya ke tempat les di Seoul. Orang-orang yang masih hidup harus hidup bahagia. Jika tidak In Ae hanya akan mati sia-sia. Lalu.. apakah kematian Kwang Chul dan Ayah juga sia-sia? Apa arti kematian mereka? In Ae masih merasa tidak rela. Kwang Hoon mengingatkan In Ae, bahwa Kwang Chul mengatakan, Meskipun dia mati seperti anjing, dia akan melakukan apapun yang dia inginkan.

Lalu apa arti kematiannya? In Ae tidak bisa melupakannya  begitu saja, apakah Kwang Hoon bisa melupakannya? Kwang Hoon meminta In Ae menatapnya, “Lihat aku. Bagiku... hanya kaulah yang kupunya. Ayah sudah pergi. Kwang Chul sudah pergi. Sekarang, hanya tinggal... kau”

Apakah In Ae tidak tahu, jika dengan memikirkannya saja itu sudah membantunya untuk menjalani hidup sebagai pesuruh. In Ae tahu, tapi.. tetap saja. Kwang Hoon menegaskan jika Kwang Chul dan Ayahnya akan selalu ada di dalam hatinya selamanya. Sama seperti In Ae menyimpan ibunya di dalam hatinya. Jadi… bersabarlah dan belajar. Itu yang harus In Ae lakukan. Mereka harus menunggu saat yang tepat.

Kwang Hoon berpamitan pada In Ae setelah sebelumnya mengingatkan In Ae untuk datang ke bimbingan belajar. Saat melihat Kwag Hoon pergi dengan Jeep nya, In Ae mengumpat, “Jeep sialan. Seperti malaikat pencabut nyawa”

Chil Sung membawa In Ae menemui Pelatih Jo yang terlihat bahagia karena In Ae sudah keluar. Pelatih Jo dan In Ae malah tanding tinju di pertemuan pertama mereka, In Ae masih sehebat dulu. Pelatih Jo benar-benar bersyukur akan hal itu.

In Ae pun mencari keberadaan Pendeta Stefanus yang ternyata telah kembali ke negaranya, dia menitipkan formulir pendaftaran untuk sekolah di Luar Negeri. Dia akan menunggu In Ae sampai kapanpun. In Ae tampak tidak tertarik lagi untuk pergi ke LN, namun didalam amplop formulir itu dia menemukan foto lamanya bersama Pendeta Stefanus, Kwang Hoon dan Kwang Chul. Dia menatap foto itu dan menyentuh wajah Kwang Chul di foto itu.

Akhirnya In Ae melepas kepergian Kwang Chul, namun tetap saja saat melemparkan bunga ke air dingin yang menelan tubuh Kwang Chul, In Ae berteriak, “Kwang Chul. Kau belum mati. Aku tahu itu. Kembalilah. Aku akan menunggumu. Aku takkan kemana-mana sampai kau kembali. Cepat kembali, Kwang Chul. Cepat kembali”

 [Tahun 1982, Fukuoka, Jepang]

Kwang Chul belum mati, dia menjadi seorang petarung bayaran di Jepang. Kwang Chul sudah babak belur namun dia tidak boleh melawan, perannya adalah untuk mengangkat nama Masado, lawan tarungnya. Sesuai perjanjian, Kwang Chul seharusnya dipukuli hingga mati oleh Masado. Apakah pada akhirnya Kwang Chul harus mengakhiri hidupnya di arena bertarung tersebut?

bersambung ke episode 4 

***

Ini lebih sulit dibanding menulis sinopsis Three Days, intrik politiknya lebih kelam. Setelah menonton beberapa episode ke depan Esensi Makjangnya juga menyeruak dimana-mana. Tapi… tetep penasaran sama drama ini. Yuk mari tetep lanjut^^

Duh,,, kasian banget sama Kwang Chul, rasanya hidupnya gak pernah bahagia gini sih. Setelah selamat dari kematian, eeehhh… malah harus jadi korban pemukulan habis-habisan di arena tarung. Tapi Kwang Chul benar-benar memiliki kekuatan ekstra yah^^ Apakah impiannya menjadi Presiden Gangster akan tercapai? Halah… nasibmu Kwang Chul ngenes amat.

Jenderal Chun sepertinya punya ambisi besar untuk menjadi Presiden, tapi dengan alasan apa dia ingin menjadi Presiden? Apakah demi menjadikan Korea Negara yang lebih baik? Ataukah demi menaikan harga dirinya dengan menduduki posisi tertinggi di Negara itu?

Chan In Pyo ganteng dah dalam pakaian Jenderalnya itu >.< Apalagi kalo udah pake kacamata, halah… Om satu ini, makin tua kok makin keren yah? Aku sempet liat tampilan Cha In Pyo pas jaman jadul, culun amat, sama sekali jauh dari kesan keren, tapi sekarang malah makin kece^^

 *written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*

2 Komentar untuk "Endless Love Episode 3"

lanjuuut terus mbak irfa

v^.^v

Awalnya sempet bingung sama episode ini, karna sinopnya ckup lama muncul ya..
AKhirnya buka sinop sebelumnya biar paham. Hehehe.makasih mbak irfa sinopnya, semangat terus ya.

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top