[Sinopsis] Cheongdam-dong Alice Episode 3 part 2




Seung Jo keluar dari ruangannya setelah menyelesaikan rasa terharu karena surat Se Kyung. Dia meminta Sekre Moon untuk membatalan gugatan hukum pada So In Chan. Sekre Moon bingung, dan berkata perilaku In Chan adalah tindakan kriminal, akan sulit untuk diselesaikan begitu saja. Sekre Moon menyarankan setidaknya In Chan akan dikenakan denda. Seung Jo bertanya apalagi yang dibutuhkan, pembatalan gugatan, penyelesaian perjanjian, jadi tidak perlu lagi ada pembayaran denda. Seung Jo menyuruh Sekre Moon untuk menyelesaikan semuanya dan tidak perlu bingung.


Sekre Moon membawa rombongan pegawai Artemis layaknya paskibra yang akan mengibarkan bendera untuk menghadiri pemakaman ibu In Chan. Kehadiran Sekre Moon dan pasukannya, mengagetkan In Chan dan Se Kyung yang berada di tempat pemakaman itu. Sekre Moon mengumumkan bahwa kedatangannya adalah untuk membicarakan gugatan hukum terhadap So In Chan.

Sekre Moon mengumumkan bahwa gugatan hukum terhadap So In Chan telah dibatalkan dan masalah ini akan diselesaikan dengan pembayaran Denda. In Chan dan Se Kyung merasa bahagia mendengarnya mereka berterimaksih pada Sekre Moon.

Sekre Moon melanjutkan bahwa pembayaran Denda akan dilakukan oleh CEO Artemis Korea. Sekre Moon kemudian memanggil Seung Jo, “CEO Artemis Korea, Jean Thierry Ssha!” Kedatangan Seung Jo diiringi oleh music penyambutan. Seung Jo datang dengan penuh wibawa dan sambutan dari para pasukan pegawai yang dibawanya. Se Kyung yang melihat kedatangan Seung Jo, berseru, “Sekretaris Kim? CEO?” Se Kyung kaget sekaligus kagum.

Seung Jo memberikan buku tabungan Se Kyung pada Sekre Moon untuk diberikan pada Se Kyung. Sekre Moon yang tidak cepat tanggap akhirnya mengambil buku tabungan itu dan memberikannya kepada Se Kyung. Seung Jo pun mulai berpidato,
“Han Se Kyung-ssi.  Kemiskinan tidak harus merusak cinta. Yang ada di dalam sana (buku tabungan maksudnya) adalah Mimpi Han Se Kyung, semangat dan kemauannya. Gunakan itu untuk menjaga cinta kalian”

 *writen by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*

Se Kyung terharu denga kata-kata Seung Jo, dia memanggil Seung Jo dengan sebutan Presdir dengan terharu, dia dan In Chan saling berpelukan. Seung Jo terlihat bahagia melihat pasangan yang saling mencintai itu~~

Se Kyung berkata, “Presdir,,, Sejujurnya aku tidak tahu apa yang bisa aku katakan untuk menunjukkan rasa terimakasihku”

Seung Jo menyahut dengan penuh obsesi dan kepuasan, “Kamsha*,,,,?” (*Kamsha artinya rasa terimakasih, aku tidak ingin menterjemahkannya bila seung Jo yang mengatakan, karena ekpresi Urri Oppa saat mengatakan itu sungguh membuatku tertawa terpingkal-pingkal)

Namun semua itu hanyalah Khayalan Seung Jo semata, (whahahaha,,,, dasar Crazy Ssha-ssi)
Seung Jo sebenarnya sedang membayangkan semua perkataannya untuk disampaikan pada Se Kyung kelak saat mereka bertemu di pemakaman Ibu In Chan. Seung Jo meneruskan  latihan pidatonya sambil beranjak dari cermin, “Kamsha Re-fa! Do-re-mi-fa Re Fa! Kamsha,,, Kamsha,,,” Seung Jo mencoba mengsingkronkan ucapan Kamsha itu dengan nada Doremifa.

Seung Jo merasa mendapat pencerahan lanjutan kata-kata untuk pidatonya
“Yang pantas diberikan ucapan Kamsha bukan lah aku. Se Kyung-ssi dan In Chan-ssi ada untuk satu sama lain” Seung Jo merasa kata-katanya benar-benar menakjubkan, dia tersenyum puas dan membenahi dasinya di depan cermin.

Seung Jo kembali berbalik dan berkata, “Han Se Kyung-ssi, Kau bilang hanya dengan melihatnya saja adalah cinta yang tidak dewasa?” Seung Jo menunjukkan ketidak setujuannya dengan menggelengkan kepalanya sambil ngibas-ngibaskan jari telunjuknya (Aigo,, cute banget ekpresi Oppa)

“Winston Churchill berkata Cinta yang belum dewasa mengatakan, Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu. Namun, cinta yang sudah dewasa mengatakan, Aku membutuhkanmu...karena aku mencintaimu.” Seung Jo berteori dengan penuh semangat tentang cinta yang dewasa dan belum dewasa. Dia kembali melanjutkan persiapan kata-kata untuk pidatonya, “Apa yang kalian butuhkan saat ini bukanlah uang atau kondisi yang nyata. Kenyataan bahwa kalian memiliki satu sama lain, itulah yang kalian butuhkan” Seung Jo merasa gemas dan sangat puas pada semua kata-kata yang dia persiapkan pada pidatonya nanti.

Seung Jo mengambil buku tabungan Se Kyung dan memasukannya ke dalam saku jasnya. Dia mempersiapkan dirinya dengan sangat baik untuk menghadiri pemakaman ibu In Chan dan mengumumkan pembatalan gugatan terhadap In Chan.

Sekre Moon masuk, Seung Jo bertanya padanya apakah semuanya telah siap? Seung Jo kemudian mengajaknya pergi, tapi Sekre Moon malah memberi kabar, jika Han Se kyung telah datang. Seung Jo bingung, untuk apa Han Se Kyung datang? Sekre Moon berkata Han Se Kyung datang untuk menyampaikan rasa terimakasihnya.


“Kamsha? Apakah Han Se Kyung-ssi sudah tahu?” Tanya Seung Jo tak percaya. Dengan penuh semangat Sekre Moon membenarkan dan mengatakan bahwa dirinya yang telah memberitahu Han Se Kyung.   

Muncul suara gelas pecah,,,, (cocok banget dah) Seung Jo marah karena hal ini. “Apa? Kau sudah memberitahunya, Sekretaris Moon? Dia sudah tahu?” Tanya Seung Jo setengah membentak.

Sekre Moon jadi sedikit khawatir dengan sikap bos nya, dia mencoba menjelaskan, “Itu,,,, Han Se Kyung-ssi menelponku karena dia sangat khawatir. Jadi aku memberitahunya agar tidak khawatir, karena Presdir telah menyelesaikan semuanya”
 
Mendengar penjelasan Sekre Moon, Seung Jo semakin marah, bahkan kini dia mengeluarkan ‘Sattori’nya (dialek Choongchung-do) “Apa? Tapi kau adalah Sekertaris, Sekretaris Moon, dan Aku adalah Presdir. Bagaimana,,,, Aku telah mempersiapkan semuanya*,,,” (*mempersiapkan semua kata-kata untuk pidatonya dan kini kata-kata itu tak bisa digunakan karena Se Kyung telah mengucapkan terimakasihnya,, wkwkwkwk,, karuan aja yah,,, Seung Jo marah sama Sekre Moon)

“Bukan kah kau gila?” Tanya Seung Jo masih menggunakan sattori-nya. Sekre Moon kaget dan ketakutan, dia bertanya mengapa tiba-tiba Seung Jo berbicara menggunakan sattorinya?
Bukannya menjawab pertanyaan Sekre Moon, Seung Jo malah semakin membentaknya saat bertanya apa yang ada di kedua tangan Sekre Moon. Dengan agak ketakutan, Sekre Moon berkata, “Han Se Kyung-ssi, memberikan ini untuk menunjukkan rasa terimakasihnya” Seung Jo semakin berang, “Kaammshha?? Dia mengatakan Kamsha pada Sekretaris Moon, dan bukan padaku?” Sekre Moon menjadi semakin ketakutan dan bingung dengan sikap bosnya.

Sekre Moon kemudian memberikan kotak putih yang ada di tangan kanannya untuk Seung Jo dan mengatakan itu adalah hadiah untuk Seung Jo dari Han Se Kyung. 

Seung Jo menerimanya dengan penuh amarah, dan saat membukanya dia merasa semakin jengkel, karena isinya hanya sebuah gelang murahan yang biasa dijual di pinggir jalan.   

Seung Jo melihat kotak hadiah milik Sekre Moon lebih besar, dia pun mencoba mengambilnya. Sekre Moon mencoba menghalangi niat Seung Jo untuk mengambil kotak hadiah miliknya, tapi Seung Jo berhasil mengambilnya dan melihat isinya. Rasa kesal Seung Jo makin menumpuk saat melihat hadiah untuk Sekre Moon adalah penjepit dasi yang harganya pasti lebih mahal dibanding gelang yang diberikan padanya.

“Bagaimana bisa hanya milikmu yang indah? Bagaimana bisa dia memberiku ini dan memberimu barang seperti itu? Apa kau yakin tidak menukarnya?” Tanya Seung Jo menuduh. Sekre Moon menyangkal dengan penuh ketakutan. Dia sama sekali tidak melakukan hal itu.

Seung Jo lalu bertanya dimana Han Se Kyung sekarang? Apa dia sudah pergi? Lagi-lagi Seung  Jo menggunakan sattori nya. Sekre Moon memberitahu bahwa Han Se Kyung baru saja pergi dengan gugup, dia kaget melihat kemarahan tak beralasan dari Boss nya. Seung Jo kesal dan segera keluar untuk mengejar Se Kyung sambil membawa kedua hadiahnya.

Untungnya Se Kyung belum jauh dari gedung Artemis. Seung Jo memanggilnya dan Se Kyung pun berbalik. Seung Jo menyodorkan kedua hadiah yang diberikan Se Kyung. Se Kyung bertanya mengapa Seung Jo memiliki itu? Seung Jo bertanya, “Orang yang seharusnya diberikan ucapan terimakasih oleh Han Se Kyung-ssi bukannya Presdir kan?” Se Kyung membenarkan, lalu kenapa?

Seung Jo bertanya, lalu mengapa hadiah yang diberikan Se Kyung untuk Sekre Moon lebih mahal dibandingkan hadiah untuk Presdir? Se Kyung merasa aneh pada sikap Seung Jo, dia menegaskan, “Pertama, Aku berterimakasih pada Sekretaris Moon, karena sekretaris Moon telah memberitahuku untuk meminta peringanan hukuman dan menyampaikan suratku. Sedangkan kau, apa yang kau lakukan? Mengatakan padaku, “sadari keadaanmu”, dan “kau pikir cinta memberimu makan?”, kau mengatakan semua itu, kan?” Seung Jo bingung dengan kemarahan Se Kyung. Dia sama sekali tak meminta hadiah untuk Sekretaris Kim, identitas palsunya di depan Se Kyung, dia hanya ingin tahu mengapa hadiah untuk Sekre Moon lebih mahal?

“Kedua, Kenapa aku memberikan sesuatu seperti itu untuk Presdir?” Tanya Se Kyung. Seung membenarkan dan berkata hadiah untuk Sekre Moon mungkin harganya $55 dan dibeli di department store, sementara hadiah untuk Presdir mungkin harganya hanya $5 dan dibeli di pasar. Se Kyung berkata, “Aku yang membuatnya” Seung Jo kaget mendengar jawaban Se Kyung, “Setelah aku masuk kuliah itu adalah barang pertama yang aku buat” Seung Jo langsung tersenyum bahagia mendengarnya walau pun senyumnya ia samarkan. Se Kyung melanjutkan, “Oleh karena itu, aku memberikan persis seperti aku pertama kali membungkusnya dan memberikannya pasa Presdir” Se Kyung kesal dan bertanya mengapa Seung jo membuka bungkusannya?

Seung Jo beralasan, sebagai sekretaris Presdir dia hanya harus memeriksanya. Se Kyung membentak Seung Jo, “Kenapa?” Seung Jo kaget karena dibentak Se Kyung. Apalagi Se Kyung sepertinya semakin marah padanya, “Apa aku menyimpang Bom disana?” Se Kyung kesal dan meninggalkan Seung Jo yang masih merasa punya urusan dengan Se Kyung.

Seung Jo mencoba menghentikan Se Kyung dan memanggil namanya. Se Kyung kembali berbalik dan bertanya ada apa lagi? Seung Jo bertanya mengapa Se Kyung bersikap seperti itu? Apa Se Kyung pikir dia menemui Se Kyung hanya untuk menanyakan masalah hadiah? Apakah dimata Se Kyung Seung Jo memang orang seperti itu?

Seung Jo tidak menunggu jawaban Se Kyung. Dia mengeluarkan buku tabungan Se Kyung dari saku jas nya dan memberikannya pada Se Kyung, sambil berkata bahwa Presdir menyuruhnya untuk mengembalikan buku itu pada Se Kyung. Se Kyung tampak kaget dan agak termenung menatap buku itu.

Seung Jo berbicara dalam hatinya, “Sekarang kau akan mengucapkan ‘Kamsha’ Kan? Kamshaaa,,, Kamshaaa! Kamsha,,, Kamshaaaa….” 

Se Kyung menatap Seung Jo lalu berkata, “Kamshamnida. Aku benar-benar berterimakasih” Mendengar kata “Kamsha” Seung Jo langsung sumringah dan mulai berpidato, “Kamsha? Orang yang patut diberikan ucapan ‘Kamsha’ bukanlah aku. Se Kyung-ssi dan In Chan-ssi….” 

Pidato Seung Jo terputus oleh kata-kata Se Kyung, “Aku tidak bisa menerimanya,,,”  Membuat wajah Seung Jo menghentikan ekspresi bahagianya, dan suara kaca pecahpun muncul lagi, menghancurkan khayalan Cha Seung Jo. (wkwkwkwk,,, jadi Se Kyung yang mengucapkan terimakasih itu hanyalah bayangan Seung Jo, begitu pun pidatonya,, khayalan tingkat tinggi banget nih Urri Ssha-si)

Se Kyung menegaskan dia tidak bisa menerima buku tabungan itu. Seung Jo bertanya mengapa? Buku tabungan itu memang sangat berarti untuk Se Kyung dan dia pun butuh uang. Tapi, dia tidak bisa menerima kembali buku tabungan itu. Jika dia mengambilnya maka semuanya akan sia-sia, Janjinya dan Resolusinya. Seung Jo bertanya Resolusi apa yang dimaksud Se Kyung? Se Kyung bilang Sekre Kim tidak perlu tahu.

Seung Jo berkata, Presdir ingin Se kyung dan In Chan tetap saling melindungi cinta mereka. Jadi Presdir mengembalikan buku tabungan itu, agar Se Kyung bisa menjaga cintanya bersama In Chan dengan buku tabungan itu. Seung Jo menyelipkan buku tabungan itu dengan paksa di lipatan lengan Se Kyung dan berkata yang harus Se Kyung lakukan hanyalah berterimakasih. Seung Jo memaksa Se Kyung menerima buku tabungan itu. Namun Se Kyung lagi-lagi mengembalikan buku itu ke tangan Seung Jo.

Se Kyung berkata, “Daripada merasa berterimakasih aku lebih merasa bersalah pada Presdir” 

Seung Jo jadi panik dan bergunam dalam hatinya “Bukan Kamsha tapi Chosong*? (*Chosong artinya merasa bersalah).

Seung Jo jadi meradang dan mengeluarkan Sattorinya di depan Se Kyung, “ Tidak bisakah kau hanya mengatakan hal itu? Kamsha-heyo, Aku benar-benar berterimaksih, Kamsha-heyo!” 

Se Kyung balas membentak Seung Jo, “Apa kau direktur? Hah?” Seung Jo kaget ditanya seperti itu. Se Kyung bertanya mengapa Seung Jo selalu bersikap Sok Keren, saat berulah seperti Presdir. Se Kyung benar-benar kesal pada Seung Jo. Se Kyung memastikan agar Seung Jo mengatakan rasa bersalahnya pada Presdir. Se Kyung berbalik untuk meninggalkan Seung Jo yang masih kaget dengan kemarahan Se Kyung padanya.

Namun Se Kyung kembali berbalik dan berkata, “Dan Juga, saat kau berbicara menggunakan Sattorimu, Kau benar-benar terlihat kampungan” Lalu Se Kyung memeletkan lidahnya pada Seung Jo lalu pergi meninggalkan Seung Jo, benar-benar pergi meninggalkannya sekarang.

Seung Jo syok dan bertanya, “Apa?” tapi dia masih menggunakan Sattorinya. Seung Jo pun memukul-mukul mulutnya dengan buku tabungan Se Kyung karena masih juga menggunakan Sattorinya. Seung Jo mencoba memanggil Se Kyung namun Se Kyung sudah pergi jauh dari pandangannya.

 *writen by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*

Se Kyung menunggu bis di halte, kemudian berkata pada dirinya Sendiri bahwa Sekre Kim benar-benar bertindak seolah-olah dia adalah Presdir. Sekre Kim benar-benar menyedihkan.

Se Kyung naik bis untuk pulang ke rumah, di dalam bis dia membuka jendela menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya, tak terasa air matanya pun mengalir. Se Kyung berguman dalam hati, “Selamat Tinggal… Selamat Tinggal, So In Chan”

Ho Min melaporkan keadaan In Chan yang banyak hutang pada Yoon Joo. Selain punya hutang dia juga punya adik perempuan yang harus dibiayai, belum lagi dia mendapatkan gugatan hukum dari perusahaannya dan itu semua karena uang. Ho Min berpendapat, Se Kyung menekan Yoon Joo pasti hanya karena uang. Ho Min menyarankan Yoon Joo untuk memberikan uang pada Se Kyung dan mengusir Se Kyung jauh-jauh dari kehidupannya. Tapi Yoon Joo heran mengapa Se Kyung meminta uang dengan cara yang seperti itu, maka dia pun meminta Ho Min untuk menyelidiki Se Kyung lebih jauh lagi.
Se Kyung sampai dirumahnya, Ayah, Ibu dan adiknya sedang berkumpul memperhatikan peringatan dari Bank tentang hutang mereka. Ayahnya berkata jika mereka bisa membayar hutang sebanyak 50 juta won dalam waktu dekat mereka akan memberikan waktu 1 tahun untuk sisanya. Ibunya menimpali, bahwa sekarang ada pinjaman yang bisa dilakukan oleh seorang yang bekerja di perusahaan. Ibunya meminta Se Kyung melakukan pinjaman itu. 

Se Kyung tidak menjawab dan langsung masuk ke kamarnya. Se Kyung menatap kamarnya dengan seksama dan membuat sebuah keputusan.

Se Kyung menolak untuk melakukan pinjaman.  Se Kyung tidak ingin melakukan pinjaman dengan namanya. Ayahnya berkata mereka hanya meminjam nama Se Kyung, karena mereka yang akan membayarnya. Dia berkata sebaiknya mereka menjual tumah mereka dan melunasi hutang pada Bank, kemudian pindah ke sebuah rumah Sewa. Adiknya menolak dia beralasan dia tidak akan bisa menikah jika tinggal di rumah sewa. Ibu Se Kyung pun menolak karena dia telah mengorbankan banyak hal untuk membeli rumah itu. Belum lagi, harga pasaran rumah mereka sekarang hanya 300 juta won, sementara dulu mereka membelinya seharga 500 juta won.

Ayahnya berkata mereka harus menunggu sampai harga pasaran naik lagi. Se Kyung berpendapat itu hanya akan menambah hutang mereka. Ibunya berkata mengapa Se Kyung bisa dengan mudah mengatakan untuk menjual rumah mereka, memangnya biaya kuliah Se Kyung dari mana jika bukan dari pinjaman dengan jaminan rumah mereka. Se Kyung berkata dia memang melakukan pinjaman pendidikan dengan jaminan rumah ini, tapi bagaimanapun dia tidak rela memakai namanya untuk melakukan pinjaman pribadi, meskipun itu berarti dia harus bersedih kehilangan rumah itu.

Sementara itu Yoon Joo duduk di dalam mobil di depan gedung apartemen rumah Se Kyung dan keluarganya. Dia teringat kata-kata Ho Min, bahwa rumah Se Kyung akan dilelang, total hutang mereka sebesar 150 juta. Jadi yang dibutuhkan Se Kyung adalah uang.

Yoon Joo duduk merenungi kata-kata Ho Min di ruangan pakaiannya, kemudian dia membuka brangkas pribadinya dan mengambil sebuah amplop besar berwarna coklat.

Sementara itu Seung Jo menatap gelang pemberian Se Kyung, dia berkata pada gelang itu, meskipun gelang itu terlihat lusuh tapi karena dia buatan tangan, maka Seung Jo memakainya dengan bahagia bersama gelang pasangannya. Kemudian, Seung Jo melihat buku tabungan Se Kyung dan tersenyum lagi.

Yoon Joo mendekap amplop coklat yang diambilnya erat-erat. Dia sepertinya sudah memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan permintaan Se Kyung yang ingin diajari agar bisa menjadi sepertinya. Sementara Seung Jo melepon Sekre Moon dan menyuruhnya memanggil So In Chan ke kantor besok pagi.

Esoknya In Chan datang menemui Seung Jo dikantornya, Seung Jo berkata bahwa pengunduran diri In Chan sedang di proses, namun Rumor tentang masalah ini akan segera tersebar. In Chan pasti sulit mendapatkan pekerjaan kembali. Seung Jo memberikan In Chan Sebuah kartu nama dan menyuruh In Chan datang ke tempat itu agar bisa mendapatkan pekerjaan.

Seung Jo mulai berpidato, “So In Chan-ssi, didalam hidup ini ada hal-hal yang bisa dilalui ada juga yang tidak berhasil di lalui” Seung Jo berhenti dan berkata dalam hatinya ‘wah, itu kata-kata yang hebat’ sambil menunjukkan ekspresi bangganya (tentunya sambil membelakangi In Chan).   

Seung Jo lalu melanjutkan, “Kemiskinan adalah sesuatu yang bisa dilalui, aku juga sudah melaluinya” Seung Jo berhenti lagi, kemudian berpikir, ‘Wow, apa lagi sekarang?’ dan kembali merasa bangga pada kata-katanya.

Seung Jo berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya, dia membuka laci tempat dia menyimpan buku tabungan dan cap nama Se Kyung. Dia megambil buku tabungan dan cap namanya kemudian memberikannya pada In Chan. Seung Jo meminta In Chan mengembalikan kedua barang itu pada Han Se Kyung. Seung Jo berkata pada In Chan, In Chan tidak akan bisa membayangkan sudah begitu banyak yang dilakukan Se Kyung atas nama In Chan, gugatan hukum In Chan dibatalkan karena Se Kyung.

Dengan wajah penuh harapnya, Seung Jo pun berkata dalam hati, ‘Nah,,, Sekarang waktunya kau berkata, Kamsha, Kamsha,,, kamsha,,,’ . In Chan kemudian mulai buka suara dengan memanggil “Presdir…” Seung Jo menyela dan mengingatkan In Chan bahwa ini bukan sesuatu yang harus disesali (wkwkwkwk,, trauma takut In Chan juga bilang dia lebih merasa bersalah pada Seung Jo dari pada merasa berterimakasih)

Akhirnya In Chan berkata, “Benar-benar,,, Kamshamnida, Presdir” Seung Jo langsung merasa begitu bahagia mendengar kata, ‘Kamsha’ dari mulut In Chan, dia benar-benar merasa mendapatkan jackpot.

 Setelah mendengar kata ‘Kamsha’ dari Mulut In Chan maka, waktunya Seung Jo untuk mengatakan kata-kata yang sudah disiapkannya kemarin. “Kamsha? Bukan aku yang seharusnya mendapatkan ucapan ‘Kamsha’ itu. Se Kyung-ssi dan In Chan-ssi ada untuk satu sama lain” Lagi-lagi Seung Jo mengatakannya dengan gaya yang sama seperti yang dilatih kemarin.

“Winston Churcil berkata, Cinta yang belum dewasa mengatakan bahwa Aku membutuhkan mu karena aku mencintaimu. Namun Cinta yang dewasa mengatakan bahwa Aku mencintaimu, karena itulah aku membutuhkanmu. Berterimakasih lah karena kalian memliki satu sama lain” Ujar Seung Jo sambil membuka dan menutup tangannya dan ,, ya,,, lagi-lagi dia melewati lampu yang ada di samping meja kerjanya dengan gaya yang kemarin. Seperti ini:


Seung Jo melanjutkan sambil memegang tangan In Chan dan membuat In Chan yang awalnya aneh dengan kelakuannya, kini menjadi kaget, “Dan Jagalah,,,, cinta ini” Lalu Seung Jo menyium punggung tangan In Chan (hahahah,,, aneh-aneh aja sih ini kelakuan Urri Ssha-si).

Mendapatkan perlakuan yang tak lazim dari sang Presdir, In Chan hanya bisa mengo menatap tangannya dan juga menatap Seung Jo. In Chan kemudian mengucapkan rasa terimakasihnya sekali lagi pada Seung Jo.

Dalam Hatinya Seung Jo bergunam, “Tidak,,,, Akulah yang seharusnya berterimakasih, kalian berdua telah membuktikan padaku. Bahwa aku tidak salah” Seung Jo menggunamkan itu sambil mengenggam tangan In Chan dengan erat dan tersenyum bahagia.

Seung Jo merayakan kebahagiaannya yang telah menemukan cinta sejati antara In Chan dan Se Kyung. Dong Wook datang dan heran dengan kelakuan temannya itu. Seung Jo bertanya apakah Dong Wook berpikir Seung Jo menunjukkan gejala gila? Seung Jo berkata, ternyata setelah melakukan pekerjaan sukarela dia merasa lebih baik. Pekerjaan Sukarela itu cara penyembuhan paling baik untuk perasaan depresi. Seung Jo merasa dirinya begitu hebat karena telah melakukan pekerjaan sukarela, tapi dia tertawa,, pekerjaan sukarela apa,,,?

Seung Jo kembali berkata, bahwa di dalam hatinya ada perasaan menggelitik dan berdebar-debar. Dengan polos Dong Wook berkata mungkin ada kutu yang masuk. Seung Jo tak mempedulikan komentar Dong Wook dan melanjutkan kata-katanya. “Orang-orang yang saling menyukai dan bahagia. Jika aku melihat mereka, aku merasa baik” 

Dong Wook kaget dan bertanya apakah Seung Joo melakukan pekerjaan sukarela? Seung Jo berkata bukan menjadi Relawan, tetapi itu adalah “healing”. Penyembuhan yang benar-benar mujarab.

Bel  rumah Seung Jo berbunyi. Seung Jo membuka pintu dan ternyata Se Kyung lah tamunya. Se Kyung terlihat marah dan langsung menerobos masuk ke dalam rumah Seung Jo, membuat Seung Jo otomatis mundur. 

Se Kyung berkata, “Sekretaris Kim. Bukan,,, Presdir Artemis Korea, Jean Thierry Ssha. Kau Orang jahat Kau berbohong padaku kan?” Seung Jo kaget karena Se Kyung telah mengetahui identitasnya namunkemudian tersenyum dan merasa malu.

Seung Jo berkata sambil malu dengan mengacungkan jarinya dan mengibaskannya, “Maaf karena aku telah membohongimu. Tapi itu…” Se Kyung memotong perkataan Seung Jo dan menangkis tangan Seung Jo sambil menggelengkan kepala, lalu berkata, “Tapi bukan hanya itu kebohonganmu padaku. Kau bertindak seolah-olah kau tidak mengerti tentang cinta. Bertindak seolah kau tidak pernah dicintai dan mencintai. Namun kau melindungi cinta kami. Ternyata Presidr mengetahui tentang cinta” Se Kyung merasa terharu dengan tindakan Seung Jo.

Se Kyung maju dan mencium pipi Seung Jo, membuat Seung Jo kaget menerima ciuman Se Kyung dipipinya sebagai ucapan terimakasihnya. Setelah mencium pipi Seung Jo, Se Kyung berkata, “Bagaimanapun aku merasa sangat berterimakasih Presdir, Annyeoung!” Se Kyung melambaikan tangannya dan pergi dari rumah Seung Jo.

Seung Jo kemudian maju hingga pintu rumahnya dan berkata, “Han Se Kyung-ssi Figthing!”

Benarkah itu semua terjadi dalam kenyataan? Tidak,,, sama sekali tidak Se Kyung yang datang ke rumah Seung Jo untuk mengucapkan terimakasih ternyata hanya khayalan Seung Jo yang mulai melakukan dancing Crazy dengan diiringi music Barbara Streisand

Seung Jo menari-nari dengan lentur dan lincahnya seperti orang kesurupan membuat Dong Wook speechless hingga memegang dadanya. 

Dong Wook berusaha menyadarkannya, “Yak,,, Yak,,, Gila,, Apa ini?”. Seung Jo berhenti menari dan menjawab pertanyaan Dong Wook, “Tiba-tiba, aku merasa akan terjadi hal baik padaku” Kemudian melanjutkan tarian gilanya. (Totally Crazy Cha Seung Jo, itu gerakan tarinya ampun dah~~~ bikin ngakak abis^^)

 
Esok harinya Seung Jo menunggu kedatangan Se Kyung dan In Chan yang dalam pikirannya pasti akan mengucapkan terimakasih padanya. Dia bertanya-tanya pakah mereka akan datang bersama? Ataukah mereka hanya akan menelpon? Seung Jo merasa menelpon bukan etika yang tepat untuk mengucapkan terimakasih. Mereka harus datang sendiri. 

Seung Jo kemudian menelpon orang yang kartu namanya dia berikan pada In Chan. Dia bertanya apakah In Chan telah menemuinya. Ternyata In Chan tidak datang.

Sekre Moon datang membuat Seung Jo terkejut karena Seung Jo baru saja akan memanggilnya tapi Sekre Moon sudah datang duluan. Sekre Moon memberikan sebuah kabar buruk tentang In Chan, sepertinya In Chan berbuat hal yang buruk lagi?

Seung Jo menunggu Se Kyung di depan kantor GN Fashion. Saat Se Kyung keluar, Seung Jo langsung memanggil dan menghampirinya. Seung Jo bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi? Se Kyung bertanya ada apa? Apakah Presdir berubah pikiran? Bukan itu maksudnya, dia bertanya apaka Se Kyung sudah bertemu So In Chan. Se Kyung bilang mereka telah putus tidak ada alasan untuk bertemu lagi. Seung Jo bertanya apa In Chan menelpon atau mengirim sms padanya? Se Kyung kesal dan berkata mereka sudah putus memangnya ada apalagi?

Seung Jo bertanya apakah Se Kyung menerima Buku tabungannya? Se Kyung bertanya, apakah Seung Jo memberikan buku tabungan pada In Chan? Seung Jo membenarkan, tetapi In Chan sudah pergi ke Brazil dengan penerbangan kemarin malam. Sepertinya In Chan sudah mendapatkan pekerjaan disana, apakah Se Kyung tidak tahu? Se Kyung kaget mendengar hal itu. Perasaannya berkecamuk antara sedih, kesal dan kecewa. Namun Se Kyung hanya diam dan membuat Seung Jo merasa semakin bersalah.

Seung Jo mencoba membela So in Chan, mungkin In Chan berada dalam keadaan mendesak. Dia mungkin meminjam uang Se Kyung untuk sementara waktu, jika tidak So In Chan pasti tidak akan pergi keluar negeri begitu saja. Se kyung berkata dia mengerti, So In Chan bukan orang jahat dia paling tahu itu. Lagi pula dia sudah tidak akan mengambil buku tabungan itu, In Chan mengambilnya atau tidak dia tidak peduli. Se Kyung pun pamit jika tak ada lagi yang akan dikatakan Seung Jo.

 *writen by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*

Se Kyung pergi meninggalkan Seung Jo, dia tahu Se Kyung sedang berusaha menguatkan diri menerima pengkhianatan In Chan yang membawa kabur uangnya. Merasa cemas, Seung Jo akhirnya mengikuti Se Kyung dari belakang.

Seung Jo menjaga Se Kyung dari kejauhan, tiba di jalan raya, Seung Jo ketakutan Se Kyung akan berbuat yang tidak-tidak. Dia cemas Se Kyung akan melompat ke tengah jalan dan melakukan hal yang tidak masuk akal. Tapi saat Se Kyung menoleh ke belakang, dia berusaha kebakaran jenggot mencari tempat persembunyian (Cha Seung Jo… You are stalker Now?)


Tiba di tepi sungai Han, Se Kyung terlihat sangat sedih. Seung Jo tetap memperhatikan Se Kyung dari kejauhan. Pikirannya sudah kalut, dia melihat seperangkat pelampung, seolah bersiap untuk menyelamatkan Se Kyung jika tiba-tiba Se Kyung menceburkan dirinya ke Sungai Han. Seung Jo benar-benar merasa khawatir pada Se Kyung.

Se Kyung memang rapuh saat ini, dia sangat sedih karena In Chan meninggalkannya dengan cara seperti ini. Namun pikirannya tidak pendek, dia hanya ingin menenangkan hatinya sebelum sampai ke rumah. Se Kyung kemudian menerima sms dari In Chan:
“Saat kau menerima pesan ini, aku sudah berada di Brazil. Aku tadinya akan mengembalikan uangmu, tapi aku menggunakannya untuk membayar sisa hutang. Sekarang aku akan mulai dari awal lagi. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Di dunia yang tanpa hutang,  ibuku dan juga kau. Aku berterima kasih dan mohon maaf. Hiduplah dengan baik. Kau akan hidup dengan baik. Selamat tinggal.”

Setelah membaca sms In chan, Se Kyung akhirnya menangis sejadi-jadinya disaksikan Seung Jo yang berada di belakangnya.

Seung Jo mengikuti Se Kyung hingga ke rumahnya. Dia memastikan Se Kyung masuk ke dalam rumahnya dengan selamat. Seung Jo benar-benar terlihat mencemaskan keadaan Se Kyung setelah ditinggal In Chan ke luar negeri namun masih begitu tegar.

Se Kyung masuk kedalam rumah dan melihat Yoon Joo sedang beramah tamah dengan keluarganya. Se Kyung terlihat tidak suka dengan kedatangan Yoon Joo. Se Jin bertanya mengapa Se Kyung tidak bilang jika Yoon Joo adalah Nyonya nya? Se Kyung tidak menjawab dan mengajak Yoon Joo berbicara di luar.

Se Kyung dan Yoon Joo berbicara di taman dekat gedung apartemen Se Kyung. Se Kyung bertanya Yoon Joo datang untuk memberikan jawaban kan? Jika tidak maka Yoon Joo melakukan kesalahan besar, karena saat ini Se Kyung bisa melakukan apa saja. Yoon Joo berkata Se Kyung benar, dia memang datang untuk memberikan jawabannya, ada dua jawaban.

Yang pertama, Yoon Joo memberikan amplop putih pada Se Kyung, yang pasti amplpop itu bersisi uang. Yoon Joo berkata, meskipun dia hidup mewah dia tidak bisa memberikan banyak, dia hanya bisa memberikan sejumlah yang ada di amplop. Dengan uang itu, Se Kyung bisa menyelamatkan rumahnya dan menjaga kehidupan yang telah dijalaninya saat ini. Persaannya  juga cintanya. Yoon Joo berkata, “Sesuatu yang seperti Uang,,, sebenarnya tidak ada”

Berjalan pulang dari rumah Se Kyung, Seung Jo merasa galau. Dia berhenti berjalan dan mengeluarkan sesuatu dari saku jacketnya. Itu adalah gelang Se Kyung, dia menggenggam itu dengan erat dan memikirkan sesuatu.

Se Kyung bertanya pada Yoon Joo berapa banyak lagi yang Yoon Joo bisa berikan padanya? Dia menjelaskan kondisi keuangan rumah nya dimana mereka harus menjual rumah mereka setengah dari harga saat mereka membelinya. Lalu So In Chan, kekasihnya… adalah  seorang yang selalu belajar dan bekerja  lebih keras dari siapapun, tapi dia berakhir pada lilitan hutang. In Chan memiliki adik-adik yang harus dibiayainya masing-masing 50 juta won per orang. Dan Se Kyung sendiri, dia selalu berusaha untuk mencari pekerjaan. Dia berpikir bahwa jika dia berusaha keras maka dia akan sukses,, Tapi… Untuk menjadi seorang desainer dia harus memiliki selesa fashion yang baik, dan itu tidak bisa dicapai dengan usaha. Mereka bilang itu adalah sesuatu yang telah ditentukan sejak lahir.

Se Kyung mendesah, “Lalu... jika aku berusaha dengan sangat keras, akan kah aku mampu menjadi seorang desainer? Bisakah kau memecahkan semua masalahku?” Dia menatap Yoon Joo yang juga menatapnya, memperhatikan ekspresi wajah Se kyung, “dan apa? Cinta?” Tanya Se Kyung pada Yoon Joo.
Se Kyung mengambil amplop putih berisi uang dari Yoon Joo, “Melindungi Cinta dengan ini? Cinta seperti apa? Mengubah cinta selama 6 tahun menjadi sesuatu yag tak berarti, cinta seperti itu?” Se Kyung tertawa. “Yak,, Seo Yoon Joo,,, apakah karena kau hidup sebagai Nyonya kaya, hingga kau kehilangan rasa realitas? Kau tidak mengerti? Cinta? Tidak ada hal-hal yang seperti itu” kata Se Kyung penuh emosi (Ommo,,, kini Se Kyung sudah tak percaya adanya cinta?)

Yoon Joo menyadari sesuatu, pemikiran Han Se Kyung sudah berubah karena keadaannya. 

Se Kyung melanjutkan perkataannya, “So In Chan telah membuang hubungan 6 tahun kami, karena uang. Tapi,, setelah So In Chan pergi aku benar-benar merasa lega. Aku merasa terbebas. Karena aku tidak lagi tercekik oleh kehidupan yang menyedihkan. Sejujurnya, aku ingin memberinya uang 5 Juta untuk membuang dia dari hidupku. Tak peduli kata-kata apa yang digunakan untuk menyelesaikannya, semuanya berakhir begitu saja. Tapi Apa? Melindungi Apa? Cintaku? Perasaanku? kehidupanku?”

Se Kyung membuang amlpop putih berisi uang itu, sementara Yoon Joo terus memperhatikan ekspresinya. “Yak,, Apa yang kau tau?” tanya Se Kyung sambil menghela nafas panjang.

Seung Jo tiba di rumah Dong Wook dengan berlinang air mata, membuat Dong Wook kaget apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu. “Apa sekarang kau sedang menangis? Apa yang terjadi?” Tanya Dong Wook khawatir. Seung Jo tak menjawab malah menangis makin keras.

“Aku pikir mereka sudah punah. Punah seperti dinosaurus. Punah seperti Mammoth." kata Seung Jo pada Dong Wook. Dong Wook yang tak mengerti sangat khawatir pada keadaan sahabatnya ini.

"Tapi ternyata gadis seperti itu masih ada” Kata Seung Jo sambil melihat gelang pemberian Se Kyung yang dipakainya. Kini dia hanya memakai gelang dari Se Kyung saja tanpa gelang pasangannya bersama Yoon Joo.  Air mata Seung Jo keluar semakin banyak, “Aku bilang,,, gadis seperti itu masih ada”

Sayangnya gadis yang dimaksud Seung Jo bertekad untuk berubah untuk menjadi gadis yang tak percaya pada Cinta. Se Kyung masih berbicara pada Yoon Joo, “Jika aku akan menjadi miskin tidak peduli betapa kerasnya aku mencoba, ini bukan sesuatu yang memalukan. Seharusnya aku marah pada dunia.” kata Se Kyung penuh emosi.

Yoon Joo bertanya, jadi apa sebenarnya yang Se Kyung ingin kan jika itu bukan uang? Se Kyung menjawab, “Orang yang benar-benar hebat akan mengubah dunia dalam situasi seperti ini. Tapi aku bukan orang seperti itu. Jika dunia tidak bisa berubah, aku akan mengubah diriku. Aku akan hidup sepertimu.”

Se Kyung mulai menahan tangis dan berbicara penuh emosi, “Aku ingin memilikinya. Aku ingin memiliki pakaian itu. Sepertimu, aku akan mendapatkan pria kaya dan pindah ke Cheongdam-dong. Membeli semua pakaian yang aku inginkan, membeli semua barang mewah yang aku inginkan. Dan pergi kemanapun yang aku inginkan. Aku tidak akan ketakutan hanya karena  beberapa dolar! Dan melindungi keluargaku! Aku akan hidup seperti itu. Sepertimu, aku juga akan hidup seperti itu.”

Seung Jo dan Dong Wook sedang duduk berhadapan di rumah Dong Wook. Seung Jo masih menangis, Dong Wook bertanya, “Jadi, itu alasanmu menangis?” Seung Jo tidak menjawab, dia bingung dengan dirinya. Dong Wook kembali bertanya, “Aku bertanya, Apa kau menangis karena gadis itu?” Seung Jo menunduk, kemudian menatap Dong Wook, namun masih tak berkata apapun.

Se Kyung berniat pergi meninggalkan Yoon Joo, namun kemudian Yoon Joo memanggilnya, “Yak,, Han Se.” Se Kyung menghela nafas dan berbalik ke arah Yoon Joo.

Yoon Joo berkata, “Aku masih belum memberitahumu jawabanku yang kedua.” Se Kyung menghela nafas panjang, sementara Yoon Joo tersenyum. Yoon Joo kemudian menyodorkan sebuah amplop coklat yang cukup tebal. Amplop itu yang dia ambil dari brangkas pribadinya waktu itu. Dapat dipastikan bahwa isinya bukan uang. Yoon Joo berkata, “Ini… Semua yang kau inginkan ada di dalam” Se Kyung menatap amplop itu dengan penasaran.Yoon Joo bertanya untuk seseorang seperti Se Kyung yang belum menunjukkan prestasi apapun, apa Se Kyung yakin bisa masuk ke lingkungan Cheongdam-don? Apakah Se Kyung akan mecobanya? 

Se Kyung mengambil Amplop coklat dari tangan Yoon Joo. Isinya adalah Diary Rahasia Yoon Joo hingga dia mencapai posisinya saat ini.

Seung Jo berkata pada Dong Wook, “Gadis itu, membuatku menangis” Air mata Seung Jo kembali keluar.

Se Kyung menatap  Yoon Joo dengan berbagai perasaan yang berkecamuk, setelah rivalnya itu memberikan diary rahasianya. Sementara Seung Jo masih menangis di depan Dong Wook karena melihat kesedihan Se Kyung. 

bersambung ke episode 4


Komentar:
Wah,,, twist nya makin mantap yo~~~ Saat Akhirnya Seung Jo bisa menangis karena ketulusan cinta Se Kyung pada In Chan, Se Kyung malah semakin menetapkan hati untuk tidak percaya adanya cinta. Dia mengubah pikiran positifnya dengan mengikuti pola berpikir Yoon Joo, bahwa pernikahan hanyalah sebuah bisnis, dan bertekad untuk mencari suami kaya untuk memperbaiki kehidupannya dan keluarganya.

Setelah menelaah dengan seksama, akhirnya aku tahu mengapa Seung Jo terobsesi untuk mendapatkan perkataan Kamsha, baik itu dari Se Kyung atau In Chan, bukan semata-mata karena dia gila terimakasih. Cha Seung Jo, terobsesi mendengar kata 'Kamsha' hanya karena dia ingin mengatakan pidato spektakuler nya yang telah dia susun dengan kata-kata yang paling menakjubkan yang bisa dia pikirkan. "Kamsha? Bukan aku orang yang pantas mendapatkan ucapan itu. Tapi kenyataan bahwa Se Kyung-ssi dan In Chan-ssi ada untuk satu sama lain"

Seung Jo sangat berterimakasih pada Cinta Se Kyung dan In Chan karena kisah mereka telah mengisi kekosongan hatinya setelah 6 tahun ditinggal Yoon Joo. Cha Seung Jo kini percaya bahwa yang namanya cinta sejati itu masih ada. Lalu apa yang terjadi? So In Chan malah mengkhianati Han Se Kyung? Seung Jo pun menjadi ber-eimpati pada Se Kyung, kerena walau In Chan mengkhianatinya dengan membawa uang tabungan Se Kyung tapi Se Kyung tetap berpikiran positif tentangnya, itulah sebabnya Seung Jo merasa terharu pada cinta tulus Se Kyung untuk In Chan.

Apakah kemudian itu berarti Seung Jo telah mencintai Se Kyung. Tidak,,,, aku sama sekali tidak berpikir begitu. Cha Seung Jo mengaggumi Han Se Kyung, tipe wanita yang tak pernah ditemuinya, tipe wanita yang dia pikir telah punah dari muka bumi ini. Seperti seorang penggemar, Cha Seung Jo sangat terharu pada ketulusan Han Se Kyung, sama hal nya aku sangat terharu melihat akting Urri Shi Hoo Oppa. Dan itu bukan karena perasaan Cinta yang sederhana, semuanya lebih dari itu~~~

Kenyataan Han Se Kyung adalah wanita yang bisa membuatnya menangis, membuat Seung Jo merasa hidup kembali setelah sekian lama mati rasa dan memiliki kekuatan hanya saat memikirkan rencana balas dendamnya. Kini,,, Seung Jo pastinya mulai melupakan acara balas dendamnya, mungkin setelah ini dia akan lebih peduli pada Se Kyung. Namun apa yang akan Seung Jo lakukan saat dia tahu Han Se Kyung mencoba berubah menjadi tipe wanita yang dibencinya seperti Yoon Joo? Ommo.... walaupun ceritanya sederhana tapi alurnya benar-benar membuat penasaran~~~

Nam Gong Min, sangat meninggalkan kesan walaupun hanya muncul di 3 episode drama ini. Chemistry nya dengan Moon Geun Young sebagai sepasanga kekasih yang telah lama saling mencintai sangat baik. Namun karena masalah uang akhirnya mereka harus berpisah. Meskipun cara perpisahannya membuatku mengutuk In Chan karena membawa lari uang Se Kyung. Aku snagat berharap di episode-episode akhir karakter So In Chan akan muncul lagi dan mengembalikan semua uang Se Kyung setelah dia sukses. Hmmm,,, mungkin dia akan menghadiri pernikahan Seung Jo dan Se Kyung~~~ Longceng pernikahan mulai berbunyi di kepalaku~~~ hehehe^^ #ngarep

Oh iya,, banyak yang bertanya tentang lagu yang mengiringi Acara Stalker Seung Jo terhadap Se Kyung setelah Se Kyung mendapat kabar In Chan meninggalkannya untuk pergi ke Brazil...
Lagu itu adalah OST Cheongdam-dong Alice part-3, Judulnya Daddy Long Leg yang dinyanyikan oleh Baek Ah Yeon. Lagunya akan rilis pada tanggal 15 Desember 2012 mendatang, jadi jika mecari link Downloadnya sekarang mungkin hanya akan menemukan lagu yang merupakan potongan dari scene saat Seung Jo mengikuti Se Kyung.

Sinopsis episode 4 nya mungkin akan agak lama ya~~~ Minggu ini aku masuk minggu sibuk lagi,,, tapi Review episode 5 nya pasti akan aku posting setelah aku menonton episode 5 nya. Terimakaish karena selalu menantikan sinopsis Cheongdam-dong Alice, aku menulis sinopsis ini dengan perasaan Cinta ku pada Park Shi Hoo sebagai fans~~~ **Saranghae Urri Ssha-ssi***
17 Komentar untuk "[Sinopsis] Cheongdam-dong Alice Episode 3 part 2"

Dahsyat.,makash cingu buat part 2nya..ulasan kamu juga hebat,ditunggu episode 4 nya ya

wah daebak ma akting uri SSha-Ssi...
kamsha sinop.y mbak irfa *bergaya ala oppa
vivi

Akhirnya keluar juga Oppa PSH dancing, lucu banget,,,thank's ka Irfa,ga sabar nih tunggu hari sabtu, ditunggu sinopsis episode 4 nya ka irfa,.
*Dede*

setiap ep makin seru
aduh udh ga sabar tgg preview ep.5 kaya apa ceritanya
tq.unni

Jadi makin penasaran perkembagan hubungan se kyung dgn oppa.

seru banget irfa.......
tapi sebel nya aku susah banget mau download drama ini....
kasih tau link yg paling gampang bwt dwnload nya dong.....
di share aja link nya....
"kamsha"
heheh mian ngrepotin

penasaran banget....
keren juga ceritanya...
lanjutin terus ya sinopsisnya...

thanks,

sy setuju dgn pendapat mba irfa,,saat ini emank blum ada cinta dr seung jo ke se kyung,,yg ada msh rasa kagum krn berkat se kyung dia bs membuktikan bahwa msh ada cinta didunia ini,,msh ada seorang gadis yg melakukan apapun utk cintanya,,

Oia jd penasaran dgn crazy dancenya seung jo,,cuma bs bc sinopnya ajah jd nga tau nih.. Bolehlah diposting potongan videonya pas lg ngedance.. Hehe

Kamsha.. ^^

seru-seru...
cerita yang unik lagi nih
simple tapi bikin nagih n penasaran
aq suka sinopsis yang dibuat.
ditunggu Episode 4 nya tp jangan terlalu lama yah
penasaran nih...

di episode ini aku jatuh cinta sama OST nya yang judulnya one hundred Zinc itu... bener ga sih judulnya... pass banget sama scene seung jo yang prihatin dan se kyung yang ga berdaya

ditunggu kelanjutannya ,,,,kamsahamnida..:)

Eh salah... Daddy long leg ya judulna

Bner2 dech crazy bnget oppa 1 nich...ksian bngt sma Se Kyung yg mndpatkan pengkhianatan.mngkin kah tu awal dri cinta Seung Jo kepda Se Kyung.Dan aku berpndpat bahwa Seung Jo akan lbih awal mnyukai Se Kyung.dan untuk ost part 3 jdulnya daddy long leg kyak jdul filmnya han ji won ya???
Gomawo Unnie...dtnggu sinpsis klnjutannya...(wlaupun q bca n cmentnya telat)heheheheh

Gokil banget oppa ssha sshi..kekeke

dancing crazy Park Shi Hoo oppa dengan diiringi music Barbara Streisand benar2 bikin ngakak..
-Siti Aura-

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top