[Recaps] Queen In Hyun's Man Episode 4



Bung Do membacakan mantra yang ada di jimatnya dan dia sudah berpindah Jaman kembali ke Joseon. Dia menatap Jimat itu dan merasa ini semua pasti sebuah lelucon.

Kuda Bung Do pun ikut kembali pulang ke Joseon bersamanya. Bung Do menaiki kudanya dan segera pergi ke Han Yang.

Menteri Min Ahm dipanggil raja Suk Jong ke istana. Kasim memberitahunya bahwa orang itu ada disini bersama Raja. Menteri bertanya siapa maksud Kasim? Orang itu Sarjana Kim Bung Do. Menteri Min Ahm kaget dan bertanya apa kasim tahu apa yang dibicarakan Kim Bung Do dan Raja. Kasim berkata dia dengar Kim Bung Do membawa sebuah surat. Menteri langsung panik.

Saat dia menemui Raja dia merasa semakin panik, apalagi saat dia melihat Raja sedang membaca kertas yang dibawa Bung Do, Mentri Min Ahm menatap Bung Do yang juga menatapnya.

Menteri Min Ahm sudah gugup saat Raja bertanya apakah Menteri dan Kim Bung Do satu kampung halaman?

Ternyata Kim Bung Do tidak membawa surat yang ditakutkan Menteri, yaitu Surat dari Ratu In Hyun untuk sang Raja. Bung Do hanya membawa surat yang berisi puisi buatannya yang menurut raja sangat indah. Di hadapan Raja Menteri  Min Ahm memuji kepandaian Kim Bung Do.

Sementara itu pelayan Bung Do menunggu di sebuah tempat. dia melihat ada penjahat yang membuang tubuh Yoon Wol, pelayan itu langsung menghampiri Yoon Wol dan bertanya apakah Yoon Wol tak apa-apa. Yoon Wol heran mengapa pelayan itu ada disana? Dia berkata tuannya lah yang menyuruhnya menunggu di sini. (Aku pikir sih, Bung Do dan Menteri Min Ahm membuat kesepakatan  yang membuat dia melepaskan Yoon Wol)

Di ruangan kantor Penasehat Khusus, Menteri Min Ahm membakar sebuah kertas, sepertinya itu surat yang dia takutkan sampai ke tangan Raja. Menteri Min Ahm berkata dia tidak sangka Bung Do akan menyerah hanya karena seorang wanita.

Mendengar kata-kata Menteri Ahm, Bung Do malah tersenyum dan berkata: “Dalam suatu medan perang, jika aku melepaskan sebuah kartu yang aku punya, berarti aku masih punya kartu lain. Apakah kau tidak pernah berpikir kartu lain yang aku miliki lebih berbahaya, harap pikirkan itu baik-baik” Bung Do pun pamit meninggalkan Menteri Min Ahm yang kebingungan dan ketakutan atas apa yang dikatakan Bung Do.

Bung Do keluar istana, dia sudah disambut oleh Pelayanannya. Bung Do bertanya bagaimana keadaan Yoon Wol, Pelayanannya bilang Yoon Wol baik-baik saja dan dia sudah mengantar Yoon Wol ke kuil. Karena Yoon Wol sudah aman, Bung Do mengajak pelayannya untuk ikut ke suatu tempat.

Soo Kyung memastikan pada Sutradara apakah benar Han Dong Min yang telah memilih Hee Jin menjadi ratu In Hyun. Sutradara menyangkal dan berkata Choi Hee Jin terpilih atas kemampuannya, Sutradara bertanya mengapa Soo Kyung menananyakan hal ini. Soo Kyung bilang dia hanya ingin memastikannya, karena Hee Jin jadi tak percaya diri karena desas desus seperti itu beredar.

Soo Kyung langsung melaporkan hal itu pada Hee Jin melalui telepon, dan berkata Yoon Na Jung hanya ingin mengganggu kepercayaan diri Hee Jin saja. Soo Kyung bilang dia akan mendatangi manajer Yoon Na Jung dan memberi mereka pelajaran. Hee Jin lega mendengar hal itu. Dia berjalan riang ke kamar mandi untuk berganti pakaian dalam.

Di Telepon, Soo Kyung bertanya siapa yang menolong Hee Jin mengusir Na Jung saat Na Jung mengintimidasinya di rumah sakit kemarin? Hee Jin bilang orang itu seorang perawat. Soo Kyung bertanya mengapa seorang perawat berani memperlakukan National Fairy seperti Na Jung seperti itu? Hee Jin bilang mungkin karena dia merasa kasihan pada Hee Jin yang tak berdaya. Hee Jin berkata pada Soo Kyung untuk tidak memberitahukan hal itu pada Yoon Na Jung. Soo Kyung setuju dan berkata akan menggertak Yoon Na Jung sampai pingsan biar dia tau rasa. Itu ide yang bagus, kata Hee Jin. Soo Kyung berkata, Hee Jin beruntungkan kan, punya manajer yang begitu baik. Hee Jin mengerti. Merekapun memutuskan sambungan telepon.

 Di Toilet, Hee Jin menatap tulisan yang dibuat Bung Do untuknya. Hee Jin bergunam, “Benar,, siapa yang akan percaya? Aku saja yang melihatnya dengan mata kepalaku sendiri tidak bisa percaya. Jika aku mengataka yang sebenarnya aku pasti dikira gila”

Hee Jin teringat Bung Do yang menghilang di toilet dengan misterius, dia pun melihat sekeliling toilet,, berwaspada takut Bung Do tiba-tiba muncul. Hee Jin mencari celah, mungkin ada jalan keluar tersembunyi di Toilet, tapi nihil,,, dia tak menemukan apapun. Hee Jin bertanya ada diri sendiri, “Tapi bagaimana dia bisa menghilang, Ini bukan Magis kan?”

Hee Jin mulai membuka baju rumah sakitnya untuk mengganti baju, namun dia berhenti karena dia teringat Bung Do yang tiba-tiba menghilang di Toilet. Hee Jin berpikir mungkin Bung Do juga akan muncul tiba-tiba di Toilet. Hee Jin menyangkal,, ‘tidak mungkin’,, dia melanjutkan membuka kancing bajunya, namun tetap saja khawatir dan kembali memakai bajunya sambil melihat ke belakang. Karena merasa begitu parno, Hee Jin merasa dirinya akan gila saja.

Yoon Na Jung kaget saat tahu bahwa Choi Hee Jin tidak akan mempersalahkan penyerangan Na Jung saat dirumah sakit. Tapi Na Jung penasaran pada lelaki yang menolong Hee Jin hari itu. Manajernya bilang, Soo Kyung bilang lelaki itu adalah Reporter,, karuan saja Na Jung panik setengah mati. Karena itulah Manajernya menasehati Na Jung untuk tidak menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain, untung saja Hee Jin baik hati tidak mempermasalahkan hal ini. Na Jung malah kesal mendengar manajernya memuji Hee Jin.

Bung Do membawa pelayannya ke tempat dia datang dari jaman modern. Bung Do mengamati tempat itu, dia mengingat dimana tepat nya dia tiba dari jaman modern. Pelayannya bertanya mengapa Bung Do tidak menemui Yoon Wol padahal Yoon Wol sudah mengorbankan banyak hal untuk Bung Do. Setelah tau Yoon Wol baik-baik saja Bung Do merasa itu sudah cukup. Pelayannya bertanya mengapa Bung Do tidak membiarkan Yoon Wol menikah dengannya sebelum Yoon Wol jadi Gisaeng? Bung Do hanya tertawa dan berkata, dia tak bisa berbuat apapun karena Yoon Wol tak menyukai pelayannya itu.

Bung Do memikirkan setiap kali dia terlempar ke jaman Modern adalah saat nyawanya dalam bahaya.

Kim Bung Do berdiri di tempat dia datang dari Jaman Modern untuk terakhir kalinya dia menyuruh pelayannya untuk menembakan panah ke arah dirinya. Pelayannya jelas saja tak mau, bahkan setelah Bung Do berkata bahwa dia akan menghindar sebelum panah mengenai dirinya. Pelayannya tetap tak bisa melakukan hal tersebut.

Bung Do pun akhirnya memaksanya dengan ancaman manis dan tegas, setelah melayangkan pedang ke hadapan Pelayannya. Bung Do berkata: “Jika kau tak mau melakukannya, aku yang akan benar-benar membunuhmu. Kalau kau tak mau mati hari ini, maka lakukanlah!”

Kata-kata itu membuat Pelayannya mau tak mau melakukan hal yang diperintahkan Bung Do. Sang Pelayan menembakan panah ke arah Bung Do dengan ragu-ragu dan ketakutan, karena bagaimanapun dia tak tahu alasan tuannya menyuruhnya melukai dirinya sendiri. Pelayannya masih saja ragu-ragu menembakan panah arah Bung Do, maka Bung Do mengambil ancang-ancang memegang pedangnya seolah ingin menunjukkan kesungguhannya membunuh Pelayannya jika sang Pelayan tidak segera memanahnya. Bung Do berkata: “Jika kau masih tidak menembakan panahnya dalam hitungan 3, maka pedangkulah yang akan melayang ke tenggorokanmu” Bung Do mulai menghitung, membuat sang Pelayan semakin ketakutan, dan tepat di hitungan ketiga ,,,, blaassshh,, panah pun ditembakan dengan tepat. Seperti sebelumnya, saat nyawanya terancam, Kim Bung Do pun menghilang dari Jaman Joseon dengan misterius.

Kim Bung Do membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya, dia kini telah berada di Toilet Kamar rawat Hee Jin di Rumah sakit. Bung Do menghembuskan nafas lega dan berkata, “Jadi begini Kehidupan setelah Kematian.”

Bung Do berniat keluar dari Toilet, namun mendengar suara orang yang membuka pintu, dia kembali bersembunyi di dalam Toilet yang pintunya tidak tertutup dengan benar.

Han Dong Min masuk ke dalam kamar rawat Hee Jin. Dia bingung saat menyadari Hee Jin tidak ada. Dong Min lalu meminta managernya untuk mencari dimana Hee Jin.

Di dalam toilet Bung Do berusaha tidak bergerak agar tidak ketahuan. Namun Dong Min sepertinya curiga ada orang di dalam Toilet. Akhirnya Dong Min mencoba mengelabui Bung Do dengan berkata dia akan keluar mencari Hee Jin. Bung Do pun bersiap keluar dari Toilet, saat itulah Dong Min beraksi dengan menyergap Bung Do di Toilet dan menguncinya di ruang kaca untuk mandi. Dong Min mengunci ruang kaca itu dengan payung yang ditinggalkan managernya dan mengikatnya dengan sebuah handuk. Hal tersebut membuat Bung Do terkurung di ruang kaca itu.

Dong Min menyalakan lampu dan kaget saat melihat sosok Bung Do yang berpakaian Joseon ada di dalam toilet kamar rawat Hee Jin. Dong Min bertanya, “Kau,,, kau siapa?” Bung Do hanya diam dia sama sekali tak melirik sedikitpun pada Dong Min.

Dong Min lalu mendekati ruang kaca itu, dia berdiri di hadapan Bung Do dan bertanya lagi, “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersembunyi disini? Apa kau stalker? Dasar menjijikan. Kau,,, benar-benar akan mati” kata Dong Min menggertak Bung Do sembari keluar dari Toilet. Bung Do hanya diam saja, berpikir bahwa dia akan segera menghilang dari tempat itu setelah membaca mantra pada jimat.

Dong Min melaporkan apa yang terjadi di kamar Hee Jin pada perawat dan meminta perawat melaporkannya pada petugas keamanan.

Di Toilet, Bung Do yang tadinya berniat untuk menghilang merasa kebingungan saat menyadari jimat nya hilang, dia menyadari bahwa jimanya jatuh di dekat closet. Dia mencoba membuka pintu, tapi nampaknya kesulitan.

Hee Jin berjalan di lorong rumah sakit untuk kembali ke kamarnya. Dia kaget melihat banyak perawat di depan kamarnya. Hee Jin bertanya ada apa? Para perawat memberitahunya bahwa di kamarnya ada seorang psyco stalker.

Hee Jin bingung mendengar hal itu, dia segera masuk ke dalam kamar rawatnya. Hee Jin kaget saat melihat Bung Do yang terkunci di ruang kaca dikerumuni Dong Min, managernya dan para petugas keamanan. Mereka sedang bertanya berbagai hal pada Bung Do yang membelakangi mereka dan sama sekali tak mau merespon semua pertanyaan petugas keamanan.

Petugas keamanan bingung mengapa kedatangan Bung Do tak terlihat di CCTV. Dong Min menyarankan, jika Bung Do ingin dilepaskan lebih baik menjawab pertanyaan mereka dan katakan apa tujuannya datang ke kamar itu. Tapi Bung Do sama sekali tak merespon, dia hanya diam saja dam melirik Dong  Min sebentar saat lelaki itu berkata bahwa ini bukan pertama kalinya dia menemukan seperti Bung Do. Hee Jin masuk ke toilet dan merasa cemas dengan apa yang terjadi pada Bung Do. Apalagi saat Dong Min berkata akan membawa Bung Do ke kantor polisi.

Bung Do akhirnya berbalik dan menatap tak suka pada Dong Min, tapi dia kemudian melihat Hee Jin dan tersenyum bahagia melihat kehadiran gadis itu disini. (Ya,, ampun,,, senyumnya,,, haduh,, Kim Bung Do nih,,, ya,,, dari tadi so cool gitu ditanyain sama petugas keamanan dan Dong Min,, giliran Hee Jin yang datang,,, hilang deh semua sikap cool-nya berganti senyuman yang super duper manis,,,)

Dong Min menyadari kehadiran Hee Jin dan menyapanya. Hee Jin bertanya mengapa Dong Min ada disini dan mencampuri urusan orang lain. Dong Min malah berkata apa yang akan dilakukan Hee Jin jika dia tak ada disini, saat ada seorang stalker yang masuk diam-diam ke kamarnya. Dong Min bertanya bukankah Hee Jin pingsan karena seorang pria aneh, dia kan prianya? (Ding Dong,, bener banget tuh tebakan Dong Min). Hee Jin tak menjawab, dia hanya menatap Bung Do yang menatapnya penuh pengharapan.

Semua orang keluar dari Toilet karena Bung Do yang tak bicara apapun. Dong Min merengekan lukanya saat melawan Bung Do pada Hee Jin, perawat memuji keberaniannya tapi Hee Jin kelihatan tidak terlalu peduli. Petugas keamanan berkata bahwa mereka akan lapor polisi jika Bung Do tetap tak mau bicara. Hee Jin jadi kahawatir karena hal ini.

Hee Jin akhirnya mencoba masuk toilet, petugas kemanan bertanya apa yang akan dilakukan Hee Jin, dia bilang dia akan mengambil sesuatu. Dong Min langsung berkata dia akan mengantar Hee Jin, tapi Hee Jin mengelak dan berkata akan mengambil baju dalam. Dong Min mengerti dan membiarkan Hee Jin masuk sendiri, tapi dengan pintu yang sedikit terbuka. Namun sebelum menemui Bung Do, dia memastikan tidak ada siapapun yang berdiri di depan toiletnya

Hee Jin segera masuk dan bertanya pada Bung Do, mengapa Bung Do masuk lagi ke toilet kamar rawatnya itu? Bukannya menjawab, Bung Do malah berkata: “Sepertinya ini sudah takdir kau datang saat situasiku memalukan”. Hee Jin berkata, Bung Do lah yang membuatnya berada dalam keadaan memalukan.

Bung Do bertanya, apakah Hee Jin kembali di serang oleh seorang wanita kasar lagi? Hee Jin bingung dan berpikir, dia tahu yang dia maksud adalah Na Jung. Hee Jin membantah dan berkata,  itu sudah berakhir. Bung Do bersyukur jika bukan itu yang terjadi.

Hee Jin bertanya mengapa Bung Do selalu muncul dihadapannya? Bung Do berkata: “Kali ini aku datang untuk bertemu denganmu”. Hee Jin kaget mendengarnya. Bung Do berkata dia membutuhkan bantuan Hee Jin. Gadis itu bingung mengapa Bung Do membutuhkan bantuannya? Dengan enteng Bung Do berkata, karena hanya Hee Jin yang dikenal Bung Di di jaman modern, dan juga karena Hee Jin orang yang baik. Bung Do tahu, Hee Jin pasti akan membantunya. Hee Jin terharu mendengarnya, namun dia menunjukkan sebaliknya, dia bertanya, “Kata siapa aku orang baik? Itu hanya omong kosong” Bung Do berkata buktinya sekarang Hee Jin mau berbicara dengannya. Bung Do pun berkata: “Apa kau tidak bisa merasakan takdir dari pertemuan kita ini, hingga kau tak bisa melepaskan matamu dariku” (Aigooo,,,, Bung Do emang pinter banget ngomong yah…).

Hee Jin menghela nafas mendengar kata-kata gombal Bung Do, dan berkata Bung Do pasti banyak membaca buku hingga menjadi begitu pandai berkata-kata seperti itu.
Bung Do memberikan senyum manisnya lagi (haduh,, Ji Hyun Woo beneran pamer senyum disini). Bung Do berkata, dia memang banyak membaca buku. Hee Jin jadi tersenyum mendengarnya. Untuk sejenak mereka saling bertatapan.

Hee Jin bertanya pada Bung Do, bantuan apa yang dibutuhkan Bung Do darinya. Bung Do bertanya apa Hee Jin akan membantunya? Apa dulu? Kata Hee Jin. Bung Do berkata dia mencari sebuah buku, Buku Sejarah. Hee Jin heran dan bertanya, “Apa maksudmu Sejarah Dinasti Joseon?” Bung Do membenarkan dan bertanya apakah Hee Jin tahu? Hee Jin berkata tentu saja, Buku sejarah pasti ada diperpustakaan.

Bung do bertanya apakah itu bantuan yang sulit dilakukan? Hee Jin hanya menghela nafas, Bung Do berkata, jika itu sulit lupakan saja. Bung Do meminta bantuan pada Hee Jin untuk mengambilkan kertas jimatnya di dekat toilet. Hee Jin mengambilkannya dan bertanya pada Bung Do, apa ini? Bung Do berkata kertas itulah yang menyebabkannya datang dan pergi dari jaman ini.

Hee Jin bertanya, “Kau menggunakan ini untuk kembali ke masa lalu?” Bung Do membenarkan dan berkata. “Aku mempertaruhkan hidupku untuk datang kesini, Itu sangat berbahaya, tapi aku tak punya pilihan lain, aku harus pergi dari situasi ini”. Hee Jin kaget saat tahu bahwa Bung Do mempertaruhkan hidupnya untuk datang ke jaman ini.

Bung Do berkata, “Sangat mudah untuk pergi, tapi untuk kembali bukan hal yang mudah”. Hee Jin berniat mengembalikannya tapi dia mulai ragu. Dia mengambil ponselnya dan mencari sesuatu.

Dia berkata pada Bung Do, “Kalau kau ke arah utara dari rumah sakit ini, akan ada sebuah taman, apakah kau bisa menemukannya? Jika kau bisa menemukannya maka aku akan membantumu” Bung Do berpikir sambil menerima kertas jimat dari Hee Jin.

Bung Do kembali ke Jaman Joseon, tepat ke tempat dia menghilang sebelumnya. Kehadiran Bung Do ini mengagetkan pelayannya. Bung Do lalu mengajak sang Pelayan pergi 10 mill menuju arah Utara dari tempat dia berada sesuai petunjuk Hee Jin  sebelumnya. Bung Do dan Pelayannya pun memulai perjalanan mereka.



Sementara di Jaman modern, Manager Dong Min dan para perawat sedang menanti kedatangan polisi untuk menangkap Bung Do, saat polisi tiba Manager Dong Min menunjukkan keberadaan Bung Do pada polisi. Namun bertapa kagetnya mereka saat mereka melihat Bung Do tak ada lagi di ruang kaca. Mereka kaget sekaligus bingung, bagaimana bisa Bung Do melarikan diri sementara sejak tadi mereka berjaga di luar.

Saat Bung Do dan Pelayannya menempuh perjalanan menuju arah utara, di Jaman modern Hee Jin pun menyelinap keluar dari rumah sakit. Dengan meminjam mobil Soo Kyung, Hee Jin pun pergi menuju tempat yang dia maksud, yaitu sebuah taman dengan kotak telepon berwarna merah.
Hujan pun turun, Hee Jin menanti Bung Do yang tak juga.

Soo Kyung menelponnya dan bertanya tentang stalker yang ada di kamar Hee Jin, Hee Jin bilang stalker itu sudah melarukan diri. Hee Jin pura-pura panik dan bertanya apa yang harus dilakukan. Soo Kyung bertanya sekarang Hee Jin ada dimana? Hee Jin berkata di kamarnya sangat rebut, jadi dia ingin minum Kopi sambil menghapalkan line-nya pada scenario. Hee Jin berjanji akan cepat kembali, dia pun menutup telepon Soo Kyung.

Hujan turun semakin deras, Hee Jin melihat keluar, dan berpikir mungkinkah Bung Do tak akan datang? Hee Jin merasa bodoh namun dia tetap menunggu. Hee Jin menyalakan music di mobilnya menurunkan tubuhnya untuk sandaran di kursi mobil sedikit beristirahat, Hee Jin sepertinya mulai pesimis bahwa Bung Do akan datang. Hee Jin bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah benar dia seorang stalker? Dan Aku sudah tertipu,  Mengapa dia selalu datang ke tempatku? Euh,, Aku mudah sekali ditipu,,, Apa yang harus kulakukan sekarang? Choi Hee Jin,, aku sangat khawatir padamu!”

Lalu ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya. Hee Jin terbangun dan menatap orang itu dia adalah Kim Bung Do yang tersenyum manis padanya.

Kim Bung Do membuka pintu mobil Hee Jin, dia masuk dan berkata kini dia sudah bisa membuka pintu mobil. Bung Do berkata, langit disana sangat cerah, tapi disini ternyata hujan. Hee Jin diam saja, masih kaget ternyata Bung Do benar-benar datang.

 Bung Do melihat Hee Jin yang masih berbaring di kursi mobilnya. Bung Do bertanya apakah Hee Jin sakit? Hee Jin pun duduk dengan tegak dan berkata, “Ini sudah sangat terlambat, aku pikir kau tak akan datang”. Bung Do beralasan, seekor kuda tidak secepat mobil Hee Jin, lagipula jalan disana sangat berliku tidak seperti jalanan disini.

Hee Jin menatap Bung Do, dia bertanya darimana Bung Do mendapatkan pakaiannya. Bung Do tertawa dan berkata, “Setiap kali ke sini, aku mendadak menjadi pencuri”. Hee Jin berkomentar, jika Bung Do terus melakukan itu, Bung Do akan ditangkap polisi. Bung Do bingung dan bertanya apakah yang di maksud polisi disini sama dengan polisi di jaman Joseon? (Hmm kayaknya pengucapan Polisi di jaman Joseon dan di jaman modern beda ya?). Hee Jin membenarkan dan memuji Bung Do yang telah beradaptasi dengan cepat. Bung Do berkata, Itu adalah satu-satunya kemampuannya di jaman ini. Hee Jin tertawa mendengar perkataan Bung Do

Hee Jin menyalakan mobilnya dan memasang sabuk pengaman. Bung Do pun memakain sabuk pengamannya membuat Hee Jin heran melihatnya. Bung Do berkata dia kini sudah bisa melakukan ini juga (maksudnya memasang sabuk pengaman sendiri).

Bung Do bertanya, kali ini akan jadi perjalanan yang cepat kan, semoga tidak seperti hari itu, karena dia sangat takut naik mobil. Hee Jin berkata, benarkah? Jadi kau sangat takut karena hal itu? Hee Jin malah sengaja memaju mundurkan mobilnya dulu, membuat Bung Do sedikit kaget dan ketakutan.

 Hee Jin tertawa dan menjulurkan lidahnya karena berhasil mempermainkan Bung Do dan membuat Bung Do ketakutan. Bung Do hanya mengo dan bertanya, mengapa Hee Jin mengeluarkan lidahnya (Hwahahaha,,, aku ketawa liat wajah Bung Do saat menanyakan hal ini,, polos banget,,,). Hee Jin jadi berhenti tertawa dan melakukannya sekali lagi. Hee Jin bertanya, “Kau tidak tahu? Aku sedang menertawakanmu” Hee Jin melakukannya lagi, dan lagi,, membuat Bung Do menatap takjub pada tingkah Hee Jin.

Lalu mereka tertawa bersama, namun Hee Jin langsung berhenti tertawa saat menyadari Bung Do menatapnya dengan Intens. Hee Jin langsung merasa kikuk dan menjalankan mobilnya dengan benar.

Hee Jin membawa Bung Do ke perpustakaan Nasional. Seperti biasa, Bung Do memperhatikan gedung itu dan keadaan disekitarnya. Dia tampak takjub dengan semuanya. Hee Jin mengajaknya untuk pergi, Buku tentang Jaman Joseon ada di lantai 3, mereka harus menggunakan Lift. Bung Do berkata pada Hee Jin, tempat ini sangat besar, pasti banyak sekali buku di tempat ini. Apakah siapapin boleh membaca disini? Hee Jin membenarkan dan berkata masih ada lagi tempat seperti ini disini.

Bung Do lalu berkata, “Jika aku bisa aku ingin menghabiskan seluruh hidupku dengan berada disini” (Bung Do ini emang pecinta buku di jaman Joseon-nya,,, Mmm kayak Man Bo di Rooftop Prince kayaknya,, tapi dia berhasil jadi pejabat sukses di Istana, karena dukungan keluarganya yang juga Bangsawan). Hee Jin menatap heran pada Bung Do, lalu Bung Do berkata, dia tak tahu waktu akan berlalu hingga seperti ini. Hee Jin berkomentar, Bung Do sepertinya benar-benar orang yang sangat cerdas di jamannya. Ada begitu banyak hal yang bisa dinikmati, Tapi Bung Do malah memilih menghabiskan waktu diperpustakaan?

 Bung Do tak menjawab. Pintu Lift terbuka, merekapun masuk Lift. Bung Do memijit angka 3 sambil bertanya mereka akan ke lantai 3 kan? Hee Jin jadi kaget dan bertanya, apakah Bung Do pun bisa membaca angka Arabic? (Jaman Joseon angka Arabic sepertinya belum dikenal). Bung Do berkata, saat mereka naik lift sebelumnya, Hee Jin bilang mereka akan ke lantai 13, dan Hee Jin memijit angka 1 dan 3, diapun  mengurutkan semua angka yang ada di Lift dan mengingat semuanya.


Hee Jin kagum pada Bung Do dan berkata bahwa Bung Do benar-benar bisa beradaptasi dengan cepat. Hee Jin berkata, jika Bung Do sangat pintar, maka Bung Do pasti mengikuti Ujian Negara yang diasakan Kerajaan kan? Bung Do berkata, dia adalah Juaranya.

Hee Jin nampaknya tak percaya dan berkata, “Aku tak suka pada orang yang terlalu pintar dan terlalu banyak belajar”. Bung Do bertanya apa pekerjaan Hee Jin, “Aku seorang Aktris” kata Hee Jin, “kau mungkin tidak tahu tapi aku sangat terkenal dan mungkin akan semakin terkenal di masa depan” Hee Jin mengatakan itu sambil keluar Lift, karena mereka telah sampai di lantai 3.

Bung Do mengikuti Hee Jin keluar Lift, dia bertanya pada Hee Jin, “Apa alasanmu ingin terkenal?” Hee Jin menjawab, tentu saja untuk kepuasan diri, pertama-tama dia haurs jadi aktris yang cantik. Bung Do hanya melongo mendengar hal tersebut. Dia bahkan langsung diam ditempat dan menatap Hee Jin dengan aneh. Hee Jin berbalik dan heran dengan ekspresi Bung Do. Hee Jin bertanya, “Ekspresi apa itu?” Bung Do tertawa kecil dan bertanya, “Nona, apakah kau sedang menyebutkan dirimu cantik saat ini?”

Hee Jin kesal mendengar komentar Bung Do, dia marah sebentar kemudia sadar diri dia sedang ada ditempat umum. Hee Jin lalu merendahkah suaranya dan bertanya, “Jadi maksudmu aku tidak cantik? Aku… sangat mampu mengikuti sebuah kontes kecantikan” Bung Do kembali tertawa kecil dan bertanya, benarkah? Hee Jin semakin tak senang dengan komentar Bung Do dan memanyunkan bibirnya.

Bung Do tak ingin memperpanjang masalah itu dan meneruskan perjalananya menuju rak buku yang akan ditujunya. Bung Do menatap takjub pada deretan buku yang menjelaskan sejarah korea. Hee Jin mendekati Bung Do dan bertanya apa yang ingin Bung Do tahu? Kapan Era Joseon dihancurkan? Bukankah itu 100 tahun yang lalu?

Bung Do berkata, dia tidak bisa menyelidiki sejarah sebelum kematiannya, itu bukan jalan yang bisa ditempuhnya. Bung Do bilang, dia hanya ingin tahu Jaman dimana dirinya hidup dan alasannya untuk hidup. Hee Jin bingung dan bertanya, Alasan kau hidup? Bung Do menjelaskan, mencegah Ratu diturunkan, mengembalikan Ratu ke tahtanya, atau mengembalikan nama baik keluarganya?


Hee Jin tertarik, dia bertanya apakah Bung Do sedang membicarakan Jang Hee Bin, Jang Ok Jung? Bung Do kaget Hee Jin tahu nama itu, Hee Jin menjelaskan bahwa Lady Jang sangat terkenal sebagai wanita yang hebat dan selalu disebut-sebut dalam sejarah. Bung Do bertanya apa yang membuatnya begitu dikenal? Hee Jin menjelaskan, bahwa Lady Jang awalnya hanya seorang pelayan, kemudian berhasil menjadi seorang Ratu kemudian diasingkan dan diracun sampai mati.

Bung Do kaget mendengar penjelasan Hee Jin. Dia pun membaca sejarah saat Tahta Ratu In Hyun dikembalikan dan Mentri Min Ahm dan Lady Jang dihukum mati dengan minum racun karena percobaan pembunuhan.

Hee Jin menatap Bung Do yang sedang membaca buku sejarah dengan takjub. Hee Jin berkata bahwa dia mengetahui semua itu baru-baru ini dalam drama. Ratu In Hyun dikembalikan ke tahtanya, lalu pengikut partai Soron dihapuskan, dan dimulailah kejayaan Partai Noron. Hee Jin menyimpulkan, berarti Bung Do adalah pengikut Partai Noron.

Bung Do tersenyum setelah membaca sejarah itu. Dia berkata bahwa dia sangat berharap ini buka mimpi, dia sangat bahagia karena hal ini. Meskipun semua itu akan terjadi beberapa bulan dari sekarang, dia sangat bersyukur semuanya diselesaikan dengan baik. Hee Jin berkata Bung Do sepertinya sangat bahagia karena hal ini ya?

Bung Do bertanya pada Hee Jin, apa yang dilakukan orang-orang disini untuk membagi kebahagian mereka (Aha,,, akhirnya pelajaran hidup modern pertama Hee Jin muncul juga nih,,,).
Hee Jin: “Hmm,, mungkin sesuatu seperti sebuah pelukan”.
Bung Do: “Bahkan di tempat seperti ini?”
Hee Jin: “Tentu saja”
Bung Do: “Bahkan Jika itu dilakukan antara Pria dan Wanita”
Hee Jin: “Apakah itu menjadi sebuah masalah?”
Bung Do tertawa mengetahui kenyataan itu, semuanya terasa berbeda dengan jamannya. Bung Do berkata: “Ini dunia yang sangat menyenangkan”.

Bung Do memeluk Hee Jin tanpa ragu untuk membagi kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Hee Jin yang tadinya kaget menerima perlakuan Bung Do,, lama-lama menjadi gugup, apalagi setelah Bung Do melepaskan pelukannya.

Bung Do lalu bertanya pada Hee Jin, “Jika dihari seperti ini, kau tidak memiliki seseorang untuk membagi kebahagiaanmu, Bukankah kau akan merasa kesepian? Terimakasih karena telah berada disampingku” Hee Jin tak mengatakan apapun dia terlalu gugup.

Bung Do menyadari keanehan  Hee Jin, dia bertanya apakah dirinya telah berbuat salah? Bukankah Hee Jin bilang itu tidak apa-apa?  Hee Jin akhirnya bereaksi dan berkata, “Kau,, pasti seorang ‘playboy kan di tempat asalmu?” Bung Do bingung karena dia tidak mengerti apa itu ‘playboy’. Hee Jin hanya tersenyum dan Bung Do membalas senyumannya.

Hee Jin minum air es, dia benar-benar tak mengerti dirinya sendiri, karena merasa terpikat pada pesona Bung Do. Hee Jin berkata pada dirinya sendiri bahwa rasa tertariknya itu adalah hal yang tidak masuk akal.


Sementara itu, di dalam ruang baca perpustakaan, Bung Do melanjutkan membaca sejarah. Dia membaca saat dirinya bertemu dengan Raja dan Mentri Min Ahm hari itu. Bung Do merasa takjub melihat namanya tertulis dalam sejarah.


 Hee Jin datang dan bertanya sampai kapan Bung Do akan menatap buku itu, dia harus pergi. Bung Do menjawab sebentar lagi. Bung Do lalu memperlihatkan namanya yang tertulis pada buku sejarah dengan perasaan gembira. “Kim Bung Do, ini adalah namaku. Tahun Gapsul, hari ke 10 bulan ke 3, adalah waktu ditempat aku hidup saat ini” Hee Jin mencoba memahami tahun yang diceritakan Bung Do.

Sekelompok pemuda menyadari kehadiran Hee Jin di perpustakaan. Hee Jin mendengar perbincangan para pemuda yang mengenali dirinya itu. Dia pun segera mengajak Bung Do pergi dari situ.

Bung Do heran, mengapa Hee Jin harus berbicara berbisik-bisik saat mereka meninggalkan ruang baca menuju Lift. Hee Jin berkata dia sangat terkenal, “Tidak kah kau mendengar sebelumnya? Aku terkenal karena aku sangat cantik,, Ah,,, aku tidak boleh difoto dengan orang lain” cemas Hee Jin. Sementara Bung Do bengong saja, tidak mengerti apa maksud Hee Jin.

Para pemuda tadi ternyata mengikuti Hee Jin. Mereka meminta tanda tangan Hee Jin, Hee Jin dengan ramah melayani mereka. Saat Lift tiba, Hee Jin semakin banyak dikerumuni orang-orang sementara Bung Do masuk duluan ke dalam Lift dan meninggalkan Hee Jin yang kerepotan menghadap para penggemarnya.

Pintu Lift kembali terbuka, Bung Do menarik Hee Jin dengan cepat untuk masuk kedalam Lift dan menutup Pintu Lift serta menekan tombol angka 1.

Saat Bung Do berkata bahwa sepertinya dia terbiasa menghadapi situasi seperti ini, Hee Jin hanya diam saja dan menatap tangannya yang digenggam erat oleh Bung Do.

Bung Do baru sadar dan meminta maaf karena kelancangannya, dia pun segera melepaskan tangan Hee Jin. Hee Jin langsung berkomentar, “Sudh ku bilang, kau memang seorang ‘playboy’ kan”. Bung Do jadi penasaran, apa sebenarnya arti ‘playboy’. Tapi Hee Jin tak menjawab. Bung Do meminta maaf, dia tidak tahu bahwa Hee Jin begitu terkenal, dan hingga membuat Hee Jin mengalami masalah seperti ini. Bung Do bertanya apakah akan timbul masalah jika orang-orang tahu Hee Jin sedang bersamanya? Hee Jin berkata, tentu saja, apalagi jika orang-orang tahu Hee Jin pergi bersama seorang stalker.

Bung Do mengeluarkan jimat dari saku celananya, dia berkata pada Hee Jin, bahwa Hee Jin tak perlu lagi membawanya sampai taman, dia akan pergi sendiri. Bung Do mengeluarkan jimatnya dan bersiap untuk membacanya. Hee Jin mulai panik dan bertanya, “Apakah kau akan menghilang saat ini?”. Bung Do berkata, dia sudah tahu tempat ini, jadi lain kali dia akan pergi sendiri ke tempat ini. Bung Do mengucapkan terima kasihnya pada Hee Jin. Saat Lift berhenti. Bung Do mulai membacakan mantra. Tapi Hee Jin mencegah Bung Do menyelesaikan mantranya dengan memegang tangan Bung Do, dan ini tentu saja membuat Bung Do kaget.

Pintu Lift terbuka, Bung Do bertanya ada apa. Hee Jin bingung harus berkata apa, dia malah menutup kembali pintu Lift. Hee Jin berkata, “Pria macam apa, yang tidak bersikap seperti pria. Seharusnya kau mengucapkan perpisahan sebelum pergi, kan?” Bung Do bingung dan bertanya, “Apakah ada etika seperti itu di jaman ini?”. Hee Jin menjawab “Tentu saja ada”.

Saat Pintu Lift akhirnya tertutup penuh, Hee Jin menarik kepala Bung Do dan mencium bibir lelaki itu. Sementara Bung Do hanya menatap kaget karena apa yang dilakukan Hee Jin tiba-tiba. Hee Jin melepaskan ciumannya.


Hee Jin: “Sekarang kau paham? Aku sedang mengajarkan Etika yang baik padamu.”
Bung Do: “Apakah itu adalah salah satu cara mengucapkan salam perpisahan disini?”
Hee Jin: “Iya benar sekali”
Bung Do: “Apa itu bisa dilakukan pada siapa saja?”
Hee Jin mengangguk dan dia berkata dia hanya ingin mengingatkan Bung Do, karena Bung Do sudah sampai di lantai dasar, maka Hee Jin akan mengantarnya ke taman.

Hee Jin segera keluar dengan gugup dari Lift. Sementara Bung Do menatap Hee Jin sambil tersenyum bahagia.

bersambung ke episode 5

Komentar:
Ha,, akhirnya bisa posting episode 4 juga,,, maaf ya lama,, aku masih terbuai sama episode 11 dan 12 drama ini,,, jadi Recaps nya sedikit terabaikan,,, Btw,, aku nulis recaps drama ini dengan hati,, jadi rada sedikit lama dan alot nulisnya,, sama kalo aku nulis sinopsisnya Take Care Of Us Captain dan Thorn Birds,, semoga Recaps ini ga tersendat seperti dua drama sebelumnya...

Aku sudah putuskan untuk tidak dulu berpaling pada drama baru,,, mau fokus dulu di Queen In Hyun's Man ini. Ada beberapa hal yang ingin aku bahas selain Recapsnya.

Sebenernya aku ingin ngebut lho,,, pengen cepet-cepet nulis episode 12,, tapi apa daya tangan tak sampai,,, jadi musti sabar deh,,, Salam Hangat Selalu buat Bung Do dan Hee Jin, aku pastikan kalian Pasangan Favorite-ku tahun ini,,,

Hmm,,, di episode ini, Hee Jin mulai ada rasa ya sama Bung Do, sampe berani nyium segala, mana pake alesan ngasih pelajaran lagi,,, dasar Hee Jin,, lama-lama dia beneran merusak iman Kim Bung Do yang polos dan alim itu deh,, sampe-sampe,,, ntarnya Bung Do,,, Ups,,, maaf hampir aja kasih Spoiler,,,
18 Komentar untuk "[Recaps] Queen In Hyun's Man Episode 4"

haduuuuuu,,,,seneng banget liat dua orang ini,,,sampe baca recapnya sambil senyum2 sendiri diriku ini,,,, ^^......lanjoooood,,,,,^^,,^^,,^^

kak irfaa,,film ini ud beredar lom d lapak??
bagus bgt,,pgn nonton lgsg deh
makacii sinopnya yaa

haduhh hee jin pelajarannya menyesatkan bagaimana kalo bung do ketemu saya dan kasih sy salam perpisahaan kan bisa keki eke ^^ setuju mba irfa mereka cocok banget jadi couple..

asyik sinop QIM eps 4 nya dah ada,,,, seru jg jd senyum2 sendir klo lht Bung Do sama Hee Jin

makasih mba irfa aq tunggu kelnjutannya jgn lama2 yacch..?heheheh :D

GBU...

Lanjuuut bu,,,
Seru jg bc sinop QIHM palagi liad dramana langsung :)
Gomawo,
Semangat irfa^^

Anyeong irfa..gomawo recapnya..
aahh baca recapnya jd pngen nontooon... :D
d koreanya dah nyampe epsd brpa,? dah tamat blom,,?

wah,, kurang tau yah,,,
dah lama ngak nengok lapak,,
kayaknya blm sih,, soalnya blm tamat..

kalo aku senyum2 sendirinya berkali-kali,,
pas nonton, pas ngerecaps,
pas ngecapture gambar,,,
dan pas baca juga tetep deh senyum2 sendiri

iya nih,, ajaran Hee Jin bikin sikap Playboy Bung Do makin menjadi,,
Yoon In Na dan Ji Hyun Woo cocok banget,, bahkan saat bukan scene drama pun mereka terlihat serasi,,,

semoga saja ga ada halangan untuk postingan episode selanjutnya ya,,

Liat dramanya lebih nampol mimu,,,
suka banget liat interaksi Hee Jin dan Bung Do,,
They Are too sweet,,,

Di korea-nya lom tamat,,
minggu ini masuk episode 13-14,,
Ayo,, ayo,,, nonton,,
makin banyak yang nonton drama ini
aku makin suka soalnya ngerasa jadi banyak temen yang suka,,

Aahh mau bget nontoon..
tp cma bisa nunggu bredar d abng lapak... :-\

makasih ya recapsnya...aku bener2 suka sama pasangan hee jin - bung do, hee jin yg ekspresif dan senyum bung do yg melelehkan...kangenin...:)

aish jadi ga sabar nunggu rabu & kamis

irfa dirimu g salh ilih klo bikin recaps,aku suka cerita nie, .....tp g tau ntr smp epi selanjtnya apakah penuh dgn persaingan, yg bikin menguras emosi

makasih recaps'a :D..
aq udah nonton sampe episode 12 .. cerita'a makin seruuu
walaupun yang episode 12 nonton tanpa sub >.< ,,

huuaa hee jin kenapa kau membuat bung do jadii ........ XD

salam kenal _Yui_ ^^

Blom lnjut lgi recapny irfa,? ;)
ga sabar nungguin recap dr irfa..mantaav :D

ada yg tau ga di episode ini yang didalam mobil ada lagu yg diputar kan, itu lagunya siapa ya?

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top