Kamis, 07 Mei 2015

Let's Eat 2 Episode 7 part 2



 
Dae Young menunggu Sang Woo di depan gedung pemerintahan untuk mengajaknya makan siang. Saat Sang Woo datang, Dae Young bertanya dimana mereka akan makan? Sang Woo berbisik mereka lebih baik pergi dulu saja, karena Sang Woo merasa tercekik berada disana. Belum sempat mereka pergi, Hong In Ah datang menyapa. Apakah Sang Woo dan Dae Young akan makan siang bersama? Bolehkah dia ikut? Sang Woo tidak mau, tapi saat Hong In Ah bertanya dia tidak bisa menolak. Akhirnya Hong In Ah menarik mereka berdua untuk makan bersama.


Hong In Ah protes, mengapa mereka harus makan Bayi gurita kecil? Padahal steak lebih baik dan bergizi. Dae Young yang mendengar hal itu langsung meradang, “Apa katamu? Bayi gurita kecil?” Hong In Ah bingung, Dae Young kembali bertanya apakah dia tidak tahu, jika di musim panas ada bayi gurita dan di musim gugur mereka akan gurita? Hong In Ah tidak tahu, begitu juga Sang Woo. Dae Young berkata, Soo Ji pasti tahu tentang hal ini.
 
Akhirnya dengan semangat 45, Dae Young pun menjelaskan tentang keunggulan makan bayi gurita di musim panas. Seperti kata pepatah, jika musim gurita, makanlah gurita. Makanlah makanan sesuai dengan musimnya, itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan gizi.

“Rasa bayi gurita di musim panas, pelaut menyebutnya rasa seni karena ini sangat kenyal. Karena bayi gurita ini memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah, Ini bisa melancarkan peredaran darah dan untuk dektosifikasi”

Apakah hanya itu saja? Hong In Ah merenggut dia tidak berani membantah sepatah katapun penjelasan Dae Young tentang Bayi gurita.

“Bagi wanita muda, ini adalah makanan diet dengan kalori yang rendah. Bagi wanita hamil, ini sumber zat besi terbaik. Di musim panas, ini adalah tonik terbaik. Jadi, berdasarkan fakta-fakta itu, apakah steak lebih baik daripada bayi gurita?”

Bukannya menjawab, Hong In Ah malah berkata dia merasa ketakutan, hahaha Sang Woo hanya tersenyum karena dia sebelumnya pernah mendengar penjelasan berapi-api Dae Young dan berinisiatif mengajak mereka makan saja.

Sang Woo tampak takjub dengan masakan Bayi gurita yang terjadi, Dae Young mengatakan Bayi gurita cocok dimakan dengan perut babi. Mereka pun mulai makan dengan nikmat masakan bayi gurita yang tersaji dengan nikmat. Bahkan Hong In Ah yang tadinya menyepelekan masakan itu pun tampak menikmatinya dengan lezat.

Menu selanjutnya, Sup Bayi Gurita. Rebusan Bayi Gurita yang dicampur dengan kerang akan membuat sup nya menjadi lebih segar. Dae Young tampaknya sangat menikmati sup tersebut.

Ada juga dumpling rasa bayi gurita. Hong In Ah tidak pernah tahu jika ada makanan selzat itu. Dia pun mengambil satu dumpling, memotongnya jadi dua dan menambahkan saus di atasnya, kemudian memakannya dengan sangat nikmat. Dae Young juga mencoba dumpling rasa bayi gurita dengan cara yang berbeda, memakannya tanpa memotongnya terlebih dahulu, langsung menggigit pangsit itu dan memotongnya dengan giginya. Dan itu pun tampak sangat lezat.

Saat mereka masih asyik makan, tiba-tiba datang seorang gadis muda yang memanggil Eonni pada Hong In Ah. Dia duduk disampingnya. Itu adalah Min Ah, adik Hong In Ah yang sebelumnya pernah berkencan buta dengan Sang Woo. Tampaknya Sang Woo kaget dengan kedatangan Min Ah, dan bertanya apa yang membawanya datang kesana? Hong In Ah berkata Min Ah datang untuk menjemputnya, tapi dia datang terlalu cepat.

Min Ah malah berkata, sebenarnya dia datang untuk menemui Sang Woo. Hah? Sang Woo tampak bingung dan kaget. Dae Young jadi penasaran siapa gadis itu? Sang Woo memperkenalkan Min Ah sebagai adik Hong In Ah. Mereka saling bertukar kartu nama, Dae Young takjub dengan pekerjaan Min Ah, tapi Min Ah sama sekali tidak tertarik mendengar apa pekerjaan Dae Young dan mengabaikannya, dia berkata merasa lapar juga, apakah dia boleh ikut makan? Dae Young tampak kesal, tapi tidak bisa berkata apapun.

Mereka melanjutkan makan, dan disela-sela menikmati makanan, Min Ah berkata Sang Woo pasti sangat sibuk yah akhir-akhir ini? Karena sejak pertemuan pertama mereka Sang Woo tidak pernah menelponnya. Dae Young langsung waspada, apalagi saat Min Ah berkata dia sangat cemas menunggu telepon dari Sang Woo.

Hong In Ah jadi tidak enak, dan meminta maaf karena Min Ah terlalu menunjukkan perasaannya. Dia terlalu lama tinggal di luar negeri. Hong In Ah mengingatkan Min Ah, jika mereka ada di Korea, dimana seorang wanita harus tahu bersikap malu-malu. Min Ah protes, apakah dia tidak boleh menunjukkan perasaannya? Jika memang suka maka ingin bertemu lagi, itu adalah hal yang biasa kan? Sang Woo tampak tidak nyaman dengan pendapat Min Ah dan bingung juga mau menanggapi apa.

Selesai makan, Min Ah dan Hong In Ah segera pamit. Sebenarnya Min Ah sangat sibuk, namun demi menemui Sang Woo dia datang jauh-jauh ke Sejong. Min Ah meminta Sang Woo menelponnya, dia akan menunggu. Sang Woo terpaksa mengiyakan saja.

Dae Young takjub dengan keberanian Min Ah, pasti Sang Woo merasa tidak nyaman dengan hal itu yah? Tidak juga, saat usianya 20 tahunan, mungkin perempuan yang malu-malu itu sangat menggemaskan, tapi sekarang terlihat membosankan, jadi jika dipikir-pikir mungkin Sang Woo menyukai tipe wanita yang pemberani dan to the point.

Akh.. seharusnya Sang Woo sejak awal mengatakan pada Dae Young jika tipe wanitanya adalah yang pemberani. Memangnya kenapa? Apakah Dae Young memiliki kenalan wanita yang berani untuk diperkenalkan pada Sang Woo? Tidak ada sih, Sang woo merangkul leher Dae Young dan memelintir kepalanya sambil berkata sebaiknya Dae Young belajar mengoper bola saja, besok mereka akan bertanding kan? Awas saja jika operan Dae Young masih jelek.

Soo Ji buru-buru pergi ke minimarket, tapi dia malah melihat kemesraan Joo Seung dan Hye Rim. Soo Ji tampak tidak senang karena sebelumnya berpikir Joo Seung menyukainya, benar-benar penipu. 

Dae Young datang dan berniat membicarakan Min Ah, tapi Soo Ji menyela dan memberitahu Dae Young jika yang disukai Joo Seung dalah Hye Rim. Soo Ji menyalahkan Dae Young yang berspekulasi mengatakan Joo Seung menyukai Soo Ji, hampir saja Soo Ji mempermalukan dirinya di depan Joo Seung.

Jadi itu salah Dae Young lagi? Padahal kan Soo Ji sendiri yang berinsiatif untuk menghentikan perasaan Joo Seung padanya. Tapi yah… Sepertinya Soo Ji benar-benar merindukan seorang pria. Ada yang perhatian sedikit, dia langsung menyalah artikannya. Di luaran sana banyak yang lebih muda, cantik dan tubuhnya lebih bagus yang akan membuat pria berpaling darinya.

Dae Young jadi tidak enak untuk membicarakan Min Ah pada Soo Ji, maka saat Soo Ji bertanya apa yang akan Dae Young sebelumnya, dia hanya berkata bahwa tipe wanita kesuakaan Sang Woo adalah yang pemberani dan to the point. Jadi mulai sekarang Soo Ji harus melakukan segalanya dengan berani. Soo Ji langsung kegirangan mendengarnya. Tapi bagaimana cara dia untuk menjadi berani? Yang pokoknya Berani saja!

Soo Ji meneruskan menulis novel dengan catatan yang dia temple di Laptopnya, “Untuk Sang Woo yang menunggu Novelku” Soo Ji kemudian mengingat kata-kata Dae Young tentang menjadi wanita yang berani. Dia mulai membayangkan sebuah skenario di dalam kepalanya.

Sang Woo masuk ke dalam Lift di gedung pemerintahan, saat Lift akan tertutup seseorang menghalangi pintu Lift dengan tangannya, orang itu adalah Soo Ji dengan penampilannya yang berbeda dari biasanya. Rambutnya panjangnya di buat lurus dengan lipstick merah merona di bibirnya serta sebuah pakaian resmi yang lain dari biasanya.

Soo Ji masuk ke dalam lift sambil menatap lurus kea rah Sang Woo yang tampak kaget dengan kehadirannya. Sang Woo bertanya mengapa Soo Ji sudah datang padahal pertemuan mereka jam 2 siang? Soo Ji langsung menyudutkan Sang Woo ke dinding lift dan membuat Sang Woo tampak ketakutan.

Soo Ji menunjukkan sebuah draft yang dia bawa lalu berkata, “Petugas Administratif, Tidak… maksudku Sang Woo-ssi… Ini adalah novelku. Aku menyelesaikannya hanya dengan memikirkanmu” Sang Woo kaget dan masih tampak sedikit ketakutan. Soo Ji meneruskan kata-katanya, “Sebenarnnya sudah lama aku menyukaimu. Tapi selama ini aku menyembunyikannya seperti orang bodoh” Soo Ji semakin mendekati Sang Woo dan berkata, “Sekarang aku tidak ingin menyembunyikan perasaanku lagi” 

Sang Woo kemudian tersenyum dan memegang kedua lengan Soo Ji dan berterimakasih karena Soo Ji sudah begitu berani. Dia menyukai sikap berani Soo Ji, mendengar hal itu Soo Ji langsung beteriak kegirangan hahaha…

Tapi yah… semua itu hanya khayalan Soo Ji untuk novelnya. Dia menyemangati dirinya untuk segera menyelesaikan novelnya dan meminta pendapat pada Sang Woo sehingga mereka akan menjadi semakin dekat. Saat Soo Ji akan meneruskan menulis novelnya, terdengar suara tawa Dae Young dari rumahnya. Soo Ji kesal dan mengecek keluar, ternyata pintu rumah Dae Young tidak tertutup dengan benar karena terhalang sandal.

Soo Ji masuk ke rumah Dae Young dan berkata jika Dae Young mau berisik dia seharusnya menutup pintunya dengan benar, karena tawa Dae Young, Soo Ji tidak bisa berkonsentrasi menulis novelnya. Ternyata Dae Young tertawa karena sedang membaca komik. Dae Young minta maaf pada Soo Ji dan meneruskan membaca komik.

Saat melihat tumpukan komik yang sedang di baca Dae Young, Soo Ji langsung tertarik, “Yak! Apakah itu Slam Dunk?” Dae Young mengingatkan komik jama SD mereka itu. 

Soo Ji langsung duduk dan memutuskan ikut membaca. Dae Young bertanya bukankah Soo Ji sedang menulis novelnya? Dia sedang mencari bahan, seorang penulis harus banyak mendengar, melihat dan membaca. Dae Young tidak bisa membantah lagi.

Soo Ji mengambil jilid pertama dan mulai membacanya, dia juga meminta Dae Young segera menyelesaikan jilid ke-2 nya karena dia ingin segera membacanya juga. Jilid demi jilid mereka selesaikan hingga mereka akhirnya membaca Jilid yang sama berbarengan. Soo Ji membaca komiknya dengan cepat sementara Dae Young agak lambat dan minta halamannya kembali di balik. Soo Ji sedikit kesal, memangnya Dae Young sedang menghapalnya? Bacalah lebih cepat!

Dengan terpaksa Soo Ji kembali membalik halamannya dan membiarkan Dae Young menyelesaikan membaca halaman itu. Soo Ji yang menunggu jadi memperhatikan pisang yang tergantung di dekat jendela Dae Young. Apa itu? Dae Young berkata dia sedang menipu pisang. Menipu apa?

Bagi orang yang tinggal sendirian, membeli satu sisir pisang itu terlalu banyak. Sangat sulit menghabiskannya sebelum membusuk dan akhirnya akan membuangnya. Soo Ji tidak setuju, jika dia membeli satu sisir dia akan langsung menghabiskannya, itu lah sebabnya dia tidak lagi membeli pisang karena itu tidak baik untuk dietnya.

Dae Young meluruskan, orang normal tidak bisa memakan satu sisir pisang dalam sekali duduk. Nah, jika di gantung seperti itu pisang akan merasa dia masih berada di pohonnya dan akan selalu segar untuk dimakan. Soo Ji tidak percaya. Dae Young meminta Soo Ji membuktikannya, coba saja. Soo Ji beranjak dan mengambil dua pisang, satu untuknya, satu untuk Dae Young. Dia tidak percaya Dae Young membeli pisang itu seminggu yang lalu karena masih terasa segar.

Soo Ji dan Dae Young melanjutkan komik sambil memakan pisang bersama. Mereka sempat berdebat tentang halaman yang mereka baca dan akhirnya keasyikan hingga lupa waktu. Bahkan Dae Young tidak menyadari jika ponselnya terus berbunyi karena Sang Woo menelpon untuk mengajaknya bersepeda bersama.

Paginya, Dae Young bersiap untuk pergi bermain bola bersama Sang Woo, namun dia mendapat telepon dari Sang Woo yang mengatakan jika Sang Woo tidak bisa pergi karena sakit flu. Dae Young berpikir sejenak dan langsung menekan bel rumah Soo Ji dengan tidak sabaran.

Soo Ji keluar dengan kesal, karena Dae Young menganggunya yang sedang menulis novel. Itu bukan hal yang penting saat ini. Dae Young memberitahu Soo Ji jika Sang Woo sakit. Tentu saja Soo Ji langsung merasa khawatir, apakah Sang Woo dibawa ke UGD. Tidak separah itu, Sang Woo hanya terkena flu, tetap saja Soo Ji khawatir dan merasa kasihan pada Sang Woo. Dae Young merasa Soo Ji berlebihan.

Sakit saat hidup sendirian itu sangat menyiksa, Soo Ji meminta Dae Young untuk pergi ke rumah Sang Woo dan merawatnya. Dae Young merasa Soo Ji bodoh, ini adalah kesempatannya. Apakah Soo Ji lupa untuk menjadi wanita berani. Ini adalah waktunya Soo Ji membawakan bubur dan obat untuk Sang Woo.  Benar juga yah, Soo Ji langsung berterimakasih pada Dae Young.

Soo Ji masuk ke dalam rumah dan mencari cara membuat bubur, namun dia ragu apakah rasanya akan enak jika dia membuatnya seperti yang tertulis di resep? Soo Ji kemudian teringat pada Nenek Lee dan pergi ke rumahnya. Soo Ji meminta Nenek Lee untuk mengajarinya membuat bubur. Ada temannya yang sakit, dia ingin memberikan bubur tapi sebelumnya dia tidak pernah membuat bubur.

Nenek Lee dengan senang hati mau mengajari Soo Ji dan mempraktekan cara membuat bubur sementara Soo Ji akan merekamnya. Nenek Lee membuat bubur dengan beras yang sudah dia rendam sebelumnya dan abalone yang dari putrinya. Karena membuat bubur dengan abalone itu akan lebih baik.

Les membuat bubur pun dimulai, “Masukkan beberapa minyak wijen setelah pancinya panas. Lalu tumis potongan abalone termasuk isi perutnya. Saat hampir matang, tambahkan nasi setengah matang dan tumis. Saat berasnya hampir matang, tambahkan air. Lalu besarkan api kompornya dan terus aduk sampai mendidih”


Setelah beberapa saat, akhirnya buburnya jadi juga. Soo Ji tampak kegirangan melihat bubur yang kelihatannya enak saat Nenek memasukannya ke dalam wadah. Sebaiknya Soo Ji tidak perlu memasak lagi, dia bisa menggunakan bubur yang dibuat Nenek Lee. Soo Ji sangat senang dan beterimakasih pada Nenek. Saat akan pergi Nenek meminta Soo Ji membayar buburnya dengan harga 30 dolar. Soo Ji kaget, dia pikir itu gratis. Itu adalah harga uang jasa dan bahan-bahannya, abalone itu sangat mahal. Walau terlihat bingung Soo Ji akhirnya membayar juga.

Soo Ji bersiap-siap untuk menjenguk Sang Woo, memilih pakaian cantik bahkan memutuskan menggunakan sepatu yang jarang-jarang dia pakai. 

Tapi perjalanan ke rumah Sang Woo bukanlah hal yang mudah, Soo Ji kena macet di jalan saat pergi kesana dengan menggunakan bus. Soo Ji tampak agak menyesal, karena tidak menggunakan taksi, dia takut buburnya menjadi dingin. Akhirnya Soo Ji memeluk bungkusan yang berisi bubur dan obat itu.

Sang Woo terkulai lemah di tempat tidurnya, dia sedang tidur saat mendengar bunyi bel. Perlahan Sang Woo terbangun dan dengan badan yang lemas dia memaksakan diri untuk membukakan pintu. Soo Ji pun sedang menunggu di depan pintu, tapi… yang membuka kan pintu untuk Soo Ji adalah Dae Young.

Dae Young bingung mengapa Soo Ji ada disana? Apakah dia tidak pergi menjenguk Sang Woo? Dia sudah pergi, tapi menitipkan bubur dan obatnya pada Satpam. Kenapa tidak langsung memberikannya? Soo Ji tidak ingin Sang Woo bingung dengan kedatangannya yang tanpa pemberitahuan. Tapi kan Sang Woo sedang sakit, seharusnya Soo Ji melihatnya dengan langsung, itu adalah pendapat Dae Young.

Apakah Dae Young tidak tahu Sang Woo itu orangnya bagaimana? Dia memisahkan pekerjaan dan urusan pribadi, pasti tidak nyaman baginya jika Soo Ji melihat Sang Woo dalam keadaan pucat dan sakit. Ya memang benar juga sih, Dae Young merasa Sang Woo memang orang yang seperti itu. Soo Ji memberikan bubur pada Dae Young karena dia memiliki banyak sisa, dia tidak bisa menghabiskannya sendirian. Walaupun Soo Ji memberikan bubur itu bukan karena ingin membalas kebaikannya, Dae Young tetap berterimakasih.

Satpam di Apartemen Sang Woo memberikan bungkusan yang berisi bubur dan obat pada Sang Woo. Dia mengatakan seorang gadis menitipkan ini padanya, Sang Woo bingung siapa yang mengirimkan bubur dan obat itu untuknya?

Nenek Lee membawakan makan siang untuk Joo Seung, lagi-lagi Joo Seung tidak ada. Dimana Joo Seung? Tentu saja sedang membantu Hye Rim di minimarket. Hye Rim penasaran pada Joo Seung, sepertinya Joo Seung berbohong tentang umurnya. Joo Seung kaget dan menjatuhkan barang yang sedang di pegangnya. Hye Rim merasa kulit Joo Seung terlalu bagus untuk seorang pria berusia 30 tahun, lembut seperti bayi. Joo Seung pasti tidak pernah minum dan merokok yah?

Hye Rim mengusulkan agar Joo Seung membuat beauty blog juga seperti dirinya. Caranya sangat mudah kok, Joo Seung tinggal memakai sebuah produk dan mengambil foto selfie. Hye Rim mengajak Joo Seung untuk berfoto dengan ponselnya, saat menyadari hal itu, Joo Seung tiba-tiba panik da begitu saja mendorong Hye Rim.

Joo Seung yang baru sadar dengan apa yang di lakukannya, mengatakan jika dia merasa jelek untuk di foto. Hye Rim mengerti, namun dia berkata bahwa Joo Seung tidak jelek, dia tampan kok. Mendengar pujian dari Hye Rim, Joo Seung pun langsung tersenyum kegirangan.

Nenek curhat pada Ahjuma karena Joo Seung terus menghilang, tapi Ahjuma Kim salah paham bahwa yang dibicarakan Nenek adalah saus kacang, setelah tahu itu adalah Joo Seung, Ahjuma merasa lega dan berkata dia mungkin stres karena tidak lulus ujian PNS. Ahjuma Kim pun menyinggung tentang ujian jadi polisi, mungkin Joo Seung bisa mengikuti ujian tersebut.

Saat keluar dari kantor realestate, Nenek Lee bertemu dengan Taek Soo. Teringat Taek Soo adalah mantan detektif, Nenek Lee meminta Taek Soo ikut besamanya. Nenek memberi Taek Soo bubur buatannya dan dia terlihat makan dengan lahap hingga bubur-buburnya berceceran ke baju. Nenek yang memang terlihat ingin menahan Taek Soo memaksanya untuk membuka baju agar dia bisa mencucinya, namun dia melihat Joo Seung kembali.

Nenek pun meminta Taek Soo untuk ikut bersamanya ke atap. Menemui Joo Seung. Saat Nenek mengenalkan Taek Soo sebagai detektif, Joo Seung langsung waspada dan bersiap mengambil benda tajam. Nenek berpikir Joo Seung bisa mengikuti ujian polisi jika Taek Soo mengajarinya karena dulunya dia mantan detektif. Taek Soo mengatakan dia tidak pernah lulus ujian, dia masuk ke akademi polisi dan menjadi petugas keamanan untuk beberapa waktu sebelum jadi polisi.

Merasa kesal dan tampaknya menyesal memberi bubur untuk Taek Soo, dia pun memaksa Taek Soo untuk bekerja sebagai cara membayar buburnya. Nenek memaksa Taek Soo memberi pupuk pada tanamananya. Dia juga menyuruh Joo Seung melakukan itu agar dia lebih banyak bergerak. Tidak ada yang bisa membantah Nenek Lee, meski terlihat enggan mereka melakukannya juga.

Joo Seung masuk kedalam kontainernya karena merasa kelelahan setelah bekerja. Dia meluruskan punggungnya dengan berbaring, namun dia terbangun dan langsung mengecek jadwal ujian tes kepolisian. Tiga kali ujian? Joo Seung tampaknya tidak ingin melakukannya, tapi… dia merasa menjadi petugas kepolisian itu keren dan dia melakukan gerakan menembak “Bang” Dia memasang wajah misterius dan teringat panggilan Hye Rim untuknya, “Oppa?” Joo Seung mengulanginya beberapa kali dan tersenyum menakutkan.

Dae Young datang ke Apartemen Sang Woo, saat Sang Woo sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Sang Woo berterimakasih pada orang yang sedang di telepon karena mengirimkan bubur dan mengajaknya untuk bertemu di akhir pekan.

Dae Young bertanya apakah Sang Woo menikmati buburnya? Ya, ternyata Min Ah pandai memasak. Dae Young bingung, siapa? Min Ah, adiknya  Hong In Ah, Dae Young juga sudah bertemu dengannya kan? Sang Woo tidak tahu dari mana Min Ah tahu dia sakit. Min Ah datang dan memberikan bubur dan obat kepada satpam.

Apakah Sang Woo berpikir benar-benar Min Ah yang mengirimkannya? Ya,  Satpam memberikan bubur dan obat padanya dan mengatakan seorang wanita muda meninggalkannya tanpa menyebutkan nama. Sang Woo berpikir siapa yang mengirimnya dan Min Ah menelpon bahwa dia yang memberikannya.

“Wow, gadis itu benar-benar mengagumkan”  Dae Young merasa takjub. Sang Woo juga setuju, biasanya Min Ah itu jujur dan berani jadi dia tidak pernah berpikir bahwa Min Ah akan memberikan kejutan yang manis seperti itu, benar-benar tidak terduga.

Tapi bukan itu maksud Dae Young. Bukan Min Ah yang membawakan bubur dan obat itu. “Itu Soo Ji, Baek Dweaji, Dasar Bodoh! Bagaimana bisa dia pergi tanpa meninggalkan nama?”  Dae Young tampak sangat kesal.

“Kenapa Penulis Baek melakukan itu?” Sang Woo bertanya dengan bingung. Dae Young yang sedang kesal jadi kelepasan, “Itu karena dia menyukaimu, Hyung!” Sang Woo tampak bingung dan sedikit kaget, “Apa?” Dae Young merasa sudah salah bicara, tapi mau bagaimana lagi, dia terlanjur mengatakan rahasia Soo Ji pada Sang Woo.

Bersambung ke episode 8

***

Joo Seung bener-bener misterius, dia itu kenapa sih? Takut sama detektif,  Trus gak mau di foto pula, pasti bukan karena dia merasa jelek kan? Apa mungkin dia kriminal, tapi kok dia mau ikut ujian polisi? Trus sepertinya dia orangnya agak obsesif juga yah? Seneng banget sepertinya dipanggil Oppa sama Hye Rim.

Yah.. Dae Young keceplosan deh, Sang Woo pasti jadi gak enak hati deh. Tapi keceplosannya Dae Young membawa berkah sih sebenernya, walo Soo Ji harus bersakit-sakit dahulu di episode 8. Min Ah itu annoying banget sepertinya yah? Kok bisa dia ngaku-ngaku kalau dia yang kirim bubur dan obat itu, ckckck sama annoyingnya dengan Hong In Ah, kakak beradik kompak bener, heu…

Cuma mau komen, aku suka sekali style nya Seo Hyun Jin sebagai Soo Ji, fashion nya unik aja sih, dan cocok gitu sama dia, biasanya aku tidak memperhatikan fashion di drama, tapi karena sempat khawatir apakah aku siapa melihat lagi Seo Hyun Jin dalam pakaian modern, aku jadi agak merhatiin hehehe… Setelah terbiasanya melihat Hyun Jin pake hanbook, agak aneh awalnya melihat dia dalam style modernnya, tapi ternyata Fashionnya Baek Soo Ji membuat Seo Hyun Jin menjadi tampak lebih bersinar dimataku hehe^^

*written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^