Let's Eat 2 Episode 11 part 1



Soo Ji dan Dae Young meneruskan perjalanan menuju puncak gunung. Soo Ji berjalan dengan aneh menghindari berbagai tanaman di hadapannya. Apa yang Soo Ji lakukan? Soo Ji alergi Pohon Eout, dia langsung gatal bahkan dengan menyentuhnya sedikit saja. Dae Young tidak habis pikir lalu mengapa Soo Ji setuju untuk pergi backpacking ke gunung? Itu karena Sang Woo menyukainya.


Heu… apakah Soo Ji begitu menyukai Sang Woo? Dae Young bertanya dengan kesal. Apakah jika dia mengatakan bahwa dia adalah pencuri, Soo Ji bahkan akan memasukannya ke dalam kamarnya? Soo Ji kesal mendengar pertanyaan Dae Young, dia begitu kelelahan, tapi Dae Young malah mengajaknya berdebat. Jadi kenapa Dae Young datang jika hanya ingin mengajaknya berdebat?

Siapa yang kemarin memohon padanya untuk datang? Lagi pula, Dae Young tidak datang untuk mengikuti Soo Ji dan Sang Woo kok! Dae Young mengembalikan tas ransel Soo Ji dengan kesal dan pergi duluan meninggalkan Soo Ji.

Soo Ji melanjutkan perjalanan seorang diri dengan kelelahan, merasa tidak yakin dengan jalan yang dilaluinya Soo Ji mencari tempat bertanya, dia melihat para Ahjussi yang sedang minum dan mencoba bertanya apakah jalan menuju tempat tujuannya sudah benar atau belum? Bukannya menjawab, para Ahjussi itu malah mengajaknya minum bersama, Soo Ji sudah menolak, namun si Ahjussi begitu memaksa sambil menarik-narik tangannya membuat Soo Ji sangat tidak nyaman.

Beruntung Dae Young datang dan bertanya apa yang sedang dilakukan Ahjussi itu? Ahjussi tampak kecewa, harusnya Soo Ji bilang kalo datang bersama pacarnya. Soo Ji berniat menyangkal, tapi Dae Young menariknya menjauh dari sana.

Soo Ji merasa kesakitan karena tarikan Dae Young, maka Dae Young pun melepaskannya dengan canggung. Soo Ji pikir Dae Young meninggalkannya, ternyata tidak. Soo Ji merasa kesal, sangat sulit bagi wanita lajang hidup di Negara mereka. Apakah wanita lajang tidak bisa mendaki? Dae Young berkata sebaiknya Soo Ji jangan mengomel saja, dan ikut dengannya. Dae Young jalan lebih dulu, Soo Ji masih mengomel hingga tidak melihat jalan dan menabrak sebuah tanaman, Soo Ji langsung waspada karena alerginya.

Dae Young pun berkata jika hingga persimpangan di depan tidak ada pohon Eout, Soo Ji langsung merasa terharu, ternyata Dae Young melihat sekeliling hanya demi dirinya. Apakah Soo Ji tidak punya mata? Dae Young merasa Soo Ji jadi terkena ‘penyakit putri’ sejak berkencan. Dae Young pergi meninggalkan Soo Ji dan Soo Ji mengejarnya.

Nenek Lee sedang memberi makan Happy saat Hye Rim keluar Villa untuk pergi kerja sambilan. Hye Rim minta maaf karena tidak segera pergi setelah satu hari. Nenek tidak mempermasalahkan hal itu dan mengatakan Hye Rim bisa tinggal hingga dia mendapatkan tempat tinggal. Yang penting Hye Rim tidak pergi ke Sauna, karena nanti Joo Seung akan kesana juga. Tapi tentu saja tidak gratis. Hye Rim senang sekali dan berkata dia akan ikut membayar biaya hidup, dan setelah mendapat gaji dari kerja sambilannya dia juga akan membayar setengah dari uang sewa.

Bagi Nenek, tidak masalah jika Hye Rim hanya membayar sepertiganya saja, asalkan Hye Rim berbicara pada Joo Seung. Sepertinya Joo Seung lebih mendengarkan kata-kata Hye Rim dibanding kata-kata Nenek. Usia Joo Seung tidak muda lagi, dia terus tidak lulus ujian, apakah dia akan selamanya tinggal di dalam container yang ada di atap untuk terus belajar? Nenek meminta Hye Rim mengatakan pada Joo Seung agar lebih rajin belajar. Hye Rim mengerti, dia akan mengatakan hal itu pada Joo Seung.

Tentang Ahjuma pemilik Villa, Nenek juga merasa harus mengatakan tentang keberadaan Hye Rim yang akan tinggal untuk sementara bersamanya. Bagaimana jika Ahjuma tidak menyukainya?  Nenek Optimis Ahjuma Kim bukan orang seperti itu, dia pasti mendengarkan kata-katanya. Hye Rim merasa lega mendengarnya.

Nenek melihat Ahjuma Kim mendekat kea rah Villa, Hye Rim pun merapikan penampilan untuk memberi salam, namun dia kaget saat menyadari Ahjuma Pemiliki Villa adalah Ahjuma yang dia bentak tempo hari. Hye Rim langsung merasa pesimis. Dia memberi salam pada Ahjuma Kim namun disambut tatapan dingin saat melihat siapa Hye Rim. Tanpa basa basi, Hye Rim langsung pamit untuk pergi bekerja.

Ahjuma Kim bertanya apakah Nenek mengenal gadis yang barusan itu? Ahjuma Kim jelas menunjukkan rasa tidak sukanya, memangnya kenapa? Ahjuma Kim berkata jika Hye Rim adalah gadis yang berkata kasar padanya sambil melotot, heu… anak muda jama sekarang. Kenapa Hye Rim ada disana? Apakah dia tinggal didekat Villa, Ahjuam berharap dia tidak bertemu dengannya lagi.

Nenek penasaran, sepertinya Ahjuma Kim sangat tidak menyukainya? Nenek tidak tahu apapun, bahkan jika Hye Rim berkata akan pindah ke Villa nya dan dia memiliki kamar kosong, dia tidak akan mengijinkannya. Nenek yang tadinya ingin mengatakan Hye Rim tinggal sementara bersamanya, langsung mengurungkan niatnya.

Joo Seung menunggu Hye Rim untuk pergi ke toko Mie bersama, dia kebetulan lapar dan ingin makan Mie disana. Hye Rim bertanya jika Ahjuma dan Nenek berdebat siapa yang akan menang? Biasanya Nenek, karena dia lebih tua dan selalu tepat waktu membayar Sewa. Hye Rim senang, itu artinya dia bisa tinggal bersama Nenek lebih lama lagi. Joo Seung lalu berkata, jika kasusnya seperti itu, Ahjuma tidak akan menyerah begitu saja.

Hye Rim mendapat telepon dari Nenek dan terlihat sedih. Apa yang terjadi? Hye Rim mengatakan pada Joo Seung jika Nenek menyuruhnya untuk tinggal tanpa sepengetahuan Ahjuma Kim, jadi Hye Rim harus lebih berhati-hati. Joo Seung sudah menduga hal itu, dia kembali menawarkan untuk menyewakan tempat tinggal pada Hye Rim. Namun Hye Rim menolak, dari pada itu, lebih baik Joo Seung lebih rajin belajar, dengan begitu Joo Seung sudah menolong Hye Rim.

Dae Young dan Soo Ji akhirnya tiba di puncak. Dae Young merasa itu sangat menakjubkan, tapi Soo Ji yang kelelahan setengah mati tidak merasakan hal itu. Dia malah menatap orang memakan mentimun dan berkata pasti mentimun itu sangat enak.

Dae Young bertanya apakah Soo Ji tidak membawa makanan? Dia mengambil tas Soo Ji dan memeriksanya, untuk apa Soo Ji membawa pakaian sebanyak itu untuk pergi ke gunung? Memangnya Soo Jim au fashion show? Soo Ji hanya berjaga-jaga, bukan itu saja, dia juga membawa kantong tidur, perlengkapan mandi dan make up. Dae Young tidak habis pikir mendengarnya. Akh… di bawah tadi banyak yang menjual  nasi dan kue beras, harusnya Soo Ji membelinya beberapa. Dae Young memberi usul agar mereka ke area perkemahan saja dulu, siapa tahu ada yang menjual makanan disana. Soo Ji langsung senang mendengarnya.

Sayang sekali tidak ada yang berjualan makanan di area perkemahan. Soo Ji terlihat sangat kecewa. Dae Young tidak mengerti mengapa Soo Ji tidak membawa makanan saat akan berkemping, apakah Soo Ji tidak tahu inti dari berkemping adalah Barbeque? Sang Woo bilang dia yang akan mempersiapkan hal itu. Dae Young langsung berkomentar, bagaimana Soo Ji bisa mempercayai orang yang hanya makan ramen cup saat pergi ke India? Bahkan jika dia memang mempersiapkannya pasti hasilnya akan sangat buruk.

Dae Young langsung bersiap untuk menelpon. Soo Ji yang bepikir Dae Young akan menelpon Sang Woo langsung mencoba mencegahnya dan meminta Dae Young untuk tidak menganggunya yang sedang  bekerja. Bukan Sang Woo kok yang akan Dae Young telepon. Karena maraknya orang yang hobi berkemah, di Korea usaha yang menyediakan delivery service perlengkapan kemah, termasuk juga perlengkapan BBQ.

Negara mereka memiliki julukan “negara Delivery Service” bukan tanpa alasan. Setelah teleponnya tersambung, Dae Young mengatakan lokasi perkemahan mereka dan memasan paket BBQ dan tak lupa dia juga memesan bir. Soo Ji takjub, bahkan mereka juga bisa mengirimkan bir? Tentu saja. Soo Ji kini merasa lega dan bisa duduk dengan tenang.

Sang Woo tiba di kantor, dia langsung memeriksan berkas bersama Hong In Ah, inpeksi mendadak dari pusat itu membuat semua orang sibuk. Hong In Ah memperhatikan pakaian Sang Woo, apakah dia dari gunung? Melihat Sang Woo tidak pulang ke Seoul di akhir pekan sepertinya Sang Woo pergi bersama seseorang? Sang Woo membenarkan dengan gugup. Namun dia juga bertanya mengapa Hong In Ah cepat sekali tiba, di akhir pekan seperti ini jalan di Seoul pasti macet kan? Oh itu… Suaminya yang datang ke Sejong, padahal ini hari yang langka, tapi mengapa ada inpeksi mendadak seperti ini?

Paket kemah Dae Young tiba dan Soo Ji kaget melihat tenda yang di sewa Dae Young, ukurannya cukup besar untuk digunakan seorang diri. Dae Young berkata, dia sudah tinggal di Villa yangkecil, masa saat memesang tenda pu n harus yang kecil juga. Dae Young melihat tenda Soo Ji yang sudah terpasang dengan rapi dan berkata, “Jika itu adalah Villa Sejong maka ini adalah Istana Hannamdong” Setidaknya saat berkemah Dae Young ingin merasakan kenyamanan tidur di istana, hahaha.

Soo Ji tidak berkomentar lagi dan duduk dengan tenang memperhatikan Dae Young yang tampak kebingungan untuk memasangkan tendanya. Soo Ji pun mengejek, apakah ini pertama kalinya Dae Young berkemah? Dia tidak tahu cara memasang tenda kan? Soo Ji berbangga diri, jika semalam dia sudah berlatih sedikit agar terlihat bagus di depan Sang Woo, Soo Ji pun membantu Dae Young memasang tendanya.

Tenda Dae Young sudah terpasang dengan rapi, Soo Ji merasa takjub dengan kemampuannya itu dan dia pun ingin mencoba tendanya, bahkan tanpa persetujuan Dae Young. Soo Ji masuk kedalam tenda dan merasa begitu nyaman, dia bangga dengan hasil kerjanya. Dae Young pun masuk ke dalam tenda, namun tak lama, tiba-tiba saja tenda itu roboh.

Dae Young mengeluh, seharusnya dia sudah menduga itu akan terjadi, bagaimana dia bisa percaya pada orang yang membenarkan gantungan pakaiannya saja tidak bisa. Soo Ji yang tergulung bersama tenda kesulitan bergerak, saat dia berbalik, Dae Young juga berbalik, dan wajah mereka menjadi begitu dekat, keduanya tampak canggung, hingga ponsel Dae Young berbunyi. Dae Young mengangkat telepon dengan sedikit gugup, ternyata paket BBQ yang dipesannya sudah tiba.

Soo Ji yang merasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi tidak ingin berpikir lebih jauh, dia keluar tenda saat Dae Young sedang membongkar paket BBQ dan dia takjub dengan apa yang dia lihat. Semuanya benar-benar sempurna.

Dae Young mempersiapkan alat untuk memanggang membuat  Soo Ji mengeluh apakah Dae Young akan mulai memanggang tanpa menunggu Sang Woo? Siapa yang tahu kapan Sang Woo akan datang, kalau memang mau Soo Ji bisa menunggu Sang Woo untuk makan. Dae Young mulai menempatkan satu persatu bahan makanan di paket BBQ mereka

Soo Ji memperhatikan daging yang sedang dipanggang dengan menahan selera makannya, dia harus menunggu Sang Woo. Soo Ji terus menahan diri hingga dia melihat dagingnya mulai menyusur, Soo Ji berteriak pada Dae Young agar segera membalikan dagingnya. Tapi Dae Young menolak karena prinsipnya adalah hanya sekali saja membalikan daging saat memanggangnya.

Itu jika dagingnya diiris tipis, tapi untuk daging setebal mereka harus membalikannya saat daging mulai menyusut ke tengah. Rasa dagingnya akan lebih baik dengan cara begitu. Soo Ji menjelaskan teorinya dengan semangat menggebu.

Dae Young membantah, apa yang dikatakan Soo Ji? Jika daging terus dibalikan maka kaldu dagingnya tidak akan meresap dengan baik dan lemaknya menjadi tidak bagus. Dan lagi karena dagingnya tebal, itu sama saja dengan memasak steak sehingga rasanya akan menyengat, jadi pembakaran akan lebih baik jika hanya dibalikan satu kali saja.

Soo Ji tetap tidak setuju, untuk masalah daging perut babi dia adalah ahlinya, memangnya kenapa dia dipanggil Baek Dweaji saat kecil? Dae Young langsung menjawab karena Soo Ji gemuk dan model rambutnya seperti babi. Soo Ji tampak kesal namun tidak membantah. Dae Young lalu berkata dia juga ahli daging bahkan dalam namanya terkandung kata daging. Soo Ji bingung, Go. Dae. Young. Young itu 9 jika dibalikan jadi angka 6. Dan 6 adalah  Yook, sama artinya dengan daging.

Soo Ji tidak mau kalah, lebih baik mereka bertaruh saja siapa yang benar. Soo Ji membolak balikan 2 potongan daging sementara jatah untuk teori Dae Young baru di balikan saat dagingnya akan matang.

Setelah semua dagingnya matang mereka pun memotong daging-daging itu. Soo Ji merasakan dagingnya dan berkata rasa kaldunya menari-nari di mulutnya, dialah yang benar. Dae Young langsung menjejalkan daging miliknya pada mulut Soo Ji dan meminta pendapatnya. Soo Ji berpikir, meski berat mengakuinya daging Dae Young juga enak.

Lihatlah! Dae Young mendapatkan julukan Shiksa-nim bukan tanpa alasan. Huh! Apanya yang shiksa-nim semua itu adalah karena keahlian Soo Ji sebagai Porkbelly-nim (perut babi) Dae Young merasa nama itu terdengar lucu, apakah Soo Ji juga akan menyebut dirinya Sosis-nim, Sayuran-nim, Kerang-nim dan sebagainya? Kasian sekali makanan-makanan itu, Soo Ji tidak peduli dan malah bertanya pada makanan itu dan berkata dia akan segera memakan mereka ;p

Soo Ji merasa melihatnya sudah membuatnya bahagia dan mulai memakan daging dan lain-lainnya. Soo Ji menikmati paprika bakar dan juga tomat bakar yang masih terasa panas, bahkan tekstur sayuran-sayuran itu terasa nikmat di mulutnya. Dae Young juga menikmati semua itu dan membungkus dua potong daging dengan selada dan memakannya dengan nikmat.

Sesi 1 berakhir, Soo Ji merasa kamping tidak buruk juga, ini sangat menyenangkan. Tentu saja, karena dalam kamus Dae Young Kamping=BBQ. Soo Ji berterimakasih pada Dae Young dan mengajaknya bersulang.

Sesi 2 adalah makanan laut, udah rebus panggang dan juga kerang. Kedua makanan itu terasa lebih nikmat setelah di panggang dalam pembakaran BBQ, untuk melengkapi acara BBQ mereka kali ini, Soo Ji dan Dae Young sama-sama memasak ramen di atas pembakaran dengan caranya masing-masing. Setelah menikmati semuanya Dae Young mengingatkan Soo Ji untuk tidak terlalu banyak makan, hahaha.

Hong In Ah kembali ke Seoul dan bahagia saat melihat sepatu sang suami ada di rumah. Tapi saat In Ah masuk ke dalam rumah, suaminya malah sedang bersiap untuk pergi. In Ah bertanya kemana dia akan pergi? Suaminya hanya menatap sebentar dengan dingin dan mengabaikannya. Apakah In Ah adalah sesuatu yang tidak terlihat? Suaminya pergi begitu saja sambil membawa tas dan jas nya. In Ah merasa kesal dan berteriak, “Aku ini adalah istrimu?” Dia juga mengatakan jika sampai kapanpun dia tidak setuju untuk bercerai. Setelah suaminya pergi In Ah hanya bisa memangis sambil berjongkok.

Hingga malam hari, Sang Woo belum datang juga. Dae Young meminum bir terakhirnya dan melemparkannya ke dalam tempat sampah dengan tepat dengan berlagak seperti pemain basket. Dae Young ingin berbangga diri pada Soo Ji, tapi ternyata Soo Ji sudah lelap tertidur di kursinya dengan kepala yang bergerak kesana kemari. Dae Young mengerti Soo Ji pasti kelelahan setelah hiking. Dia merasa suasananya sangat baik dan menghembuskan nafas lega.

Tiba-tiba kepala Soo Ji terjatuh ke pundaknya. Dae Young kaget dan menoleh untuk melihat wajah Soo Ji, entah apa yang Dae Young pikirkan, dia mendekatkan wajahnya seolah ingin mencium Soo Ji yang sedang tertidur. Namun sebelum dia mencium Soo Ji, Dae Young seolah tersadar bahwa apa yang ingin dia lakukan adalah salah.

Dae Young menjauhkan wajahnya dan terdengar dering ponselnya, Sang Woo menelpon bertanya dimana lokasi kamping mereka. Dae Young memberi tahu dimana lokasi dia dan Soo Ji dan setelah Sang Woo menutup teleponnya dia menyingkirkan kepala Soo Ji dari pundaknya dan beranjak dari tempat duduknya. Sang Woo datang tak lama kemudian, meminta maaf karena benar-benar terlambat, pekerjaan yang harus dia lakukan lebih banyak dari yang dia perkirakan.

Apakah Sang Woo sudah makan malam? Dae Young dan Soo Ji sudah makan duluan, Sang Woo berkata tidak apa-apa. Tidak ada yang terjadi kan? Tentu saja tidak ada. Dae Young pamit tidur duluan karena merasa lelah.

Sang Woo mencoba membangunkan Soo Ji yang masih tertidur lelap, namun Soo Ji begitu pulas hingga Sang Woo tidak punya pilihan lain memindahkan Soo Ji ke dalam tenda, bahkan sebelum sempat dia menyimpan tas ranselnya.  Di dalam tendanya, Dae Young bingung dengan perasaannya. Dia tampak tidak mengerti mengapa tadi dia ingin mencium Soo Ji.

Paginya, Soo Ji terbangun dengan badan yang terasa kaku, karena kedinginan dan juga perjalanan jauh menempuh puncak gunung, rasanya punggungnya sakit sekali. Soo Ji mencoba keluar dari tendanya, dia memanggil-manggil Dae Young untuk memberikannya air. Soo Ji tidak menemukan Dae Young namun menemukan botol air mineral di luar tendanya, dia minum air dari botol dengan mata yang masih terpejam hingga botol itu mengerucut saking hausnya.

“Kau pasti benar-benar haus” Soo Ji mendengar suara Sang Woo dan melihat sekitarnya, Sang Woo tersenyum menyambutnya di luar tenda. Soo Ji kaget dan masuk kembali kedalam tenda. Dia merasa begitu malu karena wajah bangun tidurnya, Soo Ji merapikan rambutnya dan saat Sang Woo memintanya keluar untuk menghilangkan mabuknya Soo Ji mencoba mengatur suaranya untuk menjawab “Iya”

Soo Ji keluar dengan gugup dan merasa malu pada Sang Woo. Soo Ji duduk di hadapan Sang Woo yang kemudian memberinya segelas minuman penggilang mabuk untuk membantunya sadar. Soo Ji menerimanya dengan senang hati dan berterimakasih. Soo Ji kemudian bertanya kapan Sang Woo datang? Tadi malam, Sang Woo pun meminta maaf karena datang sangat terlambat. Soo Ji tidak mempermasalahkan hal itu dan berkata dia bersenang-senang dengan Dae Young. Akh… Sang Woo melihatnya, begitu banyak alkohol.

Saat meminum minumannya, Soo Ji lalu teringat pada Dae Young yang semalam juga minum banyak, dia mencari Dae Young ke tendanya, namun Dae Young tak menyahut bahkan setelah Soo Ji menendang-nendang tenda itu. Soo Ji membuka tenda Dae Young dan tak menemukan siapapun. Kemana Dae Young pergi? Soo Ji bertanya pada Sang Woo, tapi Sang Woo juga tidak tahu, apakah dia pergi ke toilet? Semalam Dae Young ada dan langsung masuk ke tendanya.

Nenek Lee memperhatikan Hye Rim yang sedang menggunakan lipstiknya. Hye Rim yang merasa tidak nyaman bertanya apakah ada yang aneh? Tidak ada,Nenek hanya kagum karena Hye Rim masih muda dia terlihat cantik memakainya. Mengapa Hye Rim tidak memakai warna merah? Hye Rim merasa tidak cocok digunakan hari ini.

Nenek merasa generasi Hye Rim sangat beruntung, di jamannya lipstick menjadi barang yang sangat berharga dan jika dia menggunakan di usia Hye Rim, dia akan kena omel orang tuanya dan dibilang boros. Mereka hanya bisa menggunakannua setelah menikah. Dan setelah tua, kulitnya tidak sesuai lagi dengan warna merah, jadi hanya bisa menggunakan warna ringan. Menurut nenek akan sangat menyenangkan jika Hye Rim bisa memakai apapun yang dia suka jaman sekarang ini

Hye Rim merasa tidak enak pada Nenek dan berkata akan memakain warna merah. Hye Rim mengoleskan sedikit pada bibirnya dan nenek memujinya cantik. Hye Rim pun pamit untuk pergi bertemu dengan temannya.

Nenek jadi tergoda mencoba lipstick Hye Rim, namun baru saja dia memegangnya, dia sudah mendengar lagi pintu terbuka. Hye Rim masuk lagi. Ada apa? Hye Rim mendengar ada yang datang, dia takut itu adalah Ahjuma pemilik Villa, itu aneh, karena setau Nenek, Ahjuma jarang datang. Nenek dan Hye Rim menuju pintu untuk melihat siapa yang datang, ternyata Dae Young. Hye Rim merasa lega.

Nenek berpikiran, selama mereka menyembunyikan tentang Hye Rim yang tinggal bersamanya, akan lebih baik jika Hye Rim memberitahu Dae Young dan Soo Ji tentang hal ini, jadi merka pun bisa menyimpan rahasia itu dari Ahjuma.

***

OK fix, ini sih Dae Young beneran ada rasa sama Soo Ji. Iya sih… Dae Young itu perhatian banget sama Soo Ji, sampe dia ngecek di jalan yang akan mereka lewati ada pohon Eout atau enggak. Kalau saja Sang Woo dan Soo Ji tidak dibuat jadian dulu, aku akan dengan sukarela jadi Shippernya Soo Ji-Dae Young hehehe… tapi sekarang situasinya sudah lain…

Dan ternyata… kebahagiaan yang selalu diceritakan In Ah tentang kehidupan pernikahannya yang bahagia itu bohong belaka.

Aku merasa saat menonton Let’s Eat 2 ini jadi teringat pada City of Glass, drama yang ingin menyampaikan cerita bahwa menjadi Cinderella sama sekali tidak bahagia seperti yang diceritakan dalam dongeng karena tidak ada yang tahu seperti apa yang terjadi setelah Cinderela menikah dengan Pangeran, apakah mereka benar-benar hidup bahagia? Ataukah malah sebaliknya?

City of Glass juga bercerita tentang orang biasa yang menikah dengan pria Chaebol, namun ternyata setelah menikah dia tidak bahagia seperti yang disangka kan orang-orang, bahkan disaat suaminya sangat mencintainya, perbedaan status diantara mereka menjadi penghalang terbesar untuk kebahagian mereka berdua. Tidak ada satupun diantara saudara suaminya yang memiliki pernikahan yang bahagia, bahkan saat mereka menikah dengan orang yang sederajat dengan mereka.

Sepertinya apa yang ingin disampaikan Let’s Eat 2 dan City of Glass serupa, lihat saja In Ah, dia selama ini membual tentang pernikahan bahagianya bersama suami suksesnya, tapi kenyataannya… tampaknya suaminya sama sekali tidak menganggapnya. Padahal selama ini, In Ah selalu membicarakan tentang persamaan status dalam sebuah pernikahan. Mereka hanya terlihat bahagia diluar, masalah dalam rumah tangganya, siapa yang tahu…

Tapi tentu saja, cara penyampaian dua drama ini berbeda, City of Glass sih ceritanya makjang abis, kalo Let’s Eat 2 kan konfliknya di buat ringan, tapi penulisnya sangat jelas ingin menunjukkan perbedaan status antara Soo Ji dan Sang Woo kedepannya, dan hal itu yang akan menjadi masalah utama dalam hubungan mereka berdua, apalagi dengan harga diri Soo Ji yang begitu tinggi dan Sang Woo yang kurang peka. Heu…

Magic nya Jisang Couple hanya bertahan di episode 9 dan 10 saja, karena ke depannya hubungan Sang Woo dan Soo Ji akan terasa sangat melelahkan… Tapi mengapa rasanya aku berat sekali untuk berpindah jadi shippernya Youngji Couple yah~~~~

*written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*



2 Komentar untuk "Let's Eat 2 Episode 11 part 1"

City of Glass emang bagus banget kak :)

Sayang bgt. Padahal pas eps10 aku bener2 suka sangwoo sm sooji... tp bener kata mbak irfa, eps terbarunya bikin aku ga sanggup ngeliat mereka jd pasangan. Sooji masih ga bisa jujur ttg dia yg hobi makan dan ga bisa jd dirinya sendiri pas sm sangwoo. Rasa "gamau balas budi" sooji jg bikin gregetan. Hufft. Yaudahlah ya kl emg lead male & lead female harus jd couple :]

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top