Selasa, 27 Februari 2018

Unwelcome Love Part 2



Judul: Unwelcome Love
Genre: Romance, Drama

Warning:
Cerita ini hanyalah khayalan absurd-ku semata, semua nama yang digunakan sebagai karakter di Fanfic ini bukan milikku, begitu juga Arirang dan Yusung Group

Part 2: The Wedding

Seo Hyun Jin POV

Aku menghela nafas panjang di depan cermin besar yang ada disudut ruang ganti. Hari ini adalah hari besarku, seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi semua wanita karena hari ini adalah hari pernikahanku. Tapi kebahagiaanku tidak pernah diciptakan untukku. Meskipun pernikahan ini sama sekali tidak membuatku bahagia aku tetap ingin terlihat sempurna, itulah mengapa sejak tadi aku terus mengecek penampilanku dengan gaun pengantin berulang kali.

“Apakah kau sudah siap Hyun Jin-a?”

Aku menoleh ke arah suara itu berasal. Hye Sun tersenyum padaku dan menghampiriku. Aku berbalik dan sekali lagi menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugupku.

“Apakah menurutmu gaun ini tidak terlalu sederhana?” Tidak tahu apa yang salah dengan diriku, aku merasa gaun yang aku pilih untuk hari besarku ini terlalu simpel. Ayolah… aku akan menjadi menantu Yusung Grup, salah satu perusahaan Kosmetik  terbesar di Korea, apakah tidak apa-apa jika gaun pernikahanku se sederhana ini?

“Ya Ampun, Hyun Jin-a… kau tampak sempurna dengan gaun itu! Bahkan jika gaun itu terlalu sederhana, saat kau yang memakainya kau tampak seperti seorang putri. Apakah kau merasa begitu tidak percaya diri karena gugup?” Hye Sun membuat kesimpulan, dan dia benar, aku bahkan terlalu gugup untuk menghadapi pernikahan ini.

Pintu ruang ganti kembali terbuka, Ibuku masuk dan tersenyum padaku. Song Doo Hee, Kepala Koki Arirang yang ke-4, wanita yang membesarkanku sejak usiaku 5 tahun hingga saat ini.

“Apakah putriku sudah siap?” Ibu bertanya saat dia menghampiriku, melihat wajah cemasku dia membelai pipiku.

“Apakah kau ragu? Ini belum terlambat Hyun Jin-a, sebelum kau mengucapkan janji pernikahanmu. Kita bisa membatalkannya jika kau mau. Ayah dan Ibu yang akan bertanggung jawab pada para Tetua dan keluarga mereka”

Sejak awal, Ibu memang tidak setuju dengan ide pernikahanku dengan Pewaris Yusung Grup tersebut, begitu juga dengan Ayah. Mereka menentang keputusan para Tetua bahkan menyarankanku untuk melepaskan jabatan Kepala Koki Arirang jika para Tetua tetap memaksaku untuk menikah dengan pria pilihan mereka. Namun anehnya, setelah Jo Hyun Jae secara pribadi menemui mereka, Ayah dan Ibu tidak pernah lagi membicarakan tentang ketidak setujuan mereka atas pernikahan ini.

Aku tersenyum kecil kemudian menggeleng lemah, “Tidak Bu, aku yang sudah memilih jalan ini, aku tidak akan melarikan diri hanya karena rasa gugup sementara. Aku yakin dengan keputusanku, jadi bisakah kau memberiku restu untuk pernikahan ini?”

“Tentu saja Hyun Jin-a, Ibu akan selalu mendukung keputusanmu. Ibu hanya ingin kau Bahagia” Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku merasa Ibu belum sepenuhnya melepaskan ku untuk menjadi menantu keluarga Yusung Grup, tapi aku tidak punya pilihan, jika aku tetap ingin mempertahankan jabatanku dan menyelamatkan Arirang, aku harus melakukan pernikahan ini.

“Putriku yang cantik, Ibu tidak pernah tahu pada akhirnya aku harus melepaskan mu dengan cara seperti ini. Ibu minta maaf, karena belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu”

Mataku berkaca-kaca saat mendengar permintaan maaf Ibu, karena yang terjadi adalah sebaliknya, akulah yang belum bisa menjadi putri yang baik untuknya. Aku bahkan sempat mencelakai Hye Sun yang jelas-jelas putri kandungnya, juga bekerja sama dengan musuhnya karena ingin mengalahkan Hye Sun. Namun perempuan ini tetap menyayangiku seperti sebelumnya setelah aku mengakui semua kesalahanku dan memohon maaf padanya.

“Mengapa kalian menjadi melankolis di hari bahagia seperti ini? Aku jadi ingin menangis” Hye Sun menahan tangisnya, memecahkan keharuan yang terjadi antara Aku dan Ibu.

“Aku iri padamu, Hyun Jin-a… Saat aku menikah, Ibu sama sekali tidak terlihat begitu berat melepaskanku” Hye Sun merajuk membuat Ibu tersenyum kecil.

“Aigo…  mengapa kau berpikiran seperti itu, Hye Sun-a? Haruskah Ibu meminta Ahn Seobang untuk mengembalikanmu padaku sekarang juga?” Ibu berkelakar menanggapi rasa cemburu Hye Sun dan berhasil membuat tersenyum kecut dan membuatku tertawa.

“Sudahlah… Acaranya akan segera di mulai, Ayah sudah menunggumu di depan pintu masuk”

***

Ballroom Hotel Yusung telah dihias dengan begitu indahnya, tempat ini akan menjadi saksi hari besarku saat aku mengubah status lajangku menjadi seorang wanita bersuami.  Jo Hyun Jae, pria yang akan mempersuntingku,  berdiri di depan Altar dengan wajah penuh senyuman. Ini pertama kalinya aku bertatap muka secara langsung dengannya. Wajahnya sangat tampan, tidak berbeda jauh dengan yang aku lihat di foto selama ini. Meskipun dia seorang duda, aku yakin banyak wanita yang rela menjadi istrinya, tapi sebagai seorang Pewaris Yusung Grup tentu saja dia tidak bisa menikah dengan sembarang wanita. 

Aku mungkin bukan putri keluarga Chaebol yang bisa memperkuat kekuasaan Yusung Group, namun kedudukanku sebagai Koki Arirang sepertinya cukup menjadi alasan kuat mengapa keluarganya memilihku menjadi menantu mereka.  Tapi tetap saja aku masih tak habis pikir mengapa dia selalu menolak bertemu denganku selama ini.

Sejak keluarganya meminangku untuk menjadi menantu mereka, Pria ini selalu membuat alasan agar tidak bertemu denganku. Bahkan dia tidak datang ke acara pertemuan keluarga dengan alasan perjalanan bisnis mendadak ke luar negeri. Ayah dan Ibuku sangat kesal hari itu, dan mengatakan tidak akan mengijinkan pernikahan itu terjadi karena sikap tak peduli pria itu. 

Namun dua hari kemudian, Jo Hyun Jae datang menemui mereka secara pribadi dan secara ajaib membuat mereka tidak mempersalahkan ketidak hadirannya saat acara keluarga. Bahkan menyetujui rencana pernikahan itu jika aku memang masih menginginkannya. Tentu saja, saat itupun Jo Hyun Jae lagi-lagi menghindar untuk bertemu denganku.

Saat aku mengunjungi keluarganya sebulan yang lalu, dia tak ada di rumah, dan beberapa kali membatalkan janji pertemuan kami dengan alasan ada kepentingan mendadak. Sebenarnya aku sangat kesal pada sikapnya, namun karena aku sudah menerima lamaran keluarganya, aku tidak bisa protes dengan sikap sok sibuknya itu. Ayah dan Ibu pun tidak mempermasalahkan karena kami tidak sempat bertemu sebelum acara pernikahan itu berlangsung. Mereka berkata, setelah bertemu langsung dengannya mereka yakin bahwa Jo Hyun Jae akan memperlakukanku dengan baik, meskipun pernikahan kami hanyalah pernikahan bisnis. Aku tidak tahu  apa yang sebenarnya dia katakan pada kedua orang tuaku hingga mereka begitu mempercayainya.

Aku pikir dia tidak menyetujui pernikahan ini karena orang tuanya yang mengusulkan perjodohan ini dan dia tidak bisa menolak. Namun Kakak Iparnya, Han Yoo Ran mengatakan padaku, jika  Jo Hyun Jae sendiri yang mengusulkan untuk meminangku menjadi istrinya karena aku adalah Kepala Koki Arirang dan jika Yusung grup berinvestasi di Arirang, itu akan mempermudah jalan Jo Gyun Sung, kakak tertuanya untuk menjadi Menteri Kebudayaan.  Aku hanya tidak habis pikir, jika memang dia sendiri yang memilih pernikahan ini demi keuntungan Yusung Grup, lalu mengapa dia tidak ingin menemuiku sebelum hari pernikahan berlangsung?

Melihat senyum lebarnya saat menantiku menuju Altar, tak ada rasa terpaksa di wajahnya untuk menjalani pernikahan ini, mungkinkah apa yang dikatakan Kakak iparnya dan orang tuaku ada benarnya, dia sama sekali tidak terpaksa melakukan pernikahan ini. Ataukah dia hanya berakting untuk pura-pura bahagia di hadapan semua orang?

Saat Ayah menyerahkan tanganku padanya di depan Altar, dia tak sedikitpun tampak ragu bahkan memberinya penghormatan seolah mengucapkan terimakasihnya pada Ayahku yang telah mengijinkannya untuk menjadikan aku istrinya hari ini. Aku terus memperhatikan gerak geriknya. Semuanya tampak natural, pria ini bersikap seolah kami telah mengenal satu sama lain dan memperlakukan dengan begitu baik. Bahkan dia tersenyum padaku sebelum kami sama-sama berhadapan dengan hakim yang akan menikahkan kami.

Prosesi pernikahan itu berlangsung khidmat dan cepat, tak akan ada yang menyangka jika ini adalah pertemuan kami untuk pertama kalinya. Jo Hyun Jae benar-benar seorang pelakon. Selama resepsi pernikahan kami, dia begitu natural memerankan seorang pengantin pria yang bahagia yang akhirnya bisa mempersunting wanita yang dicintainya. Aku agak kesulitan mengimbangi aktingnya, tanpa membicarakan apapun padaku sebelumnya, dia terus mencoba menunjukkan betapa akrabnya kami di hadapan orang lain dengan tak ragu melakukan skinship seolah kami memang adalah pasangan menikah yang saling mencintai.

Aku ingin protes, namun di saat semua orang menatap kami dan reputasi Arirang dipertaruhkan, aku hanya bisa mencoba mengikuti permainannya dan membiarkannya melakukan apapun yang dia inginkan. 

***

Resepsi pernikahan antara Kepala Chef Arirang dan CEO Yusung Grup berlangsung dengan lancar. Tak ada seorang pun yang pernah menduga jika sang pengantin wanita menyimpan bara dalam sekam di hatinya selama acara itu berlangsung, bahkan jauh sesudahnya. Bagaimana tidak, aku Seo Hyun Jin merasa tidak dianggap oleh pria yang menikahiku 8 jam yang lalu itu.

Jo Hyun Jae berakting dengan pandai dihadapan orang-orang saat kami menjamu mereka di acara resepsi dengan memperlakukanku dengan begitu hangat dan selalu tersenyum di hadapan mereka. Namun saat kami hanya berdua dia memperlakukan seolah aku tidak ada disekitarnya, bahkan menyapaku pun tidak. Apa yang sebenarnya diinginkan pria itu? Bahkan sekarang dia meninggalkan ku seorang diri di kamar Hotel.

Setelah acara resepsi usai, para tamu serta keluarga besar Arirang dan Yusung Grup pun pulang ke kediaman masing-masing, sementara kami, aku dan suamiku seharusnya beristirahat di kamar Sweet Honeymoon yang mewah ini dengan nyaman. Namun apa yang terjadi? Jo Hyun Jae, si pria menyebalkan itu meninggalkan ku seorang diri setelah mengantarku ke kamar ini dengan pergi tanpa mengatakan apapun.

Masih berbalut gaun pengantin, aku bolak balik di kamar mewah itu untuk memikirkan cara yang tepat untuk membalas sikapnya, haruskah aku juga bersikap dingin padanya? Lalu pernikahan kami akan menjadi Cold Marriage tanpa hambatan karena kami saling bersikap dingin. Ataukah aku harus mempertanyakan alasan mengapa dia bersikap sangat dingin padaku jika kami hanya berdua saja dan selalu menghindar bertemu denganku sebelum hari ini. Tapi… jika aku bertanya apakah aku tidak akan terlihat menjadi wanita yang menyedihkan? Tidak. Aku hanya harus bersikap tak pedulil, namun tidak kehilangan harga diriku yang merasa diremehkan oleh pria sombong itu.

Aku masih memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi Jo Hyun Jae saat pintu hotel terbuka dan tanpa permisi pria itu masuk begitu saja menatapku dengan heran.

“Seo Hyun Jin-ssi, mengapa belum ganti baju?”

Itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut pria yang kini telah jadi suamiku. Pertanyaan yang sama sekali tidak aku harapkan atau aku pikirkan sebelumnya. Pentingkah itu? Jika kini masih memakai gaun pengantin ku atau tidak.

Merasa bingung, aku hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun, apa yang harus aku katakan? Menjawab pertanyaannya ataukah langsung mempertanyakan hal yang mengganjal di hatiku sepanjang hari ini?

Jo Hyun Jae malah tersenyum memperhatikan wajah bingungku, “Apakah kau sangat menyukainya?” dia bertanya kemudian dan membuatku semakin bingung,

“Ye?” tanggapku meminta penjelasan.

Apa yang sangat aku sukai? Siapa yang sebenarnya dia maskud? Arirang? Ataukah dia mempertanyakan tentang kemungkinan aku memiliki pria lain?

“Gaun pengantin itu? Sepertinya kau begitu betah memakainya” jawabannya membuatku memperhatikan gaun yang aku kenakan.

Baiklah, ini memang aneh, sejam dia meninggalkanku di kamar ini dan aku masih belum berganti pakaian, lalu apa yang dia harapkan? Melihatku memakai lingeri atau semacamnya saat dia kembali ke kamar ini? Bukan kah aku yang harus mempertanyakan kemana saja dia selama satu jam ini, membuatku resah hingga tak sempat berganti pakaian.

“Bukan begitu… aku…”

Belum sempat aku mendapatkan alas an untuk menjawab pertanyaannya, pintu kamar hotel diketuk dari luar. Room Servise, Jo Hyun Jae mengalihkan pandangannya dariku kemudian membukakan pintu. Dua orang pelayan hotel masuk dengan membawakan satu troli makanan yang tampaknya sengaja dipesan olehnya. Apakah dia meninggalkanku untuk memesan makanan itu?

Setelah memberikan tips pada pelayan, Jo Hyun Jae kembali menatapku yang masih mematung ditempatku berdiri saking bingungnya.

“Meski kau terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin itu, namun aku pikir akan lebih baik jika kau memakai gaun yang membuatmu lebih nyaman saat kita makan malam”

Aku kembali mematung mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria itu, apa yang dia katakan? Cantik? Aku tahu banyak orang yang memuji kecantikanku, namun ini adalah pertama kalinya ada seorang pria yang mengatakan hal itu secara langsung padaku, dan pria itu adalah suamiku. Haruskah aku merasa bahagia?

“Seo Hyun Jin-ssi?”

“Nde?”

“Kau tidak akan selamanya berdiri disana dan membuat makanan yang aku pesan terlanjur dingin dan tidak layak makan kan?” pertanyaan Jo Hyun Jae mengembalikan pikiranku yang melayang entah kemana untuk sesaat tadi.

“Akh, ganti pakaian? Baiklah, aku rasa aku memang harus melakukannya” Masih dalam pikiran yang semerawut aku akhirnya memutuskan untuk mengganti gaun pengantin ini dengan pakaian yang lebih santai. 

bersambung ke part-3

1 komentar:

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^