Mencoba Move On dari Sherlock: Dari Goblin hingga Poldark

Awal Januari tahun 2017, Sherlock season 4 akhirnya tayang juga di BBC One, meski tidak sempat streaming esok harinya aku sudah menonton episode 1 nya yang berjudul The Six Thatchers dengan sub Inggris dan besoknya lagi sudah bisa menonton dengan sub Indonesianya. Penantian 6 bulanku menunggu sesaon 4 nya Sherlock rasanya tak sia-sia. Meski kasus di episode tersebut tidak se rumit kasus-kasus di season 1 dan 2, tapi aku merasa Sherlock season 4 sudah kembali ke track nya lagi (setelah merasa sedikit melenceng di season 3).



Tayangnya season terbaru Sherlock membuatku meninggalkan semua tontonanku sebelumnya, termasuk Kim Sa Bu, Wolgyesu, Goblin dan The Legend of The Blue Sea. Dalam kurun waktu 2 minggu selama tahun 2017 aku hanya sempat menonton episode 10 Goblin saja, sisa waktu luangku hanya kau gunakan untuk menonton ulang Sherlock season 4 episode 1 dan 2 atau membuka Tumblr, AO3 dan juga ffnet untuk mencari ff baru nya Sherlolly. Entah kenapa aku merasa kadar shipping ku  pada Sherlock dan Molly ini meningkat 200 % sejak season 4 tayang, padahal sih screentime nya Molly di season 4 ini lebih sedikit dibandingkan screentime nya di season 3. 

Puncak nya adalah ketika Scene "I Love You" nya Sherlock ternyata adalah 'Beautiful Scene' yang pernah dibicarakan Loo Brealey. Scene favorite nya di Scene 4 dan mungkin menjadi Scene favoritku juga di season 4 ini. Saat Scene "I Love You" nya Sherlock muncul di teaser ke-2, ada sedikit pengharapan bahwa Sherlock mengatakan 3 kata itu pada Molly, namun kemudian aku kembali pada realita bahwa Sherlock bukan lah drama yang fokus pada love story. Jadi aku berpikir mungkin itu sebuah kode rahasia, seperti Ammo yang merupakan kode rahasianya A.G.R.A di episode 1. 

Siapa yang sangka jika harapan kecil ku itu akhirnya terwujud, yah... Sherlock mengatakan 3 itu pada Molly, meski kata-kata itu keluar karena keterpaksaan. Namun Scene itu menjadi sebuah Scene yang Indah namun menyakitkan, apalagi diikuti dengan Scene emosional nya Sherlock yang menghancurkan  peti mati bertuliskan I Love You, Peti mati yang dipersiapkan Eurus untuk Molly.

Aku menjadi semakin sering buka Tumblr hanya untuk sekedar mencari meta-nya juga fanfic terbaru Sherlolly after scene 'I Love You' tersebut. Moftiss sepertinya sengaja tidak memperlihatkan Scene Sherlock yang menemui Molly setelah semua ketegangan berakhir dan hanya memperlihatkan Molly yang tersenyum cerah di 221B Baker Street, itu semua mereka lakukan pastinya agar para penulis fanfiction mendapatkan bahan cerita dengan berbagai versi bagaimana Sherlock dan Molly berbaikan setelah Scene yang indah tapi menyakitkan tersebut.

Berbagai judul fanfic after scene ILU telah aku baca, berbagai fanvid terbaru pun sudah aku tonton, namun mengapa aku belum bisa juga move on? Mungkin karena aku tidak pernah mencoba. Menjelang tamatnya Goblin akhirnya aku menyempatkan diri untuk maraton menonton sisa episode Goblin yang belum aku tonton. Aku berhasil episode 11-14 dalam satu hari dan esoknya menonton episode 15 dan 16. Orang-orang bilang Scene tercabutnya pedang Goblin di episode 13 sangat menyedihkan, tapi yah kok aku sama sekali tidak meneteskan air mata saat menontonnya, Endingnya yang kata orang membuat galau karena Om Goblin sempat menduda selama 30 tahun sebelum akhirnya kembali bertemu dengan reinkarnasi Eun Tak malah terasa biasa saja. Kesimpulannya Goblin tidak membuatku move on dari Sherlock.

Karena Sherlock membuatku menjadi sangat emosional aku mencoba mencari tontonan ringan, teman menyarankanku untuk menonton Kim Bok Ju, sayangnya aku tidak juga mendapat wangsit untuk menontonnya meski sudah aku DL hingga tamat. Aku malah tertarik untuk menonton Serial A Series of Unfortunate Events yang tayang di Netflix. Dulu sih aku suka sekali pada filmnya, namun sayang sekali Serialnya tidak memberikan dampak yang luar biasa.

Sepertinya menonton drama ringan untuk move on dari Sherlock sama sekali tidak mempan, jadilah aku memutuskan untuk memilih tontonan drama yang genre nya lebih berat. Aku mempertimbangkan antara menonton Voice dan Missing Nine. Berdasarkan review dari temanku dua-dua nya bagus, tapi Missing Nine lebih banyak misterinya, karena ceritanya masih satu arah. Kemudian temanku yang lain merasa cerita Missing Nine mirip dengan novel nya Agatha Christie And Then There Were None, akh.... aku jadi teringat aku pernah men-download serial TV BBC One yang diadaptasi dari novel tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk menonton serial itu terlebih dahulu.

Aku sangat terkesan dengan cerita And Then There Were None, misteri yang disajikan dan suasana mencekamnya dapet banget. Sesuai dengan judulnya, sangat mudah ditebak jika semua orang yang diundang ke sebuah pulau terpencil itu akhirnya meninggal karena serentetan pembunuhan yang tidak diketahui siapa pelakunya. Sejak awal aku memang sudah menebak siapa orang yang mungkin mengumpulkan mereka semua di pulau itu, namun sempat terdistraksi karena orang yang aku curigai sejak tewas di tengah permainan, namun siapa yang sangka dia melakukan trik mudah yang tidak disadari orang lain untuk memalsukan kematianny

Setelah selesai menonton And Then There Were None aku memutuskan menonton Missing Nine episode 1 dan 2, persamaan Missing Nine dengan And The There Were None hanyalah karena sama-sama terjebak di pulau terpencil. Selebihnya tidak ada mirip-miripnya sih, namun aku sangat menikmati menonton Missing Nine dan penasaran dengan episode selanjutnya, akhirnya Missing Nine menjadi satu-satunya drama Korea airing yang aku tonton.

Sambil menantikan episode terbarunya Missing Nine, aku mencoba mencari tontonan lain, hmmm mungkin drama yang sudah tamat boleh juga dicoba. Saat melihat MV nya Nirvana In Fire aku jadi kengen menonton drama Cina. Beberapa teman yang hobi menonton drama cina memberiku 3 rekomendasi, Princess Weiyoung dan Legend of Zhen Huan yang sudah tamat, serta The General and I yang masing tayang. Jumlah episodenya Legend of Zhen Huang membuatku mundur teratur bahkan sebelum sempat menonton teasernya. Iseng-iseng nonton teasernya The General and I, sedikit tertarik meski banyak yang bilang ceritanya gak bagus tapi penasaran melihat kegantengan Wallace Chung jadi Jenderal >.< tapi berhubung belum tamat, aku belum mulai  nonton juga sih, nanti aja deh kalo udah tamat.

Setelah menonton teasernya Princess Weiyoung, aku memutuskan untuk menontonnya walau sedikit kurang sreg melihat Lead Male nya yang gak berasa aura tokoh utamanya, akh tapi Tang Yan nya cantik banget dengan kostum-kostum yang membuat mataku terasa dimanjakan dengan keindahannya. Ceritanya lumayan sih, tapi yah ala ala drama cina pada umumnya, kalah jauh jika dibandingkan dengan Nirvana in Fire. Beberapa plot cerita terasa baru, tapi lebih banyak yang terasa biasanya. Satu hal yang aku kagumi dari drama ini tokoh utama yang diperankan Tan Yang sangat cerdas. Meski dia pihak tertindas dan sering dijebak oleh Ibu dan Saudara tirinya, dia berani melawan dan tidak diam saja saat mereka berbuat tidak adil. Bahkan kecerdasannya diakui Kaisar hingga diberi gelar Putri An Ping.

Menonton Princess Weiyoung sepertinya belum membuatku benar-benar move on dari Sherlock, karena terkadang aku masih lebih memilih membaca fanfic atau postingan terbaru Sherlolly di tumblr dan AO3. Namun aku masih penasaran dengan kelanjutan cerita Princess Weiyoung ini, jadi tetap dicicil nonton antara 1 atau 3 episode per harinya, tak terasa dalam kurun waktu 10 hari aku sudah menonton hingga episode 24.

Selain Princess Weiyoung ada satu lagi tontonan yang menemaniku menantikan episode terbarunya Missingnya Nine. Poldark judulnya, sebuah drama historikal Inggris yang sebenarnya membuatku sangat emosional ketika menontonnya. Berawal dari kekagumanku pada pemeran Philip Lombard di serial And Then There Were None, Aidan Turner. Jadi iseng deh ngecek list drama dia yang lain, yang terbaru adalah Poldark. Season 1 nya tayang tahun 2015 lalu sementara  season 2 nya baru saja berakhir di tahun 2016. Serial tersebut di adaptasi dari Novel seri dengan judul utama yang sama, membaca sinopsisnya aku jadi  sedikit penasaran. Iseng-iseng akhirnya DL season 1 nya yang hanya 8 episode.

Karakter Ross Poldark yang diperankan Aidan Turner cukup membuatku terpesona di episode 1 serial tersebut. Namun yang benar-benar membuatku jatuh cinta pada serial tersebut selain pemandangannya yang luar biasa Indah adalah Karakter Demelza. Karena Demelza aku jadi sangat penasaran pada Poldark, kisah cinta Demelza dengan Ross tampaknya sangat bahagia namun ada  emosi terpendam Ross terhadap mantan kekasihnya yang membuat rumah tangga mereka cenderung rapuh. Itulah mengapa aku cenderung menjadi emosional saat menontonnya tapi juga bahagia setiap kali melihat senyuman Demelza dan perubahan karakternya yang tadinya hanya seorang anak jalanan yang dipekerjakan Ross untuk menjadi tukang masaknya, hingga lambat laun menjadi seorang Lady setelah dinikahi Ross.

Saking terpesonanya pada Demelza aku jadi rajin juga nonton fanvidnya di youtube, dan akhirnya kena spoiler cerita di season 2 yang membuatku menjadi semakin emosional saat menontonnya. Tapi Karakter Demelza telah benar-benar mencuri hatiku jadi aku tetap antusias untuk meneruskan tetap menontonnya. Meski yah aku cenderung masih belum siap untuk menonton season 2 nya. Apalagi saat aku tahu season 3 nya baru akan tayang Septembar tahun ini. Jadi yah sengaja diirit-irit gitu deh nonton Poldarknya, kadang diulang juga nontonnya untuk beberapa Scene yang tidak aku pahami.

Jadi apakah aku sudah benar-benar move on dari Sherlock karena Poldark? Gak terlalu yakin juga sih, karena aku masih kadang-kadang membaca fanfic dan menonton fanvid nya Sherlolly meski tidak seintens beberapa minggu lalu. Apalagi saat ini home youtube ku malah penuh dengan video tentang Poldark daripada Sherlock. Yah, dibilang sekarang Poldark itu My New Addiction, meski aku betah nonton Poldark karena Demelza dan ceritanya, liat Ross bawaannya kadang kesel gitu sih karena teringat spoiler >.<
2 Komentar untuk "Mencoba Move On dari Sherlock: Dari Goblin hingga Poldark"

Wah sama persis, sebagai fans Sherlock memang susah deh kalau sudah habis serialnya entah mau ngapain lagi, nunggu season baru pastinya lama. Mau share pengalamanku juga, dulu kelar Sherlock, selain menonton project Benedict lainnya, aku juga nonton projectnya Martin Freeman, si pemeran dr. watson. Dari sekian projectnya Martin Freeman, akhirnya aku ketemu satu serial yang bikin aku ngefans berat dan jadi serial terfavoritku selain Sherlock, judulnya FARGO (https://www.filmapik.tv/episodes/fargo-1x1). Rating IMDB-nya tinggi dan cuma beda tipis dari Sherlock, kalau Sherlock nilainya 9.2, FARGO nilainya 9.0. Formatnya juga singkat hanya mini series total 10 episode per season. Di serial ini Martin Freeman harus membuang aksen britishnya dan belajar north american accent, karena setting tempatnya di Minnesota. Sukses loh dia, hilang aksen britishnya. Padahal awalnya cuma iseng nggak lihat sinopsisnya seperti apa. Ternyata suka dari episode 1, saking sukanya aku sama FARGO, aku habiskan Season 1 hanya dalam 1,5 hari, lalu lanjut Season 2-nya dalam 1,5 hari juga meski Martin Freeman sudah nggak main lagi di situ tapi ada bintang film terkenal lain yang di-casting. Asyiknya tahun ini Season 3 FARGO akan mulai lagi tahun ini.

Tos akh ternyata ada yg senasib, lanjutan sherlock masih blm jelas sih yah, tp sekarang udah lumayan bisa move on. Aku biasa aja sih sama martin freeman nya, jadi gak terlalu ngikutin project2 nya dia. Aku nunggu serial baru nya Benedict aja deh yg dia adaptasi dr novel Melrose itu

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^

Back To Top