Minggu, 11 Januari 2015

Samchongsa Episode 12: Letter from Mainland part 2 - END



Dal Hyang, Seung Po dan Min Seo sudah pasrah dengan keputusan Raja, mereka mempersiapkan diri menghadapi kematian. Min Seo bahkan mengucapkan selamat tinggal pada kedua temannya, sementara Seung Po merasa ini semua benar-benar gila.

Saat hukuman mati akan di laksanakan, Kasim Koo datang dan meminta mereka untuk menunggu. Seja datang sambil tertatih di papah oleh dua orang kasim. Min Seo berseru, “Itu Seja” Seung Po merasa lega, Seja akhirnya datang juga namun dia mengeluh karena Seja selalu saja terlambat, kini mereka memiliki harapan untuk hidup.

Kasim Kim mengatakan pada Raja jika Seja datang, apakah mereka harus menghentikan hukumannya. Raja menatap sinis pada putranya dan memerintahkan pengawal untuk tetap melaksanakan hukuman mati untuk ketiga orang tersebut. Semua orang kaget, termasuk juga Seja karena ternyata kedatangannya tidak mengubah keputusan raja sama sekali. Hukuman mati pun di laksanakan, Dal Hyang, Seung Po dan Min Seo berjuang melawan kematian yang akan menyongsong mereka.

Seja berusaha menghentikan hukuman itu sebelum terlambat dengan meminta Ayahnya untuk menunda hukuman itu karena dia ingin mengatakan sesuatu. Raja berbicara pada Seja dengan nada meremehkan, mengapa dia datang? Apakah Seja sedih karena teman-temannya akan dihukum mati. Tapi Raja tidak bisa mengubah keputusannya, kesalahan mereka terlalu besar, mereka bahkan menggunakan nama Seja untuk menipu Raja.

Seja panik dan akhirnya mengakui satu hal di hadapan Raja, 

“Hamba adalah anggota Samchongsa yang lainnya. Tolong hentikan hukumannya” 

Raja menatap Seja dengan pandangan menusuk, dia sepertinya sudah curiga sebelumnya, bahwa Dal Hyang berbohong untuk melindungi Seja. 

Para pejabat kaget mendengar pengakuan Seja, mereka tidak menyangka Seja akan bertindak menipu Ayahnya. Akhirnya Raja pun memerintahkan petugas menghentikan hukuman itu dengan menahan kembali kaki Dal Hyang, Seung Po dan Min Seo pada sebuah bangku sehingga leher mereka tidak lagi tergantung di tali dan menunggu kehabisan napas. Nyawa ketiganya untuk sementara terselamatkan.

Seja langusng berlutut di depan Raja yang memintanya untuk menjelaskan maksud perkataannya barusan, Apa yang sebenarnya Seja katakan? Mereka bilang Samchongsa adalah mereka bertiga (Dal Hyang, Seung Po dan Min Seo). Itu tidak benar, Anggota ketiga dari Samchongsa bukanlah Park Dal Hyang, melainkan dirinya, Seja mengakui hal itu sekali lagi pada Raja.

“Mereka hanya mengikuti perintah hamba. Jadi mohon mintalah hamba untuk bertanggung jawab”

Raja mempertegas pengakuan Seja, “Apa maksudmu kau mengakui telah membohongi Ayahmu dan negara ini, merencanakan semua ini dan membantu musuh di belakang?”


“Hamba mengakuinya”

Para pejabat mulai panik dan saling berbisik, Raja tampak sangat murka dan melanjutkan kembali tuduhannya, “Kau memaanfaatkan Putri Mahkota untuk menyembunyikan Yong Gol Dae dan saat tersebar rumor tentang perselingkuhan diantara mereka... kau pergi ke Anju dan mengancam Gubernur guna menyembunyikan masalah ini. Kau mengirim Park Dal Hyang ke Anju untuk menghancurkan laporannya. Apa kau mengakui semua itu?”

“Hamba mengakuinya”

Sekali lagi Seja mengakui semua tuduhan itu, Raja merasa geram dan bertanya, jika semua itu benar, apakah Seja masih berpikir dia pantas untuk menjadi seorang Putra Mahkota? Tidak, dia sama sekali tidak layak.

“Hamba tidak layak sebagai Putra Mahkota. Hamba tidak punya kemampuan untuk memimpin rakyat. Sekarang hamba tahu kalau hamba bahkan tidak bisa menyelamatkan orang terdekat Hamba”


Raja merasa apa yang dikatakan Seja adalah hal yang konyol, “Menyelamatkan orang terdekat?” Di saat Seja mungkin akan dilengserkan dari posisinya sebagai Putra Mahkota apakah Seja tidak ingin mengatakan sebuah alasan sebagai pembelaan diri? Seja hanya bisa menunduk dan berkata tidak ada yang bisa dia katakan.



Mendengar jawaban Seja, Raja tampak semakin murka, “Putra Mahkota mengatakan sendiri kalau dia akan mundur. Jika dia tidak pantas sebagai Putra Mahkota dia juga tidak berhak untuk melindungi mereka”

Seja tidak sangka jika Raja akan menyimpulkan hal itu, pengakuannya ternyata tidak menyelamatkan Dal Hyang, Seung Po dan Min Seo. Raja kemudian berkata, siapapun anggota ketiga dari Samchongsa yang telah memanipulasi kasus di Anju dia akan di hukum. Bahkan jika itu adalah Seja, maka diapun harus di hukum. Samchongsa harus di hukum mati karena tindakannya dan Park Dal Hyang pun harus di hukum mati karena memberikan kesaksian palsu, jadi Raja memerintahkan mereka untuk segera di hukum mati.


Para pejabat langsung memohon pada Raja untuk mengampuni Seja yang baru saja pulih. Mereka bisa menyelidiki hal ini terlebih dahulu dan mendiskusikan hukuman yang tepat untuk mereka. Keputusan Raja sudah bulat, saat para pejabat terus memohon dan para petugas diam saja, Raja berteriak agar membawa Seja ke tiang gantungan. Seja hanya bisa pasrah menerima kepurusan ayahnya tersebut.

Saat Seja sudah berada di tiang gantungan bersama yang lainnya, Seung Po berrteriak, siapa yang menyuruh Seja ikut mati bersama mereka? Apakah Seja pikir mereka akan berterimakasih? Ini adalah kematian yang sia-sia? Dal Hyang pun berkata jika begini maka pengakuannya menjadi tidak perlu, mengapa Seja datang? Seharusnya Seja istirahat. Seja menatap mereka bertiga dan hanya bisa mengataka. “Aku minta maaf”

Melihat Seja dan yang lainnya malah asyik mengobrol di tiang gantungan sementara Raja harus menerima keluhan dari para pejabat tentang keputusannya menghukum mati Seja, membuat Raja semakin murka, dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju tiang gantungan dengan penuh amarah.”Apakah kalian ingin mati? Apa yang kalian lakukan?”  teriak Raja pada para petugas yang langsung bersiap untuk melaksanakan hukuman mati.

Raja menatap Seja yang berdiri di bawah tiang gantungan, kemudian bertanya, “Bagaimana rasanya di atas sana? Apa kau takut? Sekarang kau lihat betapa besarnya kejahatanmu?” Seja hanya menunduk, tidak menjawab pertanyaan Ayahnya. Raja pun kembali bertanya apa yang sedang dipikirkan Seja saat berdiri disana?

“Hamba menyesalinya” Seja mengatakan itu dengan penuh penyesalan, Raja sedikit goyah dan bertanya apa yang Seja sesalkan?

Seja terdiam dan menatap ketiga temannya. Apa yang paling dia sesalkan adalah… “Hamba membuat mereka mati padahal mereka tidak bersalah”

 “Hamba menempatkan nyawa istri hamba dalam bahaya. Hamba tidak bisa melihat ketulusannya”

“Hamba menghukum kejahatan dengan kejahatan. Dan  memerintahkan untuk membunuh seseorang sebagai Putra Mahkota”

“Hamba juga memerintahkan mereka membohongi pemerintah. Itu semua salah hamba”

Raja kaget mendengar penyesalan Seja, dia membuat sebuah kesimpulan, “Jadi maksudmu, kau ingin mati sendirian?” Dengan tenang Seja menjawab, jika itu memungkinkan dia ingin melakukan hal itu karena Seja tidak ingin membuat orang yang tidak bersalah harus mati bersamanya.

Mendengar penyesalan Seja, para pejabat kembali membujuk Raja untuk membatalkan hukumannya karena seja sudah merenungkan kesalahannya. Tapi bukan itu jawaban yang ingin dia dengar dari mulut putranya, Raja malah semakin murka dan kembali duduk di kursinya. Raja merasa sudah bulat dengan keputusannya, apalagi saat dia melihat tatapan Seja saat berada dibawah tiang gantungan, sama sekali tidak ada ketakutan.

Dengan mengabaikan permintaan para pejabat agar Raja mengampuni Seja, Raja pun memerintahkan petugas untuk melaksanakan hukumannya. Sesuai perinta Raja, petugas menyingkirkan bangku yang menyangga tubuh mereka, sehingga tubuh mereka tergangtung pada tali yang membuat mereka harus perlahan-lahan kehilangan napas.


Melihat Seja sama sekali tidak berkata apapun saat menerima hukuman itu, Raja menjadi galau dan cemas, akhirnya dia berkata agar petugas menghentikan hukumannya. Dengan segara petugas meletakan bangku yang akan menyangga tubuh mereka berempat, sekali lagi.. Seung Po, Dal Hyang dan Min Seo terlepas dari kematian, begitu juga dengan Seja. 

Raja tampak panik dan berkata pada kasim Kim agar memanggil Choi Myung Gil untuk menghadap padanya, Gurulah yang harus di persalahkan karena perbuatan lancang para muridnya. Raja berkata pada para pejabat bahwa mereka akan mendiskusikan tentang pelengseran Seja dari posisi Putra Mahkota, juga hukuman yang layak untuk mereka berempat. 

Para pejabat diminta kembali masuk ke dalam istana dan Raja pun pergi dari tempat hukuman itu, setelah sebelumnya dia menatap bingung pada Seja yang baru saja lolos dari kematian, namun luka di perutnya kembali berdarah.

Semuanya merasa lega karena mereka kembali terbebas dari hukuman mati, namun kondisi Seja semakin melemah dan dia pun tidak sadarkan diri di bawah tiang gantungan itu. Kasim Koo langsung panik dan melepaskan Seja dari tali gantungan.

Dengan tergesa-gesa Kasim Koo membawa Seja kembali ke kamarnya dan membaringkannya di tempat tidur yang khusus disiapkan untuk pengobatan Seja. Kasim Koo melihat darah yang terus mengalir dari luka tusukan panah di perut Seja yang kembali terbuka, dia pun memerintahkan kasim lainnta untuk segera memanggil tabib dan menekan luka Seja agar darahnya tidak terus keluar.

Min Seo, Seung Po dan Dal Hyang kembali di bawa ke dalam penjara dimana Kim Ja Jum pun masih di tahan di sel yang lain. Kim Ja Jum menyapa Dal Hyang dan mengejeknya, dia tidak sangka jika Park Dal Hyang dari Gangwon-do masih hidup, sungguh panjang umur. Kim Ja Jum mengingatkan agar Dal Hyang tidak terlalu percaya diri, karena mereka tidak akan tahu apa yang terjadi di hari esok. Raja mungkin tidak tegas, namun dia tidak bodoh. Saat ini, Raja sudah tahu bahwa Dal Hyang telah membohonginya, meskipun kini Dal Hyang hidup, maka hidupnya tidak akan mudah, dia bisa saja mati esok hari.

Dal Hyang sebenarnya sudah malas berbicara dengan Kim Ja Jum, karena bagaimanapun dialah yang menyebabkan mereka menjadi seperti sekarang ini. Melihat Park Dal Hyang menatapnya sinis, Kim Ja Jum mendekat dari dalam selnya, dan berkata agar Dal Hyang tidak menatapnya seolah dia adalah musuhnya. Dal Hyang masih muda, pandai-pandailah memilah siapa teman dan siapa musuh, karena posisi musuh dan teman bisa saja saling berganti. Dal Hyang murka dan berkata, meskipun itu akan berganti, musuh tetaplah musuh.  Bukan kah itu menjadi lucu, jika Dal Hyang tidak menganggap Kim Ja Jum musuh, sementara Kim Ja Jum terus menerus berusaha untuk membunuhnya?

Kim Ja Jum bertanya pada Dal Hyang, jika perang meletus sekarang, yang akan menjadi musuh mereka adalah Yong Gol Dae, bukan Kim Ja Jum. Lalu… bagaimana jika Kim Ja Jum menyelamatkan mereka apakah dia akan menjadi teman mereka? Dal Hyang hanya menatap dingin pada Kim Ja Jum yang tertawa puas melihat keadaan Dal Hyang dkk yang kini menjadi tahanan, sama seperti dirinya.

Selain Choi Myung Gil, Kim Ja Jum pun di bawa untuk menghadap Raja yang sedang menggalau. Raja berkata bahwa dia membenci mereka berdua tapi dia tidak bisa memungkiri, hanya merekalah yang bisa Raja percayai, itu adalah kelemahannya. Mendengar Raja membenci dirinya,  Kim Ja Jum berusaha membela diri, tapi Raja tidak menerima alasan, dia memanggil mereka menghadap padanya bukan untuk mendengarkan sebuah alasan, tapi dia ingin membicarakan sesuatu.

Menteri Choi bertanya apa yang ingin di bicarakan Raja? Raja menoleh pada kedua menterinya itu kemudian berkata, “Aku takut pada Putraku” Selama ini Raja telah merasakannya berkali-kali, namun hari ini dia meyakininya, itulah mengapa dia membawa Seja ke tempat eksekusi untuk meihat bagaimana reaksinya.

“Yang kuinginkan adalah dia memohon... dan menangis meminta pengampunan. Dia tidak mungkin berpikir dia akan digantung. Kupikir dia akan menyalahkan orang lain. Aku ingin memberinya pelajaran”

Tapi apa yang terjadi? Kim Ja Jum dan  Choi Myung Gil pun tahu sendiri, Raja tampak sangat  tidak puas dengan sikap Seja di tempat eksekusi.

“Dia naik kesana. Dia bahkan meminta apakah dia bisa mati sendirian. Aku tidak menyukai hal itu darinya” Choi Myung Gil kaget dengan pemikiran Raja, tapi Kim Ja Jum hanya diam saja, tampak mengerti apa yang sedang dipikirkan Rajanya itu. 

Choi Myung Gil membela Seja, bahwa apa yang Seja lakukan hari ini menunjukkan keberaniannya. Tapi Raja tidak menginginkan seorang Putra yang lebih berani dari dirinya!

“Jika pemimpin memiliki tekad seperti itu... banyak orang yang akan mengikutinya. Bagaimana jika dia memiliki  lebih banyak pengikut dibanding aku?” Raja merasa begitu cemas dan merasa tersaingi oleh putranya sendiri. Choi Myung Gil berpendapat itu tidak mungkin terjadi.

Apanya yang tidak mungkin? Raja berpikir itu sudah terjadi. Park Dal Hyang adalah pengawal utama kerajaan, dia seharusnya bekerja pada Raja, seharusnya bertugas untuk mengabdi pada Raja, tapi Dal Hyang malah membohongi Raja demi melindungi Seja. Bahkan dia siap mati untuknya! Apakah itu tidak mengkhawatirkan?

Choi Myung Gil berusaha tetap membela Seja, bahwa di masa muda kesetiaan diantara teman adalah segalanya,tapi Raja tidak menggubris, dia tidak suka dengan kenyataan bahwa seorang pengawal utama kerajaan lebih memihak pada putranya.

Kim Ja Jum lalu bertanya dengan tenang pada Raja, “Apakah anda memikirkan tentang pelengseran Putra Mahkota?” Choi Myung Gil kaget dengan pertanyaan Kim Ja Jum apalagi saat Raja membenarkan hal itu, bahwa dia sedang memikirkan rencana itu.

Namun Kim Ja Jum berpikiran lain, “Bagaimana kalau Anda menjaga mereka... dan memanfaatkan mereka sebagai gantinya? Putra Mahkota sudah membangun... hubungan yang kuat dengan Dinasti Qing.  Jika Anda mengganti pewaris sekarang... itu akan membingungkan negara tetangga kita”

Kim Ja Jum memberi saran pada Raja agar Raja mengawasi mereka dan memanfaankan Seja untuk hubungan Joseon dengan Dinasti Qing. Raja tampak tidak suka dengan ide itu, dia malah menuduh Kim Ja Jum sedang perpihak pada Seja.

“Hamba hanya mengakhawatirkan masa depan Joseon”

Raja meminta pendapat Choi Myung Gil untuk ide Kim  Ja Jum. Demi menyelamatkan posisi putra mahkota,Choi Myung Gil pun mau tak mau menyetujui ide itu.

Namun Raja mendesis, “Aku tidak tahu… apakah aku bisa kembali mepercayai  putraku lagi?” Kim Ja Jum mengingatkan jika Raja tidak bisa mempercayai Seja lagi, maka Raja bisa mengawasinya. Ini adalah keputusan yang harus di pikirkan dengan matang. Raja merasa tidak yakin, dia masih ragu apa yang harus dia lakukan.

Hari demi hari berlalu begitu saja, selama itu Seja tidak sadarkan diri sejak insiden hukuman gantung yang membuat lukanya kembali terbuka. Setelah terlelap selama berhari-hari, akhirnya Seja sadar juga tanpa di ketahui siapapun. Saat membuka matanya dia melihat Kasim Koo sedang berbincang dengan salah satu kasimnya yang lain. Mereka sedang mendiskusikan apakah mereka harus memberi tahu Seja tentang masalah kematian “Yang Mulia”, Kasim Koo berkata Seja bahkan belum bangun, bagaimana mereka memberitahunya? Tapi masa berkabung akan segera berakhir, apakah tidak masalah jika Seja tahu kemudian.

Mendengar pembicaraan para Kasim, Seja langsung was was, dia langsung berpikiran buruk… apakah yang mereka bicarakan tentang pemakaman Sejabin? Yoon Sanggung datang mendatangi para kasim dan memberitahu mereka sesuatu. Para Kasim pun mengikuti Yoon Sanggung kemudian.

Melihat Yoon Sanggung yang juga mengenakan pakaian berabung, Seja semakin berpikira buruk. Apakah akhirnya dia benar-benar kehilangan Sejabin? Seja pun memejamkan matanya, mengingat kenangan manisnya bersama sang istri, ciuman terakhir mereka…. Wajah tersenyum Sejabin saat melepasnya pergi sebelum Sejabin di panah Mi Ryung. Tanpa sadar, Seja pun meneteskan air matanya saat dia masih memejamkan mata.

Seseorang mengusap keringat Seja dengan sapu tangan dan bertanya padanya, “Jooha… apakah Anda menangis?” itu suara Sejabin? Dengan perlahan Seja membuka matanya dan melongo melihat Sejabin ada di hadapannya. Sejabin tampak cemas dan kembali bertanya padanya, apa yang membuat Seja menangis? Apakah dia bermimpi buruk? Sejabin kemudian mengusap air mata Seja.

Seja masih bungkam, dia tak bisa berkata apa-apa saking terkejut nya, air matanya malah semakin banyak. Sejabin jadi semakin bingung, “Jooha?” Setelah menenangkan dirinya, Seja kemudian bertanya, “Apakah aku sedang bermimpi?” Sejabin semakin bingung, “Ye?” Masih dengan air mata yang berurai Seja bertanya lagi, “Apakah kau… benar-benar masih hidup?” Sejabin tidak mengerti apa maksud Seja,

Hingga Sejabin menyadari sesuatu. Kostum berkabung. Sejabin kemudian menjelaskan pada Seja, “Yang Mulia Jung Bin meninggal tadi malam. Kami mengkhawatirnya karena beliau sudah tua, tapi tiba-tiba... Kami tidak bisa memberitahu anda karena anda belum sadar”

Seja masih belum mengatakan apa-apa, dia hanya menatap Sejabin dengan air mata yang masih berjatuhan di pipinya saking terharunya. Istrinya… benar-benar masih hidup? Melihat  air mata Seja, Sejabin menyadari sesuatu, “Apakah Anda menangis karena berpikir hamba yang meninggal?” Seja diam saja, dan hanya menatap Sejabin, sementara Sejabin merasa takjub dan berkata bahwa dirinya masih hidup, Seja lah yang tidak sadarkan diri dalam jangka waktu yang lama. Sejabin kembali menghapus air mata Seja.

Mengingat Seja yang tadi tampak sangat bersedih, sekali lagi Sejabin bertanya,  “Benarkah Anda menangis karena Hamba? Benarkah?” Seja belum mengatakan apapun namun dari tatapannya, Sejabin tahu jika Seja memang menangis karenanya.

“Oh... ya ampun... Hamba senang karena Hamba masih hidup. Siapa yang akan menyangka Anda menangis karena Hamba?”

Sejabin benar-benar merasa sangat terharu sekaligus takjub melihat kesedihan Seja yang berpikir bahwa dirinya yang meninggal, tentu saja selama 5 tahun ini, Seja begitu dingin padanya, tak pernah terpikirkan olehnya jika Seja akan menangisi kematiannya.

Melihat rasa takjub Sejabin, Seja langsung mengubah ekspresi wajahnya, “Lupakan itu!” Sejabin bingung, "Ye??"

“Hapus ini dalam ingatanmu selamanya. Jika kau mengungkit-ungkit hal ini lagi… aku tidak akan memaafkanmu”

Sejabin mengerti, Seja sedang menjaga harga dirinya, dia jadi geli sendiri melihat ekspresi suaminya yang sok berwibawa. Sejabin malah mengerjai Seja, “Hamba akan memikirkannya… semua itu… tergantung pada sikap Anda?”

Seja tak habis pikir, “Apakah kau barus saja mengatakan akan memikirkannya?” tampaknya Seja tak senang dengan perlawanan istrinya itu. Sejabin malah menantang, “Hamba tidak takut apapun setelah merasakan berada di ujung kematian. Sekarang, Hamba sama sekali tidak takut pada Anda”

Seja hanya bengong melihat keberanian istrinya, sementara Sejabin mengulum senyum melihat reaksi terkejut Seja atas keberanin Sejabin melawan perkataannya.

“Jangan tesenyum, kita sedang berkabung” Seja memberi peringatan. Sejabin langsung memingkemkan bibirnya untuk menahan senyum. ^ cute ^

Tapi... tak lama dia malah melihat senyum di wajah Seja, Sejabin pun membalas memberi peringatan, “Jangan tersenyum, kita sedang berkabung” kini giliran Seja yang menahan senyumnya.

Lama-lama keduanya tidak bisa membendung rasa bahagia luar biasa dan kemudian tersenyum bersama. Owww So Sweet >.<

Sambil saling melempar senyum, Seja memegang tangan Sejabin dan menggamnya erat. Memastikan bahwa Sejabin benar-benar ada di hadapannya. Seja merasa sangat bersyukur karena ternyata Sejabin masih hidup, dan kini ada di hadapannya.

[Shimyang, Dinasti Qing – beberapa bulan kemudian]

Yong Gol Dae melapor pada kaisarnya yang langsung mengeluhkan tentang permintaan Yong Gol Dae untuk menunda menyerang Joseon. Salju pertama telah turun di tahun itu, selama ini dia hanya memperhatikan Joseon, tapi menurut Kaisar, Raja Joseon tidak memiliki masa depan, jadi Yong Gol Dae sebaiknya bersiap. Setelah sungai membeku, mereka akan menyerang Joseon.

Dal Hyang kemudian bernarasi, “Setelah beberapa bulan kemudian, perang akhirnya meletus juga”

Kasim Kim melaporkan hal itu pada Raja yang sedang tertidur. Menerima laporan terjadinya perang, Raja langsung panik.

Selama masa perang berlangsung, Raja Injo merasa panik dan was was, dia bahkan merasa tidak nyaman dengan baju kebesarannya, seolah dia sedang menyesal karena kedudukannya sebagai raja. Merasa sangat putus asa, Raja akhirnya memutuskan untuk melarikan diri istana.

“Aku tidak ingin membicarakan soal kesengsaraan perang yang diketahui semua orang. Aku tidak ingin mengingat wajah ketakutan Baginda, juga pemandangan beliau melarikan diri dan  meninggalkan rakyatnya”

Raja Injo begitu ketakutan saat melarikan diri dari istana, dan Dal Hyang hanya bisa menatapnya dari kejauhan, itu adalah pemandangan yang sangat mengerikan untuknya. Bagaimana seorang raja dengan tega meninggalkan Rakyatnya yang sedang berjuang di medan perang hanya demi menyelamatkan diri sendiri.

“Juga tidak ingin membicarakan kesedihan di hari putra mahkota dan putri mahkota di tangkap sebagai tawanan serta istana putra mahkota yang kini tak bertuan yang membuatku merasa terluka”

Dal Hyang berjalan menyusuri istana kosong itu, rasanya benar-benar sedih karena  istana itu ditinggalkan oleh pemiliknya.

[Dua tahun Kemudian]

Dal Hyang memacu kudanya dengan cepat menuju suatu tempat.

“Jadi aku akan melompati waktunya. Dua tahun setelah Putra Mahkota dan Putri Mahkota ditahan Dinasti Qing, kisahku dimulai lagi saat aku tiba di Shimyang melaksanakan Perintah Raja”

Dal Hyang dan seorang petugas lainnya tiba di Shimyang. Mereka akan pergi ke Shimyangguan besok pagi, karena saat mereka tiba itu sudah terlalu malam. Petugas kemudian bertanya, bukan kah Dal Hyang bilang bahwa dia kenal dekat denga Seja dan para pengawalnya? Kalau begitu, Dal Hyang bisa mengunjungi mereka lebih dulu, tidak perlu melewati prosedur. Dal Hyang tersenyum lebar dan berkata dia sudah mengirimkan pesan ke Shimyangguan.

Seorang pelayan suruhan Dal Hyang datang sendirian. Dal Hyang bingung dan bertanya apakah si pelayan itu sudah memberi tahu Seung Po tentang kedatangannya? Tidak, karena dia tidak ada disana. Lalu Ahn Min Seo? Tidak ada juga. Seja? Sama saja, beliau pun tidak ada. Mereka bilang Seja keluar untuk melakukan sesuatu yang penting. Karena tidak ada siapa-siapa disana, pelayan itu pun kembali.  Dal Hyang tampak kecewa karena teman-temannya tidak ada yang menyambut kedatangannya di Cina. Pelayan pun berkata jika mereka semua keluar untuk mengurusi beberapa hal penting. Jadi Dal Hyang tidak ada urusan lainkan? Petugas pun mengajak Dal Hyang untuk minum bersamanya.

Di tempat minum, Dal Hyang melihat para bandit sedang memperjual belikan Budak yanga berasal dari Joseon. Dal Hyang merasa kesal dan ingin bertindak, namun petugas mencegahnya karena mereka sedang berada di negeri orang.

Dal Hyang menahan dirinya, namun dia menjadi kesal. Seorang pelayan menyajikan minuman pembuka di meja mereka dan bertanya apa yang mereka pesan dalam bahasa Manchu. Dal Hyang menjawab dia pesan minuman dalam bahasa Joseon, dan pelayan itu mengiyakan seolah dia mengerti bahasa Joseon, Dal Hyang jadi bingung, bagaimana bisa si pelayan itu bisa mengerti bahasa Joseon, namun saat dia mencoba memanggil kembali si pelayan, dia sudah pergi.

Pelayan yang sedang membawa minuman untuk meja lain melewati meja Dal Hyang, dengan spontan Dal Hyang menarik pelayan itu, ternyata… Pelayan itu adala Seung Po. Dal Hyang senang bukan kepalang, Seung Po juga tak kalah senangnya hingga dia memeluk Dal Hyang dan berkata merindukannya^^ Seung Po melihat wajah Dal Hyang yang kini sudah tampak sangat baik, sekali lagi Seung Po memeluknya dan bertanya bagaimana kabar Dal Hyang. 

Setelah tahu Dal Hyang baik-baik saja dan juga merindukannya, Seung Po bertanya apakah Dal Hyang menerima surat-suratnya? Dal Hyang bingung, surat apa? Seung Po selalu mengirimkan surat-surat yang di tulis Tani ke Joseon, tapi tak pernah ada balasannya. Dal Hyang berpikir sejenak, Ooo mungkin karena dia sudah pindah rumah jadi suratnya tak sampai.

Dal Hyang kemudian menyadari sesuatu, “Siapa Tani?” Seung Po mengingatkan Dal Hyang tentang gadis yang di janjikan untuk dinikahi Dal Hyang. Hmm… Dal Hyang pun teringat pada putra pedagang Cina yang menyelamatkannya di Anju, Pan Se berkata jika Dal Hyang berjanji menikahi gadis bernama Tani itu karena sudah menyelamatkannya meskipun dia tidak ingat kapan dia menjanjikan hal itu.

“Ahh…” Dal Hyang bergunam menandakan bahwa dia sudah mengingat Tani. Sekarang Dal Hyang sudah mengingatkannya? Seung Po berkata Tani pasti akan sangat senang karena Dal Hyang ada di Shimyang, sekalian saja Dal Hyang menikah dengan Tani selama dia ada disana. Dal Hyang tertawa dan berkata, Omong kosong apa yang sedang Seung Po bicarakan itu? hahaha… Seung Po bukannya menjawab, dia malah sibuk ngupil *Ups*

“Samchongsa” terdengar sebuah teriakan orang-orang disana yang saling menyahut dan berkata Samchongsa ada di tempat minum itu. Seung Po langsung menoleh ke arah sumber suara itu dengan pandangan serius, Dal Hyang pun tampak penasaran.

Tiba-tiba banyak tubuh berjatuhan, dan seorang yang berpakaian ala wanita cina plus sebuah cadar sedang melawan para bandit yang menjual para budak tadi. Orang itu menunjukkan aksi luar biasa dalam melawan para bandit tersebut hingga cadarnya terlepas dan Dal Hyang mengenalinya, “Bukan kah itu Ahn Min Seo?” Dia tampak senang sekaligus kaget melihat penyamaran Min Seo yang menjadi wanita Cina malam ini.

Seung Po tak sempat menjawab karena dia melihat ada sekumpulan bandit lain yang akan menyerang Min Seo, dia pamit pada Dal Hyang dan pergi membantu Min Seo untuk menghadang bandit-bandit itu.

Petugas yang bersama Dal Hyang terlihat panik karena keributan itu, dia berkata mereka bertinga tampaknya orang Joseon, siapa mereka itu? Dal Hyang tersenyum dengan bangga dan berkata, “Mereka adalah temanku, Samchongsa” Petugas itu bingung, tapi Dal Hyang hanya tersenyum.

Satu persatu para bandit di lumpuhkan, bahkan sebuah tali mengikat leher salah satu bandit itu yang tubuhnya terangkat ke atas bersamaan dengan turunnya anggota Samchongsa lainnya. Yups… itu adalah Seja >.< dengan gaya yang menawan Seja melepaskan tali yang membantunya turun, sehingga tubuh bandit tadi terhempas ke lantai, Seja pun mulai beraksi seperti Seung Po dan Min Seo untuk melawan para bandit tersebut.

Seung Po menunjukkan keberadaannya pada Seja, saat para Samchonga berdiri di atas meja setelah melumpuhkan para bandit yang ada di tempat itu. “Lihatlah ke sebelah sana” ujar Seung Po pada Seja, dan Seja pun langsung menyadari keberadaan Dal Hyang yang langsung mengangguk hormat padanya. Seja tersenyum pada Dal Hyang.
“Jika kau tidak sibuk, kemarilah… kami kekurangan orang” mendengar penawaran Seja, Dal Hyang langsung semangat setelah sebelumnya betanya apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan? Seung Po berkata Dal Hyang kan tahu jika mereka tidak pernah melakukan hal yang buruk.

Petugas yang bersama Dal Hyang makin panik melihat Dal Hyang yang sudah membuka sarung pedangnya. Dal Hyang meminta agar petugas itu menunggunya, karena dia ingin membantu Samchongsa.

Dal Hyang pun naik ke atas meja, mengambil posisi di samping Seja yang bertanya padanya bagaimana kabar Dal Hyang. Dia baik-baik saja dan mengkhawatirkan keberadaan Seja di Shimyangm tapi tampaknya mereka tampak bersenang-senang di tempat ini? Seja tersenyum lebar mendengar kata-kata Dal Hyang, mereka tidak akan kemana-mana kok.

Ketua para bandit muncul dan mempertanyakan tentang Samchongsa, apakah mereka adalah Samchongsa? Dal Hyang kaget karena ternyata pada bandit mengenali wajah Samchongsa, Seja tampak tak peduli, lagi pula mereka tidak mengenali wajah Putra Mahkota, karena itulah mereka lebih muda beraksi dan kabur setelahnya. Para bandit itu menyiksa orang-orang Joseon, dan Samchongsa harus menunjukkan bagaimana mereka membalas perbuatan para bandit itu.

Saat ketua bandit itu memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Samchongsa, mereka berempatpun mulai beraksi untuk melawan para bandit.

“Samchongsa lebih terkenal di Daratan (Cina), kelihatannya ada banyak hal yang mereka lakukan, sama seperti aku juga”

[Joseon]

Kim Ja Jum dalam perjalanan pulang menuju rumahnya saat dia melihat seorang wanita misterius memperhatikannya sejak tadi, dia bertanya siapa wanita itu? Saat melihat wajah wanita itu, Kim Ja Jum tampak sangat terkejut, seperti baru saja melihat hantu.

Wanita itu ternyata adalah Mi Ryung. Kim Ja Jum bertanya bagaimana bisa Mi Ryung selamat dari kematian? Mi Ryung hanya berkata jika kehidupan terkutuknya ternyata masih panjang. Lalu mengapa Mi Ryung menampakan dirinya lagi? Kim Ja Jum telah membuat Janji yang tidak ditepati, dia datang untuk menagih hal itu. Kim Ja Jum tak habis pikir, apakah Mi Ryung masih tertarik untuk menjadi Sejabin? Itu semua adalah masa lalu…

Mi Ryung memotong perkataan Kim Ja Jum dan berkata dia tidak butuh kedudukan bodoh menjadi Sejabin itu tak berarti lagi baginya, yang Mi Ryung inginkan adalah…

“Aku ingin menjadi wanita Raja”

***

Penasaran dengan kelanjutan ceritanya??? Silahkan menonton Drama Saeguk Cruel Palace yang menceritakan tentang pejuangan Sohyun Seja dan Sejabin di Cina, serta betapa mengerikannya trik-trik Jo Gwi In yang sangat berambisi untuk menjadi ratu dengan merencanakan pembunuhan pada Sohyun Seja saat Seja kembali ke Joseon.

Seandainya Samchongsa season 2 dan 3 jadi dibuat, aku percaya kalo Mi Ryung itu bakal di jadiin Jo Gwi In sama Kim Ja Jum, karena Jo Gwi In itu musuh bebuyutannya Sohyun Seja dan Sejabin banget. Di Cruel Palace malah yang ditonjolkan adalah adu pintarnya Sejabin dan Jo Gwi In, tapi sayangnya… Sejabin tidak selicik Jo Gwi In, hingga akhirnya Sejabin tidak berhasil melindungi nyawa suaminya dari rencana jahat Jo Gwi In yang penuh konpirasi, hiks hiks hiks…

Tapi yah… sayang sekali sih ini… tvN akhirnya memutuskan untuk tidak membuat season 2 dan 3 nya, jadi mari ucapkan Say Goodbye para para Cast Samchongsa…. Pasti bakal kangen berat yah… apalagi sama Crown Couple yang baru saja bersatu kembali sebagai suami istri yang saling memahami, belum sempet ada sweet scene yang bikin doki-doki diantara mereka, akhirnya di kasih Zonk lagi… Duh… padahal pengen liat Pangeran Suk Chul versi Samchongsa, tapi semua itu tinggal mimpi belaka, hehehe…

Petualangan Dal Hyang dan para Samchongsa di Cina yang barus saja di mulai itu pun tidak akan bisa kita saksikan, cerita Jenderal Park Dal Hyang menggantung gini yah jadinya, duh… sayang banget deh ini…

Samchongsa mungkin bukan drama Saeguk terbaik yang pernah aku tonton, tapi mungkin akan jadi yang paling aku rindukan^^

Terimakasih pada semua pembaca yang masih menanti dengan setia Rekap Samchongsa ku yang terakhir ini, pengalaman selama tiga bulan menonton Drama ini adalah sesuatu yang menakjubkan, terimakasih pada semua yang sudah menemani kegalauan ku selama ini.

Sampai jumpa di drama selanjutnya^^

Spesial Pic
 *Jooha.... aku rasa kita tidak bisa bertemu lagi*
-Apa maksudmu, Binnie?-
*tvN... tvN... memutuskan untuk tidak mempertemukan kita di Season 2, hiks hiks*
-Akh... Kau benar... Maafkan atas semua perlakuanku selama ini-
(Say Goodbye untuk Crown Couple -___-)

*written by irfa at cakrawala-senja-1314.blogspot.com*

2 komentar:

  1. Hiks padahal pengen liat seja-sejabin lagi... sayang tvN ngejodohin sejabin sama goo daeyoung di masa depan, coba klo sama seja terus ceritanya sejanya yg ngejar2, sejabinnya yg sok cool. Hohohoooo

    BalasHapus
  2. oke aku jatuh cinta sama crown couple ini ^^

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^