Jumat, 27 April 2012

[Sinopsis] Yes Captain Episode 3 part 2




Menara Pengawas Incheon.

Seorang petugas pengawas Magang sedang memberi Intruksi pada sebuah pesawat yang akan lepas landas. Dong Soo datang dan mendengarkan Intruksi sang Trainer nya. Dia sadar ada yang salah dengan Intruksinya dan langsung merebut mic, lalu memberitahu pesawatnya bahwa intruksi sebelumnya salah dan membenarkannya dengan tiba-tiba, membuah  Juniornya kaget dengan kehadiran Dong Soo yang tiba-tiba.

Dong Soo kesal dan melemparkan tanda pengenalnya ke meja. Dia marah-marah pada petugas trainere itu  dan berkata jangan hanya membaca radar, tapi juga perhatikan keadaan pesawatnya. Petugas Trainer  ketakutan dan meminta maaf. Saat Dong Soo mengambil tanda pengenalnya di meja, dia baru sadar jika juniornya itu menangis setelah dia memarahinya. “Trainer, kau menangis?” Tanya Dong Soo kaget. Petugas Trainer itu menjawab tidak, tapi Dong Soo tahu dia berbohong dan menyodorkan sapu tangannya pada sang Trainer agar dia mengeluarkan cairan dari hidungnya akibat tangisan barusan.

Petugas trainer menerimanya dan mengeluarkan cairan di hidungnya tanpa ragu-ragu pada sapu tangan itu. Dong Soo berkata, “Meskipun kau pegawai baru, kau harus tetap bersikap professional di Menara Pengawas. Mengapa?” Tanya Dong Soo lalu mendekatkan wajahnya pada petugas trainer, “Karena itu berkaitan denga nyawa manusia. Kau mengerti?”

Dong Soo melihat sapu tangannya, dia berkata pada petugas trainer untuk mengembalikan sapu tangannya besok saja (ya eyalah,, udah diingusin gitu,,). Dong Soo pun kemudian pergi meninggalkan petugas trainer sendirian di kursinya. Petugas trainer pun menatap Dong Soo penuh dengan rasa haru. Sepertinya bakal ada benih-benih cinta nih dari Junior nya Dong Soo ini.

Han Da Jin datang menjemput Ppo Song di TK nya. Dia melihat Ppo Song sedang menari bersama teman-temannya. Saat Ppo Song berbalik, dia melihat Da Jin dan melambaikan tangannya dengan kegirangan, Da Jin pun membalas lambaian tangan sang adik. Ppo Song meneruskan tariannya sementara Da Jin menatap Ppo Song dari balik jendela kelas dengan sedih.
(Oh iya,, lagu yang dinyanyiin Ppo Song dan teman-teman TK nya adalah lagunya Han Ji Eun di Full House,, jadi kangen sama Lee Young Jae dan Han Ji Eun nih,,)

Da Jin dan Ppo Song berjalan bersama untuk pulang ke rumah. Mereka berjalan sambil bercanda dan mengobrol saat menuruni tangga.
Da Jin: “Beberapa hari lagi, Ulang tahun Ppo Song. Hadiah apa yang harus Eonnie belikan untuk mu?”
Ppo Song: “Tidak perlu, aku tahu Eonnie tak punya uang”
Da Jin: “Hah? Bagaimana kau berpikir Eonnie tak punya uang. Eonnie punya banyak uang”
Ppo Song: “Kau tak punya uang dan harus membayar hutang. Jadi tidak apa-apa”

Da Jin kesal dengan kata-kata Ppo Song, dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan mungil Ppo Song.
Da Jin: “Yak!,,, Han Da Yeon”

Ppo Song: “Eonnie, mengapa saat kau bad mood, kau berkata, ‘Yak! Han Da Yeon’. Aku lebih suka dipanggil Ppo Song”

Ppo Song lalu tertawa dan menggandeng tangan Da Jin kembali. Dia pun menyeret Da Jin untuk meneruskan perjalanan mereka. Da Jin mulai mengeluh, “Aigo,, tidak bisa begitu. Eonnie menggunakan semua tabungan untuk membayar hutang hari ini”
Ppo Song bersorak, bahagia mendengar hal tersebut. Ppo Song lalu melihat Yun Seong, dia pun berteriak, “Itu, Penguin Ajussi” Da Jin melihat Yun Seong yang juga sedang dalam perjalanan pulang. Tapi Yun Seong tidak meihat mereka dan pergi begitu saja berjalan menuju rumahnya.

Ppo Song berlari-lari mengejar Yun Seong sambil memanggilnya ‘Penguin Ajussi’.
“Penguin Ajussi! Pengguin Ajussi! Penguin Ajussi! Penguin Ajussi!” panggil Ppo Song sambil terus berlari. dibelakangnya Da Jin mengejar Ppo Song untuk menghentikannya mendekati Yun Seong.  “Ppo Song,, Ppo Song!” kata Da Jin Sambil mengejar adik kecilnya itu. Tapi Ppo Song tak berhenti dia malah semakin cepat berlari menghampiri Yun Seong.

Yun Seong berhenti, bukan merasa ada yang memanggilnya, tapi merasa ada yang mengejarnya. Yun Seong berbalik ke belakang dan melihat Ppo Song dan Da Jin yang terengah-engah karena kecapean. Ppo Song sekali berkata, “Penguin Ajussi”. Yun Seong  bengong, “Aku?” Ppo Song mengangguk membenarkan (Aigoo,,, lucunya,,, suka banget sama Ppo Song,,). Yun Seong tak mengerti, dia berkata pada Ppo Song, “Aku bukan Penguin, ataupun seorang Ajussi”. 

Ppo Song tak menannggapi, dia malah bertanya apa yang dibawa Yun Seong di tangannya. Yun Seong bilang Ppo Song tak perlu tahu, sambil menyembunyikan bungkusan yang berisi roti ikan ke belakang.  Da Jin mengingatkan Ppo Song untuk berhenti dengan isayaratnya,, Ppo Song tak paham dan terus bertanya. “Aku sering makan roti ikan dan aku mencium baunya” kata Ppo Song tentang bungkusan itu.

Yun Seong menatap Da Jin, mengisyaratkan dia tak suka pada rasa ingin tahu Ppo Song. Da Jin mengajak Ppo Song untuk pergi dan tak lagi mengganggu Yun Seong, “Ppo Song-a, ayo kita pergi”. Tapi Ppo Song memilih terus bertanya pada Yun Seong. “Penguin Ajussi, apakah kau tinggal di daerah ini?”. Yun Seong menatap Ppo Song kemudian mengangguk, (aku juga mulai berpikir, Yun Seong lucu banget kalo lagi ngobrol sama Ppo Song, jaim-jaim gimana gitu,,, tapi malah terlihat polos,,,)

“Apakah aku boleh ke rumahmu untuk main?” Tanya Ppo Song polos. Dengan tegas Yun Seong berkata “Tidak” sambil menggelengkan kepalanya. Da Jin menyipitkan matanya menatap Yun Seong, heran,,, bagaimana seseorang bisa begitu tegas menolak pada gadis kecil seperti Ppo Song.

“Lalu,, Penguin Ajussi saja yang datang ke rumah kami untuk bermain, rumah kami tinggal luruuuus ke sana” kata Ppo Song sambil menunjukan arah rumahnya karena merasa tak puas dengan penolakan Yun Seong. Da Jin menghentikan Ppo Song dan tersenyum aneh pada Yun Seong, seolah meminta maaf atas kelancangan adiknya yang telah mengganggu perjalanan Yun Seong. Tapi Ppo Song hanya memasang wajah polosnya menawarkan kedekatan yang lebih pada Yun Seong. 

Da Jin hanya meringis pada Yun Seong karena kelakuan adiknya. Sementara Yun Seong mulai berpikir.

Da Jin berkata pada Ppo Song untuk mengucapkan selamat tinggal pada Yun Seong, bermaksud mengajak Ppo Song pergi lalu menundukan badannya dan badan Ppo song untuk memberi salam pada Yun Seong. Da Jin akhirnya membawa Ppo Song untuk pergi, sedikit mengangkatnya khawatir Ppo Song tak mau pergi.

Saat Da Jin dan Ppo Song beranjak pergi, Yun Seong berkata, “Tunggu”. Da Jin berbalik dan menatap Yun Seong.

 Sepertinya Yun Seong membagi Roti Ikan yang dibelinya pada Ppo Song, karena kini Ppo Song dan Da Jin sedang berjalan pulang sambil menikmati roti ikan pemberian Yun Seong. Da Jin bertanya pada Ppo Song, “Ngomong-ngomong Ppo Song-a, mengapa kau memanggilnya Penguin Ajussi?”. Dengan polos Ppo Song menjawab, “Penguin hidup di kutub Selatan, Ajussi telah memberitahukannya padaku”. Da Jin awalnya bingung, lau teringat pada ajarannya yang menyebutkan Penguin adalah salah satu hewan yang hidup di kutub utara.

Da Jin tertawa dan berkata, “Jadi Penguin telah pindah ke kutub Selatan? Aslinya mereka berasal dari kutub Utara” Ppo Song tak berkata apapun hanya menatap Iba pada kakaknya, dia tahu kakaknya tidak ingin terlihat salah di hadapannya. “Sepertinya mereka memang pindah ke kutub Selatan dan meninggalkan rumah mereka di kutub utara…” kata Da Jin sedikit ragu-ragu.  Tapi kemudian Da jIn tertawa dan bertanya pada Ppo Song. “Benarkan?” Ppo Song ikut tertawa dan membenarkan saja apa yang dikatakan kakaknya.

Ppo Song dan Da Jin sampai di rumah Choi Ajussi, mereka melihat makanan lezat di meja dan langsung berpikir bahwa Choi Ajussi lah yang membuatkannya untuk mereka. Lalu mereka pun memakannya dengan lahap.

Saat sedang makan, Da Jin mendengar suara air mengalir dari arah dapur. Dia punlangsung paranoid dan waspada. 

Da Jin mengendap-ngendap ke dapur dan melihat seorang pria yang sedang mencuci tomat berdiri di depan tempat cuci piring sambil menari-mari karena mendengarkan music melalui Headseatnya. Pria itu adalah Kang Dong Soo, yang berniat membuatkan makanan enak untuk Choi Ajussi.

Saat Dong Soo mencoba menelpon Choi Ajussi dan melepaskan Headseatnya, Da Jin  mengambil kayu pembuat mie sebagai pemukul dan berjalan mendekati Dong Soo sambil mengendap-negendap. Tanpa aba-aba, Da Jin langsung memukul Dong Soo dari belakang hingga membuat Dong Soo pingsan dan terjatuh di dapur. Da Jin bengong setelah melakukan hal itu.


Dong Soo meringis kesakitan saat terbangun dari pingsannya. Choi Ajussi telah pulang ke rumah dan merasa bersalah atas apa yang menimpa Dong Soo, begitu juga Da Jin dan Ppo Song mulutnya yang masih belepotan bumbu spageti  yang tadi dibuat Dong Soo.

Dong Soo melihat Da Jin yang acuh kepadanya, dia menatap Da Jin marah. Melihat kemarahan Dong Soo, Choi Ajussi malah berkomentar, sepertinya mereka terhubung oleh takdir, jadi berhentilah saling menggeram. Dong Soo meminta Da Jin mengembalikan spagetinya dan memberikan biaya pengobatan padanya. Da Jin malah berkata mengapa Dong Soo bertingkah seperti pencuri di dapur rumah orang lain? Dong Soo kesal karena Da Jin menyebutnya pencuri.

Da Jin segera mengajak Ppo Song masuk ke kamar untuk mengerjakan PR dan menggambar, agar dia bisa melarikan diri dari kemarahan Dong Soo. Ppo Song mengangguk mendengar ajakan kakaknya. Dong Soo langsung tahu bahwa Da Jin berusaha melarikan dari, tapi kata-kata Dong Soo malah membuat Da Jin kesal pada lelaki itu.

Da Jin berkata dia tidak akan menghindari buang air besar meskipun itu menyeramkan. Dong Soo langsung sewot dan berpikir Da Jin menganggap dirinya kotoran.  Tentu saja Da Jin menolak, dia tak pernah bilang bahwa Dong Soo adalah kotoran, dia hanya mengatakan hal itu, karena teringat pepatah lama. Da Jin lalu bertanya, memangnya kenapa, apakah Dong Soo memang kotoran? Dong Soo makin kesal  pada Da Jin, dan terlihat ingin menerkamnya, dia sudah siap untuk berkonfrontasi dengan Da Jin yang juga siap melawannya jika saja Choi Ajussi tidak melerai mereka.

Ujung-ujungnya Da Jin malah menendang selangkaan Choi Ajussi yanf berusaha menghalanginya berkelahi dengan Dong Soo. Da Jin dan Dong Soo merasa bersalah dan berhenti bertengkar. Dengan suara tersiksa dan terlihat kesakitan, Choi Ajussi pun meminta Dong Soo berhenti bertengkar dengan Da Jin dsebagai gantinya Choi Ajussi akan mengajarinya. Dong Soo pun tertawa puas menatap Da Jin dan berkata bahwa kali ini Dong Soo melepaskan Da Jinkarena Choi Ajussi. (Hmm,,, jadi Dong Soo bersikap baik pada Choi Ajussi karena minta diajari sesuatu ya, baru ngerti aku,,,)

Choi Ajussi meminta Da Jin untuk berhenti juga dengan isyaratnya. Da Jin yang sudah merasa bersalah pun segera mengajak Ppo Song untuk masuk kamar. Namun Dong Soo masih tak puas dan ingin kembali berkonfrontasi dengan Da Jin, maka saat Da Jin berniat pergi ke kamarnya Dong Soo masih saja berniat berkelahi dengannya untungnya Choi Ajussi menahannya.  Saat menaiki tangga, Da Jin dan Ppo Song berhenti sejenak dan menatap Doong Soo lalu mengejeknya dengan menarik kantung mata mereka bersamaan sambil memeletkan lidah mereka. Ini membuat Dong Soo semakin kesal.

“Chan” kata Dong Soo memperlihatkan harta berharganya pada Ppo Song, Da Jin dan Choi Ajussi. (Lho ka[an Dong Soo dan Da Jin baikan ya?) . Harta berharga itu adalah peralatan perakitan dan pembongkaran suatu alat dnegan naman HF Transceveir yang mungkin terlihat tua saat ini namun masih bisa digunakan dengan baik.

Ppo Song yang cantik dan lucu tampak tertarik dengan salah satu alat yang bisa mengeluarkan bunyi khas saat ditekan. Dia bertanya pada Dong Soo alat apakah itu. Dong Soo langsung menghampirinya, meyimpan Ppo Sonh dipangkuannya saat dia duduk dikursi yang ada didepan alat itu. Dong Soo pun menjelaskan kegunaan alat itu yang bisa membuat Ppo Song berkomunikasin dengan orang di seluruh dunia. Ppo Song bertanya, “Seperti tepelon?” Dong Soo menjawab, ya semacam itulah,, Dong Soo pun menjelaskan bahwa untuk menggenukannya mereka tak perlu berbicara hanya tingga menekan tombol-tombolnya untuk mengisayaratkan sebuah kata. Dong Soo memberikan contoh, misalnya kata “Saranghae”. Dong Soo pun menekannya dan berkat bukankah itu sangat menakjubkan. Ppo Song nampak takjub dengan alat itu.
Dari kejauhan, Da Jin melihat kedekatan Dong Soo dengan Ppo Song dengan terharu. Dia senang meliha Ppo Song nampak terlihat snagat bahagia karena tertarik pada sesuatu hal. Dong Soo berkata kelak dia akan mengajari Ppo Song lebih banyak. Dong Soo mendudukan Ppo Song dikursi dan dia menghampiri Choi Ajussi yang sedang takjub melihat sebuah alat yang besar.

Dong Soo menjelaskan mesin itu (yang jujur saja tidak aku mengerti, jadi aku skip penjelasan Dong Soo ya?). Choi Ajussi tampak takjub, namun Da Jin meremehkannya dengan berkata semua ini seperti sampah. Da Jin bertanya dari mana Dong Soo mendapatkan semua itu, apa dari bak sampah? ataukah membelinya di pasar loak? Dong Soo jelas kesal dengan komentar Da Jin, namun dia malah membenarkan kata-kata Da Jin dan berkata bahwa keluarnya memang punya sebuah kios pasar loak. Da Jin tertawa menyeringai mendengar hal itu.

Dong Soo ternyata tak berbohong. Ayah Dong Soo memang memiliki tempat jual beli barang bekas terutama mobil dan mesin-mesin lainnya. Dong Soo mengunjungi ayahnya yang sedang menjahit baju di tempat kerjanya. Tuan Kang memperlihatkan jas blink blink barunya dan bertanya pada Dong Soo bukan kah dia sangat sylish? sambil memperagakan salah satu gaya seorang penyanyi jama dahulu kala. Dong Soo terlihat takjub namun berkata, bahwa ayahnya seperti seorang pelayan Bar tinggal memakai Name tag saja “Junk Man” (artinya Manusia dari tempat sampah). Tuan Kang kesal dan bertanya apakah dia harus memiliki dua pekerjaan mulai besok? Dong Soo pikir itu ide bagus, Tuan Kang pun berpikir bahwa dia bisa menghasilkan lebih banyak uang dnegan melakukan hal tersebut. Saat Dong Soo berniat pergi tuan Kang berkata bahwa dia akan menjahit kaus kaki Dong Soo, tapi Dong Soo menolak dan memilih hidup dengan kaki telanjang saja, lalu menarikan tarian aneh di depan Ayahnya dengan kesal.

 Di sebuah Pesawat yang baru mendarat, pramugari Lee Joo Ri menyombongkan sepatu barunya yang cantik pada semua rekan kerjanya. Para juniornya tampak takjub, kecuali Pramugari baru yang melakuakn terbang pertamanya.

Sementara itu Choi Ji Won sedang menatap kabin yang baru ditinggalkan oleh para penumpang. Dia duduk di salah satu kabin, terlihat seolah mengingat insiden yang terjadi 7 tahun silam.

Choi Ji Won bertukar pakaian di ruang ganti di depan lokernya. Dia membuak sebuah laci dan terdapat sepasang tanda Co-pilot bersetrip kuning tiga, yang sepertinya milik Yun Seong. Dia mengambil tanda itu dan menatapnya lama membuatnya mengenang masa lalu.

flash back

Choi Ji Won sedang menanti disebuah taman, dimana dibawahnya membentang tangga yang cukup panjang (kayaknya aku sering liat taman ini di beberapa Drama Korea). Choi Ji Won menanti dengan hati resah, lalu dia melihat Yun Seong muda yang berlari dari bagian bawah tangga dengan kegirangan. Yun Seong menaiki tangga tersebut satu demi satu untuk menghampiri Ji Won yang tertawa melihatnya. Ji Won pun turun tangga menghampiri Yun Seong dan mereka berhenti di tengah dengan perasaan bahagia.

Yun Seong mengulurkan tangannya bermaksud menyambut Ji Won ke dalam pelukannya. Ji Won yang mengerti segra menghamburkan diri kedalam pelukan sang kekasih. Yun Seong memegang tangan Ji Won dan memberikan tanda Co-pilot strip tiganya. Ini membuat Ji Won sangat terharu dan hampir menangis.

Yun Seong tampak bahagia melihat Ji Won yang tampak takjub. Ji Won terus menatap tanda itu lalu akhirnya berteriak kegirangan karena sangat bahagia. Ji Won pun memeluka Yun Seong sekali lagi, mereka tertawa bahagia sambil berpelukan.
flash back end

Choi Ji Won mengenang semua itu sambil berjalan ke arah tangga kenangannya dengan Yun Seong. Dia berdiri di tangga bagian atas dan menatap ke bawah dengan penuh kenangan. Saat berniat pergi, dia melihat sessosok bayangan di bagian bawah tangga. Dia adalah Yun Seong yang juga sedang melakukan perjalanan untuk mengenang masa bahagia mereka dahulu.

Ji Won menatap Yun Seong yang mulai menaiki tangga dari atas. Yun Seong menyadari keberadaan Ji Won dan mereka pun saling menatap cukup lama. Dua orang kekasih yang lama terpisah karena sebuah insiden yang merenggut nyawa ibu Da Jin, akhirnya kembali bertemu.

Keduanya berakhir di sebuah restoran untuk makan malam dan saling bicara. Mereka hanya saling terdiam dan saling mentap hingga Ji Won memulai percakapan diantara mereka, mengingatkan Yun Seong pada pertemuan mereka hari itu di tangga kenangan mereka.
Ji Won: “Saat itu,,, apa yang membuatmu begitu bahagia?”
Yun Seong: “Karena Aku masih muda”
Ji Won: “Jika kita kembali ke waktu itu,,,”
Yun Seong: “Itu semua hanyalah masa lalu”

Ji Won mengerti maksud Yun Seong dan menatapnya dengan sedih. Yun Seong mengalihkan pandangannya dan meminum anggurnya. Yun Seong berkata, Dia tak tahu bahwa Ji Won akan bekerja di Wings Air. Ji Won berkata, setelah Yun Seong mengundurkan diri, Ji Won meninggalkan Mi Rar Air dan bekerja di Wings Air. Ji Won pun melarikan diri dari kenyataan dan menjadi pengecut. Yun Seong meminta maaf pada Ji Won. Yun Seong berkata, jika saja dia tidak melakukan kesalahan hari itu, Ji Won tidak akan merasa bersalah hingga detik ini karena insiden yang terjadi 7 tahun lalu. Ji Won berkata semua itu bukan salah Yun Seong, semuanya salah Ji Won yang sangat tidak bertanggung jawab terhadap penumpang.

Yun Seong terdiam tidak tahu harus berkata apa. Lalu Yun Seong bertanya, apakah mungin Ji Won tahu dimana keberadaan keluarga Kapten Han Gyu Pil? Ji Won sedikit tegang. Yun Seong berkata, sepertinya keluarga kapten Han sudah pindah rumah, jadi apakah Ji Won ada kemungkinan mengetahui keberadaan mereka? Ji Won pada akhirnya berkata dia tak tahu dan bertanya mengapa Yun Seong menanyakan hal itu? Yun Seong tak menjawab, dia hanya terlihat cemas.

Ji Won memanggilnya, “Sunbae, kau terlihat lebih tampan, apakah kau baik-baik saja?” Yun Seong hanya menatap Ji Won dan mengangguk kecil. Namun tentu saja, sebenarnya Yun Seong tidak merasa baik-baik saja.

Yun Seong berjalan pulang dengan gontai sambil mengingat kesalahan yang dilakukannya 7 tahun silam, hingga membuat Ny. Han terguncang-guncang di toilet dan mengalami pendarahan hingga harus menjalani persalinan darurat dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di pesawat yang di kendalikan suaminya sendiri yang memilih lebih menyelamatkan nyawa 300 penumpang.

Esok harinya di kantor Wings Air. Yun Seong sedang menemani direktur Wings Air yang sedang membersihkan miniature pesawat Wings Air. Direktur tampak bahagia melakukan hal itu, membuat Yun Seong tersenyum bahagia juga melihat kebahagiaan atasannya itu.

Wakil Hong In Tae datang bersama putrinya Hong Mi Joo dan menatap tak senang pada keberadaan Yun Seong bersama diektur. Hong Mi Joo yang melihat atasannya membersihkan miniature pesawat sendirian segera menghampirinya dan berkata biar dia yang melakukannya. Direktur menolak, dan berkata, tangan indah Mi Joo nanti jadi kotor. Direktur berkata, bahwa dia sangat mencintai perusahaan ini. 

 Hong Mi Joo pun tersenyum mendengar perkataan Direktur. Yun Seong menatap Mi Joo yang kemudian memberinya salam dengan anggukan kepalanya. Yun Seong membalasnya dengan canggung.

Direktur lalu bertanya pada Yun Seong, apakah Yun Seong sudah mempertimbangkan permintaannya? Yun Seong merendah dan berkata dia merasa belum pantas untuk memberikan pelatihan pada para Juniornya. Direktur berkata dia meminta hal ini, bukan berarti dia tidak membirakan Yun Seong untuk terbang. Direktur berkata, telah terjadi banyak kesalahan di dalam kokpit dan perusahaan membutuhkan pengalaman Yun Seong di Australia untuk dibagi pada para Pilot muda. 


Direktur kemudian berkata, bahwa GM Hong Mi Joo-lah yang telah merekomendasikan Yun Seong untuk terlibat dalam hal ini. Mi Joo tersenyum saat direktur menyebutkan namanya. Yun  eong pun menatap Mi Joo.

Lalu Wakil Direktur Hong In Tae datang dan berkata, sepertinya Yun Seong tidak ingin melakukannya, dan jika dia tidak ingin melakukannya mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Yun Seong menatap Hong In Tae yang kini menatapnya dengan tajam, Yun Seong sadar Hong In Tae masih tidak menyukai keberadaannya di perushaan ini.

Direktur berkata, mau atau tidaknya Yun Seong, biar Yun Seong yang putuskan sendiri. Seharusnya Yun Seong mau mencobanya, lalu meminta persetujuan Mi Joo. Dengan semangat Mi Joo berkata tentu saja seharusnya memang begitu. Hong In Tae tampak tak senang dengan sikap Mi Joo yang memihak Yun Seong dan menatap Yun Seong dengan pandangan makin tak suka.

Direktur kemudian menghampiri Yun Seong dan menepuk lengannya. Direktur berkata, sebaiknya Yun Seong memikirkan permintaannya ini dengan serius. Direktur pun pergi dan menyuruh semua orang kembali pada pekerjaan mereka sambil mengajak Hong In Tae pergi bersamanya. Hong In Tae seperti enggan beranjak pergi namun pada akhirnya dia pun memberikan isyarat dan Mi Joo untuk ikut dengannya juga.

Sebelum beranjak pergi Mi Joo berkata pada Yun Seong bahwa dia akan membuka posisi khusus sebagai instruktur penerbangan, hingga Yun Seong setuju. Kemudian  Mi Joo pun pamit meninggalkan Yun Seong.

Mi Joo dan Hong In Tae minum teh bersama di kantor GM.  Hong In Tae bertanya, mengapa mereka harus memilih Kim Yun Seong untuk menduduki posisi itu, apakah tidak orang lain? Mi Joo menjawab, karena Kim Yun Seong memang berbakat dan memiliki kemampuan. Mi Joo bertanya pada Ayahnya, memangnya kenapa, apakah Hong In Tae mengetahui sesuatu? Hong In Tae langsung menghentikan minumanya dan menatap sang putri yang terlihat sangat penasaran. Hong In Tae jadi sedikit gugup dan mencari alasan, dia akhirnya berkata bahwa karena dia peduli terhadap perusahaan maka dia sedikit bersikap berhati-hati dan perlahan-lahan.

Mi Joo berkata, Direktur sudah berkata OK. Hong In Tae berkata, Direktur sengaja melakukan itu untuk melawannya. Direktur memilih Yun Seong untuk menyingkirkan aku. Hong In Tae meminta Mi Joo untuk tidak terlalu dekat dengan Yun Seong karena masalah ini.

Hong In Tae pun berdiri dengan menahan sedikit amarah. Mi Joo langsung mengikutinya dan memeluk lengan sang Ayah, “Daddy, Bagaimana bisa, dengan memberikan posisi tersebut pada Kim Yun Seong, posisi Ayah bisa terancam? Jangan khawatir,ya?” kata Mi Joo menenangkan kekhawatiran Hong In Tae yang berlebihan.

Mi Joo lalu berkata pada Hong In Tae, bahwa Dia terlihat tidak asing baginya. Rasanya dia pernah bertemu dengannya disuatu tempat entah dimana. Hong In Tae langsung tegang dan menatap sang putri. Hong In Tae bertanya siapa maksud Mi Joo, “Kapten Kim Yun Seong” jawab Mi Joo polos sambil tersenyum pada ayahnya. Hong In Tae menatap Mi Joo tajam, lalu dia berkata, “Benarkah… Ini pertama kalinya aku melihatnya, kembali lah bekerja” Hong In Tae lalu pergi meninggalkan Mi Joo yang kebingungan dengan sikap ayahnya yang terlihat tegang setiap kali dia membicarakan Kim Yun Seong.

Ponsel Mi Joo berdering, dia mengangkatnya dan bertanya pada si penelpon apakan orang itu menemukan sesuatu. Mi Joo mendengarkan penjelaskan si penelpon dan menyimpulkan sesuatu, jadi orang itu benar-benar Kim Yun Seong? Mi Joo menutup teleponnya dengan pandangan menerawang. Dia akhirnya sadar, ayahnya memang menyembunyikan sesuatu darinya tentang Kim Yun Seong.

Di sebuah Gym, Da Jin dan kedua temanya sedang melakukan latihan, kedua temannya sudah tak tahan dan mengeluh kelelahan. Mereka tak tahan lagi dengan pemeriksaan fisik yang harus dilakukan secara rutin, apalagi penglihatan merekapun harus lebih baik dari orang lain.  Begitu juga dengan kemampuan bahasa, Inggris, China, Jepang dan Rusia, mereka harus menguasai semuanya. Teman Da Jin mengeluh, seorang Pilot bukanlah Dewa, mengapa harus sempurna dalam segala aspek.

Saat kedua temannya mengeluh Da Jin masih tetap melakukan latihan dengan tenang di atas treadmill dan tak sedikitpun telihat kelelahan. Temannya memperhatikan dia dan berkata, mengapa Da Jin bisa sekuat itu.

Da Jin dan dua orang temannya kini berlatih alat yang lain. Teman perempuannya bertanya pada Da Jin apakah Da Jin tahu bahwa Yun Seong lah yang menjadi pasangannya dalam Audit kemampuan penerbangan Da Jin.  Temannya yang laki-laki berkomentar, bahwa Yun Seong adalah orang yang teliti, dia akan menemukan semua kesalahan kecil yang Da Jin lakukan. Lalu yang perempuan berkomentar, “Kau akan mati,, aku dengar Kim Yun Seong memiliki temperament yang buruk, haruskah aku membantu memersiapkan pemakamanmu?” Tanya temannya bercanda. Da Jin tertawa mendengar kekhawatiran temannya itu, “Jangan khawatir, aku pasti akan lulus dengan baik”

Yun Seong sedang melakukan tes kelayakan sebagai Auditor. Kapten Pilot yang mengetesnya adalah Kapten Choi Min Suk, kapten perempuan Senior yang dulu menyapa Han Da Jin saat Da Jin melihat Choi Ji Won.  Kapten Choi bilang mereka akan memulainya dnegan test pengetahuan telebih dahulu. Yun Seong mengerti. Kapten Choi bertanya apakah Yun Seong mempersiapkannya dnegan baik, Yun Seong menjawab, dia sudah siap kapanpun.

Kapten Choi memulai pertanyaannya dan Yun Seong dapat menjawabnya dnegan baik dan benar membuat Kapten Choi tersenyum puas menedengar jawaban Yun Seong.

Pintu ruangan itu diketuk seseorang, Han Da Jin masuk dan memberi salam pada Kapten Choi, Da Jin bertanya apakah Kapten Choi yang akan melaukan Audit terbangnya, Kapten Choi membenarkan. Lalu Da Jin berkata  berkata bahwa dia merasa sangat terhormat karena bisa terbang bersama Kapten Choi hari ini. Yun Seong menatap Da Jin, dan dia sepertinya tak senang karen harus terbang bersama Da Jin hari ini.

Kapten Choi, Da Jin dan Yun Seong memasuki kabin pesawat. Mereka akan melakukan Breeffing pra penerbangan dengan para awak kapal yaitu pra kru Pramugari. Da Jin kaget melihat Choi Ji Won yang ada di kabin. Begitu pun Choi Ji Won, namun Choi Ji Won berusaha tetap terlihat tenang.

Choi Ji Won memperkenalkan dirinya. Lalu bergantian dengan Yun Seong dan Juga kapten Choi yang memperkenalkan dirinya sebagai Auditor pada proses Audit kemempuan penerbangan Kapten Kim hari ini. Saat akhirnya giliran Da Jin memperkenalkan diri, dia malah sama sekali tak bersuara dan hanya menatap Choi Ji Won saja sejak tadi. Yun Seong aneh, dan menatap Da Jin, Kapten Choi menyenggol lengan Da Jin agar Da Jin tak melamun dan segera memperkenalkan dirinya. Dengan sedikit gugup Da Jin pun memperkenalkan diri, namun matanya tetap terpaku pada Choi Ji Won, hingga Yun Seong memulai briefingnya untuk penerbangan Wings Air 112 menuju Osaka.

Da Jin banhkan tak mendengarkan apapun yang dikatakan Yun Seong, juga saat Yun Seong mengatakan bahwa hari ini mereka akan membawa seorang narapidana menuju Osaka dan meminta para cabin crew memperlakukannya seperti penumpang lainnya. Choi Ji Won berkata dia mengerti maksud Yun Seong dan tersenyum, sementara Da Jin terus menatap Choi Ji Won dengan pandangan menahan amarah.

Sebelum penumpang masuk, Yun Seong terlebih dahulu mengecek kondisi pesawat dalam berbagai aspek agar tak terjadi kesalahan teknis pada pesawat yang akan diterbangkannya.

Da Jin dan Kapten Choi sudah ada dikokpit. Kapten Choi melihat tingkah Da Jin yang terlihat ogah-ogahan karena suasana hati yang sedang buruk. Kapten Choi menceritakan pengalaman pribadinya saat muda. Pernah satu kali saat jadwal penerbangannya, anaknya terkena demam bahkan ibunya baru saja meninggal, itu pastinya akan mengganggu konsentrasinya dalam menerbangkan pesawat. Tapi sebagai seorang Pilot, semua hal itu tak boleh mempengaruhi pekerjaan mereka. Itulah yang disebut profesionalisme, karena ditangan mereka ratusan nyawa penumpang dipertaruhkan. Da Jin mengerti maksud Kapten Choi dan hanya bisa menjawab “ya” kemudian tersenyum getir.

Di dalam kabin, para pramugari ketakutan melihat narapidana yang menjadi penumpang mereka hari ini.  Penumpang yang lainpun tampak terganggu dengan keberadaan sang narapidana dan memandang dia dengan pandangan yang aneh. Narapidana tersebut tak senang dengan keadaan ini, bahka saat ada seorang anak perempuan tersenyum padanya, ibunya langsung melarang anak tersebut melihat kearah narapidana itu.

Di pantry Kabin, Lee Joo Ri bergosip bahwa dia mendengar bahwa narapidana itu seorang pembunuh pada pramugara. Tapi pramugara bilang dia tidak sengaja membunuh kaena berkelahi dengan seseorang di Jepang. Joo Ri bertanya apakah dia seorang gangster? Pramugara berkata, dari yang dia dengar, dia hanya seorang pekerja kantoran biasa yang mungkin sedang tidak beruntung. Lee Joo Ri menyangkal, mana mungkin jika orang biasa bisa membunuh orang. Lee Joo Ri berkata dia snagat ketakuatan. Di tambah lagi seorang pramugari yang baru saj dari kabin masuk ke pantry dan berkata dia sangat ketakutan dan tidak bisa melakukan hal ini lagi.

Choi Ji Won yang sejak tadi ada di pantry dan mendengarkan percakapan mereka langsung memperingatkan mereka bahwa Narapida itu juga adalah penumpang mereka yang harus dilayani selayaknya penumpang biasa.  Lee Joo Ri tampak tak senang dengan pendapat Choi Ji Won dan mencibirnya di belakang setelah Choi Ji Won pergi.

Sesaat setelah pesawat lepas landas, Choi Ji Won menghubungi Kokpit dan Da Jin yang mengangkatnya. Saat Ji Won bertanya apakah dia diijinkan untuk memberikan cabin service terhadap penumpang, Da Jin hanya membisu mendengar suara Ji Won, satu-satunya suara yang tidak ingin didengarnya saat ini. Ji Won mengulangi permintaannya, Da Jin tetap membisu, hal ini membuat Yun Seong dan Kapten Kim memperhatikannya dan heran terhadap sikap Da Jin.

Dengan penuh amarah, akhirnya Da Jin berkata, apakah Choi Ji Won tidak mendengarkan saat briefing bahwa sebelum semua penumpang duduk dan menggunakan sabuk pengamannya tidak boleh ada cabin service. Da Jin segera menutup telepon itu. Yun Seong marah dengan sikap Da Jin, karena Yun Seong merasa tak pernah mengatakan hal itu saat Briefing karena penerbangan mereka yang cukup pendek hari ini. Yun Seong menyuruh Da Jin agar memberitahu Choi Ji Won bahwa dia mengijinkan memberikan cabin service pada para penumpang. 

Dengan masih menahan amarah, Da Jin balik menelpon dan berkata bahwa Kokpit mengijinkan untuk melakukan cabin service pada para penumpang.

Cabin service pun dilakukan. Narapidana meminta segelas orange juice, pramugari memberikannya dengan gemetar.  Narapidana kesulitan saat akan meminumnya karena tanganya terborgol dan ini menyebabkan orang juicenya  tumpah kemana-mana mengotori tangannya sendiri. Choi Ji Won melihat hal ini dan mengganti gelas orange Juice tersebut dengan gelas yang ada sedotannya agar Narapidana mudah meminum jus nya. Choi Ji Won membersihkan tangan sang Narapidana dan bersikap sewajarnya seolah dia seperti penumpang lain baginya.

Yun Seong memarahi Da Jin yang sejak tadi hanya diam dan melamun saja. Yun Seong berkata bahwa pesawat ini terbang bukan karena keajaiban, tapi karena kemampuan mereka untuk menerbangkannya. Perintah dari Kokpit adalah hal yangsat penting dalam sebuah penerbangan, Yun Seong memperingatkan Da Jin agar jangan sembarangan dengan hal itu dan harus mengingat itu baik-baik.

Lalu masuklah panggilan dari Menara Pengawas si Tokyo yang meminta mereka untuk terbang di ketinggian 35000 feet. Yun Seong menyanggupi hal itu dan meminta Da Jin mengeset ketinggiannya, Da Jin mengeset ketinggian pesawat, namun Menara pengawa Tokyo bertanya mengapa Wings Air 112 tidak terbang di ketinggian 35000 feet.

Yun Seong kaget melihat angka setingan ketinggian mereka, ternyata Da Jin salah menyeting harusnya 35000 dia malah menyetingnya hanya diangka 33000 feet. Yun Seong marah, apalagi hal ini menyebabkan Wings Air 112 akan bertabrakan dengan pesawat lain yang ada diketinggian yang sama. Yun Seong mencoba mengatasi hal ini dan menimbulkan sedikit turbulensi pada pesawat. Saat Da Jin berusaha membantu, YunSeong menepis tangannya dan memilih menyelesaikannya sendiri.

Turbulensi pesawat membuat sedikit kepanikan di kabin dan di pantry, Choi Ji Won berkata pada anak buahnya untuk tidak panik dan tetap mempersiapkan cabin service makanan utama. Saat Choi Ji Won memberikan makanan pada Narapidana, dia bersikap sangat ramah dan hangat, namun Narapidana salah menerima dan merasa Ji Won mengejeknya, dia ngamuk pada Ji Won dengan melemparkan makanan yang diberikan Ji Won hingga mengotori seragamnya.  Narapidana pun ngamuk pada seluruh penumpang yang memandang sebelah mata padanya hanya kerena dia seorang narapidana. Polisi yang mengawalnya mencoba menenangkannya.


Ji Won pun meminta maaf jika sikapnya malah membuat Narapida tersinggung sambil menggenggam tangan Sang Narapidana. Bagi Ji Won Narapidana adalah penumpang yang juga harus dilayani seperti penumpang lainnya di pesawat ini. Ji Won pun pamit diri, sementara Narapidana melihatnya dengan sedikit rasa bersalah.

Ji Won sedang mempersiapkan makanan untuk penumpang, seorang pramugari bertanya bukankan Cabin service sudah berakhir? Ji Won berkata bahwa penumpang di kursi 15B belum makan apapun. Pramugari tersebut bertanya, bukankah itu penumpang yang seorang pembunuh itu? Choi Ji Won mengingatkan dia adalah penumpang di kursi 15B, dia juga penumpang sama seperti yang lainnya. Lee Joo Ri datang dan berkata kokpit memanggil Manajer Choi, Choi Ji Won segera pergi dari Pantri Kabin kemudian mengantarkan pada penumpang di kursi 15B.

Choi Ji Won mengantarkan makanan itu pada Narapidana sambil tersenyum, Narapidana keheranan dengan sikap Ji Won yang begitu ramah padanya. Setelah Ji Won pergi setelah mengucapkan selamat makan padanya, Narapidana itu menangis terharu.

Choi Ji Won masuk ke kokpit dan mendengarkan percakapan Yun Seong yang sedang menegur Da Jin karena kecerobohannya. Yun Seong bahkan meminta Kapten Choi untuk menggantikan Da Jin membantunya menerbangkan pewasat Wings Air 112, karena dia tidak bisa membiarkan orang yang tidak bertanggung jawab seperti Da Jin duduk di bangku Kokpit untuk saat ini.

 Kapten Choi sedikit kaget, dia menatap Da Jin yang hanya diam mendengar semua kata-kata Yun Seong yang memarahinya dan menyuruh Da Jin keluar dari Kokpit. Akhirnya Kapten Choi pun menasehati Da Jin untuk mengikuti Instruksi Yun Seong. Da Jin mengerti dia berkata pada Kapten Choi, dia akan melakukan perintah Yun Seong.

Yun Seong kemudian bertanya pada Ji Won apakah turbulensi menyebabkan sesuatu terjadi. Choi Ji Won melapor tidak ada kejadian serius yang terjadi. Yun Seong berkata pada Da Jin, dia harus bersyukur pada langit, karena tidak ada yang terjadi. Tapi Yun Seong kaget saat melihat baju Ji Won kotor dan bertanya apa ada masalah. Ji Won menutupi seragam kotornya dan bertanya apakah ada permintaan lain dari Yun Seong? Saat Yun Seong berkata tidak ada, Ji Won pun pamit.  Da Jin heran dengan perhatian Yun Seong pada Ji Won namun dia tak berkata apapun.

Wings Air 112 berhasil mendarat dengan selamat di bandara Internasional Osaka, Jepang. Hampir semua penumpang telah turun kecuali Narapidana dan dua orang polisi pengawalnya.  Polisi menarik Narapidana untuk segera turun. Choi Ji Won, Yun Seong, Kapten Choi dan Da Jin mengantar kepergian Narapidana.  Choi Ji Won kemudian mengganti haduk kotor yang menutupi tangan terborgolnya sebelum Narapidana turun. Choi Ji Won berkata dia berharap Narapidana bisa kembali terbang di penerbangan mereka lain waktu. Narapidan mencibir, Lain Waktu? Tapi akhirnya Narapidana memberi hormat pada Choi Ji Won dengan membungkukan badannya seolah mengucapkan terimakasih karena telah memperlakukannya dengan baik. Narapidana dan dua polisi pengawalnya pun turun dari pesawat.

Kapten Choi memuji keprofesionalisme Choi Ji Won yang tak membeda-bedakan penumpang. Yun Seong dan Kapten Choi pamit pada Choi Ji Won setelah berterimakasih atas kerja kerasnya.

Da Jin masih berdiri di dalam pesawat sambil menahan amarahnya setiap kali melihat Choi Ji Won. Saat Choi Ji Won berterimakasih atas kerja keras Da Jin, bukannya menjawab, Da Jin malah pergi begitu saja sambil menabrak bahu Choi Ji Won tampa permintaan maaf seolah menunjukkan kemarahannya pada Choi ji Won.

Da Jin tiba di bandara Osaka dengan hati lelah, hari ini hari berat untuknya. Da Jin membeli minuman dari mesin penjual minuman otomatis.  Da Jin kemudian duduk di salah satu kursi tunggu bandara. Choi Ji Won datang dan duduk di kursi dibelakang kursi Da Jin sambil membelakangi Da Jin. Choi Ji Won berkata, dia kecewa pada standar kemampuan terbang Da Jin. Mendengar hal itu dari mulut Choi Ji Won, jelas saja Da Jin berang dan bertanya, memangnya itu karena siapa? Choi Ji Won bertanya, apakah Da Jin ingin menyalahkan orang lain atas ketidak mampuannya? Lalu apakah Choi Ji Won akan menyalahkan diri atas ketidak mampuannya?

Choi Ji Won berkata, Da Jin tak pantas jadi pilot karena Da Jin tidak bisa mengendalikan emosinya karena masalah pribadi, dan itu akan menjadi masalah besar nantinya. Da Jin tertawa mendengar hal itu, Da Jin berkata, kalau begitu Ji Won pun tak pantas menjadi pramugari karena kecerobohan Ji Won telah membuat Ibunya meninggal dan Adiknya mendapatkan penyakit Septicemia. Choi Ji Won berkata, hanya seorang pegawai magang yang bisa melakukan kesalahan mengatur ketinggian, hari ini Da Jin beruntung, tapi 7 tahun lalu Choi Ji Won tidak beruntung.

Da Jin kesal mendengar perkataan Choi Ji Won tentang ketidak beruntungan itu. Apakah itu berarti Nyawa Ibunya terenggut hanya karena ketidak beruntungan. Da Jin langsung berdiri dan mengejar Choi Ji Won yang telah beranjak dari duduknya. Da Jin bertanya pada Cho Ji Won apa maksud perkataannya tentang ketidak beruntungan sambil menarik kerah baju Ji Won dengan penuh amarah.

Yun Seong melihat kelakuan Da Jin dan langsung melepaskan cengkaraman tangan Da Jin dari kerah Ji Won. Yun Seong bertanya pada Da Jin. “Apakah kau gila?” Da Jin tak menjawab, dia hanya menatap Yun Seong dengan mata penuh amarah seperti yang dia tunjukkan pada Choi Ji Won.

bersambung ke episode 4

Komentar:
Akhirnya bisa posting juga episode 3 part 2 ini,, setelah begitu banyak halangan dan rintangan. Untuk episode selanjutnya gak janji kapan deh, semoga bisa secepatnya,, akhir-akhir ini sering dapet gangguan.

Uwah,, Ppo Song-a lucu banget yuah,, di episode ini,, apalagi saat pertama kali manggil Yun Seong Penguin Ajussi,,, anak kecil ini bener-bener pandai berakting. Ppo Song itu tahu, kalo Da Jin nggak hebat dalam segalanya, termasuk salah ngasih tau tempat hidup Penguin dan sok punya uang padahal Ppo Song tahu Da Jin nggak punya uang, tapi bagi Ppo Song,,, Da Jin tetap kakak terhebatnya,, dan Ppo Song sangat bangga pada Da Jin.

Hubungan Yun Seong, Ji Won dan Da Jin akan semakin rumit kelak. Apa reaksi Yun Seong yah,, kalo dia tahu Da Jin dan Ppo Song itu anaknya Kapten Han, pasti kaget tentunya. Padahal di episode ini kerjaan Yun Seong marah-marah mulu sama Da Jin karena sikap tak profesionalnya sejak bertemu kembali dengan Choi Ji Won.

Sampai jumpa di episode 4....

15 komentar:

  1. karakter GHS di sini menarik yaa..
    anis suka tatapan penuh amarahnya..hehehe

    karakter yang lain juga terlihat natural.
    love this drama..

    BalasHapus
  2. Waktu senggang, lgs buka websitex kakak. Sneng bgt pas episode take care of us captainx mncul :)
    Ak suka cara kkak bkin sinopsis
    Ga kaku n bkin org yg bca jdi ga sbar bwt nunggu episode selanjutx
    Hehehe

    BalasHapus
  3. kpan episode 4 na. . .
    ga sbar nnggu na. . .
    ^^

    BalasHapus
  4. tolong dong dilanjutin sinopsisx...

    GUMAWO

    BalasHapus
  5. kapan dilanjutkan?

    BalasHapus
  6. kapan dilanjutkan ni..........

    BalasHapus
  7. duh,,,episode 4 nya dong,,,,,

    BalasHapus
  8. ... mana lanjutannya ...(sambil berharap teh irfa ada waktu buat ngelanjutin sinopsis yang ini) :)

    BalasHapus
  9. buat yang minta lanjutan take care of us captain,, sabar ya,, nanti aku lanjutkan kalo Queen In Hyun's Man udah selese... maaf ya lama,, eforia drama ini udah lama hilang,, jadi mesti dibangun ulang,,,

    BalasHapus
  10. penasaran dgn episode 4 nya..

    BalasHapus
  11. sangat suka dengan sinopsisnya. so...buat lanjutannya yah..

    BalasHapus
  12. tambah lagi donggg episodenya,,,, yang no 4,,,, di tunggu yaaaa,,, ceritanya bagus neeehhhhh,,,

    BalasHapus
  13. mana episode 4 nya? belum kelar juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejauh ini, aku bahkan belum mulai melanjutkan menulis sinopsis episode 4 nya, dan tidak bisa menjanjikan kapan akan kembali melanjutkan menulisnya,, kalo memang sudah selesai di tulis pasti akan di posting,,

      Jika sangat penasaran dengan ceritanya lebih baik menonton langsung,, terimakasih sudah berkunjung ^_^

      Hapus
  14. di tunggu kelanjutan take care of us captain . . .
    Fighting!
    Kamsahammida ^_^

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkomentar^^ komentar kalian akan selalu menambah semangat menulisku^^